17.16

1642 Words
RUPANYA CHELSEA adalah seekor boa masif berwarna kuning yang mengerikan. Menurut Lee sih, dia menggemaskan. Entah bagian mana yang menggemaskan dari seekor ular besar yang bisa melahap kau dalam satu kali santapan, tapi sepertinya Lee ini punya sedikit kelainan. Tidak, sepertinya semua orang di dalam kebun binatang ini punya kelainan sendiri sebab sungguh, siapa yang tidak merinding melihat ular besar yang bisa menyantap satu tubuhmu dalam satu lahapan saja begitu? Tidak ada. Hanya Vincent yang waras di sekitar sini. Lagi pula, memangnya ada yang akan merasa senang melihat ular sebesar itu? Vincent meringis saat mendapati ular boa masif berwarna kuning di dalam kandang. Dua bola matanya terlihat berwarna emas, sangat mengintimidasi. Dia melihat Vincent seperti sebuah mangsa gampangan yang tidak perlu banyak usaha agar bisa membuatnya terpojok. Vincent merasa seperti dileledek. Ular boa masif itu menatapnya elusif dan nyaris terlihat bosan, sementara Vincent sendiri sudah siap terbang jauh dari sana. Secara garis rantai makanan, dia yang paling di atas di sini, kan? Vincent berusaha mengingat pelajaran Biologi, namun akhirnya hanya terlihat seperti orang bodoh. Pria itu menahan diri agar tidak melontarkan inkuiri yang konyol tersebut. Dia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri di depan Lee. Yah, walau sudah jelas dia terlihat lebih payah dari pada pria tampan itu. Terlihat dari caranya mengambil Chelesea seperti hewan itu adalah tali besar yang tidak berbahaya. Parahnya lagi, Lee malah melingkarkan ular itu di lehernya, seperti tidak peduli kalau sungguh, jika Chelsea mau, dia akan menjadi daging steak. “Kau tidak takut?’ tanya Vincent heran. Masa bodoh dengan rasa maskulin dan macho. Ini namanya gila. Dia melirik Lee dengan kening yang mengerut. Ular itu seperti sudah menyatu dengan tubuhnya. Dia bergerak tanpa beban seperti sedang berada di pohon. Dan benar saja, Lee tertawa tipis melihat reaksi dua Abernathy bersaudara itu. Setidaknya, bukan hanya Vincent yang terkejtu saat ini. “Tidak. Chelsea adalah anak yang baik. Benar kan Chelsea?” tutur pria itu kepada ular. Vincent mulai merasa menyesal lagi dengan pilihannya. “Dia sepetri ini karena dia pikir tubuh aku adalah dahan pohon.” Ah. Jadi benar dugaan Vincent. Pria itu mengagguk kecil, namun tidak melakukan apa – apa selain diam di tempat. Dia tidak mau mengambil resiko jika bergerak, dia akan menginjak ular atau semacamnya. Apalagi telur ular. Vanessa tadi sempat menunjuk telur di ujung kandang, yang di jawab oleh Lee seperti ini. “Oh, iya kau benar. Itu telur ular. Semua hewan di sini bisa terus reproduksi. Di sini ada profesor yang membantu pihak kebun binatang agar bisa terus menolong para hewan.” Lee menunjuk ke kandang yang tertutup. “Semua binatang di sini.” Vincent merinding melihat kandang harimau yang mengintimidasi. “Kenapa dia ditutup?” tanya Vincent. “Leo sedang sakit, jadi untuk tidak membuatnya tambah stres, kita tidak memperlihatkan dia untuk publik dahulu,” jelas Lee singkat. Dia menaruh Chelsea ke bawah, membiarkan ular itu bergerak ke ujung ruangan dan melilit tubuhnya sendiri. Vincent bergidik ngeri lagi. “Kau menamakan harimau dengan sebutan Leo?” Vanessa terkekeh. “Tunggu sampai kau dengar siapa nama raja hutan di kebun binatang ini,” kata Lee sembari tertawa. Dia menatap Theressa yang menggeleng. “Tiger.” Aku mencibir. Vanaesa tertawa. Bodoh. Lelucon macam apa itu? Kalau aku yang menjadi sang raja singa, aku akan menagis di berikan julukan salah nama begitu. Lee menopang tangan di pipi. “Kau tidak tahu pada apa pun, ya?” pria itu bertanya dengan kening mengerut. Vanessa mengedikkan bahu, tak tahu harus menjawab apa mendengr pertanyaan begitu. Gadis tersebut hanya mengibaskan tangan acuh tak acuh. “Semua karna kau ada di sini dan tahu harus melakukan apa. Jika tidak, aku tidak akan sesantai ini.” “Lee memang keren. Dia yang paling hebat di kebun binatang ini.” Vincent tidak bisa menahan diri untuk tidak mencibir dengki. Dia melirik Theressa dan adiknya Vanessa yang sama – sama terlihat seperti dua gadis remaja penuh hormon. Dua gadis itu tersenyum lebar pada Lee yang menjelaskan sedikit tentang ular boa tersebut. Beikutnya, mereka di perkenalkan lagi pada lebih banyak jenis reptil. Ada ular kobra, ular bersisik yang membuat Vincent geli, sampai ada juga ular pyhton yang besar sekali. Mereka melihat kadal yang besar, ada juga komodo yang di bawa langsung dari Indonesia, dan ada juga iguana unik berwarna putih. Kata Lee sih itu iguana albino. Vincent sendiri bahkan tidak tahu apa iguana termasuk hewan reptil atau tidak. Mereka lalu beralih ke lokasi selanjutnya. Di sini terdapat banyak pengunjung. Panda. Vanessa memekik pelan saat melihat beberapa anak panda yang lucu dan menggemaskan sedang bermain rumput di dalam kandang kaca. “Kalian mau lihat dari dalam?” tanya Lee. “Aku rasa kalian akan banyak berada di sini. Profesor yang mengurus panda di sini sering kewalahan untuk mengurus mereka, berhubung mereka ada banyak. Sekitar dua belas panda lawan satu dokter. Expert pun akan kewalahan.” Vanessa yang mengangguk lebih dulu. “Aku mau, mau, mau. Please, please, I wanna see them up close.” Gadis itu tersenyum dari ujung ke ujung. Vincent pun ingin protes jadi tidak bisa. Dia tahu sejak dulu, Vanessa sangat suka panda. Semua berkat film kung – fu panda yang dia perlihatkan pada Vanessa saat kecil dulu. Lee tertawa melihat Vanessa yang penuh ekstasi. Dia mengajak mereka berkeliling ke belakang. Sampai di sana, dia memperkenalkan mereka dengan seorang wanita yang tidak jauh lebih tua. “Ini profesor Sarah. Dia adalah expert dalam urusan mengurus panda di sini.” Wanita cantik itu mengulurkan tangan dan menjabat dua tangan Abernathy bersaudara. Dia tersenyum tipis pada Vanessa yang sangat senang. “Jadi, apa kalian siap menemani aku ke dalam? Aku butuh asisten untuk memberikan beberapa suntikan obat ke panda.” “Tentu saja,” seru Vanessa sebelum profesor itu bisa menjelaskan lebih jauh. Yang lain tertawa keras. Mereka hendak mengikuti profesor itu masuk, namun Lee menahan Vincent. Pria itu terhenti dan menghadap ke belakang. “Profesor Sarah hanya butuh satu orang. Sejujurnya, aku butuh kau untuk melakukan sesuatu. Bisa?” Vincent sudah mau protes perkara dia belum mulai bekerja sekarang. Tapi dia melihat Vanessa yang begitu senang dan ditemani oleh seseorang yang ahli, jadi pria itu tidak perlu cemas. Dia mengangguk pada Lee. “Aku butuh kau menemani Theressa.” “Oh,” Vincent mencoba tenang. “Ke mana?” “Leo. Dia butuh suntikan juga.” Vincent tidak dapat mengatakan satu patah kata pun pada Lee, bahkan saat dia meninggalkan pria itu dan main jalan saja ke arah kandang tertutup tadi. Pria itu mengikuti sepetri anjing kehilagan arah lagi, tak tahu mesti apa. Jika minta tolong pada Vanessa, gadis itu saja masih sibuk dengan penjelasan dari profesor yang ahli panda itu. Ugh, semua ini karena adiknya itu. Lagian, kenapa juga sih Vincent harus sok ikut menjadi sukarelawan? Minggunya udah hectic dengan jadwal latihan. Sekarang harus di tambah dengan ini juga? Vincent melirik ke depan dan mendapati dua figur yang berjalan santai. Ah, benar. Theressa. Dia tidak mau Theressa menang adu argumen dan memutuskan untuk menjadi volunteer di tempat ini juga. Bagus. Sekarang, dia semakin bodoh dan konyol saja. Dia menelan ludah saat masuk ke dalam sebuah ruangan. Di ruangan itu, terdapat banyak perlatan yang terlihat seperti peralatan tempur dan berbahaya. Vincent mendengar penjelasan Lee secara tidak fokus, masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan. Entah apa yang pria itu sedang katakan. “Oke, bukankah tadi kau yang bilang kalau bagian hewan liar dan buas itu sudah ada ahlinya?” bisik Vincent pada Theressa yang sedang memakai rompi berwarna cokelat lengkap dengan segala macam perlengkapan di dalam kantungnya. Theressa tersenyum miring. “Dan aku lupa bilang kalau aku sudah kenal Leo?” “Kau—“ Vincent memicingkan mata. “Tidak ada gunanya beradu argumen sekarang.” “Tenang saja, kau hanya tinggal membantu aku membawa ini,” Theressa memberikan sekotak P3K yang berwarna merah. “Obat yang harus aku suntik ada di dalam. Kalau aku sudah berhasil membuat Leo tunduk, kau akan memberikan aku obat itu.” Vincent mengerang tidak suka, namun dia tetap melakukan apa yang harus dia lakukan. Lee memberikan acungan dua ibu jari kepada pria itu, lalu menghilang dari sana. “Kenapa tidak dia saja yang membantu kamu?” Theressa menyerahkan rompi yang similar pada Vincent. “Pakai ini. Agar mereka merasa familiar. Dan tidak, Lee ada urusan lain. Lagi pula, dengan begini kau bisa belajar.” “Belajar apanya? Aku tidak perlu tahu perkara harimau dan semacamnya.” “Kau akan menjadi volunteer di sini, kan? Atau kau sudah berubah pikiran?” Vincent mendengus. Dia meraih rompi itu dan memakainya cepat. Sesudahnya, mereka berdua masuk ke dalam pintu yang dibuka Theressa. Pintu itu ternyata membawa mereka masuk ke dalam kandang yang masif, seperti kandang kucing namun dalam skala harimau. Vincent sejemang merasa takjub, lalu dia tersadar dan menjadi was – was. Ini kandang harimau. Diulang, ini kandang harimau. Pria itu berjalan tidak jauh dari Theressa. Sementara Theressa sendiri sudah sibuk mencari di mana Leo berada. Harimau itu ternyata ada di salah satu bawah dahan pohon yang menjadi hiasan di dalam kandang. Dia terlihat lesu, tak berdaya, dan sudah jelas sedang sakit. Leo mendongak saat melihat kehadiran Theressa. Benar saja, Leo itu sudah kenal Theresa. Tanpa disuruh, hewan buas itu berdiri pelan, dan berjalan sempoyongan ke arah Theressa yang menunggu di tengah. “Jika kau menunggu, maka mereka akan merasa itu etikad yang baik.” Vincent tidak peduli. Yang dia pedulikan hanya seekor harimau yang tingginya mencapai sekitar pinggang pria itu. Dia bisa saja melahap mereka berdua sekarang juga. Tanpa berpikir panjang. Hal itu membuat Vincent tidak memerhatikan sekeliing. Sementara Theressa yang masih sibuk dengan Leo. Mereka berdua tak melihat satu ekor hewan buas yang beranjak dari balik semak belukar artifisial di dalam kandang. Perlahan, hewan itu menyelinap dari belakang mereka seperti predator. Vincent terlalu lama melihat begitu harimau satu lagi itu sudah menggeram. Dan melompat ke arah Theressa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD