Ketika pintu apartemen ia buka, Alenta mendapati perabotan di sana berada di lantai. Meja kaca kecil di tengah-tengah sofa hancur. Sisa dari pecahan kaca berada di lantai. Alenta melangkah hati-hati untuk sampai—pada Dami. Lelaki itu duduk di samping kaki sofa sembari memegangi botol bir di tangan.
"Dam," panggil Alenta begitu duduk berjongkok di depan Dami.
Vokalis Missing You itu tampak berantakan. Kemeja hitam yang membalut tubuh Dami terasa basah karena keringat. Alenta menepuk kedua pipi Dami bergantian. Sesaat, ia merasa khawatir. Ini bukan pertama kalinya ia mengkhawatirkan lelaki di depannya ini.
"Dam.... lo denger gue, kan?" Alenta menangkup pipi Dami lalu agak mendongakkannya.
Alenta mengambil alih botol bir dari tangan Dami lantas meletakkannya ke lantai. Susah payah Alenta membantu Dami berdiri. Untuk membawa Dami berbaring ke atas sofa butuh banyak tenaga karena dilihat dari perbandingan besar badan mereka, jelas Alenta kelihatan jauh lebih kecil dari Dami.
Dibaringkannya Dami ke atas sofa. Alenta keluar-masuk dapur. Sebentar membersihkan isi apartemen Dami yang mirip kapal pecah, kemudian membantu lelaki itu menyeka wajahnya menggunakan handuk kecil.
Sambil menyapu lantai, Alenta bertanya, ada apa dengan Dami? Kenapa keadaannya kacau begini? Padahal saat terakhir kali mereka bertemu beberapa hari lalu, Dami terlihat lebih baik dari sekarang. Apa Dami habis bertengkar dengan papanya lagi? Atau berdebat sama Dimas? Ah, tidak mungkin. Alenta bisa melihat Dami tidak membenci Dimas seperti Dami membenci Papa serta keluarga barunya. Oh, astaga. Alenta jadi membahas masalah keluarga orang lain!
Alenta mempercepat menyapu lantai lalu mengepel seluruh lantai. Ia sengaja tidak masuk ke kamar Dami dikarenakan itu tempat privasi. Tidak boleh masuk sembarangan kecuali si pemilik memberi izin.
Alenta mendekati sofa dan duduk berjongkok di samping. Ia meletakkan punggung tangannya ke kening Dami kemudian bergumam pendek. Badan Dami agaknya panas. Lelaki itu demam. Alenta menoleh ke kanan ke kiri. Apa ia perlu memanggil dokter? Tapi... kalau Dami marah, bagaimana?
***
"Baru selesai acara, lo tahu-tahu pergi! Lo ke mana sih?"
Di telepon, Tiara tidak berhenti mengomeli Alenta. Mendengar sang manajer mengoceh di telepon, Alenta cuma bisa mendengarkan tanpa protes. Bukan salah Tiara jika marah padanya. Karena, ya... ia merasa bersalah juga.
Sebelum memulai syuting untuk sebuah acara Talk Show di TV, Alenta mendapat telepon dari seseorang. Orang itu menelpon ke nomor Tiara pada awalnya. Tiara menanggapi dengan intonasi sinis. Ia bertanya kepada sang manajer siapa orang yang menelponnya? Sambil memasang ekspresi sebal, Tiara mengangsurkan ponselnya ke Alenta, kemudian menjawab, "Dami...."
Tidak jelas apa alasan Dami memintanya pergi ke apartemen lelaki itu. Suaranya tidak jelas. Alenta memanggil Dami beberapa kali namun bukannya dijawab, panggilannya malah diakhiri. Tiara menggerutu, mengutuk si Vokalis seperti biasanya. Di matanya, sejak kejadian di restoran, Tiara melihat Dami hanya seorang lelaki egois dan kasar! Ia tidak mau artisnya berurusan lagi dengan lelaki seperti Dami!
Sepanjang syuting berlangsung, Alenta tidak tenang. Ia tersenyum tipis sesekali menjawab pertanyaan MC. Tiara memerhatikan gerak-gerik Alenta yang kelewat gelisah. Tiara pikir apa Alenta sedang tidak enak badan? Akhir-akhir ini Alenta jadi banyak pikiran karena manusia bernama Dami! Lelaki itu memang pantas dikutuk!
Baru saja menyelesaikan syuting, Alenta langsung pergi tanpa memberitahu ke mana ia akan pergi. Tiara dan Rivano jelas khawatir. Rivano yang takut kecolongan seperti waktu itu, cepat-cepat mengejar Alenta. Sebelumnya ia sudah diberi peringatan oleh Rayan. Rivano harus ikut ke mana saja Alenta pergi! Sekali saja Rivano gagal menjaga Alenta, Rivano bisa kehilangan pekerjaannya.
Entah bagaimana caranya Alenta bisa lolos dari Rivano. Atau, Alenta tidak menyadari kalau sang bodyguard mengejarnya? Alenta tidak tahu, juga tidak peduli. Karena sesampainya di apartemen Dami, pintunya dalam keadaan terbuka. Keadaan di dalam terlalu kacau. Bahkan... Alenta baru menyadari punggung tangan Dami berdarah.
"Lo lagi di mana? Share lokasi lo sekarang biar gue jemput," kata Tiara.
"Hmm... Ra," gumam Alenta. Kedua matanya melirik luka di tangan Dami. "Gue nggak ada jadwal lagi, kan?"
"Iya. Tapi besok lo harus pergi rekaman," peringat Tiara.
Alenta mengangguk walau Tiara tidak bisa melihatnya. "Gue inget," ujar Alenta. "Lo nggak usah khawatir. Kejadian kayak tadi nggak bakal terjadi. Gue ada urusan hari ini. Bilang aja ke Kak Rayan sama Tasya gue ada janji sama temen."
"Temen lo yang mana?" tanya Tiara cepat. "Rindu atau si kembar?"
Seperdetik kemudian Alenta mendengkus. "Temen gue bukan cuma mereka."
Tiara tertawa canggung. Sepertinya, Alenta agak tersinggung. "Oh, oke. Gue bakal bilang sesuai pesan lo, ya. Lo hati-hati. Kalau butuh apa-apa hubungi gue, ya?"
"Hm." Alenta hanya bergumam.
Panggilan telepon mereka berakhir.
Di tempat yang sama, hanya terhalang pintu yang ditutup, Tiara menarik ponsel dari telinga kemudian mendongak menatap Rivano. "Fix, Alenta di dalam."
Rivano hendak menekan bel, tetapi Tiara menghalanginya. "Selama Alenta nggak diapa-apain sama Dami, lo tunggu aja di mobil. Kalau Rayan tanya, lo bilang aja Alenta masih ada jadwal syuting."
"Tapi...," Rivano tampak ragu.
Tiara menepuk bahu Rivano. "Lo maksa masuk malah bikin Alenta tambah marah. Udah, selama dia baik-baik aja dan bernapas, lo cuma perlu nunggu doang."
Sebelum Tiara pergi meninggalkan lorong apartemen, Tiara menatap Rivano selama dua detik lalu bersedekap. Ia kasihan pada lelaki di sampingnya ini. Rivano jadi sering lari-larian karena Alenta tiba-tiba pergi tanpa memberitahu. Membuat Rivano jadi dimarahi Rayan.
"Lo mau nunggu di sini atau di mobil?" tanya Tiara menarik tali tasnya ke sebelah bahu.
"Saya tunggu di sini aja, Mbak," jawab Rivano.
Tiara mengembuskan napas. "Ya udah, gue balik dulu."
"Iya, Mbak. Hati-hati di jalan, Mbak Tiara."
"Oke." Tiara menengok lalu mengacungkan satu ibu jarinya diselingi senyum ramah.
***
Agaknya, Fano masih terbawa emosi. Terlihat Fano tidak membahas mau pun menyebut nama Dami setelah pertengkaran Dami. Entah bagaimana kondisi Dami sekarang setelah dipancing emosinya sampai marah seperti orang kesurupan.
Naomi tidak membenarkan sikap dingin Dami pada Alenta. Apalagi sampai menyebut Alenta sebagai pembawa sial. Naomi yang mendengarnya saja ikut sakit hati. Kan, Alenta tidak minta diselamatkan Dami. Tapi Dami tahu-tahu muncul kemudian menyelamatkan Alenta dalam bahaya.
Seperti yang sering ia tanyakan. Dami sendiri yang berinisiatif menolong Alenta, tapi Dami sendiri juga yang marah-marah. Maunya apa sih?
"Gue nggak terima Alenta dibilang pembawa sial!" oceh Fano menggebu-gebu.
"Lo tuh, ya!" Naomi berseru lalu mendorong kepala Fano. "Semua kan bermula karena lo! Coba lo pikir. Andai aja lo nggak maksa Dami jaga Alenta, nggak bakal ada kejadian kayak gini, Fan!"
"Tapi Dami belum bilang setuju!" balas Fano membela diri. "Dia bilang nolak. Tapi, saat Alenta lagi dalam bahaya, dia tetap nolongin!"
"Itu namanya, Dami masih punya rasa kemanusiaan." Naomi bersedekap. "Lo pikir, orang yang menurut lo buruk, nggak punya hati ya, Fan? Dami tetap manusia. Sejelek apa pun perangainya, gue rasa Dami masih punya rasa kemanusiaan. Gue yakin, kalau pun bukan Alenta yang dalam bahaya, Dami juga bakal nolongin kok!"
"Lo bela Dami sekarang?" Fano mendelik.
"Gue nggak bela siapa-siapa," jawab Naomi. "Di sini gue jadi penengah. Sikap Dami emang nggak bisa dibenarkan. Tapi lo juga salah. Lo kesannya jadi kayak nggak tahu diri. Mikir nggak lo? Dami udah bolak-balik masuk rumah sakit. Kepalanya yang dijahit-lah. Masuk ruang operasi-lah. Harusnya lo terima kasih! Bukannya ngomel mulu kerjaan lo!"
Setelahnya Fano diam. Bibirnya mengatup rapat dengan isi kepala yang dipenuhi pertanyaan, "Emang iya, ya? Gue nggak setahudiri itu?"
"Nggak seharusnya lo ikut campur urusan manusia, Fan...." Naomi menepuk bahu Fano. "Seberapa banyak usaha lo buat lindungi Alenta. Apalagi sampai bikin orang lain dalam bahaya. Kalau takdir Alenta harus meninggal, ya lo bisa apa?"
"Kok, lo ngomongnya gitu sih, Nom?"
Naomi merentangkan tangan. "Ya, terus? Gue harus ngomong kayak gimana? Dukung lo buat bikin orang lain celaka, gitu?"