LUCAS HILL WILLOW ternyata memang memiliki catatan kriminal yang cukup banyak. Dia pindah dari sekolah yang lama akibat kasus yang sama dengan apa yang terjadi padaku. Perihal dia bisa diterima di sekolah ini ternyata satu masalah yang cukup rumit. Orang tua anak itu bukan main. Mereka orang kaya yang mampu membuat dokumen palsu dan menghapus setiap catatan kriminal anaknya.
Itu terdengar seperti sesuatu yang baru saja keluar dari sebuah novel kelas atas. Sebuah novel misteri, kriminal, dan horor menjadi satu. Aku tidak habis pikir bisa bertemu langsung dengan orang – orang yang punya kuasa besar seperti itu. Orang dengan kuasa besar yang pernah aku temui hanyalah Tiberius, si anak pemilik saham paling besar di sekolah ini. Itu saja. Ternyata masih ada hal besar di sekolah ini yang tersembunyi oleh sistem yang b****k.
Jujur saja, aku merasa sangat kesal perkara murid semacam Lucas Hill Willow bisa tergeser dalam sistem dan dipalingkan mata oleh kuasa dibalik dokumen yang terhapus. Dia pria yang punya banyak catatan kriminal. Apa semudah itu? Ini pasti film. Apa aku terjebak di dalam film dan aku tidak sadar?
Dengan cepat aku mengaburkan benak yang tidak karuan itu. Jujur saja, aku belakangn ini seperti merasa kalau hidup aku sedang ditulis oleh penulis yang sudah mulai kehilangan ide. Mungkin dia berpikir membuat aku sengsara adalah sebuah ide yang bagus, terhitung mulai saat aku menemukan tikus dengan darah yang banyak, dan surat yang penuh kata demi kata obsesif.
Bagus. Jika memang benar, hey, penulis, apa kau bisa menulis lebih baik lagi?
Aku tidak akan pernah bisa menebak jika dia punya orang tua yang luar biasa dan punya catatan kriminal yang dihapus dengan mudah. Pria itu jika dilihat, terlihat seperti lelaki remaja normal yang bahkan mungkin, jika ini adalah situasi yang berbeda, terlihat tampan.
Sedikit.
Ugh.
Setelah diusut lebih jauh, ternyata Lucas Willow itu memiliki kelainan mental yang membuat dirinya mampu untuk terobsesi pada seseorang dengan sangat eksesif. Aku tak mengerti apa yang polisi katakan, begitu juga para detektif yang lain. Yang jelas, hanya ada satu hal yang bermain terus di dalam kepalaku.
“Tikus? Tikus apa, ya?”
Tikus apa dia bilang? Jika dia mampu memalsukan dokumen, bertingkah seperti orang normal di tengah masyarakat, bersikap baik di depan murid yang lain, berarti dia sanggup bersandiwara seperti ini, ‘kan? Mungkin dia hanya ingin membuat hukumannya diringankan? Dia hanya tidak ingin mendapat masalah karena telah meneror aku seperti itu? Tapi apa bedanya? Jika memang dia, Lucas Willow telah melakukan sesuatu yang lebih buruk dari hanya mengirim aku teror tikus yang sudah mati dan penuh darah.
Lalu, aku tersadar. Jika memang bukan Lucas Willow pengirimnya, jadi siapa? Siapa yang sudah membuka loker milik aku, meletakkan kotak cukup besar di dalamnya, dan mengisi hadiah konyol itu dengan tikus tak bersalah penuh darah? Siapa yang sudah melakukan hal mengerikan itu padaku?
Vinny melihat masalah ini dengan heboh tentu saja. Pagi itu, dia tidak mau meninggalkan aku sama sekali. Bahkan ketika aku diperintahkan untuk pulang dan mengambil hari libur, dia bersikeras agar ikut pulang, kalau di rumah tak ada orang sama sekali dan dia harus menjaga aku. Setelah dibujuk berulang-ulang kalau dia harus sekolah dan ikut latihan, akhinya Vinny luluh dengan satu syarat kalau Theressa harus ikut pulang bersama aku. Para guru akhirnya ikut mentolerir Theressa.
Dan disinilah kami, terdiam di ruang tamu seperti orang bodoh. Aku menelan ludah terus menerus, merasa kerongkongan kering dan hati yang tak kunjung tenang. Lucas Willow sudah ditangkap ‘kan? Dia sudah tak bisa lagi mengganggu aku. Lantas kenapa aku masih juga tak bisa merasa kalau semuanya sudah aman?
“V, ada apa?” tanya Theressa pelan. Gadis itu akhirnya membuka mulut setelah berjam-jam menatap aku dari kursinya. Teh hangat tak lagi mengeluarkan uap panas. Aku tersenyum simpul, palsu. Tak memiliki tenaga sama sekali untuk menghibur diri.
“Tidak apa-apa. Aku rasa aku masih terkejut, itu saja.”
“Kau mau menceritakan sesuatu?”
Aku terdiam. Nyatanya, aku butuh mengeluarkan sesuatu dari dalam hati. Aku tidak bisa terus menerus merahasiakan ini. Lagi pula, apanya yang rahasia? Theressa tahu segalanya. Dia menjadi saksi mata tikus tak bersalah itu. Kemudian, aku membeberkan setiap kejadian yang terjadi kemarin. Apa yang aku dan Tiberius lakukan. Apa yang terjadi antara kami; aku, Ty dan Lucas Willow. Dan terakhir, kalimat Lucas Willow yang membuat aku semakin takut.
“Tikus, tikus apa, ya?” aku membuang napas berat dan panjang. “Begitu katanya.”
Theressa tak langsung merespon. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Sebagai sahabat, memang sudah tugasnya untuk mendengarkan apa yang harus aku katakan. Tapi masalah seperti ini rasanya terlalu berat untuk dibagi. Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Akhirnya, Theressa menoleh padaku, mata kami saling bertabrakan.
“Berarti masih ada orang lain.” Aku menelan ludah. Kalimat itu aku tahan sekuat tenaga, namun akhirnya terkuak juga. Apa benar? Ada orang lain? Ada orang lain selain Lucas Willow yang menargetkan aku sebagai target obsesif yang mengerikan?
Itu sudah fakta yang aku konklusikan sendiri. Aku sudah tahu itu. Tapi tetap saja aku merasa seperti baru dihantam batu yang berat dan aku harus terjepit di antara bebatuan itu. Ada orang lain. Yang artinya, masih ada seseorang yang bermain konyol dengan aku. Theressa pindah tempat, mengapit aku dari samping.
“Dengar, V. Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi. Bayangkan saja, dibanding surat obsesif Lucas Willow dan tikus itu, mana yang lebih parah?”
Vanessa . . . Vanessa . . . Vanessa . . .
Apa kau tidak menginginkan aku seperti aku menginginkan dirimu . . .?
Aku ingin kau, Vanessa . . .
Kalimat Theressa membuat aku bergidik ngeri. Dengan surat seperti itu, Lucas Willow sudah bertindak sangat gila. Padahal, apa yang dia lakukan padaku di awal hanya berupa surat yang awalnya tak terlihat begitu aneh. Kalau hanya berupa surat begitu saja yang mengirimnya segila dan senekat Lucas Willow, lalu apa yang pengirim tikus penuh darah itu sanggup lakukan?
“V, aku bukannya ingin menakutimu,” ucap Theressa ketika dia melihat kalau aku sudah terdiam membeku. Mungkin wajahku juga pucat atau semacamnya. “Tapi, dengar. Kau harus meminta bantuan. Lagi pula, polisi sudah mendapat keterangan tentang hadiah itu, bukan? Jika Lucas Willow terus membantah kalau bukan dia pelakunya, maka yang lain akan bertanya, lalu siapa yang mengirimkan itu padamu?”
“Aku tahu, Theressa. Tapi apa yang bisa aku lakukan?”
“Membuat laporan berbeda pada polisi.” Jawab teman terbaik aku itu. “Katakan pada mereka tentang apa yang sudah terjadi padamu. Bilang kalau kau mendapat teror.”
Aku tidak langsung menjawab. Itu tawaran yang bagus. Itu tawaran yang paling tepat, bukan? Itu yang orang normal akan lakukan. Tapi aku tetap tidak menjawab. “Aku rasa begitu.”
“Begini, sekarang kau tidur. Kau tidak tidur semalaman ‘kan?”
Aku mengangguk dan meninggalkan Theressa di depan ruang televisi. Kakiku berjalan lemah, menyusuri tangga ke atas kamar. Segera aku mandi dan bersih-bersih, melenyapkan semua bukti kejadian tadi malam dari tubuh. Aku merasa sedikit lebih baik ketika melihat bayangan di cermin. Dengan malas, aku menarik tubuhku agar rebahan dan menutup mata.
Belum juga beberapa detik lewat, aku merasa sesuatu menabrak kaca jendela kamar. Aku seketika membeku. Duk . . . aku tetap menolak untuk membuka mata. Duk . . . sial. Duk . . . apa ada burung yang buta? Duk . . . kenapa terdengar seperti? Akhirnya aku memaksa diri untuk berani dan membuka kelopak yang sudah terasa berat.
Hampir saja aku menjerit sejadi-jadinya. Tiberius Florakis sedang meringkuk di balik jendela kamar lantai dua milik aku, alisnya terangkat naik, bibirnya dihisap ke dalam, tangan mengepal. Bebatuan tergeletak di samping kakinya, membuat aku tersadar kalau bunyi duk . . . sedari tadi adalah lemparan batu darinya. Dengan cepat aku segera membuka jendela kamar dan melototi lelaki gila itu.
“Apa yang kau lakukan di sini?” bisikku histeris. Aku membelalakan mataku padanya, melihat Ty yang jongkok tanpa dosa. “Bagaimana caranya kau bisa ada di atas sini?”
“Memanjat,” dia mengedikkan bahunya seperti hal itu bukan sesuatu yang aneh. “Intinya, kenapa kau lama sekali membuka jendela?”
“Aku tidak berpikir kalau itu kau—“
Tiberius menyeruak masuk ke dalam kamar aku tanpa izin sama sekali. Dia mennggeser tubuhku dari jendela, lalu mendaratkan dua kaki di dalam kamar, karpetku ternodai. Dia menyeringai aku dan berkata “Ooops” lalu membuka sepatunya. Tanpa permisi lagi, dia duduk begitu juga di kursi santai kamarku, berada di ujung ruangan berseberangan tepat sekali dengan tempat tidur aku sendiri. Dia mencari posisi nyaman, lalu menatapku seperti orang bingung.
“Apa yang kau lakukan? Bukankah tadi kau ingin tidur?”
“Apa yang kau lakukan? Pergi dari sini.”
“Tidak bisa,” Ty bersandar lebih dalam, membuat tubuhnya rileks. “Aku akan di sini. Jadi lebih baik kau tidur agar aku bisa istirahat.”
“Lalu untuk apa kau di sini?”
Tiberius Florakis membuka satu matanya, menatapku penuh arti. Dia tak berkata untuk beberapa lama sebelum rahangnya mengeras dan mengeluarkan kata itu dengan suara pelan namun pasti.
“Menjagamu.”