Masih tentang Nirmala. Tiara tidak berhenti mengoceh. Perempuan berusia di akhir dua puluhan itu merasa kecewa atas sikap Nirmala yang tidak sopan dan terkesan konyol. Ya iya konyol. Nirmala yang dikirimi makanan. Nirmala juga yang makan. Kenapa juga harus Alenta yang mengembalikan tempat makannya! Ke Dami pula! Apa hubungannya?
Kalau Dami dan Alenta bertetangga, tinggal saling sebelahan mungkin masih masuk akal. Tapi, ini? Haha, Tiara sampai terbengong mendengar Nirmala dengan entengnya meminta Alenta mengembalikan tempat makannya. Niatnya apa sih? Terus, ya... Nirmala menekan kalimat, "Temannya Dami." Seolah sengaja mau mengejek Alenta.
Tiara tidak terima juga kalau artisnya diperlakukan tidak sopan. Bukannya mau besar kepala. Tapi sekarang ini Alenta adalah penyanyi yang patut diperhitungkan. Biarpun Alenta hanya runer up sebuah ajang pencarian bakat, tapi lihat dong, popularitasnya langsung melesak naik setelah acara itu berakhir.
Alenta bukan cuma sekadar penyanyi. Bukan juga seseorang yang bisa menyanyi. Tapi Alenta adalah bintang berbakat yang jago dalam beberapa bidang. Menyanyi, tentu saja bisa. Akting? Alenta sedang menjajalnya. Bahkan beberapa aktor dan aktris senior saja memuji kemampuan akting Alenta di lokasi. Oh! Atau hal ini yang mendasari Nirmala jadi sinis ke Alenta? Ah, iya! Benar!
"Hah? Numpahin kopi ke baju lo?" Tiara memekik heboh.
Jelas saja Tiara langsung naik darah. Alenta menceritakan kejadian tidak mengenakan di lokasi tadi siang. Kru, aktor dan aktris, semua memandang ke arahnya kala Nirmala dengan sengaja menumpahkan kopi ke bajunya.
"Terus, dia minta maaf sama lo nggak?!" tanya Tiara sambil berkacak pinggang. "Vano juga! Ke mana dia waktu lo disiram sama kopi?!"
Alenta meralat kata-kata Tiara. "Bukan disiram, Ra. Tapi ketumpahan."
"Halah! Sama aja buat gue! Oh, ya, lo belum jawab. Ke mana Vano waktu lo kena siram kopinya Nirmala?!"
"Vano ke toilet." Alenta menjawab. "Udah lah. Lagian cuma ketumpahan kopi doang. Jangan diperbesar gitu."
"Ya nggak bisa gitu, Len," ujar Tiara menggebu-gebu. "Gue yakin dia sengaja numpahin kopinya ke lo. Beruntung nggak ada gue waktu itu!"
"Emang mau lo apain?" tanya Alenta.
"Mau gue cakar mukanya yang sok cantik!" seru Tiara meremas kesepuluh jarinya.
Tidak heran kalau Tiara jadi marah. Siapa juga yang akan diam saja kalau ada orang yang berniat mencelakai artisnya?! Kalau sampai kena muka Alenta atau bikin kulit mulus Alenta jadi melepuh, bagaimana?! Memangnya Nirmala mau tanggung jawab, hah?!
"Besok gue bakal temenin lo sampai selesai syuting pokoknya!"
"Hmm. Terserah lo," balas Alenta.
"Tapi...." Tiara memberi jeda selama tiga detik. "Yang gue denger sih. Nirmala pernah deket sama Dami. Terus ya..., dia sama keluarganya Dami deket juga karena orang tua mereka sahabatan."
"Ya, terus?" Alenta melebarkan kedua matanya. "Apa hubungannya sama gue, Ra?"
Tiara mengatupkan bibir. "Ah... gue cuma cerita doang sih. Siapa tau lo mau kepo."
Alenta memasukkan ponsel ke dalam tas. "Ada banyak kerjaan yang harus gue kerjain. Ngapain kepo sama urusan orang lain?"
Kedua tangan Tiara terangkat ke atas sebagai isyarat tidak akan melanjutkan obrolan sebelum Alenta mengeluarkan tanduknya.
***
"DAMI MISSING YOU TERJERAT CINTA SEGITIGA DENGAN ALENTA DAN NIRMALA?"
"ADA HUBUNGAN APA DI ANTARA DAMI DAN NIRMALA?"
"NETIZEN BINGUNG: SIAPA PACAR DAMI SEBENARNYA?"
Raka dan Adam saling lihat-lihatan. Seluruh anggota Missing You ada di sana. Kompak menatap Dami seakan meminta jawaban. Siapa pacar teman mereka sebenarnya? Bukankah beberapa hari yang lalu Dami dirumorkan berkencan dengan Alenta? Dan sekarang.... kenapa jadi muncul gosip baru lagi. Astaga. Apa Dami ikut-ikutan playboy seperti Adam?
"Dam." Braga, sebagai anggota tertua Missing You membuka suara.
Jantung Raka dan lainnya jadi ikut berdebaran. Kalau sampai Braga ikut turun tangan, itu artinya mereka dalam masalah serius. Raka membungkam mulutnya serapat mungkin. Tidak ingin ikut bicara karena ia pikir Dami juga salah. Untuk apa sampai datang ke lokasi syuting Nirmala segala?
Semua orang sudah tahu kalau Nirmala dan Alenta sedang dalam proyek sebuah film. Keduanya menjadi lawan main. Yang menjadi masalah bukan karena keduanya bermain film bersama. Itu justru bagus. Dengan begitu akan banyak orang yang tertarik dengan filmnya. Selain ada aktris populer dan berbakat seperti Nirmala, ada juga Alenta, penyanyi solo yang tengah naik daun.
"Gue dan yang lain nggak masalah lo mau pacaran. Itu hak lo, Dam. Tapi, kenapa sama dua cewek sekaligus? Secara nggak langsung, gosip buruk tentang lo juga bakal pengaruh sama citra band kita." Braga menunjuk semua anggota Missing You.
Dami mendecakkan lidah. "Gue nggak pacaran sama dua-duanya!"
Jawaban Dami ketika ditanya ada hubungan apa dengan Alenta pasti membantah. Begitu pun saat ditanya soal Nirmala. Dami jadi dua kali lebih marah padahal baru disebut nama perempuan itu. Apalagi kalau dibawa datang kemari ya? Eh! Astaga!
"Terus. Alenta sama Nirmala itu apa? Oke, mungkin lo sama Alenta emang nggak ada hubungan apa-apa. Tapi Nirmala.... semua orang di lokasi bilang lo dateng langsung gandeng tangan Nirmala," ujar Braga.
"Gandeng kata lo?" dengkus Dami sebal. "Gue bahkan nyeret dia, Bang! Apa orang zaman sekarang nggak bisa bedain mana nyeret sama gandeng, hah?"
Braga melirik Dami sepintas. "Yakin?"
Dami nyaris meneriaki Braga. "Apa lo pernah lihat gue main cewek? Atau gonta-ganti pacar kayak Adam?"
Adam mengerucutkan bibir. Padahal ia diam, tapi masih saja kena. Raka menahan cengengesannya. Heran, Raka paling girang kalau ada teman yang menderita ya.
"Oke kalau gitu," kata Braga beranjak dari tempat duduknya. "Gue minta lo selesaikan masalah lo sebelum Sammy atau atasan ikut turun tangan. Lo nggak mau kena semprot juga, kan? Lo, gue dan kita semua perlu menjaga nama baik Missing You. Kita bisa berada di puncak kayak sekarang nggak gampang. Prosesnya panjang. Nggak cukup ngeluarin keringet aja."
Kesepuluh jari Dami terkepal marah. Belum cukup gosip kemarin yang menyeret nama Alenta. Sekarang muncul lagi gosip baru. Bahkan lebih konyol! Apa? Ia dan Nirmala berpacaran? Ha, melihatnya saja Dami sudah malas!
Sepeninggal Braga. Raka, Adam dan Abra beranjak dari kursi lalu menghampiri Dami yang kelihatannya marah. Ya iyalah marah. Dami sampai kena tegur Braga karena gosip yang tersebar.
Soal Nirmala, sebenarnya Raka tahu. Sudah dari dulu perempuan itu mengejar Dami. Walau Raka tidak kenal Nirmala secara personal, tetapi Raka pernah memergoki perempuan itu datang mencari Dami. Ya... semacam mencari perhatian begitu. Sementara Dami tipikal orang yang tidak suka dengan orang yang ingin cari perhatian seperti Nirmala. Memangnya tidak bisa bersikap seperti orang normal saja ya? Harus sekali mengikuti Dami pergi ke sana sini?
"Lo ngapain dateng ke lokasi syuting Nirmala, sih, Dam." Raka bergumam sambil memegangi bahu Dami.
Abra melirik temannya sepintas. "Lo mikir ini disengaja nggak, sih?"
Dami segera menatap Abra. Sebelah alisnya terangkat ke atas. "Maksud lo?"
"Nirmala sengaja bikin lo nyamperin dia. Karena dia tahu lo kayak gimana," ujar Abra tenang. "Jadi, yang sebarin foto lo narik tangan dia, soal lo dateng ke lokasi, itu sebenernya ulah Nirmala sendiri. Ya nggak, sih?"
Raka menepuk bahu Dami lagi. "Bener. Bisa jadi yang Abra bilang itu bener!"
"Sekarang tinggal lo jawab aja Bang. Alasan lo dateng ke lokasi karena apa? Nggak mungkin random aja ke sana, terus narik tangan Nirmala," tambah Abra.
"Ada baiknya lo jelasin ke kita. Siapa tahu kita bisa bantu," kata Raka, terdengar agak serius dari biasanya.