Fano Marah

1225 Words
Brak! Alenta menutup pintu mobilnya kasar. Ia segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Rivano yang mengekor di belakang. Tasya berpapasan dengan Alenta, perempuan itu menyapa namun malah diabaikan. "Bu," sapa Rivano pada Tasya. Tasya menengokkan kepalanya ke belakang. "Alenta kenapa?" Rivano menggeleng. "Saya nggak tahu, Bu." Jawaban Rivano membuat Tasya mengerutkan dahi. Rivano adalah orang yang ditunjuk Rayan untuk menjaga Alenta. Seharusnya Rivano tahu apa yang terjadi kepada adik iparnya tersebut. Di sisi lain, Rivano menahan diri untuk tidak mengumpat atau lebih parahnya menyumpah serapahi Alenta. Bagaimana menjelaskannya ya, karena sedari awal Alenta tidak pernah bersikap ramah kepadanya. Tersenyum pun tidak. Setiap kali Rivan bertanya, Alenta hanya akan mengangguk atau menggeleng. "Oh ya, Van," ujar Tasya. "Alenta lagi nggak ada jadwal ya? Saya nggak lihat Tiara pulang sama kalian." "Kata Mbak Tiara, Mbak Alenta lagi nggak ada kegiatan, Bu." "Terus... kalian habis dari mana?" tanya Tasya lagi. Rivano bingung harus menjawab apa. Pasalnya pemandangan di apartemen tadi tidak cukup bagus untuk ia jelaskan kepada Tasya. Di depan mata kepalanya sendiri, Alenta diusir oleh Dami sambil marah-marah. Rivano heran, apa ia salah mengartikan? Tidak. Jelas sekali Dami marah kepada Alenta lalu mengusirnya. "Van?" panggil Tasya agak mendongak. "Oh. Itu..." Rivano mencari sibuk mencari alasan. "Gue pergi ke rumahnya Rindu, Sya." Tahu-tahu Alenta muncul lalu menyela. Kedua mata Alenta menatap tajam pada Rivano. Dari tatapannya seolah menjelaskan bahwa Alenta sedang mengancam Rivano. Jangan sampai Rivano mengadu pada Tasya apalagi Rayan! Kalau kakaknya tahu, kakaknya bisa berbalik membenci Dami. Omong-omong soal kejadian tadi, Alenta tidak menyadari kalau ada Rivano yang memerhatikannya. Bahkan saat Dami mendorongnya keluar apartemen, Rivano melihat semuanya. Alenta mengancam agar sang bodyguard tidak menceritakannya pada siapa pun termasuk kakaknya. "Lho... Len, mau pergi ke mana lagi?" tanya Tasya, meninggikan suara begitu Alenta menarik Rivano keluar bersamanya. "Gue lupa ada janji." Alenta menengok sepintas. "Sama siapa?" tanya Tasya. "Temen," jawab Alenta. "Gue pergi ya, dah!" *** "Hmm...." Naomi tidak berhenti menggelengkan kepala. Sosok Rivano di depannya nyaris sempurna. Ia juga mengutuk dirinya sendiri kenapa hidupnya tidak sesempurna Alenta. Cantik, berbakat, populer, kaya, dan.... yang paling penting. Alenta di kelilingi banyak lelaki tampan! Naomi teringat Dami beserta jajaran anggota Missing You. Baik Raka dan Dami sama-sama tampan. Berbanding balik dari Dami yang dingin tak tersentuh, Raka sosok lelaki humoris yang kelewat ramah. Diam-diam Naomi sering memerhatikan Raka kemudian senyum-senyum sendiri. Ah, andai saja Naomi bukan hantu, ia pasti sudah mengejar Raka. Tidak peduli sebanyak apa saingannya. Yang penting ada usaha dulu, haha! Bukan cuma ada Dami dan Raka. Di sampingnya ini, biar otaknya agak kurang sepersen, tetapi Naomi tidak mengelak kalau Fano masuk ke dalam jajaran lelaki tampan. Fano juga sangat tulus menyayangi Alenta. Tapi... ya, begitu. Takdir menjadikan mereka berada di dunia berbeda. Namun walau begitu Fano tetap mengusahakan menjaga Alenta. Demi Alenta, Fano sampai mengemis kepada Dami agar mau menjaga perempuan yang disukainya. Dan sekarang.... Rivano! Astaga, Naomi sampai menggigit bawah bibirnya agar tidak menjerit. Bagaimana bisa ada mahluk ciptaan Tuhan setampan ini?! Kalau Naomi jadi Alenta, Naomi akan manfaatkan lelaki setampan Rivano untuk ia pacari. Tuk! Sialan! Naomi merapatkan bibir. Fano tahu-tahu meletakkan kedua tangannya ke atas kepala dan bawah dagunya sampai giginya bertabrakan. Naomi melempar tatapan sinis. Suka sekali mengganggu kesenangan hantu lain! "Iler lo, tuh," ejek Fano menunjuk ke bawah. "Enak aja bilang iler!" balas Naomi marah. "Mana pernah gue ngiler!" "Ekspresi lo norak banget, sumpah," ujar Fano terdengar mengejek. "Di depan lo ada yang lebih cakep, nih. Tapi lo lihatnya nggak gitu amat," tambahnya. Naomi menggerakkan bibir, sengaja mengejek Fano. "Lo bandingin diri sama dia?" tunjuk Naomi ke Fano. "Halo! Buka matanya yang lebar, Mas, situ sama dia kalau dibandingin ya kayak langit sama bumi! Nama doang boleh mirip, tapi lebih cakepan dia, lah!" Naomi mencerocos bak kereta api. Fano mendengkusali mengangkat kedua bahunya. Sedari tadi mereka berdiri sambil memerhatikan Rivano dan Alenta. Rupanya Alenta sedang memperingatkan Rivano soal kejadian di apartemen Dami. Rivano bertanya kenapa dirinya tidak boleh mengadu kepada Rayan mau pun Tasya? Kan, Dami sudah kasar. Tapi Alenta cuma diam, kemudian menegaskan bahwa Rivano tidak berhak ikut campur. "Kadang gue heran sama manusia," oceh Naomi. "Tiap hari lo heran mulu kayaknya," cibir Fano. Naomi menegakkan badannya. "Lo pikir deh. Dami nolak bantu lo buat jaga Alenta. Tapi, dia selalu bolong Alenta tiap kali dalam bahaya. Apa tubuhnya refleks gerak sendiri? Udah gitu, setelah nolong Alenta dan dia terluka, pasti ujung-ujungnya marah! Sampai ngatain Alenta pembawa sial." Sebelah alis Fano terangkat ke atas. Naomi buru-buru membungkam bibirnya. Akh, sial, ia keceplosan. Seharusnya Naomi tidak perlu membahasnya di depan Fano. "Barusan lo ngomong apa?" tanya Fano bersiap marah. "Apa?" elak Naomi. "Gue nggak ngomong apa-apa." "Nggak. Gue denger lo ngomong kalau Dami bilang Alenta pembawa sial," kata Fano memicingkan matanya. Naomi menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Kepalang basah juga. Sekalian saja Naomi menceritakannya ke Fano. Toh, Fano akan terus mengejarnya jika tidak ia jelaskan. "Waktu di rumah sakit, Dami ngatain Alenta pembawa sial. Padahal maksud Alenta dateng jenguk, tuh, mau berterima kasih. Tapi reaksi Dami kelewat pedes." Naomi menjelaskan hati-hati. "Terus, reaksi Alenta gimana?" tanya Fano. "Marah, lah! Di situ Alenta jelasin dia cuma mau berterima kasih. Tapi karena reaksi Dami kayak gitu, dia ngasih nomor manajernya. Alenta kayak ngejek Dami gitu minta ucapan terima kasihnya dalam bentuk apa, terus dia pergi." Naomi menatap Fano lurus. "Tapi, nggak lama Dami kejatuhan lampu di panggung, eh, dia nolongin Alenta di konser beberapa hari yang lalu. Yang Dami jadi malah kena tembak. Gue rasa, Alenta jadi merasa bersalah ke Dami. Ya lo bayangin aja. Andai lo di posisi Alenta, lo atau gue pasti bakal ngelakuin hal yang sama." Fano diam dan berpikir dalam. Di balik perubahan sikap Alenta yang dingin, Fano mengenali Alenta sebagai seorang perempuan berhati lembut. Fano yakin saat Alenta balas ke Dami itu hanya sesaat. Terbukti, begitu Dami menolongnya lagi, Alenta jadi berbanding balik. Yang mulanya mengejek Dami, malah menawarkan diri merawat lelaki itu selama sakit. "Dami emang keterlaluan," geram Fano mengepalkan kelima jarinya. Naomi menahan lengan Fano. "Lo jangan mudah kepancing emosi, dong! Lo harus inget, Fan, cuma Dami orang yang bisa lihat dan ngobrol sama lo. Kalau lo marah sekarang, terus Dami nggak mau nolong Alenta lagi, gimana? Lo mau Alenta kenapa-kenapa?" Fano menepis tangan Naomi. Perasaan geramnya kian menggebu setelah mendengar sikap kasar Dami. Apalagi sampai menyebut Alenta sebagai pembawa sial! Kalau memang Dami tidak mau membantunya, atau ingin marah kepada Fano, tidak perlu melampiaskannya ke Alenta! Fano tidak terima jika Dami melukai perasaan orang yang ia sayangi! "Fan!" teriak Naomi mengejar Fano. Alenta dan Rivano bersiap masuk ke dalam mobil setelah mengobrol panjang lebar. Fano mempercepat jalannya hingga menembus melewati tubuh Rivano. Namun, begitu Naomi yang lewat, tanpa sengaja ia mendorong bahu Alenta lumayan kuat. Tubuh Alenta terhuyung, nyaris jatuh terjungkal namun dengan cepat Rivano menahan pinggangnya. Saat itu.... Rivano menatap kedua mata Alenta dengan jelas. Sangat cantik. Begitu pikir Rivano. Alenta dengan cepat berdiri tegak, sedikit mendorong tangan Rivano. "Gue mau pulang sekarang." Alenta berjalan mendahului Rivano. "Dan inget pesen gue tadi. Jangan sampai Tasya atau Kakak gue tahu soal kejadian hari ini." Rivano mendengkus tanpa kentara. Bagaimana bisa Alenta menutupi sikap kasar Dami? Seharusnya Rayan perlu tahu kalau adiknya telah diperlakukan kasar oleh orang lain. "Wajah doang cantik, otak cetek," gerutu Rivano. "Udah jelas cowoknya kasar tapi masih aja dibelain." Astaga, sepertinya, Rivano salah sangka! Jangan bilang Rivano mengira Alenta dan Dami berpacaran?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD