AKU BELUM SEMPAT melihat keadaan. Yang aku tahu, aku segera meringkuk mengikuti karakter Anna dalam serial drama Korea K2. Kala itu, dia sedang disandera oleh salah seorang penjaga dan ditodong senjata api. Nyawanya hampir saja hilang jika bukan karena pemeran utama lelaki. Dengan cepat, aku berharap jika Tiberius Florakis sama keren dengan karakter Jae Ha yang dimainkan oleh Ji Chang Wook.
Itu mungkin sebuah harapan yang sangat bodoh karena pada dasarnya tidak akan ada yang sekeren Ji Chang Wook. Apalagi Tiberius Florakis yang modelan begini. Tapi kalau boleh jujur lagi, tidak akan ada yang sekeren Jae Ha, si karakter utama laki – laki di serial drama Korea berjudul K2 itu. Sebagai salah satu karakter yang kuat, Jae Ha adalah veteran militer yang memiliki skill yang sangat luar biasa. Bisa dibilang dia semacam tentara spesial dan khusus yang punya segudang kemahiran tinggi. Jika harus di bandingkan dengan Tiberius, itu sebuah penurunan yang drastis, kan?
Lagi pula, apa yang aku pikirkan hingga mau mengikuti petunjuk seperti itu? Ini bukan drama Korea yang sudah diatur sedemikian rupa hingga bisa terjadi. Ini kehidupan nyata. Bagaimana jika aku meringkuk terlalu lama? Bagaimana jika kau begerak terlalu lama? Bagaimana jika hasilnya tidak sama?
Mungkin inilah fungsi utama tulisan don’t try this at home dalam film – film atau adegan berbahaya yang ditayangkan di teve. Inilah pentingnya parental guidance saat menyaksikan berbagai macam adegan berbahaya.
Aku mengaburkan benak dan fokus.
Tidak banyak yang terjadi. Begitu aku meringkuk, tunduk dan memeluk diri sendiri di bawah, aku merasakan Tiberius menerjang dengan kecepatan penuh. Angin membuat rambutku berantakan. Aku merasakan dua orang saling bertabrakan di belakang aku, tubuh saling beradu, rintihan dari seseorang terdengar ke seluruh kamar mandi wanita. Aku tetap menutup mata, tak ingin melihat apa yang terjadi. Aku mendengar orang meminta maaf, memohon ampun, meringis, merintih, lalu meminta maaf lagi. Setelah beberapa saat, aku memutuskan untuk membuat kelopak mata dan melihat apa yang sudah terjadi.
Tiberius sedang berdiri memegang senjata tajam, menunduk melihat Lucas Willow yang sedang tergeletak tak berdaya. Mata lelaki itu belangsatan, tak karuan. Dia seperti orang kehilangan akal dan arah. Tangannya diangkat ke atas tinggi, seperti memohon kepada Tiberius. Lelaki itu tak lagi terlihat mengerikan, seperti seorang predator obsesif, melainkan hewan yang terpojok, mangsa bagi Tiberius Florakis.
Tapi bukan hanya itu semua yang menjadi pusat atensiku. Aku melihat tangan Tiberius tidak hanya memengang senjata tajam yang tadinya berada di leherku. Namun, tangan lelaki yang notebene adalah musuh bebuyutan aku selama aku bersekolah di Ravenhall High itu sudah mengalir darah segar. Warna merah menyemberu dari lengannya, membasahi lantai kamar mandi wanita, membuat tempat ini mengerikan. Seperti sebuah tempat kejadian perkara penuh darah. Aku langsung terkesiap, segera menghampiri lelaki itu.
“Ty!” aku meraih lengannya dengan ekstra hati-hati. Tiberius tidak merintih, bahkan meringis. Dia hanya berdiri dengan rahang mengatup, tangan memegang senjata tajam itu dengan erat hingga buku jemarinya memutih. Aku mencoba agar dia melemaskan pegangannya namun nihil. “Ty . . .”
Dia masih tak menjawab. Dua pasang mata itu tak meninggalkan sosok Lucas Willow sama sekali. Ketika aku sudah berdiri dalam posisi seperti ini, aku sekarang bisa melihat dengan jelas apa yang sudah terjadi pada Lucas Willow. Lelaki itu tergeletak tak berdaya dengan wajah penuh darah. Satu mata membengkak seperti baru saja dihajar habis-habisan oleh Tiberius. Yah, memang sepertinya baru saja dihajar habis-habisan oleh Tiberius Florakis.
“Ty, apa kau mendengarku?” aku mencoba sekali lagi, mengguncang bahunya pelan, sangat pelan agar aku tidak membuatnya sakit. Luka di lengan Tiberius sepertinya cukup dalam, darah masih saja tak berhenti mengalir.
“Ty . . .” Masih tak ada jawaban. “Tiberius Florakis!”
Akhirnya lelaki itu menoleh padaku, dua mata kami bertabrakan. Seperti baru tersadar, lelaki itu mengambil satu langkah mundur. Tanganku otomatis mengikuti gerakannya. Dia melirik aku yang memegang lengan berdarah miliknya, lalu membasahi bibir. Tiberius melonggarkan pegangannya pada senjata tajam tadi.
“Ada apa?”
“Kau baik-baik saja? Tanganmu . . .?”
“Oh,” Tiberius mengedikkan bahunya. “Aku pernah mendapat yang lebih buruk.”
“Lebih buruk?” aku membelalakan dua mataku. Bagaimana bisa ada yang lebih buruk dari ini? Memangnya apa yang terjadi padanya sehingga ada yang lebih buruk dari luka sayat di lengan sebesar ini? Darahnya terus mengalir, namun Tiberius tak merasa terganggu sama sekali.
Aku mendesah kesal, merasa kalau lelaki di sampingku ini mungkin lebih aneh dan lebih misterius dari yang aku tahu. Dengan sigap, aku melepas baju hangat luarah yang aku kenakan. Karena tipis, aku segera merobek baju hangat itu. Tiberius melihat aksiku dengan bibir tertutup, sama sekali tak mengeluarkan protes atau apa pun. Aku meraih lengannya, kali ini dengan agak keras karena frustrasi. Tiberius menelengkan kepalanya. Aku ikat tangan yang terluka tersebut hati-hati.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Ty pelan.
“Membuatmu agar tak mati muda.”
“Ini hanya luka gores. Aku tidak akan mati.”
“Oh, begitu? Pernah dengar yang namanya kehilangan nyawa karena kekurangan darah?” tanyaku penuh nada sarkas. OK, ini memang bukan saatnya untuk menjadi gadis galak dan tak tahu tempat. Tapi ayolah, ini luka yang dalam! Goresannya cukup panjang dan terlihat sangat menyakitkan, tetapi Tiberius memperlakukan hal ini seperti dia hanya tergores duri bunga mawar.
Tiberius tersenyum simpul, namun aku tak dapat menerka apa arti dari senyuman tipis itu. “Jadi begini rasanya diperhatikan seseorang?”
“Hah?” aku terkesiap, tak menyangka akan mendapat reaksi seperti itu. Tenggorokanku terasa kering seketika. Apa yang dia maksud dengan perkataan seperti itu? Mendadak, rasanya semua yang aku tahu tentang Tiberius adalah palsu. Tipu muslihat yang dia mainkan agar tidak harus berurusan dengan banyak orang. Setitik rasa iba menjalar di hatiku. “Memangnya kenapa?”
“Tidak. Aku hanya mengatakan yang ada di pikiranku.”
“Oh . . .”
“Aku tidak butuh rasa kasihan, Nessa.”
Wajahku memerah. Aku tergagap. “T—tidak. Siapa juga yang kasihan denganmu?”
Tiberius tak menjawab, hanya memberikan satu lirikan penuh arti. Dia kembali fokus pada masalah utama kami. Lucas Willow. Lelaki itu sudah terdiam, tangan bergetar, bibir terbuka setengah, wajah sudah habis didaur ulang oleh Tiberius Florakis. Saat Ty mencoba untuk mendekat, dia menjadi kacau. Lelak itu memohon lagi agar Ty berhenti. Aku merasa iba melihat perilaku orang tersebut.
“Ty . . .”
“Rileks, aku tidak akan mulai membunuh orang. Jika aku akan memulai juga, aku tidak akan pernah memilih korban pertamaku seperti orang menyedihkan ini.”
“Baiklah.” Aku idak mengerti jika itu sebuah janji atau hanya sebuah kalimat kosong agar aku tidak bepikir kalau dia akan menyakiti Lucas Willow.
“Kau,” Ty menendang salah satu kaki Lucas. “Bisa jalan atau tidak?” Lucas akan menjawab namun dipotong oleh Tiberius. “Aku sarankan pilih jawabanmu baik-baik karena jika jawabannya tidak, aku terpaksa harus menyeret kau keluar dari sini.”
Dua bola mata Lucas Willow melebar. Dia otomatis berdiri, kaki sempoyongan. Aku menelan ludah ketika jarak kami berdekatan. Lelaki itu melirik aku dari ujung matanya, dan aku bisa melihat kalau dia masih haus dengan apa yang baru saja dia lakukan. Buru-buru aku menyembunyikan tubuhku di belakang badan Ty yang secara praktis menelan tubuhku dari pandangan Lucas Willow.
Ty melihat itu. Dia melangkah ke samping, tambah menyembunyikan tubuh kecilku. “Jalan!” bentaknya pada Lucas Willow, sambil mendorong lelaki itu keluar dari pintu kamar mandi wanita.
“Ty, mau dibawa ke mana dia?”
“Kantor polisi tentu saja.” Jawab Ty tanpa jeda. Takut menyala di mata Lucas, namun aku hanya bingung mendengar jawaban itu.
“Sekarang? Malam ini juga? Kalau begitu, nanti kita ketahuan . . .”
Ty terkekeh tanpa humor. “Tenang, cinta. Aku tidak akan membiarkan reputasi putrri kerajaan sepertimu tercoreng. Tenang saja.”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”
“Kita akan menyekapnya di tempat yang sama. Saat pagi, kau dan aku akan berpura-pura ini semua terjadi pagi sekali, saat hanya ada kau dan aku di area sekolah.”
“Oh, baiklah . . .”
Lucas Willow mengerang, membuang ludah yang berisi darah, lalu menyeringai aku dan Tiberius. “Kau pikir orang akan percaya?”
“Well let’s see . . . kau orang aneh yang meneror Nessa, kau juga sudah menyerang dia dua kali, kau melukai murid Ravenhall High—“
“Aku juga murid Ravenhall High!”
“Iya, tapi, apa kau juga anak pemilik saham terbesar di sekolah ini?”
Itu membuat Lucas terdiam seribu bahasa. Aku segera mengambil alih. “Jadi, kita akan menghabiskan malam dengan orang ini?”
“Dia tidak akan bisa berkutik. Aku akan membuatnya bahkan tak bisa menggerakkan satu jari.”
“Baiklah . . .” Jawabku lagi, semakin hari semakin sering setuju dengan apa yang keluar dari bibir lelaki itu.
Sesungguhnya, jika memang harus memilih, aku lebih baik menghubungi pihak yang berwajib saja. Sekalian agar aku bisa pulang. Tapi sekarang sialnya, bukan saja aku harus menghabiskan satu malam penuh di sekolah bersama Tiberius Florakis, kami mendapat satu teman kamar baru bernama Lucas Willow. Lelaki yang belakangan ini sudah beberapa kali bersifat aneh dan obsesif di sekitar aku. Bahkan hingga menodong aku dengan senjata tajam seperti malam ini.
Tiberius sudah mengamankan senjata tajam itu. Dia juga sudah mengikat Lucas Willow dengan erat di salah satu penyangga tempat tidur ruang rawat Ravenhall High menggunakan tali yang dia dapat dari lemari tukang bersih-bersih sekolah. Aku melihat semuanya dengan diam. Ini terjadi karena aku. Dia menyerangku. Aku, Vanessa Flo Abernathy. Gadis membosankan yang tak memiliki suatu kelebihan yang signifikan. Aku melirik lengan Ty yang sepertinya sudah berhenti berdarah.
Rasa kesal dan marah menjalar di hatiku. Aku segera menghadap ke arah Lucas dan mendapati lelaki itu sudah memandangku lekat. “Kenapa aku?”
Ty ikut menoleh, walau tak bersuara, aku melihat dia begitu penasaran. Setelah menunggu beberapa saat, Lucas menyeringaiku. “It’s always been you.”
“Tapi kenapa?”
“Kau Vanessa.”
“Aku tidak mengerti,” balasku kesal. Aku mendekati lelaki itu. Ty langsung menjadi was-was, tubuhnya condong ke depan.
“Nessa . . .”
“Tidak apa,” aku mengibaskan tangan. “Kau sudah mengikatnya dengan kencang, ‘kan?”
“Iya tapi—“
“Lucas Willow. Apa kau yang mengirimkan aku surat lewat loker?”
Lucas tak menjawab. Dia menelengkan kepalanya. Dia terkekeh geli.
Vanessa . . . Vanessa . . . Vanessa . . .
Apa kau tidak menginginkan aku seperti aku menginginkan dirimu ?
Aku ingin kau, Vanessa . . .
Rahang aku mengatup keras saat menatap pria yang sedang terikat dan menyeringai aku dengan bibir yang terbuka lebar. Aku ingn melukainya. Tapi aku harus tahu. Aku harus yakin seratus persen jika memang dia yang menaruh surat semacam itu di dalam loker aku dan membuat aku terus merasa seperti diteror oleh kata demi kata yang obsesif.
Dan aku tidak suka kau bersama Tiberius Florakis.
Ingat, kau hanya milik aku, Vanessa Flo Abernathy.
Milik aku seorang, bukan Tiberius . . . !
Vanessa . . . Vanessa . . . Vanessa . . .
Tunggu aku . . . !
Kenapa? Kenapa harus aku dari semua gadis cantik dan berprestasi di sekolah? Aku hanya adik perempuan Abernathy bersaudara! Kenapa harus aku?
Lucas Willow mengerutkan bibir, terlihat sedih dan murung. “Karena kau mencintaiku, Vanessa.”