Tentang Dami

1135 Words
"Oh, lo, Len." Kepala Raka menyembul di balik celah pintu apartemen yang terbuka setengah. Sosok tinggi semampai Alenta berada di depan pintu sembari memegangi tali tasnya di sebelah bahunya. Raka pun membuka pintu apartemen sepenuhnya, mempersilakan perempuan itu untuk masuk ke dalam walau pemiliknya—mungkin saja akan mencak-mencak sebentar lagi. "Cari Dami, kan?" tanya Raka basa-basi. Alenta tersenyum canggung. "Iya." Tidak ada alasan lain. Kalau bukan untuk mengurus Dami selama sakit, lalu, apalagi memangnya? Raka meminta Alenta duduk si sofa sebelum lelaki itu melipir ke dapur membuatkan segelas minuman. Alenta duduk tenang, melipat kedua tangan ke atas pangkuannya. Alenta melihat ke sana-sini. Dari yang ada di sekitarannya hingga meja kecil di tengah sofa sampai ke dinding yang kosong. Sungguh, tidak ada satu foto keluarga pun yang terpajang. Hanya ada dua bingkai foto. Satu foto seluruh anggota Missing You. Kedua, foto Dami dan Raka. "Nggak usah heran ya, Len," ujar Raka sekembalinya dari dapur. "Di sini emang selalu sepi. Maklum yang tunggal bujangan." Alenta tidak menanggapi lebih selain senyum tipis. Ia bingung setiap kali berinteraksi dengan orang baru. Beruntung Raka orangnya agak cerewet, banyak bicara, sangat kontras dari dirinya. "Lo minum dulu, Len. Dami lagi diajak jalan-jalan sama Adam," kata Raka. "Iya, makasih." Alenta menarik satu gelas dari atas meja. Sesaat, Alenta kesulitan mencairkan suasana. Raka tidak mengajaknya bicara lagi karena sibuk memainkan ponsel. Sepertinya sedang membalas pesan atau mungkin main game? Entahlah. Alenta cuma menebak saja. "Lo yakin mau urus Dami selama sakit?" tanya Raka menengok ke samping. "Iya," jawab Alenta. Raka tampak diam berpikir selama dua detik. Ditatapnya Alenta beberapa saat sebelum akhirnya membuka mulutnya. "Gue mau tanya. Lo tahu Dami orangnya kayak gimana, nggak?" Alenta tidak langsung menjawab. Ia bingung dengan pertanyaan lelaki di depannya. Raka menggaruk sebelah pipinya. "Maksud gue.... Dami, tuh, orangnya nggak bisa ramah. Sama siapa aja galak!" celetuknya lalu bersedekap. "Maaf nih. Bukannya gue sok tahu. Gue nggak paham hubungan kalian mau disebut apa. Tapi, gue rasa ambil keputusan buat urus Dami kurang tepat, Len. Lo bakal banyak nyebut kalau tahu kelakuan Dami hampir mirip kayak setan kalau ngamuk," oceh Raka. Tanpa disadari keduanya. Sejak tadi ada dua mahluk yang mendengar obrolan Alenta dan Raka. Kedua mahluk tersebut sudah ada sejak Alenta datang kemari. Salah satu mahluk itu nyeletuk. Ekspresi wajahnya tampak sebal. "Tuh! Temennya aja nyadar," gerutunya. "Orang yang lo bilang kelakuannya kayak setan, orang yang sama yang lo mintain tolong gebetan lo," celetuk Naomi. Di mata Naomi, Fano terkadang ada egoisnya. Cuma karena Dami bisa melihat wujud arwahnya, Fano memaksa lelaki itu agar mau membantunya menjaga Alenta. Nah... di sini jeleknya Fano. Alenta sedang menjadi incaran penjahat. Kemungkinan saja Alenta akan dibunuh. Fano memaksa Dami, mengekori Dami ke sana kemari. Apa Fano tidak memikirkan keselamatan Dami juga? Fano ingin Alenta baik-baik saja tapi tidak memikirkan orang lain dalam bahaya. Apa namanya kalau bukan egois, hah?! "Tiga kali celaka. Pertama, tangannya kena sayat. Kedua, dapet jahitan di kepala. Dan kemarin, sampai masuk ruang operasi," sindir Naomi berpura-pura menghitung jarinya. Fano lantas menoleh ke arah Naomi. "Maksud lo ngomong gini tuh apa?" "Nggak ada maksud apa-apa," balas Naomi kelewat santai. "Gue cuma ngitung berapa kali Dami celaka karena nolongin Alenta." Rupanya Fano agak tersinggung dengan kata-kata Naomi barusan. Apa yang dikatakan Naomi seolah sedang mengejeknya. "Gue harap, keberuntungan Dami nggak berhenti setelah dia kena tembak," kata Naomi agak sinis. Mau membalas pun percuma. Naomi tidak akan paham posisi Fano. Naomi saja tidak mengingat masa lalunya. Jadi, perempuan itu tidak akan tahu rasanya kehilangan orang yang disayanginya. Bukan cuma Alenta yang Fano pikirkan. Tetapi juga keluarga yang ditinggalkannya. Kembali ke Alenta dan Raka. Kedua orang itu jadi membahas betapa buruknya perangai Dami. Bukan maksud Raka ingin menjelek-jelekkan temannya. Tidak perlu dijelekkan, pun, semua orang tahu siapa Dami. Raka mengatakan ini hanya untuk meyakinkan Alenta. Kalau memang Alenta tulus merawat Dami selama sakit, Alenta harus tahu bagaimana watak Dami. Takutnya, di tengah jalan nanti Alenta akan shock. "Gue udah tahu, kok." Alenta pura-pura menatap ke objek lain. Sampai hari ini Alenta belum melupakan Dami yang memakinya sebagai pembawa sial. Walau yang dikatakan Dami ada benarnya, tapi itu terlalu terus terang untuk dua orang yang bahkan sebelumnya tidak pernah saling kenal. Ah, sudahlah. Tidak perlu diingat apa yang sudah terjadi. Alenta memantapkan diri untuk menebus sebuah kebaikan Dami kepadanya. Biarpun Dami selalu menatap sinis dan berkata jahat, Alenta akan membalas budi lelaki itu. Karena, Alenta tidak ingin berhutang budi, apalagi berhutang nyawa kepada siapa pun termasuk Dami. "Eh, itu. Pasti Dami...." Raka beranjak dari sofa. Ia meninggalkan Alenta di ruang tamu sendirian, sementara itu ia pergi membuka pintu. Jantung Alenta berdetak lebih dari dua kali lipat. Hanya mendengar nama Dami disebut saja membuat Alenta gugup. Bukan! Tolong jangan berpikir bahwa ia menyukai lelaki seperti Dami. Ia gugup membayangkan betapa buruknya reaksi lelaki itu setelah melihat dirinya ada di sini. "Ayo, masuk. Anggap aja rumah sendiri...." Raka muncul bersama seorang lelaki. Tapi itu bukan Dami. Melainkan Dimas.... "Kenapa jadi lo kayak yang punya, Bang? Abang gue ke mana?" tanya Dimas. "Abang lo lagi diajak jalan-jalan sama Adam." Dimas mendecakkan lidah. "Abang gue lagi sakit. Baru beberapa hari yang lalu dioperasi. Malah diajak jalan-jalan! Kalau jahitannya robek, gimana?" "Apa sih, bocah!" dengkus Raka mengacak rambut Dimas. "Abang lo diajak jalan sekitaran gedung apartemen ini doang. Lagian pake kursi roda Abang lo, kok." Kedua lelaki itu tanpa sadar sedang diperhatikan Alenta. Baik Raka dan Dimas tampak asyik, seolah tidak terganggu adanya Alenta di tengah-tengah perdebatan mereka. "Bang." Dimas baru menyadari setelah lima menit penuh berdebat dengan Raka. Dimas menjawil lengan Raka beberapa kali kemudian berbisik sesuatu. Raka rupanya baru sadar. Segera ia mengarahkan pandangannya ke Alenta lantas tersenyum canggung. "Kakak ipar gue, kan?" celetuk Dimas. Raka dan Alenta saling berpandangan heran. Sementara Fano memberengut sebal lalu disusul tawa menyebalkan Naomi dari belakang. "Ya, kan?" Dimas bertanya lagi. Dimas menghampiri Alenta yang bengong. Alenta menggeleng sebagai jawaban. Namun Dimas malah menyerocos dan mengatakan Alenta adalah penyelamatnya. Penyelamat katanya? Alenta bingung. Tidak percaya akan reaksi Dimas. Ia pikir adiknya Dami akan marah lalu memaki seperti Dami. Tapi nyatanya tidak. Dimas justru berterima kasih kepada Alenta. Apa maksudnya? "Bang Dami nggak mungkin secara sukarela nolong orang sebegininya," ujar Dimas menggebu-gebu. "Bang Raka, Bang Abra, sama Bang A—" Dengan cepat Raka membungkam mulut Dimas sebelum kelepasan membahas dunia pergosipan antara dirinya, Abra dan Adam. Alenta jangan sampai tahu kalau mereka sering menggosipkan Alenta dan Dami. "Bang!" seru Dimas. Raka pura-pura menepuk punggung Dimas. "Mending lo cari Dami di bawah. Siapa tahu mereka lagi jalan pulang." "Gue mau nunggu di sini!" tolak Dimas. "Mau ngapain? Abang lo aja nggak ada!" "Ya nunggu Bang Dami sampai pulang! Lagipula, gue mau ngobrol sama Kakak ipar," sahut Dimas cengengesan. "Kakak ipar kepala lo!" sambar Fano tambah kesal. Dasar bocah! Dami dan Dimas tidak ada bedanya. Sama-sama menyebalkan! To be continue---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD