MUTLAK, PRIA bernama Vincent Abernathy itu tidak bisa protes. Bagaimana bisa dia protes kalau jauh di lubuk hatinya saja dia setuju dengan semua hal yang Theressa jelaskan? Pria yang baru saja datang dari depan pintu masuk kantor itu tersenyum lebar seperti malaikat yang jatuh ke bumi.
Berlebihan memang, tapi memang benar adanya kalau dia merasa Lee itu seperti malaikat yang baru saja jatuh ke bumi. Deskripsi dari Theressa tidak berhasil memperlihatkan dengan jelas apa yang aslinya. Lee itu tersenyum tipis. Atau memang bibirnya selalu terbentuk seperti itu. Kau tahu, sepert orang yang bingkai mulutnya selalu membentuk garis harsa cantik jadi dia selalu terlihat seperti sedang tersenyum.
Sekali lihat, Vincent sudah merasa tersaingi. Itu sedikit . . . payah, kan? Vincent merenyuk di dalam hati. Kenpa juga dia harus merasa tersaingi? Ugh, yang lebih penting, kenapa juga Lee ini harus benar – benar terlihat tampan, sih? Kenapa dia tidak bisa terlihat buruk rupa, seperti si buruk rupa dalam cerita dongeng beauty and the beast atau semacamnya.
Ini sangat tidak keren, umpat Vincent di dalam hati.
Dia mengobservasi pria yang sedang berjalan ke arah mereka tersebut. Lee. Bahkan namanya pun terdengar keren.
Postur tubuhnya tegak, dan dia sepantar dengan Vincent. Pria itu berambut hitam pekat, sedikit kerinting di bagian atas, namun itu justru menambah hal yang menarik di dirinya. Dia mengenakan seragam yang serba cokelat tua, dengan logo kebun binatang di depan seragamnya.
“Lee!” seru Theressa begitu dia melihat figur tersebut.
Gadis itu melambaikan tangan seperti sudah tidak melihat pria tersebut selama lebih dari tiga bulan atau semacamnya. Padahal Vincent yakin pasti Theressa baru juga bertemu dengan dia akhir pekan yang lalu.
Benar saja. Saat figur pria itu semakin dekat, Vincent bisa melihat sosok yang tampan dan memang menarik. Matanya membentuk bulan sabit saat tersenyum, sehingga menambah efek tampan di wajahnya. Hidungnya tinggi. Bibirnya tidak tebal, tapi tidak juga tipis. Kulit putihnya bersinar di bawah matahari. Dua bola matanya cokelat tua, terlihat seperti hitam.
Dalam sekali lihat, Lee ini seperti seorang model menggemaskan.
Vincent berdecak di dalam hati sebab merasa tergeser. Ah, dia tidak mungkin tergeser dengan pria ini, kan?
Saat pria itu menoleh ke samping, dia bisa melihat kalau dua gadis yang datang bersama dia itu tidak berpikir sentimen yang sama. Sudah jelas, Lee ini sedang mengambil tempat nomor satu di hati mereka.
Pria itu berhenti tidak jauh di depan ketiganya, dengan senyum yang lebar dan merekah di wajah. Senyum itu begitu menawan hingga dua gadis di depannya ini nyaris meluluh. Bukannya itu seharusnya yang terjadi saat orang melihat Vincent?
Dia melirik Theresa. Tidak. Dia tidak meluluh sama sekali melihat Vincent kala itu.
Ada sedikit rasa dengki di hati, namun Vincent dengan sigap mengatur komposurnya lagi, terlebih saat Lee sudah melambaika tangan pada mereka semua.
“Hey,” dia menyapa Theressa. Lalu dia menatap Vanessa dan Vincent bergantian. “Hey, kalian pasti sukarelawan yang baru kan? Kenalkan aku Lee, dan aku yang akan mengajak kalian berkeliling di sini.”
Vanessa ikut melambaikan tangan. Lalu gadis itu mengulurkan satu tangan sembari berkata, “Hey. Vanessa.”
Lee menjabat tangannya dengan baik.
Lalu pria itu beralih pada Vincent. Dia mengulurkan tangan ke depan, menunggu untuk dijabat tangannya namun Vincent sedikit termangu. Dia menatap tangan itu dengan pahit, memaksa garis harsa di bibir dan menjabat Lee.
“Vincent,” kata dia pelan.
Lee mengangguk, tidak menyadari minimnya tingkat keramahan Vincent.
Theressa menepuk tangan tiga kali, dan berseru riang. “Jadi, apa kita bisa mulai sekarang? Apa dulu yang harus kita perlihatkan pada mereka?” tanya gadis itu. Dia melihat ke sekeliling sembari berpikir panjang.
“Aku pikir kita bisa mulai dari burung – burung,” kata Lee. Dia menunjuk ke arah masuk tadi, tempat yang sudah mereka lewati. “Sepertinya mereka akan menghabiskan waktu cukup banyak di area sana, jadi akan lebih mudah jika mereka tahu dan paham perkara burung di kebun binatang ini.”
Theressa mengangguk setuju. “Baiklah. Bagaimana dengan kalian?”
Vanessa juga setuju, yang membuat Vincent mau tak mau setuju juga. Lagi pula, dia ke sini untuk menjadi sukarelawan juga kan?
Mereka semua berjalan ke arah tadi. Theressa berjalan di samping Lee, sementara Vanessa di sisi satunya yang lain. Vincent berjalan di belakang mereka seperti anak anjing yang kehilangan arah lagi. Pria itu merenyuk dan melipat dua tangan di depan tubuh, sebuah postur yang diperuntukkan untuk memperlihatkan sisi macho.
Vincent itu memang benar orang yang childish.
Lee membawa mereka masuk ke dalam sebuah kandang yang besar sekali, seperti sebuah rumah hijau atau planetarium kaca yang masif. Di atas mereka, sebuah atap berbentuk oval panjang yang berputar di desain dengan bentuk awan yang indah. Beberapa jendela di rumah kaca itu terbuka, membiarkan angin masuk dan berhilir.
Tidak ada orang banyak di sini, dan Lee menjelaskan kalau biasanya memang di sini kurang banyak pengunjung di pagi hari. Tapi saat sudah sore menjelang malam, akan ada yang banyak masuk ke tempat ini sebab bias mentari terlihat indah tatkala membentang di atas rumah kaca.
Hal pertama yang Vincent sadari adalah betapa ributnya tempat ini. Banyak sekali kicauan burung yang meresonasi hingga ke langit. Bukan itu saja, tempat ini juga di hiasi oleh banyak tanaman gantung dan tanaman yang merambat di setiap kaca, menjalar dan mengingatkan Vincent terhadap serial animasi Sleeping Beauty.
Jangan tanyakan kenapa Vincent tahu Sleeping Beauty.
Dia harus terpaksa menonton semua serial animasi dongeng yang feminin untuk menemani Vanessa.
Lee membawa mereka ke beberapa kandang burung yang besar dan indah. Mulai dari burung kakak tua, yang membuat Vincent ingin memelihara satu.
Ada juga burung elang yang gagah dan tangguh. Vanessa termangu di depan kandang, terlebih saat Lee berani mengeluarkan hewan itu dari dalam. Elang itu memperlihatkan mereka sebuah skill yang handal, yaitu terbang dengan cepat ke atas, lalu turun secara menukik dan masuk lagi ke dalam kandang tanpa beban. Gadis itu sampai tepuk tangan.
Lalu Lee membawa mereka ke tempat burung merak. Kali ini bahkan Theressa pun bisa bekerja sama. Dia masuk ke dalam kandang, dan mengelus bulu burung merak yang indah itu. Theressa mengajak Vanessa masuk, dan bersama mereka berkenalan dengan si merak.
Vincent terus mengikuti instruksi dari Lee, mulai dari jangan memberi makan sembarangan, sampai harus memastikan kalau kandang mereka ini bersih terus.
Pria itu mengerang di dalam hati perkara pekerjaan yang akan dia lakukan. Sudah sukarelawan, mereka harus bersih – bersih di sini pula. Dia mulai menyesali apa yang dia lakukan, namun saat melihat Theressa tertawa lepas dan nyaring di samping Lee yang sedang memegang seekor burung eksotis, Vincent tahu ini pilihan yang tepat.
Entah kenapa dia sangat sensitif dengan pria itu.
Mungkin sebab dia tidak mau Vanessa bisa dekat dengan seorang pria?
Iya, benar. Pasti itu alasannya. Tidak mungkin karena Vincent . . . ah, tidak. Pria itu membuyarkan lamunan dengan fokus pada burung yang ada di tangan Lee. Dia mengangkat burungnya tinggi, memperlihatkan bulunya yang berwarana cantik.
“Kalau kalian sudah kenal dengan mereka, maka segalanya akan menjadi mudah.” Lee menyodorkan burung itu ke depan Vincent. “Kau mau coba? Aku janji dia tidak akan menggigit atau semacamnya," Lee menawarkan senyum yang tidak menyakinkan hati Vincent sama sekali. Yang ada, dia malah kesal sebab pria itu baru saja memperlakukan dia seperti anak kecil yang sedang takut.
Vincent menarik napas dalam diam – diam. Dia melirik Theressa, lalu Vanessa. Berhubung tidak ada yang mau duluan, mana mungkin Vincent bisa menolak?
Dia mengangguk kecil. Lee mengulurkan tangannya, di mana burung itu sedang bertengger di pergelangan tangan Lee. Pria itu memberi instruksi agar sang burung terbang. Vincent membeku saat burung itu mendarap di lengannya.
“Er, dia tidak berbahaya, kan?” tanya Vincent. Aku di sini untuk Vanessa, bantinnya. Tapi tetap saja dia melirik Theressa yang tersenyum bangga melihat Vincent seperti itu. Tak lama, keraguan pergi dari dalam benaknya. Lee menggeleng padanya. Tentu saja tidak. Ini adalah burung.
Vincent berdiri tegak dan mengedikkan bahu sombong. “Hanya ini saja?”
“Tentu saja tidak,” Lee mengambil burungnya kembali dan menaruhnya di atas dahan yang palsu. Dia menepuk tangan satu kali dan tersenyum ke arah mereka semua. “Jadi, siapa yang siap bertemu Chelsea?”