Emosi yang Membludak

1117 Words
"DAMI!" Dami berhenti menarik senar gitarnya. Suara besar Fano mengejutkannya. Tiba-tiba konsentrasinya buyar karena kelakuan Fano barusan. Dami meletakkan gitarnya. Menatap Fano, sengit. "Setelah jadi hantu, sekarang lo alih profesi jadi preman?" ejek Dami. "Lo!" tunjuk Fano marah. Dami sepenuhnya meletakkan gitar ke samping tempat duduknya. Fano menunjuk wajahnya begitu marah. Wajahnya yang biasa menunjukkan ekspresi bodoh kini tampak merah. "Salah Alen ke lo apa sih?" tanya Fano, menahan rasa geram. "Kenapa sikap lo ke Alen sejahat itu? Salah dia apa, hah?!" Kedua kaki Dami turun ke lantai yang dingin. Perlahan ia mendekati Fano kemudian tersenyum sinis. "Salah Alenta, karena dia udah bikin gue sial terus!" "ALEN BUKAN PEMBAWA SIAL, YA, DAM!" Dami terbahak, seolah yang dikatakan Fano sesuatu yang lucu, yang perlu ditertawakan. "Lo belum sadar, Fan? Baru tiga kali gue ketemu, gue udah kena sial. Dan sekarang gue tanya ke lo. Kalau bukan karena mau dateng ke acara final Alenta malam itu, apa lo bakal tetap mati atau masih hidup?" tanya Dami tersenyum sinis. "Semua karena Alenta! Gue sial, lo mati, semua karena cewek itu!" Fano meradang seperti orang gila. Kedua matanya mendelik. Kesepuluh jarinya terkepal bersiap diarahkannya ke hidung Dami. Dalam hati ia ingin menghajar Dami habis-habisan. Tapi, apa Fano lupa? Ia itu hantu. Bahkan untuk menyentuh benda mati saja tidak bisa. "ARGHHHHT!" jerit Fano menggebu-gebu. Ia mengangkat tangannya ke udara lantas menarik rambutnya sendiri. Reaksi Dami cuma diam memerhatikan dengan tenang. Fano rupanya tengah meledakkan emosinya. Dami tersenyum sinis. Ia menertawakan Fano yang sedang emosi. Sempat berada di sekolah yang sama, walau tidak sampai lulus, tetapi Dami mengenal Fano sebagai tipikal orang yang tidak mudah marah. Apalagi sampai meledak-ledak begini. Tapi, hanya karena perempuan lemah seperti Alenta, Fano semarah itu kepada Dami. Hebat. Punya magnet apa Alenta sampai bisa membuat seorang Fano marah besar pada Dami—satu-satunya orang yang bisa melihat wujud Fano. "Berisik!" Dami menyentak Fano. "Gue nggak peduli Alenta dalam bahaya kek, mau dibunuh kek! Selama nggak ada hubungannya sama hidup gue, gue ogah ikut campur! Lo harusnya sadar diri, Fan, sadar! Lo, tuh, arwah! Dunia lo beda sama Alenta, lo nggak bisa ikut campur urusan manusia!" "Lo emang nggak punya hati, Dam," ujar Fano. Matanya berubah merah seiring air mata yang turun di pipinya. "Apa lo bakal diem aja kalau ada orang terdekat lo dalam bahaya? Andai aja itu adik lo, Ayah lo, atau Ibu—" "TUTUP MULUT LO, ANJING!" tunjuk Dami meradang. Fano terdiam. Jelas saja ia terkejut saat Dami meneriakinya. Fano sampai merapatkan bibirnya, tidak berani bersuara sama sekali. Emosi Dami meletup-letup. Seketika rahangnya mengeras lalu satu jarinya menunjuk hidung Fano. Satu hal yang tidak Fano ketahui. Dami akan jauh lebih sensitif ketika seseorang menyinggung soal keluarganya. Terlebih mendiang ibunya. Dami akan marah seperti orang gila kemudian menghancurkan isi rumah atau apa saja yang ada di dekatnya. PRANG! Naomi menarik Fano buru-buru begitu Dami mengambil gitar lalu memukulkannya ke meja kaca. Dami berteriak marah, beralih membuang benda yang ada di sana sebagai bentuk pelampiasan kemarahannya. Fano yang semula marah jadi panik. Ia berusaha mendekati Dami, namun Naomi menahannya dan menggelengkan kepala. "PERGI! LO ATAU SIAPA PUN NGGAK BERHAK MENYINGGUNG NYOKAP GUE! URUSAN LO SAMA ALENTA JELAS NGGAK ADA HUBUNGANNYA SAMA NYOKAP GUE! NGERTI NGGAK LO, SIALAN!" Naomi beringsut mundur. Ia menatap ngeri Dami yang marah. Ya, Tuhan. Padahal Fano hanya berandai-andai. Tapi reaksi Dami sangat mengerikan. Naomi tidak menyangka akan begini respons Dami. "Ayo pergi, Fan." Naomi tanpa sadar merangkul lengan Fano. "Emosi Dami lagi nggak baik. Jangan bikin semuanya tambah kacau! Lo mau Dami sampai melampiaskannya ke Alenta? Nggak, kan?" "Tapi, Nom?" Naomi menggeleng lalu menarik Fano. "Jangan buat Dami tambah marah. Lo bisa omongin lagi ke dia kapan-kapan!" "PERGI NGGAK, LO! JANGAN TUNJUKKIN WAJAH LO DI DEPAN GUE LAGI!" Dami mengangkat meja di depannya kemudian melemparnya ke arah Fano. Braaak! Benda itu melayang, menembus tubuh Fano dan Naomi. Suasana makin tidak kondusif. Naomi pun memaksa Fano segera pergi sebelum Dami kian menggila. *** "Gimana? Berhasil?" Alenta baru masuk ke dalam mobil tapi langsung dihujani pertanyaan dari Tiara. Alenta mendudukkan bokongnya ke atas kursi mobil lantas menyandarkan punggung. Tidak mungkin Alenta tidak paham maksud Tiara. Yang dimaksud adalah Dami. Tiara sedari awal sudah pesimis kalau Dami akan memberi respons yang baik. "Dilihat dari wajah lo yang asem, itu artinya gagal," ledek Tiara menahan tawa. "Gue bilang apa, Len! Dami, tuh, nggak mungkin nerima maksud baik lo!" Alenta menarik napas sebelum bercerita. "Kemaren hampir berhasil, Ra." "Terus?" "Tapi usaha gue malah bikin dia marah," gumam Alenta lesu. Setelahnya Alenta menceritakan detail kejadiannya. Tiara mendengarkan dari awal hingga akhir cerita Alenta. Tiara tidak heran jika Alenta berakhir diusir. Tiara pikir, Dami sengaja mengerjai Alenta. Tapi dasarnya Alenta saja yang bandel! "Dami nggak mau terima ucapan terima kasih dari lo," ujar Tiara sambil menggeleng. "Dia nggak mau lo baikin atau sekadar denger lo bilang 'makasih'. Ya udah. Lo jangan maksain diri buat urus dia, kalau dia aja nggak mau!" "Mana bisa gitu, Ra?" dengkus Alenta. Bisa saja Alenta mengikuti nasihat-nya Tiara. Bersikap sebodo amat karena Dami sendiri tidak ingin mendengar ucapan terima kasih darinya. Tapi, Alenta tidak bisa melakukannya. Mana bisa ia bersikap seperti itu kepada orang yang telah menyelamatkan nyawanya. "Setelah ini, lo maunya gimana? Jangan bilang lo nggak mau nyerah?" tanya Tiara. "Nggak ada salahnya, kan?" Tiara mendengkus. Tidak habis pikir dengan isi kepala Alenta. Tiara agak mencondongkan badannya. "Coba lo jujur sama gue, Len..." "Jujur soal apa?" Satu jari Tiara menunjuk Alenta. "Lo naksir Dami, ya? Astaga! Seriusan?!" Alenta mendorong pipi Tiara, lantas mendengkus sebal. "Nggak usah ngaco!" Alenta menggerutu dengan intonasi suara yang sedih. "Gimana bisa gue naksir cowok lain di saat hati gue cuma ada Fano...." Bohong jika Tiara tidak mendengarnya. Tiara memang belum pernah bertemu dengan mendiang Fano semasa hidup. Saat Tiara bekerja bersama Alenta, lelaki itu sudah meninggal. Tiara tahu soal Fano dari Tasya. Suram sekali kehidupan cinta artisnya ini ya. Tidak semulus wajah bahkan karir Alenta sebagai penyanyi.... Ada banyak lelaki yang berusaha mendekati Alenta. Dari kalangan sesama penyanyi, bahkan ada aktor yang mengejar-ngejar Alenta. Tapi Alenta memilih mengabaikannya. Belum ada satu pun lelaki yang bisa menarik perhatian Alenta, kecuali.... Dami. Ah, Tiara pikir begitu. Apa Tiara salah berpikir demikian? Ponsel di tangan Tiara berdering. Ia menemukan nomor tidak dikenal muncul di layar ponsel. Tiara mengangkat panggilannya lalu menempelkan benda persegi itu ke telinga kanannya. "Ya, hal—hah? Siapa?" Tiara melirik Alenta sepintas sebelum berbicara di telepon. "Buat hari ini Alenta nggak bisa diganggu. Dia ada jadwal syuting buat acara TV!" Intonasi suara Tiara yang ketus menarik perhatian Alenta. Perempuan itu bertanya siapa, Tiara enggan menjawab. Namun pada akhirnya memberikan ponselnya pada Alenta. "Dia mau ngomong sama lo." Alenta ragu menerima ponsel Tiara. "Dia siapa?" "Dami," jawab Tiara malas-malasan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD