Sesabar Apa

1178 Words
Rindu mengusap belakang lehernya lantas bergidik. Akhir-akhir ini ia sering merasa bulu kuduknya merinding. Entah apa alasannya. Dari kecil hingga ia dewasa, ia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Kenapa ya? Ada apa? Atau jangan-jangan ada hantu di rumah ini? Ia mengambil ponsel dari atas meja, berpindah duduk ke ranjang sembari memegangi ponsel yang menempel ke telinga kanannya. Ia sedang menelpon Davian. Karena terus merinding, Rindu jadi sering menelpon lelaki itu hingga ketiduran. Rindu gengsi saja kalau mengaku takut kepada kedua orang tua dan omanya. Selama ini Rindu cukup pemberani. Mana pernah takut dengan hantu. Tapi kali ini berbeda. Untuk sekadar memejamkan mata sebentar saja rasanya sangat mencekam. Bagaimana kalau saat ia tidur, ada hantu yang menyelinap di balik selimut tebalnya? "Hhh..." Rindu mengembuskan napas panjang. Punggungnya agak ia bungkukkan. Davian tidak kunjung mengangkat panggilannya. Ke mana Davian? Lelaki itu tidak tahu Rindu sudah berkeringat dingin ya?! Akh, sial. Panggilannya tidak kunjung mendapat respons. Rindu beralih mengirim pesan ke nomor Davian. Kedua matanya menatap angka dari layar ponsel yang menyala terang. Baru jam sembilan malam lewat sedikit, tapi rasanya sangat mencekam. Rindu menarik selimut lebih tinggi hingga ke batas d**a. Kalau dipikir lagi, ia sering ketakutan semenjak Fano meninggal.... Brak! "BUNDA!" jerit Rindu tanpa sadar. Bingkai foto dari atas meja jatuh tiba-tiba hingga menimbulkan suara keras. Rindu menundukkan kepala dan melihat bingkai foto miliknya berada di lantai. Masih dalam posisi duduk di atas ranjang, sebelah tangan Rindu menggapai benda tersebut. Rindu membalikkannya, mengusap bagian depan lalu tertegun. Ada dirinya, si kembar Davian dan Natla, lalu Alenta dan mendiang Fano.... samar, Rindu tersenyum tipis. Ini lah masa-masa bahagia mereka. Walau sesekali ia dan Natla selalu membuat masalah saat sekolah, tapi semuanya baik-baik saja. Seolah tidak punya beban. Mana pernah Rindu mengira Fano akan pergi secepat ini. Fano orang paling periang yang pernah Rindu temui. Di saat teman-temannya sedih, Fano akan menghibur. Tidak harus lucu, hanya dengan Fano terus mengoceh sesekali mengeluarkan aib-nya sendiri dengan bertujuan membuat temannya tertawa, lelaki itu selalu berhasil menjadi penerang bagi teman-temannya. Bohong kalau Rindu tidak merasa kehilangan. Davian dan Natla juga. Apalagi Davian adalah orang terdekat Fano setelah Alenta.... Rindu menarik napas panjang. Ia mengembalikan kesadarannya. Fano sudah pergi dengan tenang. Daripada terus menanyakan kenapa Fano pergi lebih dulu, lebih baik Rindu berdoa untuk lelaki itu. Ponsel Rindu berdering nyaring. Rindu agak tersentak, namun buru-buru mengangkat panggilan Davian. Ia menarik napas lega. Ia tidak perlu ketakutan lagi malam ini karena ada Davian yang akan menemaninya ngobrol sampai Rindu ketiduran. *** "Mau sampai kapan lo di sini?" tanyanya, sinis. "Lo nggak ada kerjaan emang? Mending lo pulang dan latihan nyanyi!" Sesuai pesan Raka, Alenta harus banyak bersabar menghadapi Dami. Lelaki itu begini bukan hanya kepadanya. Tapi pada semua orang termasuk kepada adik, Papa serta keluarga baru papanya. "Bahasa gue kurang lo mengerti, ya?" ejek Alenta tampak santai. Berhadapan dengan lelaki semacam Dami memang harus begini. Tidak perlu bersikap lemah-lembut karena pasti ditanggapi sinis. Alenta akan bersikap bagaimana cara Dami berbicara. "Gue masih pake bahasa Indonesia, dan lo tetap tanya kenapa gue ada di sini." Alenta meletakkan gelas di atas meja. "Gue mau urus lo selama sakit sebagai tanda terima kasih." "Nggak perlu," sela Dami. "Iya, itu bagi lo." Alenta menatap Dami lurus. "Bagi gue harus tetap berterima kasih. Dengan cara apa? Ya urus lo. Karena yang bikin lo kena tembak itu gue." Dami meringis kemudian mendengkus. Ekspresi wajahnya sungguh mengejek niat baik Alenta. Bukan tanpa alasan Dami menertawakan perempuan di hadapannya ini. Kita lihat, sampai di mana kesabaran Alenta merawatnya. Selama ini Dami selalu menolak memiliki seorang pembantu. Bukan karena Dami tidak bisa menggaji seseorang. Tapi, Dami sudah beberapa menggonta-ganti pembantu—dikarenakan orang yang bekerja bersamanya memilih mengundurkan diri. Itu juga karena sikap buruknya. Maka dari itu Dami memutuskan tidak akan memiliki pembantu. Ia malas menjelaskan lagi pada mereka dari awal kalau ujungnya mengundurkan diri. Lihat perempuan ini.... percaya diri sekali. Kalau Dami bilang tidak, seharusnya Alenta cepat-cepat mundur. Yang dilihat Alenta kemarin cuma sebagian dari sifat buruknya. Alenta akan lebih terkejut lagi setelah ini. "Oke." Dami bersedekap dari tempat duduk. Alenta memicingkan mata. "Yang lo barusan artinya apa?" Dami meringis. Siap mencemooh Alenta dengan kata-kata pedas. "Lo bodoh banget sampai harus gue jelasin detail-nya?" "Tiba-tiba?" gumam Alenta sangsi. "Oh. Lo mau gue persulit?" ejek Dami. Pasalnya ini sangat aneh. Sepuluh menit yang lalu mereka saling berdebat. Dami berkali-kali memintanya pergi dari apartemennya. Tapi begitu Alenta melawan sekali, Dami begitu mudah mengiakan. "Awas aja lo aneh-aneh, Dam!" tunjuk Fano yang sadari tadi ada di sana. Dami menyeringai. "Lihat aja..." Kedua bibir Dami bergerak namun tanpa suara. Kentara sekali Dami ingin mengerjai Fano serta Alenta. Kedua manusia ini sangat mengganggunya. Apalagi Fano yang terus memintanya menjaga orang yang sama sekali tidak kenal sebelumnya! Dami pikir, Fano dan Alenta adalah pasangan yang cocok. Sama-sama merepotkan. Sama-sama bodoh dan ceroboh! "Gue mau makan," ujar Dami. "Oh, oke. Biar gue pesenin. Lo mau makan apa?" tanya Alenta sembari mengeluarkan ponsel membuka aplikasi pemesanan makanan via online. "Pesen?" "Iya. Kenapa?" tanya Alenta lagi. "Gue nggak mau makanan dari luar," jawab Dami. "Lo yang harus masak." Sejujurnya, memasak bukan hal yang sulit untuk dilakukan Alenta. Cuma, apa Dami akan cocok dengan hasil masakannya? Atau... ini hanya akal-akalan Dami saja? "Ya udah. Lo mau makan apa?" *** Dami kurang ajar! Memang ya, seharusnya Fano tidak perlu bersikap baik pada Dami. Dari dulu Dami memang suka memancing kemarahan orang lain. Fano, kan, meminta Dami untuk menjaga Alenta. Bukannya malah menggoda Alenta! "Gue nggak suka. Ini terlalu asin," ujar Dami mendorong piring ke pinggir meja. Alenta tidak langsung menanggapi. Kedua matanya memerhatikan pergerakkan tangan Dami yang mengaduk-aduk makanannya tanpa minat. Fano menatap Dami geram! Sangat geram sampai ingin mematahkan tulang-tulang lelaki itu. Bisa-bisanya Dami mengerjai Alenta sampai sebegininya. Asal kalian tahu ya. Makanan yang Dami bilang terlalu asin itu hasil masakan ketiga Alenta. Masakan pertama katanya terlalu hambar. Kedua katanya terasa manis! Sekarang? Akh, Dami membuat Fano ingin mengumpat terus! "Lo sengaja pasti ya?" Alenta masih tampak santai. Dami menunjuk piringnya tadi. "Coba lo cicipin sendiri masakan lo." Alenta malas berdebat. Tidak ada untungnya bagi dirinya selain membuang waktu dan tenaga. Dami tipikal manusia yang tidak mau kalah, apalagi mengalah. Itu sama seperti berharap sesuatu yang mustahil. Oh, astaga! "Oke. Gue ganti makanan lo." Alenta membereskan piring milik Dami. "Masakan yang sama," pinta Dami. "Tapi jangan keasinan kayak ini." Dami menunjuk hasil masakan Alenta. Sejenak, Alenta teringat kalau bahan di kulkas sudah habis karena Dami banyak memprotes hasil masakannya. Katanya hambar, manis, yang terakhir malah keasinan. Kalau begini, Alenta harus pergi berbelanja lagi! "Gue harus belanja dulu," kata Alenta keluar dari dapur. Ia telah melepas apron di tubuhnya. Dami mengangkat tangan kirinya kemudian mengatakan, "Lebih dari lima belas menit makanan gue belum dateng, besok lo nggak usah kemari lagi." "Yang bener aja, Dam," protes Alenta. "Buat belanja bahan makanan di bawah aja butuh waktu lima menit lagi!" "Waktu lo tinggal empat belas menit lagi," potong Dami. "Si—akh! Lo tunggu di sini!" pekik Alenta, berlarian menuju pintu. Dami—sinting! Alenta hanya memiliki waktu empat belas menit saja! To be continue---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD