Naomi berjalan sendirian tanpa Fano. Naomi mengentakkan sebelah kakinya akibat terlalu gemas. Oh, jangan pikir Naomi gemas karena Fano lelaki ikut yang pipinya minta dicubit banget. Tapi, alasan dibalik kekesalan Naomi pada Fano dikarenakan lelaki itu sangat egois! Tidak memikirkan keselamatan orang lain. Cuma karena perempuan yang dicintainya, Fano rela mengemis ke Dami, namun tanpa sadar malah menumbalkan temannya sendiri.
"Dami bukan temen gue!"
Naomi mendengkus. Ia teringat Fano yang protes. Bisa-bisanya Fano tidak mengakui Dami sebagai teman—padahal pengorbanan Dami sebanyak itu untuk Alenta. Tiga kali lho Dami celaka karena Alenta. Dua kali bahkan masuk ke rumah sakit. Mendapat jahitan di kepala-lah. Masuk ruang operasi-lah. Itu semua taruhan nyawa, lho. Kalau ada apa-apa sama Dami, memangnya Fano mau tanggung jawab? Halah! Fano aja setan!
Menjadi hantu, tuh, tidak enak. Bukan cuma belum siap menerima diri berpindah ke dunia berbeda. Tapi terkadang nelangsa melihat orang yang ditinggalkan. Naomi memang tidak merasakan hal perih semacama ini. Tidak tersisa sedikit pun ingatan tentang masa lalunya. Siapa dirinya, siapa orang tuanya, apa semasa hidup Naomi punya keluarga atau tidak. Naomi tidak mengingat secuil pun. Dipaksa pun percuma, cuma bikin sakit kepala!
Naomi melihat ke arah kanan. Hantu perempuan berbaju kuning itu mengarahkan pandangannya ke seorang anak. Usut punya usut hantu perempuan itu baru meninggal. Hampir setiap hari menangis teringat keluarganya. Katanya, perempuan itu meninggal saat anaknya masih berusia enam bulan.
Di arah lain, seorang lelaki duduk menundukkan kepala. Jelas bukan manusia. Sama-sama hantu seperti Naomi dan perempuan tadi. Hantu lelaki itu setiap hari melamun. Katanya, teringat ibunya yang hidup sendiri. Naomi jadi ikutan menangis mendengar cerita lelaki itu. Bayangkan, ibunya hidup sendiri di usia tua. Tidak memiliki siapa pun. Selain sangat kehilangan, pasti juga kesepian. Sama seperti Naomi....
"Hhh...." Naomi mengembuskan napas lalu mengibaskan tangan.
Lama-lama Naomi bosan juga. Luntang-lantung tidak jelas tidak ada tujuan. Sampai kapan Naomi menjadi arwah penasaran? Setiap hari pergi berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Teman-teman hantunya biasa pergi melihat anggota keluarga yang ditinggalkan kemudian bercerita padanya. Kalau Naomi, siapa yang mau ia hampiri kalau ingatan saja tidak punya! Naomi mengerucutkan bibir. Ia menggigiti ujung bunga di tangan lalu menggerutu, "Fano aja ada yang dia lihat. Masa gue nggak?"
Naomi hendak berjalan lagi. Namun kedua matanya mendapati sosok Alenta yang membawa kantong belanjaan sambil berlarian seperti dikejar setan. Naomi mempercepat langkah, mengikuti Alenta di belakang sembari bertanya, "Alenta lagi ngapain? Syuting buat acara uang terkejut, ya?"
Alenta melempar barang belanjaannya ke kursi samping lalu duduk di kursi kemudi. Alenta tampak terburu-buru. Jika diperhatikan lagi Alenta sedang sendirian. Tidak ada sosok Tiara atau tim kru yang biasanya ada di tempat syuting. Sepertinya bukan syuting, sih. Tapi.... apa? Kenapa buru-buru sekali?
"Waktu lo kurang dari lima menit...."
"Oh, sial!" umpat Alenta sembari mencengkram setir mobil.
Itu suara Dami. Naomi melirik ponsel Alenta. Tidak ada tampilan chat. Cuma ada beberapa kiriman VN dari nomor Dami. Lho, heh? Kok, bisa?
Sejak kapan Alenta dan Dami menjadi akur? Naomi melihat sendiri kedua orang ini seperti tikus dan kucing!
***
"Keluar." Kedua tangan Dami menunjuk ke pintu.
Alenta menggerakkan bibir melayangkan protes. "Minimarket di bawah jelas nggak lengkap bahan masakannya, Dam. Ya lo pikir aja gue belanja ke luar kurang dari empat belas menit!"
Dami mendengkus. "Itu urusan lo. Gue udah bilang, lebih dari waktu yang gue tentukan, lo harus pergi."
Hampir hilang kesabaran Alenta. Benar kata Raka. Berhadapan dengan Dami harus punya banyak stock kesabaran yang luar biasa. Alenta tahu ini cuma akal-akalannya Dami agar bisa membuatnya mundur teratur. Tidak heran kenapa Dami tahu-tahu setuju untuk ia rawat. Karena ya... ini tujuan Dami. Mengerjainya habis-habisan!
Pertama, Dami meminta Alenta membuatkannya pasta. Tapi giliran pastanya sudah matang, Dami protes karena rasanya terlalu hambar! Dami marah dan memintanya membuatkannya yang baru.
Masakan kedua, katanya, terasa manis. Manis dari mananya?! Alenta bahkan tidak menuangkan gula! Seperti tadi, Dami meminta masakan yang baru. Namun kali ini dengan menu beda. Yaitu, spagetti.
Sudah bisa kalian tebak, kan? Ya. Dami protes untuk yang ketiga kalinya. Kali ini alasannya terlalu asin! Woah! Alenta nyaris saja memukulkan piringnya ke kepala Dami saking kesalnya. Tapi membunuh Dami bukanlah tujuan Alenta.
Setelah membuatnya tiga kali memasak di dapur, Dami tetap meminta dibuatkan masakan baru. Menu yang sama. Tapi, bahan di dapur sudah habis. Otomatis Alenta harus pergi berbelanja. Dami mengizinkannya. Akan tetapi, Dami hanya memberikan waktu lima belas menit saja! Iya, dalam lima belas menit makanan Dami harus tersedia. Dan sialnya, saat Alenta pergi ke minimarket di bawah, bahan-bahan yang ia butuhkan tidak ada! Jadilah ia pergi ke tempat lain untuk berbelanja bahan.
Waktu lima belas menit mana cukup!
Alenta memekik dalam hati. Ia begitu kesal. Pantas saja Dami tidak memiliki teman di luar band. Kelakuannya mirip seperti iblis! Alenta heran, bagaimana bisa Raka dan anggota Missing You lainnya betah menjadi rekan Dami? Tiara benar. Kalau Alenta memiliki rekan seperti Dami, Alenta lebih baik memilih mundur!
"Keluar dari apartemen gue. Sekarang." Dami menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Nanggung banget kalau gue pergi sekarang," ujar Alenta menahan sebal. "Biarin gue masak buat lo, setelah itu gue bakal pergi."
"Nggak mau." Dami menggerakkan bibir tanpa suara. Sudah sangat jelas Dami menolaknya.
Naomi mendecakkan lidah. Di sampingnya ada Fano yang sedari tadi mengepalkan tangannya. Lihat, bahkan Fano masih bisa kesal pada Dami yang jelas-jelas banyak menolong Alenta. Oh, ya ampun.
"Mau taruhan?" Naomi menengok ke samping dan menatap Fano.
"Taruhan apa? Sejak kapan hantu main judi," ketus Fano.
Naomi meluruskan kepalanya. Di depannya, Alenta dan Dami masih berdebat. "Bukan judi, b**o! Gue mau ngajak lo taruhan doang!"
"Yang menang dapet apa?" tanya Fano.
Hantu perempuan itu tampak berpikir. Kepalanya agak didongakkan ke atas. "Yang menang, boleh minta apa aja sama yang kalah. Gimana?"
"Deal!" seru Fano mengajak Naomi berjabat tangan.
Taruhannya begini.... apa yang akan Dami lakukan setelah ini? Membiarkan Alenta pergi ke dapur, atau malah mengusir perempuan itu secara paksa?
Dan, jawabannya adalah....
"Keluar!"
Brak!
Naomi menjerit girang bukan main. Sesuai dugaannya, Dami berakhir mengusir Alenta dari apartemennya. Lebih dari sepuluh menit keduanya saling berdebat. Tapi yang namanya Dami tidak akan semudah itu luluh. Biar wajah Alenta cantik, hidungnya mancung, ditunjang bentuk tubuh ideal, itu sama sekali tidak berpengaruh, haha! Astaga, Naomi menang!
"Gue.... menang!" seru Naomi girang.
Fano menatap Naomi kemudian menunjuk hidung hantu perempuan di depannya. Dami menutup pintu apartemennya begitu kasar hingga Alenta yang ada di luar jadi terkejut.
"Sialan," umpat Alenta kesal. Dami bukan cuma mendorongnya keluar, tetapi juga barang belanjaannya tadi.
Alenta memungut isi belanjaannya yang berserakkan di lorong apartemen. Dasar manusia tidak punya perasaan! Hatinya susah sekali dicairkan!
Dami memang sesuatu ya. Di saat lelaki di luar sana berlomba mengejar perhatian Alenta, Dami justru malah mendorong Alenta sejauh mungkin. Tidak salah kalau Adam menyebut Dami membuang kesempatan bisa bersama dengan perempuan secantik Alenta!
Sepasang mata Alenta menemukan kedua kaki yang terbungkus sepatu berwarna hitam. Ia mendongakkan kepala, menatap tajam seseorang itu.
"Ngapain lo di sini? Lo ngikutin gue?" tanya Alenta kelewat sinis.