Bukan maksud Dami mau menuduh Alentas sebagai penyebab hilangnya Nirmala. Dami hanya ingin memastikan sekali lagi sebelum mengambil tindakan dikemudian hari.
Dibantu ketiga teman bandnya—Raka, Adam dan Abra. Ditambah arwah Fano yang katanya juga dibantu sesama hantu—itu katanya, sih. Dami tidak ingin ambil pusing. Permasalahan yang menyeret namanya dan Alenta saja sudah membuat kepalanya berdenyut-denyut.
Rupanya Alenta tersinggung atas pertanyaan Dami. Ia paham kenapa Alenta berubah marah. Kalau posisinya ditukar, mungkin Dami akan beraksi sama seperti Alenta.
Perempuan itu menjawab dengan tegas, "Gue nggak ada hubungannya sama hilangnya Nirmala. Jadi stop mesangkut pautkan gue sama Nirmala atau sama siapa pun!"
Mendengar jawaban Alenta yang tegas, tidak ragu sama sekali membuat Dami menarik napas lega tanpa kentara. Jika memang Alenta penyebab Nirmala hilang, tidak mungkin Alenta akan menjawab setegas itu. Raut wajahnya sama sekali tidak ada keraguan.
"Saran gue... jangan buka sosial media dulu." Dami berpesan kepada Alenta sebelum pergi.
"Telat," sahut Alenta. "Sejak kapan lo peduli sama orang lain?"
Dami menahan geram setengah mati. Ternyata, Alenta juga bisa nyinyir ya? Dami sedang berusaha berbuat baik, tapi responsnnya malah menyebalkan sekali!
"Gue bilang gini buat kebaikan lo juga," kata Dami menahan amarah yang sudah meronta-ronta. "Kalau lo nggak mau ikutin saran gue, ya udah, terserah lo aja."
Jika tidak saling adu mulut, bukan Dami dan Alenta. Tidak pernah tidak bertengkar, berdebat setiap kali bertemu. Alenta sendiri heran kenapa. Padahal Dami orang yang telah menyelamatkannya beberapa kali termasuk hari ini.
Kemungkinan Dami datang kemari cuma dua: menyelamatkannya lalu mengomel seperti biasanya. Atau, menanyakan soal Nirmala padanya. Tapi.... Alenta merasa Dami seperti menuduhnya.
Secara jujur, Alenta mengakui hubungannya dan Nirmala memang buruk. Bahkan sejak awal mereka pertama bertemu di lift sebelum syuting dimulai, Nirmala menatapnya sinis seolah mereka adalah dua orang yang bermusuhan. Sungguh! Alenta sama sekali tidak ada hubungannya dengan hilangnya Nirmala! Ke mana Nirmala pergi saja ia tidak tahu. Bagaimana bisa ia menjadi penyebabnya?
Dami melenggang pergi meninggalkan Alenta yang duduk merenung sendiri. Di kedua bahunya masih tersampir jaket milik lelaki itu. Perlahan Alenta menurunkannya, meletakkannya di atas pangkuan sembari memandangi Dami yang sudah tak nampak lagi.
***
Kedua mata itu terbuka perlahan. Udara tidak masuk dengan baik ke dalam rumah ini. Oh... apa ini bisa disebut sebuah rumah? Pengap dan gelap. Segerombolan kecoak terbang ke sana kemari membuat kedua kakinya menggelinjang ketakutan.
Seorang lelaki masuk ke dalam sambil terbatuk-batuk. Dalam keadaan tubuh yang lemah dan mata yang sulit dibuka lebar karena telah dipukuli, perempuan itu melihat si lelaki masuk lalu disusul lelaki yang lebih muda. Sesaat, kedua matanya mengerjap. Mengenali lelaki muda di belakang lelaki tua yang menyekapnya.
Apa salahnya? Nirmala sudah berulangkali bertanya kepada lelaki itu. Jika mereka berniat mendapatkan uang dengan menculiknya, tinggal bilang saja berapa jumlah nominal yang mereka minta. Berapa? Seratus juta? Lima ratus juga? Katakan saja! Nirmala akan dengan mudah memberinya asal kedua lelaki itu membebaskannya.
Si lelaki tua berjalan menghampirinya kemudian duduk berjongkok di samping kaki kursi yang diduduki Nirmala. Nirmala menggoyangkan kedua tangan serta kakinya yang diikat sangat kuat. Nirmala mengerahkan seluruh tenaganya uang tersisa.
"Sebenarnya kalian mau apa!" jerit Nirmala begitu lakban yang membungkam mulutnya dibuka. "Kalian mau uang? Bilang aja. Berapa! Ayo!"
Lelaki tua hanya menyeringai. Tangan telanjangnya tanpa menggunakan plastik atau sarung tangan tampak mengaduk-aduk makanan dari dalam mangkuk. Nirmala menangis menahan takut setengah mati. Jika tidak ingin uang, apa yang mereka mau?
"Lo...," gumam Nirmala makin lemah. Sorot matanya berubah tajam walau tenaganya kian lama kian menyusut. "Sebenernya lo siapa? Lo, bukannya Rivano? Bodyguard Alenta? Hah! Atau ini rencana Alenta? Pasti kalian suruhan Alenta!" jerit Nirmala seperti orang kesetanan.
Tahu-tahu si lelaki tua menjejalkan makanan ke dalam mulut Nirmala secara paksa. Nirmala berhenti mengoceh, tapi badannya terus berontak kala lelaki itu menjejalkan makanan lagi dan lagi hingga Nirmala memohon ampun.
Nirmala berakhir memuntahkan seluruh makanan di dalam perutnya. Napasnya terdengar ngos-ngosan. Sementara kedua lelaki itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun selain menatap tajam ke arahnya.
"Jawab! Lo berdua suruhan Alenta, kan? Pasti.... dia sakit hati karena gue udah bikin citra dia buruk dalam sekejap! Haha!" Nirmala berseru keras lalu tertawa seperti orang gila.
Rupanya Nirmala tidak kapok. Padahal lima menit yang lalu menangis dan memohon agar tidak disumpal mulutnya menggunakan makanan basi lagi! Dasar perempuan sombong! Memang pantasnya perempuan seperti Nirmala harus mati!
"Gue nggak mungkin salah ngenalin...." Nirmala mengatakannya sambil menghirup udara di sekitar walay pengap. Ia butuh udara sebanyak mungkin agar bisa bertahan hidup.
Tempat ini membuatnya jijik dan merinding! Tempat yang dipenuhi binatang seperti kecoak, tikus, bahkan kelabang merah! Nirmala merinding! Reaksi tubuhnya memaksa supaya pergi dari sana segera mungkin!
"Jelas lo Rivano...," gumam Nirmala tersenyum sinis.
Nirmala meyakini bahwa kedua lelaki yang menyekapnya adalah suruhan Alenta. Alenta pasti berniat balas dendam kepada Nirmala karena telah mengganggunya selama di lokasi syuting dan menyebarkan berita buruk tentang perempuan itu! Hah! Perempuan munafik seperti Alenta memang pantas mendapatkannya! Alenta diam-diam menggoda Dami. Datang berkali-kali ke apartemen Dami dengan tujuan buruk tentunya!
Ia sering menemukan perempuan semacam Alenta. Di depan banyak orang membangun imaje perempuan baik-baik, padahal sebenarnya tidak lebih buruk dari seorang jalang penggoda!
"Bilang.... berapa yang kalian mau." Nirmala menahan perih di sudut bibirnya. Sebelah matanya tampak bengkak dan membiru. "Gue bisa bayar lo berdua sepuluh kali lipat asal lepasin gue! Gue janji nggak akan laporin kalian. Gimana? Eoh?"
Berbeda dari lelaki muda di belakangnya. Lelaki tua yang memimpin sebagai penyekap Nirmala sama sekali tidak tergugah hatinya. Ia malah menatap Nirmala sinis dan marah. Seperti dugaannya. Nirmala adalah perempuan sombong dan suka merendahkan orang lain! Nirmala pikir, alasan di balik ia menyekap perempuan itu karena uang? Tidak. Tapi untuk kepuasan. Untuk melenyapkan orang yang berusaha mengambil alih perannya. Baginya, Nirmala cuma figuran biasa yang dengan mudah ia hilangkan nyawanya. Ya, semudah itu memang.
"ARGHHHH!" Nirmala menjerit sekuat tenaga. Menggoyangkan kursi seperti orang kesetanan.
Apa yang dilakukan Nirmala jelas tidak memberi efek apa pun. Justru, semakin perempuan itu terlihat kesakitan dan menderita, ia merasa sangat puas. Dalam hati lelaki tua itu mengatakan, "Ayo berteriak lagi sampai pita suaramu rusak."
"Ayo pergi." Lelaki tua itu memberi titah kepada lelaki yang lebih muda. "Biarkan perempuan ini di sini dan berteriak sampai mati karena kelelahan berteriak."
Untuk pertama kalinya Nirmala mendengar suara orang yang menyekapnya. Kedua lelaki itu secara beriringan meninggalkan ruangan tempat ia disekap. Pintu akan ditutup lagi dan ruangan ini akan menjadi gelap gulita. Nirmala menangis histeris. Perasaan takut yang akan mengancam nyawanya tidak bisa ia atasi. Nirmala menggerakkan kedua kakinya, menjerit terus menerus sampai ia kelelahan sendiri. Tolong! Seseorang tolong Nirmala!