SELAMA TERUS MENERUS, Theressa mencoba mengingatkan dirinya sendiri tentang apa yang baru saja dia katakan saat lari dari dapur rumah Abernathy bersaudara. Vincent Abernathy itu off – limits. Bukan hanya off – limits, tapi lebih seperti sesuatu yang terlarang. Berlebihan? Tidak, tentu saja. Seperti yang pernah dia katakan pada dirinya sendiri, benak seperti itu hanya akan menjadi dan berubah menjadi sesuatu yang tidak mudah dihilangkan. Theressa tahu itu. Jadi, apa yang dia lakukan memikirkan perkara nama panggilan saja?
Theressa, wake up! Hanya nama panggilan saja, apa susahnya, sih, menerima itu dengan baik? Lantas, memangnya kenapa kalau nama panggilan itu terdengar afeksionis? Belum tentu juga akan menjadi rasa sayang. Kau hanya berlebihan, Theressa.
Gadis itu mengumpat di dalam hati. Ya, berlebihan. Dan tentu saja, fakta itu hanya membuatnya semakin merasa kalah. Baru juga diberi nama panggilan yang tidak punya arti besar, dia sudah payah begini, apa kabar jika Vincent melakukan sesuatuy yang bisa membuat dia berdegup kencang? Atau malah membuat gadis itu tersipu malu?
Mutlak, tidak ada yang bisa mengganti pikirannya.
Lagi pula, dia lebih tua dari Theresaa. Dan dia pasti senior di sekolah. Theressa itu hanya teman adiknya. Dan Vincent Abernathy itu pria yang mengesalkan. Dia selalu membuat jengkel dan bertindak semaunya. Theressa tidak suka pria macam begitu.
Dia tahu kalau Vincent itu memang bukan orang yang tepat untuk di jadikan bahan crush. Tidak seperti Lee di tempat kerja yang terbuka untuk semua. Bukannya Theressa menghakimi Lee sih, tapi pria itu bebas. Dia bisa flirting dengan siapa saja, dan kapan saja karena dia tidak punya siapa – siapa.
Tapi kalau Vincent? Ah, sudahlah. Gadis itu tidak akan memikirkan benaknya lagi.
Mereka bertiga sudah duduk di dalam mobil yang sedang berjalan menuju ke kebun binatang di taman bawah kota. Vanessa duduk di kursi penumpang, sementara Theressa duduk di kursi belakang dengan perasaan yang campur aduk.
Vincent mengedarai mobil dalam diam. Hanya ada suara lantunan lagu yang samar terdengar dari pengeras suara. Vincent Abernathy sesekali melirik gadis yang duduk di kursi belakang, menatapnya yang sibuk melihat pemandangan di luar jendela.
Dia menyibak surainya lagi ke belakang, sesuatu yang sepertinya selalu dia lakukan. Vincent suka saat dia melakukan itu. Surai gadis itu terlihat cantik dan hitam pekat, seperti air terjun yang indah, turun sampai menyentuh belakang pinggang.
Theressa lalu mengusap hidungnya secara menggemaskan. Dia berkedip dan menoleh ke depan. Sejemang, tatapan mereka saling bertabrakan di kaca spion tengah. Theressa mengerjapkan matanya berulang, sementara Vincent segera melengos kembali fokus ke depan.
“Sudah berapa lama kau kerja di sana?” tanya Theressa akhirnya. Dia membuka mulut pertama kalinya semenjak mereka berada di dalam mobil selama lima menit. Pembukaan itu membuat dua orang di sampingnya, Vincent dan Theressa menghela napas lega. Mereka berdua menelan ludah tanpa sadar.
Vincent pun ikut mendengarkan jawaban dari Theressa.
“Er . . . sekitar enam bulan? Aku mulai kerja di sana saat ujian akhir sudah mulai selesai. Kita waktu itu ada banyak waktu luang, jadi aku pikir, kenapa tidak aku habiskan dengan sesuatu yang baik saja?”
Vincent mengangguk setuju. “Itu bagus. Dari pada Vanessa yang hanya menghabiskan hidupnya dengan menonton teve seri atau film sampai pagi hari. Lalu hari itu hanya akan berputar lagi.”
Vanessa memukul lengan kakaknya dengan ganas. “Aku hanya menggunakan waktu luang untuk menghibur diri aku sendiri. Apa itu salah?”
“Tidak sih, tapi setidaknya kau harus keluar rumah.”
“Ah, untuk apa keluar rumah saat kau sudah nyaman di kamar tidur?”
Vincent menghela napas panjang saking tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia melirik gadis yang duduk di kursi belakang dengan alis terangkat dan mengatakan dari sorot matanya, lihat, aku harus hidup bersama orang ini selama sisa hidupku.
Theressa menggeleng dan menahan senyum. “Apa pun yang orang lakukan, asal tidak merugikan orang lain dan membuat mereka senang, kenapa tidak?”
“Benar, kan?” Vanessa mendengus. “Anyway, apa bagaimana bisa kau kerja di sana pertama kali?”
“Oh, ibuku kenal salah satu pengelola di sana.”
Vincent melirik dia lagi dari kaca spion tengah. Dia tertegun dan merasa penasaran. Theressa tidak sering menyebut salah satu keluarganya. Mungkin mereka memang baru bertemu beberapa hari saja, tapi setidaknya dia saja sudah mengenal Vincent, salah satu keluarga Vanessa.
Memang sih itu karena Vincent selalu ada di sekitar Vanessa, tapi tetap saja rasanya aneh. Dia pun sendirian saat pergi ke graduasi.
Vincent mengabaikan pikiran itu. “Kau suka bekerja di sana?” tanya dia untuk pertama kalinya melontarkan inkuiri yang tidak sarkas atau menyebalkan ke arah gadis yang menjadi teman baik adiknya itu.
“Lumayan. It’s not bad. Not bad at all, actually. Aku akrab dengan semua staff di sana, dan aku juga jadi tahu banyak hal mengenai hewan. Aku dapat pengalaman yang unik. Tentu saja aku suka.”
“Oh. Itu menarik,” seru Vanessa. “Aku jadi tidak sabar.”
“Kau bisa memulai lebih cepat kata Lee.”
“Lee lagi,” gumam Vincent.
Kali ini tidak ada yang meladeni pria itu sebab Vanessa sudah lebih dulu girang dan menoleh ke belakang. “Benarkah? Aku bisa memulai lebih cepat?”
“Iya. Kalau kau mau, minggu depan juga bisa mulai. Musim panas kali ini mulai lebih awal, dan berhubung kita aja sudah tidak ada kegiatan, maka pengunjung mungkin akan mulai naik.”
Vanessa mengangguk siap. Dia memberikan salut pendek untuk Theressa. “Ay, ay, Maam. Akan aku kerjakan dengan baik.”
Theressa terkekeh dan membalas salut dari Vanesaa. “Sejujurnya tidak ada kerjaan yang begitu berat. Kau hanya harus pintar rukun dengan fauna yang ada di sana. Kau juga tidak akan di berikan banyak hewan yang rumit sih, sebab mereka sudah punya ekspert masing – masing. Jadi, mungkin di awal kau tidak akan kewalahan.”
Vanessa mengangguk mengerti.
“Hey, jelaskan padaku juga. Aku juga akan menjadi sukarelawan.”
Theressa mengerang. “Aku lupa itu,” gadis itu mengecap lidah. “Intinya, sama. Tapi mungkin kau akan diberikan pekerjaan yang lebih mementingkan otot. Mungkin kau akan di tempatkan di bagian fauna air atau semacamnya. Di sana, segala hal menjadi berat dan susah sebab basah.”
Vincent merenyuk. “Tapi kalau begitu aku tidak bisa—“
Theressa menyeringai miring. Vincent menangkap ekspresi itu dari kaca spion tengah dan menyumpah rendah.
“Kenapa?” tanya Vanessa.
“Dia belum tentu akan bersama kita terus,” bisik Theressa keras.
“Aku bisa mendengar itu,” gumam Vincent tak suka. Pria itu memutar dua matanya dan berbelok ke arah kebun binatang. Pintu depan terbuka, dan Theressa memberikan instruksi agar pria itu masuk saja.
Tak lama, mereka sudah parkir di depan dan semuanya turun. Vincent meregangkan tubuhnya yang tinggi dan masif. Dia berjalan mengikuti dua gadis di depannya dengan ringan. Theressa membawa mereka melewati banyak kandang burung – burung yang indah dan berwarna cantik, melewati tempat reptil yang membuat alis Vincent mengerung sebab banyak sekali ular yang menjijikan, dan melewati sebuah kandang besar yang tertutup.
Vincent terhenti saat Theressa menunjuk ke arah sebelah. “Kantornya di sana,” dia menunjuk ke belakang kandang yang tertutup itu.
Mereka semua berjalan ke sana. “Ada apa di dalam sana?” tanya Vincent saat mereka memutari kandang itu.
“Katy.”
“Oh.” Vincent mengangguk. “Sekumpulan burung juga?”
Theressa menggeleng. “Harimau.”
Vincent bergidik ngeri dan menjauh dari kandang yang tertutup itu. Vanessa justru malah termangu dan berusaha melihat ke dalam kandang, menatap satu lubang yang ada di sana. Vincent menarik dia agar menjauh. Harimau? Apa dia harus mengurus hewan yang buas?
Melihat ekspresi di wajah tampan pria itu, Theressa terkekeh. “Sudah aku bilang kalian tidak perlu cemas dengan fauna yang besar, kan? Sudah ada tim profesional untuk mereka. Lagi pula, mereka tidak akan membiarkan anak baru handling hewan yang besar dan buas.”
Ada rasa lega di hati Vincent. Namun rasa lega itu buyar saat figur tinggi dan wajah yang tampan mendekati mereka dari pintu kantor. Dia putih, terlihat seperti berwajah oriental, dan senyum yang lebar.
Satu lirikan saja sudah membuat Vincent mengerti akan mimik wajah Theressa. Gadis itu berseru dan melambaikan tangan.
“Lee!”