14

1679 Words
“KARENA KAU MENCINTAIKU, VANESSA.” Kalimat itu nyaris membuat aku lupa daratan. Aku nyaris melayangkan tangan aku sendiri ke wajah pria yang sedang terikat di depan aku ini. Aku bukan gadis yang suka kekerasan. Sungguh. Jika kalian bertanya, aku mungkin adalah gadis yang selalu ingin damai saja. Aku akan memilih untuk menghindari konfilik dari pada harus adu argumen dengan seseorang. Aku akan lebih memilih untuk mengalah dari pada harus berkelahi. Itulah kenapa sering kali aku menerima apa yang Vanno katakan dan Vinny lakukan terhadap aku yang kelewat posesif dan protektif, sebab aku tidak ingin berkelahi dengan mereka. Itu juga alasan kenapa aku sangat heran jikalau Tiberius mengganggu aku dan aku selalu saja meladeni pria itu. Dengan semua argumentasi kita, aku akan berpikir kalau aku gadis yang memang suka konflik dan perkelahian. Tapi lagi, itu Tiberius Florakis. Dia bisa mengeluarkan segala macam jati diri seseorang yang tak pernah orang itu bayangkan sebelumnya. Dan aku tidak akan terkejut jika dia bisa membuat seseorang yang paling sabar di dunia menjadi marah. Pria itu berdiri stagnan di dekat aku. Satu – satunya indikasi kalau dia mendengar omong kosong yang di keluarkan dari bibir Lucas Willow adalah satu alis yang naik tinggi dan rahang yang mengatup. Dia seperti alogojo pribadi aku sendiri, yang siap melakukan apa yang aku katakan pada Lucas Willow di depan kami. Ini aneh. Tapi aku kembali fokus pada apa yang baru saja Lucas Willow katakan. Lelucon macam apa itu? Ini semua pasti hanya sebuah candaan kejam, sebuah lelucon buruk yang dilakukan oleh seseorang. Aku harus berakhir bersama seorang psikopat gila yang terobsesi denganku setelah harus menjalani kehidupan sehari-hari bersama dua orang kakak yang kelewat posesif, dan satu orang lelaki yang membuat misi hidupnya untuk menjadikan waktu di masa sekolah menengah atasku seperti di neraka? Sungguh berlebihan. Sepertinya yang menulis takdir hidupku sudah tak memiliki ide lebih baik lagi agar cerita hidup ini terus berjalan. Sepertinya dia sudah tak lagi memiki jalan cerita lain sehingga bisa membuat banyak pembaca buku kehidupan milik aku dibaca oleh ribuan orang. Dia harus membuat hidupku menderita dan terlihat konyol seperti ini. Untuk beberapa saat tak ada yang dapat aku katakan. Begitu juga Ty yang terdiam sambil melipat dua tangan di depan d**a. Lucas Willow menyeringai kami, teurtama aku yang menatapnya tak percaya. Bibirnya terbuka setengah, mata terlihat kacau dan liar. Dia mengambil setiap struktur wajahku, mencari titik yang dia suka. Aku menelan ludah, merasa seperti diriku terekspos di depan Lucas Willow. Dengan cepat, aku melengos, memilih untuk melihat Tiberius Floraksi dengan rahang yang mengatup. “Ty?” Seperti sedang tersambar petir, Lucas Willow meringis mendengar suaraku memanggil Tiberius Florakis dengan nama panggilan seperti itu. Aku juga tak mengerti sejak kapan aku menjadi terbiasa memanggilnya dengan nama seperti itu, namun rasanya Ty sudah cocok dengan lidah, terasa manis dan . . . hangat. Tiberius menoleh padaku, matanya luluh. “Orang ini sudah gila,” komentarnya pedas. “Aku tidak mengerti bagaimana orang seperti dia bisa masuk ke sekolah kita.” Lucas mencibir. “Lalu jika aku gila, apa sebutannya untuk orang-orang sepertimu?” “Tidak bermoral.” “Tidak punya belas kasihan?” cobaku pelan, tetapi dengan rasa humor. “Hmh . . . mungkin orang kejam?” “Tidak, sudah jelas kau tukang rundung.” “DIAM KALIAN.” Aku tersentak mendengar Lucas Willow membentak kami berdua. Ty menegang, tangan sudah dikepalkan dan siap untuk dilayangkan kapan saja. Lelaki itu maju beberapa senti, tubuh tercondong ke depan. Aku menunggu dengan panik apa yang dia akan lakukan. Gambaran Tiberius menghajar Lucas Willow habis-habisan masih bermain di pikiranku, menolak untuk terlupakan dalam waktu dekat. Namun Tiberius tak melakukan apa-apa. Dia hanya mengangkat satu alis, dan berdesis, “Kalau kau menaikkan suaramu lagi, aku akan membuat kau tak bisa bersuara seumur hidupmu.” Memang ancaman itu terjadi untuk Lucas Willow, tapi rasanya aku yang baru saja diancam habis-habisan oleh Tiberius Florakis. Dia kembali bersandar, bahu mejadi rilekls. Buku-buku jarinya masih berdarah, luka akibat menghajar Lucas Willow. Aku segera turun dari tempat aku duduk, mengambil sebuah handuk dari dalam lemari. Sebuah baskom kecil aku raih dari tempatnya dan aku isi dengan air hangat. Tiberius melihat setiap gerakan yang aku buat, kening mengerut. Lalu saat aku menarik kursi duduk di sebelahnya, dia mengisap pipi sebelah kanan. “Apa yang kau lakukan?” “Mengobatimu.” “Kenapa?” “Kenapa tidak?” balasku. “Well . . . kau membenciku, ‘kan.” Aku terdiam beberapa lama, tangan berhenti meremas handuk basah. Kau membenciku, ‘kan. Apa iya? Apa aku membenci yang namanya Tiberius Florakis? Memang dia membuat kehidupanku beberapa tahun belakangan ini seperti berada di neraka. Dia selalu membuat aku menjadi target rundungan, mengerjai aku dengan lelucon konyol, membuat aku marah dan frutrasi, bertindak sesukanya, berlaku tidak adil pada banyak orang. Tetapi, apa aku membencinya? Apa aku memiliki perasaan sebesar itu untuk Ty? Benci adalah kata yang kuat. Sebuah perasaan yang memiliki impresi sungguh besar. Aku tahu kalau aku kesal dan marah pada lelaki ini. Aku juga tidak suka dengan tingkahnya. Tak pernah peduli dengan apa yang dia rasakan asal dia tahu rasanya menjadi seperti aku. Aku juga tidak tahu jika dia memiliki masalah di luar sekolah atau apa yang menyebabkan dia menjadi anak yang seperti ini. Aku tahu setiap harinya aku tidak suka pada Tiberius Florakis, namun aku rasa aku tidak membencinya? “Aku tidak membencimu.” Tiberius terkesiap. Dia menatapku dengan seksama, seperti baru saja menemukan sebuah penemuan yang luar biasa. Seperti seorang ilmuwan yang menemukan virus baru. Seperti seorang astronot yang baru menemukan planet yang dapat dibuat menjadi tempat tinggal manusia. Aku melihat Tiberius perlahan menjadi luluh, struktur wajahnya tak lagi mengeras dan heran. Dia membiarkan aku meraih tangannya, dan membasuh luka yang terjadi akibat menyerang Lucas Willow. “Kau tidak . . . membenciku?” “Untuk apa?” aku mengedikkan bahu. “Membuang waktu saja.” “Tapi aku selalu membuat hidupmu menderita.” Aku mengangkat dua alis. “Oh, jadi kau sadar?” Jika aku tidak salah lihat, Tiberius memerah. Dia menunduk seperti baru saja diomeli oleh Ibunya dan menggigit bibir bawah. Aku tersenyum simpul, tak memedulikan reaksi aneh itu. Menggeleng, aku melanjutkan membersihkan tangannya. “Kenapa bisa?” “Apanya?” “Kenapa bisa kau tidak . . . membenciku?” “Benci itu perasaan yang terlalu kuat.” “Manis sekali,” sahut Lucas Willow dengan nada penuh sarkas. Tanganku berhenti, begitu juga Ty yang otomatis menjadi tegang kembali. “Aku sampai ingin muntah. Kau tidak membenciku? Tidak. Bagaimana bisa? Karena . . . karena oh! Kau anak pemilik saham terbesar di Ravenhall High, Tiberius!” Lucas Willow menirukan suara kami berdua, bersandiwara dalam monolog. “Kau—“ Tiberius mendesis geram. Aku hanya menahan tangannya, menggeleng, dan melanjutkan membersihkan luka di buku jarinya. “Abaikan dia.” “Vanessa . . . Vanessa . . . “ Dia bersiul seperti orang sakit jiwa. Aku terpacu adrenalin, pikiranku otomatis kembali pada surat itu. Aku ingin kau, Vanessa . . . Dan aku tidak suka kau bersama Tiberius Florakis. Ingat, kau hanya milik aku, Vanessa Flo Abernathy . . . Milik aku seorang, bukan Tiberius . . . ! Vanessa . . . Vanessa . . . Vanessa . . . Tunggu aku . . . ! Ini dia pelakunya. Dia yang telah menaruh surat mengerikan di dalam lokerku. Dia yang sudah menulis kata-kata terobsesi itu. Lucas Willow adalah pelakunya. Aku ingin melemparnya dengan baskom berisikan air ini, tapi sehabis itu apa? Tidak ada yang akan terjadi. Jadi aku memilih diam, gigi gemeretak. “Vanessa . . . Vanessa . . .” Tiberius menutup matanya, kepala mendongak ke atas seperti sudah tak bisa lagi menahan lelucon menyedihkan ini. Dia menggeleng, berdecak, lalu berdiri hingga kursi yang dia duduki terdorong ke belakang dengan keras. Aku ingin melarangnya, merasa sudah banyak kekerasan yang terjadi dalam satu malam. Tetapi lelaki itu tak melakukan apa yang aku takutkan. Dia hanya mengambil handuk tipis yang cukup panjang di dalam lemari, memelintirnya, lalu menghampiri Lucas Willow. Dengan ganas, dia membungkam mulut lelaki itu hingga hanya rintihan yang dapat terdengar keluar dari bibirnya. Aku menelan ludah. Ini seharusnya tidak boleh, tapi aku lebih baik melihatnya berusaha untuk berbicara dari balik handuk yang menutup rahangnya dari pada harus mendengar omongannya lagi. Aku melanjutkan membersihkan luka Tiberius, lalu menempel plaster untuk tangaannya. “Terima kasih.” Ty bergumam pelan. Aku menahan tawa. Seperti merasa berterima kasih pada seseorang adalah hal yang baru bagi seorang Tiberius Florakis. “Sama-sama.” Kami berdua hanya terdiam. Dia melirik aku dari ujung mata. Aku merasa canggung. Dengan sigap aku berdiri dan kembali pada tempatku. “Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?” “Menunggu pagi.” Aku membuang napas panjang dan menutup mata. Menunggu pagi bersama dengan pria yang hilang akal. Terdengar seperti sebuah malapetaka yang lain. *** Rencana Tiberius berhasil. Tidak ada yang tahu jika kita telah menerobos masuk ke dalam kantor sekolah dan bermalam di ruang rawat berduaan—yah, bersama Lucas Willow juga. Lelaki itu bahkan tak mencoba untuk menjelaskan, sudah kelewat lelah dan putus asa. Matanya terus mencari-cari aku di balik kerumunan banyak murid. Penjaga sekolah dan petugas yang berwajib sudah datang. Guru-guru dan kepala sekolah ikut melihat Lucas Willow dibawa. Vinny sudah berada di sampingku, menolak untuk menjauh bahkan satu inci pun. Theressa masih dalam perjalanan, panik dan cemas. Aku sudah memberikan segala keterangan pada polisi. Setiap hal yang terjadi padaku beberapa waktu belakangan ini. Aku menceritakan apa saja yang telah Lucas Willow lakukan padaku. Begitu juga Tiberius yang terlihat sangat serius. Dia menceritakan dari sudut pandangannya, menambahkan kalau Lucas Willow adalah seseorang yang berbahaya bagi khalayak ramai. Aku tidak berkomentar tentang itu. Memang benar. Bagaimana jika dia menyerah padaku dan membuat target baru pada gadis lain? Lalu jika gadis itu tidak memiliki seorang Tiberius Florakis untuk melindunginya? Aku bergidik ngeri. Semoga saja tidak ada lagi korban seperti ini. Saat kami sudah berada di luar sekolah, aku melihat Lucas Willow digiring ke mobil polisi. Kepalanya sudah akan menghilang dari balik pintu sebelum dia memaksa untuk melihatku sekali lagi, dan berkata. “Tikus? Tikus apa, ya?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD