Permintaan Konyol Nirmala

1219 Words
"Oh, sori." Kru syuting hingga beberapa aktor dan aktris di sana jadi mengarahkan pandangannya ke Nirmala yang tidak sengaja menumpahkan isi gelasnya pada baju Alenta. "Gue nggak sengaja. Sori, ya," bisik Nirmala. Perempuan berusia dua puluh empat tahun itu pergi begitu saja. Walau bibirnya bergerak mengatakan maaf, tetapi pergi begitu saja tanpa membantu membersihkan baju Alenta yang terkena tumpahan kopi bisa dianggap kurang sopan. Ada dua kru perempuan menghampiri Alenta, membantunya membersihkan pakaian. Terpaksa Alenta harus berganti baju karena bajunya terkena noda pekat dari kopi. Alenta tidak membalas apa yang dikatakan Nirmala. Yang ada, Alenta sedang mengingatkan diri agar waspada kepada Nirmala. Firasat Alenta terhadap Nirmala sungguhan terjadi. Dari awal mereka bertemu di lift sampai syuting berlangsung ke hari kedua, Nirmala seolah selalu mencari celah, mencari saat Alenta lengah lantas mencari masalah. Seperti barusan saja misalnya. Alenta tahu kalau Nirmala sengaja menumpahkan kopinya. "Nggak apa-apa, kita ganti kostum aja kalau gitu," kata seorang kru menggandeng Alenta pergi ke ruang ganti. "Nirmala selalu cari masalah emang," gerutu kru satunya lagi. Kru yang membantu Alenta mencari pakaian jadi melirik temannya seakan memberi isyarat agar tidak banyak bicara. Alenta menyelipkan anak rambutnya ke sebelah bahunya. Alenta bisa merasakan tangannya terasa lengket, rambutnya juga, karena terkena cipratan kopinya Nirmala. "Mbak Alenta nggak apa-apa, kan?" tanya si kru sembari mencarikan pakaian di gantungan. "Iya." Alenta menjawab pendek. "Beruntung kopinya nggak panas," ujar si kru. "Kalau panas, berarti emang sengaja mau celakain orang lain!" sambar teman si kru dengan nada menggebu-gebu. Bukan rahasia umum lagi soal Nirmala dan segala sifatnya yang angkuh. Alenta bisa tahu karena kru dan seorang aktris pendatang baru yang tengah kasak-kusuk di belakang. Karena Alenta tidak terlalu peduli, Alenta pikir tidak penting selama tidak berhubungan dengannya. Tapi kalau sampai kejadiannya begini, berarti rumor itu benar ya? *** Setelah Alenta berganti pakaian, ia keluar untuk bersiap syuting lagi. Namun begitu ia kembali ke lokasi, ia menemukan sosok yang famillier. Itu Dami. Tahu-tahu datang kemudian menarik Nirmala di tengah syuting akan berlangsung. Kedua berpapasan. Dami sama sekali tidak menatapnya barang sedetik. Justru sebaliknya malah Nirmala yang melihat ke arahnya sembari ternyum licik. Alenta membalikkan badan, memandangi kedua punggung yang berjalan kian jauh hingga menghilang dari pandangan. Alenta ikut bergabung bersama aktor dan aktris yang lain. Tanpa sengaja ia menengok ke sekitar. Saat itu orang-orang tengah menatap ke arahnya sesekali menunjuk. Ketika Alenta balas menatapnya, orang itu segera menurunkan tangan seolah tidak terjadi apa-apa padahal jelas tadi sedang membicarakannya. "Kok yang ditarik malah Nirmala?" Seorang make up artis datang menghampiri Alenta. Lelaki bergaya mirip perempuan itu membenahi make up Alenta. "Yang digosipkan sama Dami, lo, kan ya?" Detik itu, Alenta mulai menyadari. Ia menemukan jawaban kenapa orang-orang menatapnya aneh. Jadi, ada banyak orang yang termakan gosip tidak masuk akal itu? Ia dan Dami berkencan? Gila! Alenta masih waras. Kenapa harus berkencan dengan lelaki seperti Dami kalau yang tampan dan otaknya waras masih banyak! "Hm... itu cuma gosip." Alenta bersikap tenang. "Tapi, ya... yang nyebarin gosip kalian pacaran itu adeknya Dami sendiri." "Dimas?" tanya Alenta. "Nah! Itu lo tahu siapa nama adeknya Dami! Beneran pacaran ya?" Si make up artis tampaknya penasaran. Bukankah tidak sopan bertanya seperti ini? Sejujurnya Alenta tidak nyaman. Jelas itu hanya gosip. Mau itu yang bilang Dimas atau orang tua Dami sekali pun, kalau Dami dan Alenta tidak pacaran ya tidak. Kenapa memaksa sekali kesannya, sih? "Beneran ya?" tanyanya lagi. Kedua matanya menatap Alenta dari pantulan cermin. Alenta balas menatap make up artisnya. Dari ekspresi wajahnya saja sudah jelas tidak bersahabat. "Tolong lebih profesional selama proses syuting. Di sini gue mau kerja, bukan konfirmasi soal gosip yang nggak mendasar." Lelaki itu mengatupkan bibir serapat mungkin. Mungkin beberapa orang tidak tahu sedingin apa Cahaya Alenta. Yang terlihat di depan kamera selama ini bukan karakter sesungguhnya. Alenta yang sebenarnya sangat kaku, dingin, juga sulit untuk dicairkan. *** "Gue denger Dami tadi ke lokasi syuting. Nyamperin lo?" Suasana hati Alenta sudah buruk sejak Nirmala menumpahkan kopi ke bajunya. Ditambah kedatangan Dami ke lokasi hingga membuat dirinya menjadi tontonan dan bahan gosip orang di sana. Tidak cukup sampai di situ, make up artis pun ikut menginterogasinya. "Gue capek, nggak usah bahas yang jelas nggak ada hubungannya sama gue." Alenta menenteng tas kecil di tangannya, berjalan cepat mendahului Tiara dan Rivano. Tiara agak terkejut. Tadi pagi Alenta masih baik-baik saja padahal. Tapi saat ia kembali pada sore hari, raut wajah Alenta berubah muram. Tidak banyak bicara walau sudah ditanya oleh Tiara. Kenapa, ya? Apa ada hubungannya dengan kedatangan Dami? "Oh, oke." Tiara mengakhiri obrolannya. Tidak ingin menambah suasana hati Alenta jadi bertambah buruk. Tiara sendiri tidak tahu ada kejadian apa di lokasi syuting. Selain mendengar bahwa Dami datang lalu menarik Nirmala, tidak ada lagi. Sampai ia kembali ke lokasi untuk menjemput Alenta, wajah perempuan itu sudah ditekuk mirip kertas lipat. "Alenta, tunggu. Alenta!" teriak Nirmala dari belakang. Alenta menghentikan langkah seketika. Sosok Nirmala berlarian menghampirinya sembari membawa sesuatu di tangannya. "Gue boleh minta tolong sama, lo...," ujar Nirmala dengan napas ngos-ngosan. "Tolong apa?" tanya Alenta. "Ini...." Nirmala menyunggingkan senyum manis. "Tadi siang mamanya Dami nganter makanan ke lokasi buat gue." "Terus?" Alenta bersedekap. Tatapannya lebih dingin dari biasanya. "Tolong kasih ke Dami, ya. Udah dicuci bersih kok tempat makannya. Sekalian bilang terima kasih, masakan mamanya enak!" cerocos Nirmala. Kalau yang heran Alenta, itu hal biasa. Sejak pertemuan pertama mereka saja sudah membuat Alenta heran. Apalagi selama di lokasi syuting. Kali ini Tiara dan Rivano ikutan bingung. Apa maksudnya? Yang dikirimi makanan, kan, Nirmala, bukan Alenta. Lagi pula apa hubungannya dengan Alenta? Dami dan Alenta bahkan tidak bertetangga. Jalur ke arah rumah masing-masing saja lawan arah! Sepertinya, Nirmala, fix, kurang waras! "Lo yang makan, kan?" gumam Alenta menurunkan kedua tangannya. "Iya." "Kenapa gue yang harus ngasih ke Dami?" tanya Alenta, dingin. Lagian yang disebut mamanya Dami oleh Nirmala barusan bukan Mama kandung lelaki itu. Melainkan cuma Mama tiri. Dan setahu Alenta, Dami tidak menyukai istri baru papanya. Kalau sampai Alenta membantu Nirmala, sudah bisa ditebak bagaimana reaksi Dami, kan? Selain marah, lelaki itu juga akan membanting apa saja yang ada di sekitarnya. "Karena gue denger lo temennya Dami, makanya gue titip ke lo," balas Nirmala masih belum tahu malu. Dalam hati Tiara berdoa, semoga Alenta menolak permintaan Nirmala. Ada-ada saja, sih! Rasanya seperti salah server! "Gue nggak mau." Jawaban Alenta nyaris membuat Tiara berteriak, "YES!" Ia puas dengan jawaban Alenta barusan. Tiara pikir Alenta akan menerima permintaan Nirmala begitu saja. Tapi ternyata ditolak, tanpa membuat alasan yang berbelit. "Kenapa ketawa?" tanya Alenta begitu melihat Nirmala tertawa. "Harusnya gue ketawa. Lo, konyol. Lo yang makan kenapa gue yang balikin?" Nirmala melongo. Kemudian, Alenta menambahkan, "Lo tahu apa itu sopan santun, kan? Kalau lo dikasih makan sama orang harusnya bilang terima kasih. Itu menunjukkan kualitas diri lo sampai mana. Kalau setelah makan lo malah nyuruh orang yang lain yang bilang makasih, itu namanya lo kurang ajar. Nggak punya tata krama." Tiara mendelikkan kedua matanya tidak percaya. Barusan yang bicara adalah Alenta? Woah, lancar sekali! Dalam sejarah Tiara menjadi manajer Alenta, baru kali ini perempuan itu bicara panjang lebar. Kelewat lancar malah! "Kalau nggak mau bilang aja! Kenapa harus ngatain gue nggak punya tata krama?!" pekik Nirmala. Kini, Alenta yang balas tertawa. "Gue udah bilang nggak mau. Kurang jelas? Atau telinga lo bermasalah?" Nirmala bungkam. Mulutnya mengatup rapat begitu dibalas oleh Alenta. Tiara menunduk, diam-diam ikut menertawai Nirmala yang kelewatan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD