16

2567 Words
AKU MENATAP SEORANG Tiberius Florakis yang sedang duduk di kursi santai kamar aku sendiri dengan mata tertutup. Gila. Lelaki ini memang sudah kehilangan akal. Otaknya pasti hanya sebuah dekorasi belaka. Mungkin akal sehatnya tak berjalan secara normal, atau mungkin dia memang tidak peduli jika perilakunya ini aneh dan tidak sesuai dengan norma yang berlaku— Apa yang dia pikirkan? Apa dia pikir hanya karena dia adalah anak orang kaya, anak pemilik saham terbesar di sekolah, tampan, tinggi, dan mahir berkelahi dia bisa melakuakan semau ini? Oke, baiklah, scratch all that. Kenapa terdengarnya seperti aku baru saja memuji dia dengan banyak kalimat pujian yang indah? Ugh. Bagus. Baiklah. Sekarang malah aku yang tidak bisa berpikir jernih. Apa mungkin aku yang akal sehatnya tidak jalan? Tidak mungkin. Aku sehat. Tiberius yang sudah sakit. Aku meliriknya lagi. Pria itu masih duduk tanpa rasa bersalah sama sekali di kursi santai kamar aku yang sangat aku sukai. Postur tubuhnya rileks dan benar – benar seperti berada di dalam rumahnya sendiri. Mi casa su casa. Apa dia mendalami kalimat itu sampai ke hati? Aku inign melemparnya dengan guci kecil di samping tempat tidur aku, namun aku masih terlalu terkejut untuk melakukan apa – apa. Tiberius membuang napas panjang dan mengobservasi kamar aku dengan dua bola mata yang serius. Aku merasa seperti sedang terpojok di dalam kamar aku sendiri. Ya ampun, aku bisa gila. Aku sudah gila! Bagaimana bisa aku merasa sedikit lebih tenang ketika melihat sosok Ty duduk di kursi itu? Kenapa aku merasa seperti bebatuan berat yang tadi membuat bahu terasa sangat sakit dan hati sesak seketika menghilang? Memang benar, aku sudah tidak waras. Ini semua tidak masuk akal sama sekali. Tapi ketika aku melirik sekali lagi wajah lelaki itu, aku tak dapat memungkiri rasa aneh tersebut. Dengan kesal dan frustrasi aku melangkah berat ke tempat tidur, tapak kaki sengaja aku hentakkan ke lantai. Aku membuka selimut dengan kasar, rebahan dengan kening mengerut, lalu menatap langit-langit. Tubuh memang rileks, pikiran seketika tenang entah kenapa, tapi rasanya aku tak dapat tidur mengetahui kalau Tiberius berada di depanku, duduk di kursi santai, di dalam kamarku sendiri. Ini musuh bebuyutan, bukan orang asing. Jika aku tutup mata, lelucon buruk apa yang akan dia lakukan padaku? “Tennag saja. Kita gencatan senjata dulu hari ini.” Aku tidak menjawab. Mataku tetap menatap langit-langit kamar yang mendadak terlihat sangat menarik. Bunyi napasku sendiri terdengar, menyatu dengan suara hembusan angin dari jendela yang masih terbuka sedikit. Aku tidak mendengar Tiberius berkata apa-apa lagi, yang aku ambil sebagai kesempatan untuk membalas, “Kenapa tidak seterusnya saja?” “Dan membiarkan kau hidup tenang? Tidak akan pernah.” Aku mencibir dengki. Terbesit di pikiranku untuk bangun dan meneriaki Tiberius atas apa yang telah dia katakan. Namun aku berpikir lain lagi. Jika sekarang aku memulai perkelahian dengannya, mungkin aku tidak akan menang. Tapi, ugh! Aku tidak bisa menahan diriku sendiri. “Kenapa kau selalu ingin hidupku tidak tenang? Apa yang pernah aku lakukan padamu?” Seperti baru saja ditanya pertanyaan yang sangat rumit dan pelik, Ty hanya diam. Aku melirik dia dari bawah mata. Ty masih duduk dengan kelopak mata tertutup, tak memedulikan apa yang baru saja aku katakan padanya. Dua tangan bersimpuh di pangkuan, bahu mengeras seketika. Ty menelan ludah, alisnya menyatu, tetapi mata masih ditutup, menolak untuk terbuka dan melihat aku. “Tidur, Nessa . . .” “Bagaimana bisa aku tidur kalau aku tahu kau ada di depan sana? Apa yang mungkin kau lakukan? Aku ‘kan—“ “Tidur, Nessa, love . . .” Aku seketika terbungkam saat itu juga. Darah mendesir ke atas wajah. Aku bisa menebak seberapa merah parasku saat ini. Rasanya panas dan aneh. Mulutku terasa kering lagi. Satu kata itu terngiang di kepalaku, membuat semua bulu kuduk di tubuhku mendesir geli. Aku menatap Ty yang tidak bereaksi. Apa itu hanya salah satu candaannya? Apa dia tidak sengaja mengatakan itu? Apa barusan itu hanya sarkas? Beribu pertanyaan terbesit di kepala, namun tak ada satu pun yang dapat mengalihkan atensi aku sendiri dari satu kata tersebut. Love . . . love . . . love . . . love . . . love . . . lo— “Tidur, Nessa.” Aku menggigit bibir. Aku lirik Ty, tapi lelaki itu masih memjamkan mata. “Dari mana kau tahu aku masih belum tidur?” “Aku tahu segalanya, ingat?” Ingin sekali aku melempatnya dengan bantal, selimut, boneka, bahkan lampu tempat tidur yang ada di meja samping. Tapi aku mengurungkan niat dan hanya mencoba menutup mata. Menghitung dengan perasaan aneh di dalam hati. Entah mengapa jantung menolak untuk bekerja secara normal. Di saat seperti ini, dia malah menjadi jantung yang aktif dan tidak mau tenang. 1 kambing . . . 2 kambing . . . 3 kambing . . . 4 kambing . . . 5 kambing . . . “Nessa, serius, lebih cepat kau tidur lebih cepat aku akan pergi dari rumahmu. Itu yang kau mau, ‘kan?” Tidak. Tapi tentu saja keinginan itu tidak aku jawab. Dengan segenap kekuatan yang aku punya, aku mengabaikan Ty dan benar-benar memaksa agar diriku terlelap. 6 kambing . . . 7 tujuh kambing . . . 8 kambing . . . 9 kambing . . . 10 kambing . . . . Ah! Ini sudah gila! *** “WHAT IS GOING ON?” Aku segera terlonjak, bangun dari tidurku yang terasa lelap. Tubuhku otomatis langsung berada di posisi defensif, mencoba untuk melindungi diri. Dalam posisi duduk, aku meraih bantal terdekat denganku dan menjadikan benda menyedihkan itu sebagai sebuah senjata untuk melindungi diri. Theressa berdiri di ambang pintu, mulut terbuka lebar, mata terbelalak, tangan direntangkan di udara. Dia terlihat seperti ikan yang berusaha untuk mendapat oksigen di daratan. Sial! Sial . . . sial . . . ! Kenapa aku bisa melupakan Theressa? Orang yang sejak awal berada di ruang tamu dan bersikeras agar diizinkan pulang bersamaku? Orang yang ingin menjagaku di rumah? Aku buru-buru berdiri, merasa seperti baru saja tertangkap basah melakukan tindakan kriminal. Sepersekian detik aku hanya bisa menatap Theressa, lalu otak aku akhirnya berjalan. Aku menoleh begitu cepat ke arah Ty hingga leher terasa nyeri. Yang aku lihat membuat aku ingin mengumpat sekerasnya. Lelaki itu sedang mengerjapkan mata dengan malas. Bibirnya memberengut ke depan, tangan sedang memeluk salah satu boneka kesayangan milik aku si Mr. Grizz. Aku berjalan ke arahnya dan merebut boneka itu dengan kasar. Ty berdecak, hidup merasa tidak bersalah sama sekali. Dia mengerjapkan mata seperti cahaya lampu kamarku terasa sangat menyengat. Lalu dengan malasnya, dia meregangkan diri seperti tidak sedang dalam situasi yang gawat. Aku hampir saja melakukan tindakan kekerasan menggunakan Mr. Grizz. “Ada apa ini?” tanya Ty dengan suara berat dan serak karena baru saja terbangun. Aku memutar kedua bola mataku padanya. “Kau serius menanyakan hal itu?” “Memangnya kenapa?” Ty mengernyitkan dahi padaku. Aku menunjuk Theressa yang masih berdiri tak percaya di ambang pintu. “Oh, hi, Theressa ‘kan?” Aku menganga lebar. “’OH, HI, THERESSA, ‘KAN?’ katamu?” “Lalu?” Ty menggaruk lengannya. “Bukankah nama dia memang Theressa?” Aku angkat Mr. Grizz tinggi di udara, menyerah dengan keanehan ini. Aku memilih untuk menghampiri sahabatku yang masih membeku di depan sana. Theressa aku tarik ke dalam kamar, lalu aku menyuruhnya duduk di tempat tidur. Aku lirik jam di samping tempat tidur. Pukul lima sore. Sial, aku tertidur hampir seharian. “Theressa, dengar, aku—“ “Apa itu Tiberius Florakis?” suara Theressa terdengar lirih, berbisik, hati-hati. Yah, siapa yang ingin aku salahkan? Ty itu memang tidak main-main orangnya. Jika ada yang terdengar sedang membicarakan dia, mati sudah orang itu, “Iya, ini aku,” Ty menguap lebar. “In the flesh.” Aku memutar kedua bola mataku lagi, tak peduli dengan apa yang akan terjadi padaku. Bagus, selain stres dini, aku juga akan kehilangan dua bola mata secara dini. Aku melototi Ty yang hanya membalas dengan bahu diangkat, acuh tak acuh. Lelaki itu berdiri dan meregangkan tubuh lalu menghilang dari balik pintu kamarku. Aku membuka mulut lebar, mencoba untuk melarangnya, atau berkata apa pun itu, tapi tidak ada suara yang keluar. Aku terlalu terkejut dan merasa tubuh stagnan melihat kelakukan Ty seperti orang tidak tahu diri seperti itu. Apa semua anak pemilih saham terbesar di mana pun memiliki perilaku seperti dia? Ah tidak, aku tidak boleh mengkategorikan orang seperti dia semuanya memiliki tabiat yang buruk. Ty pasti satu-satunya orang yang tak memiliki adat. Tetapi sesaat kemudian aku merasakan Theressa meraih tanganku, meremas sekuat tenaga hingga aku merintih kesakitan. “Theressa, kau tidak perlu melakukan kekerasan begini—“ “Vincent,” suara Theressa tercekat, matanya penuh horor. “Vincent sudah pulang!” Rasanya duaniaku runtuh. OK, panggil aku berlebihan, hiperbola, atau semacamnya. Terserah kalian. Tapi, sebentar lagi perang dunia ke tiga akan terjadi di rumah aku sendiri. Jadi, aku tidak salah kalau bertingkah berlebihan. Aku segera melepas pegangan Theressa dan menderu ke bawah, langkah kaki aku sendiri menggema ke seluruh rumah. Suara yang sama terdengar dari belakang aku, membuat aku tersadar kalau Theressa juga mengikuti aku turun ke bawah. Hati berdegup kencang menanti apa yang akan aku temukan di bawah, apa Vinny sudah menyerbu Ty, atau Ty yang mencari masalah pada kakak lelaki aku itu. Saat kami sudah sampai di bawah, aku terdiam, begitu juga Theressa. Suasana di dapur sangat mencekam. Ty berdiri di depan meja, sedangkan kakak lelaki aku Vincent sedang berdiri di pintu belakang dapur, membeku seperti baru saja melihat penampakan di rumah kami. Aku menahan diri untuk tidak meringis. Sepertinya Vinny baru saja memergoki Ty masuk ke dalam dapur dan tak tahu harus berbuat apa. Tapi aku yakin, jauh di dalam lubuk hatinya, pasti lelaki itu sedang membuat ratusan skenario bagaimana caranya melenyapkan laki-laki yang seenaknya masuk ke dalam rumah kami itu. Theressa berdeham, mencuri perhatian Vinny. Lelaki yang tadinya membeku itu mendadak salah tingkah. Aku mengangkat alis, merasa aneh dengan reaksi seperti itu namun aku tak berpikir panjang, karena ada masalah lebih penting yang sedang terjadi. Seperti anak pemilik saham terbesar di sekolah yang berada di dalam dapur rumahku. “Vincent . . . kau sudah pulang?” Theressa menyeringai palsu. “Kau sudah melihat aku masuk dari pintu depan tadi.” Jawab Vinny datar. Aku sekarang benar-benar meringis. Bodoh. Basa-basi yang gagal mutlak. Aku melirik Theressa, gadis itu hanya mengedikkan bahu padaku seperti mengatakan, “Well, I tried, right?” “Kapan kau pulang, Vinny?” tanyaku, masih tak mengatakan apa pun tentang hal yang sedang terjadi di depan kami. Seperti Tiberius itu tidak terlihat. Vincent menyipitkan matanya padaku. “Beberapa menit yang lalu. Aku meminta Theressa membangunkanmu agar makan,” Vinny merentangkan tangannya ke depan, menunjuk lelaki yang berdiri di dekat meja. “Apa kita tidak akan membahas masalah yang sedang terjadi ini?” “Masalah apa?” tanyaku sok polos. Theressa mengangguk. “Aku tidak melihat masalah apa pun?” pernyataan yang malah terdengar menjadi pertanyaan menyedihkan. Aku berusaha memberitahu Theressa agar lebih baik dia diam saja. Vincent berdecak, lalu melangkah maju ke arah Ty. Aku segera melerai mereka, memberikan jarak antara musuh bebuyutan aku itu dengan kakak yang sedang naik pitam. Aku tidak ingin ada pertumpahan darah di dalam daput. Bisa-bisa Ibu kehilangan akalnya. Berubah menjadi perantara, aku merasa sangat kecil dan mungil berada di tengah Vincent dan Tiberius yang notabene memiliki tubuh besar dan tinggi. Theressa menarik lengan Vincent, agar lelaki itu menjauh. Tapi yah, memang kekuatan dia yang mungkin jauh lebih besar dibandingkan Theressa, pria itu tidak bergeming sama sekali. “Vinny.” Vincent menoleh, seperti terkejut karena telah dipanggil menggunakan nama panggilan kesayanganku. Dia menatap Theressa lekat, kemudian mendadak luluh. Aku harus menanyakan perihal ini juga. Tapi tidak sekarang. Tidak saat Vincent terlihat siap menghabiskan Tiberius kapan saja. “OK, dengar . . .” Aku merentangkan tangan agar jarak di antara Ty dan Vincent semakin jauh. “Dia datang hanya untuk memeriksa apakah aku baik-baik saja.” Aku berusaha untuk menenagkan Vincent. “Tidak macam-macam. Kau ingat dia yang menolong aku, ‘kan?” “Kapan dia datang?” tanya Vincent. “Barusan.” “Tadi pagi.” Aku dan Tiberius saling menjawab dengan balasan yang berbeda. Aku mengumpat di dalam hati. Sial. Lelaki ini benar-benar akan menjadi alasan mengapa aku mati muda. Kalau begini terus, aku rasa aku tidak akan hidup lebih dari delapan belas tahun seperti gadis normal. Aku melirik Ty dengan tatapan yang aku harapkan sangat mengerikan. Dia mengangkat bahu acuh tak acuh lagi. Aku siap menghajarnya. Theressa berdeham lagi. Vincent menggeram. “OK . . .dengar semuanya!” aku sudah putus asa sekaligus kesal. “Sekarang semuanya pergi ke ruang tamu dan duduk seperti orang yang berdukasi.” Ketika tidak ada yang bergeming, aku meninggikan suaraku beberapa oktav. “Sekarang!” Satu per satu dari mereka keluar dari area dapur. Theressa mengekor di belakang Vincent, mungkin menjaga agar pria itu tidak berbalik badan dan memutuskan untuk menyerang Ty saat itu juga. Aku berjalan di samping Tiberius sambil berharap lelaki di sebelah aku itu tersandung karpet atau semacamnya. “Baiklah, karena kita sudah duduk, mari bicarakan ini baik-baik,” ucapku setenang mungkin ketika semua orang sudah duduk di sofa dengan manis. Theressa dan Vincent bersampingan, aku di sofa solo sebelah mereka, sementara Tiberius di sebelahku. “Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Vinny.” “Oh, ya?” Vincent menelengan kepalanya. “Memangnya apa yang aku pikirkan, Vanny?” Dengan berat hati, aku berusaha agar menjadi orang yang lebih baik dibandingkan mereka semua yang keras kepala. Aku memberikan senyum simpul. “Begini, tadi pagi, Tiberius datang ke sini.” “Sudah aku duga—“ “Dengar dulu,” potongku cepat begitu aku melihat urat leher Vincent menegang. “Dia tidak ingin berbuat apa pun padaku. Dia hanya ingin memeriksa apakah aku baik-baik saja. Lalu, karena dia lelah, aku menyuruhnya untuk istirahat.” “Di kamarmu?” Vincent terlihat akan meledak. “Apa kau lebih memilih aku menyuruh dia rebahan di tempat tidurmu?” Vincent terdiam. “Sudah aku duga. Jadi, tenang saja. Yang kita lakukan sebelum Theressa masuk ke dalam kamar dan bertingkah seperti aku baru saja melakukan tindakan kriminal,” kata itu aku tekankan sambil melototi Theressa. “Adalah tidur. Itu saja.” “Dan kau mau aku percaya itu? Bagaimana jika dia melakukan sesuatu padamu saat kau sedang tertidur pulas?” Mendengar ini, Tiberius akhirnya bereaksi. “Kau pikir aku lelaki macam apa?” “Let’s see, tidak tahu diri, tidak tahu terima kasih, pembuat onar, tukang mencari masalah, a lost cause, seorang—“ “OK . . . baiklah! Kita mengerti. Dia orang yang buruk,” Ty sekarang melirik aku penuh sangsi. “Tapi, dia tidak akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dia bukan orang yang seperti itu.” “Dan kau tahu dia orang seperti apa?” “Setidaknya aku tahu dia bukan orang tidak bermoral.” “Thanks.” Sahut Tiberius tanpa nada berterima kasih sama sekali. Aku hanya membuang napas panjang, lelah dengan semua ini. “Jadi . . .” Theressa menelan ludah. “Apa akan ada yang membicarakan tentang teror hari itu?” Vincent mengerutkan dahinya. Otomatis, aku harus menceritakan segalanya dari awal lagi, menghilangkan jejak tentang bermalam di ruang rawat tentu saja. Vinny tak perlu mengetahui satu fakta itu. “Kalau bukan dia, lalu siapa?” Tiberius mencibir. “Siapa pun dia, orang itu akan menyesal seumur hidup.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD