Keinginan Fano

1158 Words
Kepala Alenta terasa berat ketika bangun tidur. Ia duduk di meja rias sembari memandangi kedua matanya sendiri. Tampak mengerikan. Begitu pikirnya sambil mengusap bawah matanya. Ia memiliki masalah tidak bisa tidur dengan tepat. Sebenarnya hal seperti ini sudah terjadi dari dirinya remaja. Alenta bisa tahan tidak tidur hingga subuh menjelang. Malah pernah sampai matahari sudah naik, tetapi Alenta belum bisa tidur juga. Di depan cermin riasnya, Alenta menarik napas panjang. Lagi, kedua matanya menatap kosong. Tiada hari tanpa memikirkan Fano. Mana mungkin.... waktu yang mereka lalui begitu lama. Jadi, bagaimana bisa Alenta melupakan Fano hanya dalam beberapa bulan setelah lelaki itu meninggal? Mustahil. Itu jawaban Alenta. Andai saja Fano ada di sini. Fano akan menghiburnya. Menemani Alenta mengobrol di telepon sampai kantuk datang menyerang. Kedua sudut bibir Alenta melengkung, membentuk senyuman tipis kemudian meringis. "Fano udah meninggal, Len." Kala itu, Rindu dan Natla datang kemari menemuinya. Semenjak ia sibuk bernyanyi di sana-sini. Tepatnya setelah Alenta menjadi penyanyi selepas acara pencarian bakat itu selesai, hanya dalam beberapa hari saja Alenta disibukkan banyak jadwal. Syuting di sana-sini. Ia hanya mendapat jatah istrihat beberapa jam saja kemudian lanjut syuting acara lain. Ia jadi jarang bertemu teman-temannya. Jangan kan pergi ke mal bersama, sekadar menelpon untuk menanyakan kabar. Beruntung teman-temannya sangat pengertian. Tidak pernah marah atau protes karena Alenta susah ditemui karena sibuk. Kedatangan Natla dan Rindu kemari ingin menemuinya. Karena selain hari libur, kebetulan Alenta tidak memiliki jadwal apa pun. Jadi ia memilih di rumah ketimbang keluyuran ke mana-mana. Alenta menyambut kedatangan Natla dan Rindu sangat gembira. Sudah lama mereka tidak pernah bertemu. Mereka saling mengobrol untuk bernostalgia. Sepanjang bersama hari itu, raut wajah Alenta tidak lepas dari kedua mata Rindu. Alenta tampak kurang tidur. Ini yang ada di pikirkan Rindu. Berapa lama Alenta tidak tidur, eh? Di tengah obrolan ketiga perempuan muda itu, tanpa sengaja Rindu membahas hubungan Alenta dan Dami yang sedang dibicarakan di mana-mana. Mulai dari media online, akun gosip, sampai acara infotaiment di TV. Mendengar kedua temannya mengira ia berpacaran dengan Dami, lantas Alenta memberitahu yang sebenarnya. Alenta juga mengatakan secara jujur bahwa ia tidak akan bisa melupakan Fano untuk selamanya. "Belum." Natla menggeleng kala itu. "Lo cuma belum bisa. Bukan berarti nggak bisa." "Len..." Rindu berpindah duduk di samping Alenta. "Kita semua tahu lo sayang banget sama Fano. Cuma.... sedih terus menerus nggak baik, Len." Alenta menelan ludah kecewa. Rupanya, tidak ada satu pun orang yang mau memahami perasaannya. Tidak juga kakaknya, sekarang dua temannya. "Pasti lo tahu apa yang Fano harapkan dari lo dari dia hidup..." Rindu bergumam dengan kedua mata menatap Alenta lurus. "Lo selalu bahagia." Detik itu, Alenta seperti tersadar. Fano jauh lebih berusaha agar dirinya bisa bahagia. Sementara ia sendiri bagaimana? Ia malah membiarkan dirinya terus bersedih dan menangis hampir setiap hari, atau setiap malam? "Siapa pun cowok yang lo suka nanti. Entah itu Dami atau orang lain. Gue sama Natla pasti dukung lo. Dukung lo buat lebih banyak bahagia. Nggaka sedih lagi. Nggak nangis lagi...." Rindu menggenggam kedua tangannya. "Walau Fano udah nggak ada di sisi kita lagi, lo harus selalu ingat apa yang dia pengin dari lo. Yaitu bahagia dan lebih banyak senyum." Tersenyum? Bagaimana bisa? Kalau saja alasan ia tersenyum selama ini sudah pergi untuk selamanya. "Pelan aja, Len." Rindu memberi pesan. "Gue yakin, cepat atau lambat lo bakal temuin kebahagiaan lo walau itu bukan Fano." Sepasang Alenta mengerjap lalu basah. Cairan hangat itu meleleh. Kalimat yang banyak diucapkan Rindu tepat mengenai hatinya. Biarpun ia agak sebal mulanya, tetapi Alenta memahami maksud dari perkataan Rindu. Mereka bilang begitu karena menyayanginya. Tidak ingin Alenta terus terpuruk begitu lama.... "Alen!" seru Tasya mengetuk pintu dari luar. Kesadaran Alenta kembali. Suara Tasya lalu disusul ketukan pintu membuat Alenta tersentak kaget. "Ya!" balas Alenta beranjak dari kursi rias. *** Hampir tiga minggu lamanya Rivano meminta izin libur. Ah, bukan libur. Mungkin bisa disebut sebagai cuti? Rivano terlalu lama mengambil libur hingga Rayan berniat menggantinya dengan orang lain. Alenta menolaknya. Beralibi kalau ia tidak ingin memulai dari awal lagi memberitahukan apa saja jadwalnya. Apa kebiasaan Alenta. Apa yang boleh dan tidak boleh bodyguard-nya akan ikut campur. Rayan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Baiklah. Ia akan menuruti permintaan adik kesayangannya itu. Tiga minggu berlalu, Rivano tahu-tahu muncul di rumah kakaknya. Alenta balas menyapa Rivano sebelum masuk ke dalam mobilnya sembari ngobrol bersama Tiara di telepon. Ia memberitahu akan pergi ke suatu tempat sebelum memulai jadwalnya hari ini. "Ke mana sih? Lo diantar siapa ke tempat itu?" Sama seperti biasa. Tiara tidak berhenti mencerocos. "Jangan bilang lo mau nemuin Dami?" "Jangan sembarangan!" balas Alenta sebal. "Kenapa juga gue harus nemuin dia?" "Balikin jaket dia, mungkin," sahut Tiara di telepon. Otomatis kepala Alenta menoleh ke kursi belakang. Jaket milik Dami ia letakkan di sana setelah ia cuci. Alenta memijat keningnya tiga detik lalu mengembuskan napas. "Pasti belum lo balikin jaketnya, kan?" "Iya." Tiara tahu-tahu berseru. Suaranya melengking sampai Alenta terkejut dan menjauhkan ponselnya dari telinga. "Nah! Gue bilang apa! Lo pasti mau nemuin Dami buat balikin jaketnya, kan?" "Nggaklah!" elak Alenta. "Gue pergi bukan buat nemuin Dami." Tapi... Fano. "Udah ya, Ra," ujar Alenta mulai jengah disangkut pautkan dengan Dami. "Gue buru-buru sekarang." Sebelum Tiara mengoceh lagi. Alenta mengakhiri sambungan teleponnya dengan sang manajer. Benar kata kakaknya. Tiara makin hari tambah cerewet! Astaga! Alenta memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Ia menengok ke kursi belakang sepintas kemudian berpikir mencari cara mengembalikan jaket Dami tanpa bertemu lelaki itu. Tapi... bagaimana caranya? "Van...," gumam Alenta. Kedua matanya menatap Rivano dari kaca spion dalam yang menggantung di atas. "Ya?" Rivano menengok sepintas. Lalu, fokus ke depan sembari menyetir. "Lo baik-baik aja?" tanya Alenta pelan. "Gimana?" sahut Rivano tanpa menengok. Alenta menyentuh tulang pipinya sendiri. "Itu... muka lo kenapa?" Alenta menatap wajah Rivano agak ngeri. Dari awal ia menyadari ada luka di bawah mata dan tulang pipi Rivano. Oh! Sudut bibirnya juga terlihat bekas robek! "Nggak apa-apa." Rivano menyambut pertanyaan Alenta dengan dingin. "Oh," gumam Alenta mengerti. Dari jawaban Rivano, Alenta menangkap bahwa lelaki itu tidak ingin membahasnya. Alenta memahami. Ia memutuskan untuk mengakhiri percakapan singkat mereka. Mobil yang dikendarai Rivano sampai ke sebuah tempat yang dituju Alenta. Perempuan itu menyambar tasnya kemudian menyampirkannya ke sebelah bahunya. Rivano menyusul langkah Alenta turun dari mobil. Jadi, ini tempat yang ingin didatangi Alenta seperti yang dikatakan perempuan itu kepada manajernya. "Lo tunggu di sini aja," perintah Alenta. "Lebih baik saya ikut," kata Rivano. Alenta bersedekap. "Gue bisa sendiri. Nggak akan lama kok." Di sela perdebatan Alenta dan Rivano, sebuah mobil berhenti di samping mobilnya. Keduanya kompak menatap ke arah mobil hitam yang baru saja tiba. Begitu pintu mobil terbuka lalu si pemilik keluar. Baru Alenta menyadari bahwa lelaki itu ternyata Dami. Dalam hati Rivano mendengkus. Bukannya tadi Alenta mengelak bahwa ia akan menemui Dami? Tapi, yang ia lihat di depan matanya memang lelaki itu. Kenapa? Memangnya tidak ada tempat lain untuk bertemu selain tempat pemakaman? "Ngapain lo bisa ke sini?" tanya Alenta terkejut. Tanpa sadar Rivano mencibir dalam hati. "Mereka sedang membuat drama, eh?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD