"Oh!"
Adam membungkam mulutnya cepat. Sosok cantik berambut panjang cokelat di depannya membuat Adam terkejut bukan main. Perempuan ini salah satu objek obrolannya beberapa hari terakhir bersama Raka dan anggota Missing You—kecuali Dami. Ya jelas Dami tidak termasuk di dalamnya. Karena objek kedua—itu Dami sendiri.
"Ini bener apartemen Dami, kan?" tanya Alenta, tidak menghiraukan reaksi berlebihan lelaki di depannya.
"Eh? Iya!" Adam mengangguk penuh antusias.
"Dami-nya ada?"
Sejenak, Adam tampak ragu. "Udah buat janji?"
Pertanyaan Adam barusan memancing kerutan di dahi Alenta. Harus membuat janji dulu baru bisa bertemu ya? Sesibuk apa lelaki itu?
Berbeda dari Alenta, Adam justru serba salah saat ingin menjelaskan. Bukan apa-apa, Dami dalam mode susah diajak berinteraksi sekarang. Adam tidak tahu kedatangan Alenta akan membantu Dami menjadi lebih baik, atau justru suasana hati Dami yang buruk makin menjadi-jadi.
Usut punya usut, kata Raka, ada masalah antara Dami dan keluarganya. Dami yang dasarnya memang pemarah, jelas sulit mengontrol emosinya. Biasanya Dami akan memilih diam, mengurung diri berhari-hari di apartemen jika Missing You tidak ada jadwal. Kalau pun ada, Dami akan memilih bungkam. Tidak peduli siapa yang mengajaknya berbicara. Karena selain bernyanyi, Dami enggan membuka suaranya.
"SIAPA YANG DATENG, DAM?!"
"KALAU BUKAN URUSAN NGGAK PENTING, MENDING LO SURUH PULANG SEBELUM KEPALA LO DIJADIIN DUA SAMA DAMIII!"
Seketika, Adam menoleh ke belakang dan menunduk. Si bontot Missing You itu mendesah panjang. Merasa tidak enak kalau Alenta sampai mendengarnya. Yang barusan itu suaranya Raka dan Abra. Ya. Mereka bertiga nekat datang menemui Dami di apartemennya. Adam tidak berhenti kepikiran. Bagaimana kalau Dami diam-diam sedang merencanakan bunuh diri? Adam bergidik. Sontak memeluk dirinya dengan kedua tangannya sendiri. Amit-amit, ya Tuhan! Jangan sampai! Walau keluarga Dami sudah berantakan semenjak mamanya meninggal, tetapi perjalanan hidup lelaki itu masih panjang. Masih muda. Ada banyak hal yang lebih indah yang belum ditemui Dami. Misalnya, jatuh cinta?
Alenta mengetuk pintu dengan kedua jari. Adam mulai tersadar lantas kembali menghadap Alenta. "Itu... anu," gumam Adam ragu.
"Tapi Dami ada, kan?"
"Ada, sih." Lelaki itu menggaruk tengkuknya.
Belum sempat Alenta membuka mulutnya, Raka tahu-tahu muncul di belakang Adam kemudian menepuk bahu si bontot. Rupanya Raka belum menyadari bahwa si tamu adalah Alenta. Orang yang sering dia gosipkan bersama para anggota Missing You. Raka mengoceh, meminta mengusir tamunya sebelum Dami sendiri yang mengusir orang itu. Adam mendecakkan lidah. Setiap kali dia ingin menjelaskan tamunya siapa, Raka terus mengoceh. Tidak memberinya kesempatan sedikit pun.
"Bang! Lo mau ke mana?"
Tidak lama, kurang dari tiga menit, terdengar suara Abra. Dibarengi dengan langkah kaki seperti berlarian, Alenta, Raka beserta Adam kompak memandangi dua lelaki yang akan keluar. Salah satunya adalah Dami.
"Lo mau ke mana? Biar gue anter, Bang." Abra mengekori Dami.
Dami menenteng jaket hitam di tangan kiri. Atensinya langsung tertuju pada Alenta. Selama dua detik keduanya saling bertatapan. Raka, Adam dan Abra jadi kompak memandangi dua orang itu. Kalau boleh jujur, Alenta seperti Dami dalam versi perempuan. Pembawaannya tenang, tetapi juga dingin.
"Gue rasa.... kita nggak terlalu dekat sampai lo tahu tempat tinggal gue." Dami memasang tampang sinis.
"Bukan nggak dekat. Kita nggak saling kenal," balas Alenta, tenang.
Dami mendengkus. Lelaki itu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku jaket yang telah terpasang di tubuhnya. "Ah. Lo cukup tahu diri rupanya."
Raka melongo. Abra memilih diam, tapi mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut keduanya. Sementara Adam, si bontot Missing You membulatkan kedua mata dan bibirnya secara bersamaan.
Dami bersedekap. "Jadi, tujuan lo datang kemari apa? Kalau lo mau terima kasih, nggak usah. Lagipula gue nggak berniat nolongin lo waktu itu."
Pandangan Alenta tertuju lurus ke Dami. Selanjutnya, yang keluar dari mulut perempuan itu memancing kerutan di dahi Dami. "Nggak ada yang minta lo buat nolongin gue."
Semakin membingungkan, Raka menyenggol perut Adam dan Abra.
Mereka mulai memahami sesuatu. Tidak ada hubungan spesial di antara Dami dan Alenta rupanya. Mereka sudah salah berasumsi. Dilihat dari cara mereka berbicara, menatap, terlihat canggung dan kaku. Belum lagi tatapan sinis yang Dami berikan kala menatap Alenta.
Jadi, mereka sudah salah sangka, ya?
Raka menggaruk belakang telinganya. Dalam hati dia bertanya, "Kalau gitu, apa alasan terkuat Dami sampai mau nolongin Alenta?"
"Gue pikir, kita udah salah ngira." Abra bisik-bisik.
Adam mengangguk, menyetujui kata-kata Abra. "Bener. Kita nggak bakat nerka hubungan orang."
"Hush," tegur Raka, mendelik galak.
"Kedatangan gue ke sini bukan buat berterima kasih ke lo." Alenta menatap Dami lurus. "Gue cuma berpesan sama lo. Jangan pernah ikut campur urusan orang lain. Gue nggak bisa jamin keselamatan lo misal ada apa-apa. Lo yang datang nolong gue, tapi lo juga nyalahin gue."
Dami menanggapinya dengan tawa sinis.
"Gue lebih milih kena luka tusuk, daripada harus ditolongin orang kayak lo." Alenta balas menyeringai. "Tolong diingat sekali lagi. Gue nggak pernah berharap ada orang yang mau nolongin gue. Apalagi itu lo."
Raka terbengong-bengong. Bukannya Alenta harus berterima kasih kepada Dami karena sudah menolongnya malam itu? Tapi... kenapa malah sebaliknya?
Semua yang terjadi baru saja dilihat oleh arwah Fano. Dari awal kedatangan Alenta kemari sampai suasana berubah tegang. Fano memandangi kepergian Alenta dengan tatapan sedih. Alenta tidak pernah begini kepada orang. Apalagi orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Ada apa dengan Alenta?
Fano ingin mengejar Alenta dan bertanya. Namun, apa daya, Alenta tidak akan pernah bisa melihatnya walau dia berusaha sekeras mungkin. Dia sekarang cuma arwah penasaran yang hidupnya luntang-lantung. Setelah dia meninggal, dia tidak tahu tujuannya harus ke mana selain pergi ke tempat Alenta dan teman-temannya. Juga mengekori Dami untuk membujuknya.
"Seharusnya lo jangan bilang gitu, Dam," desah Fano, berpindah di sebelah Dami.
"Diem, anjing!" sentak Dami.
Raka merasa tersinggung. "Kita semua nggak ngomong apa-apa, Dam."
"Dam, ayo kejar Alen! Bantuin gue, Dam!" oceh Fano.
Darah Dami seperti mendidih. Sejak adanya arwah Fano, kehidupan Dami jadi lebih rumit dan menyebalkan. Ditambah sosok Alenta yang ternyata tidak tahu terima kasih! Datang kemari hanya untuk membuat Dami semakin kesal saja!
"PERGI!" teriak Dami, suaranya nyaring dan keras.
"Dam, bantuin gue, ya? Gue rela mohon-mohon sama lo sekarang. Atau perlu gue berlutut di kaki lo?!"
"PERGI! GUE BILANG PERGI YA, ANJING! SIALAN!"
Emosi Dami tidak terkontrol. Adam dengan cepat menyambar tangan kedua temannya. Tidak peduli sekali pun Raka itu teman Dami sejak kecil. Emosi Dami sedang meluap. Bisa saja bertindak kasar dengan menghajar mereka, kan? Tidak. Ini hanya imajinasi Adam saja. Dami memang dingin, ketus, emosinya juga selalu bermasalah. Tapi belum pernah sekali pun memukul orang. Dami akan melampiaskannya dengan membanting barang di apartemennya sampai patah menjadi dua atau tiga bagian.
BRAK!
Adam mengelus dadanya. Tepat begitu dia menarik Raka dan Abra, Dami masuk ke dalam lalu membanting pintu apartemennya.
"Bang Dami nggak bakalan aneh-aneh, kan?" tanya Abra, memandangi pintu apartemen dengan sedih.
Raka bergumam, kecil. "Ini bukan pertama kalinya Dami kayak gini."
"Tapi gue khawatir, Bang. Apa nggak sebaiknya kita bawa Bang Dami ketemu psikiater?" saran Adam.
Raka tersenyum, kemudian merangkul bahu si bontot. "Lo masih sayang sama nyawa, kan, Sayang?"
Adam bergidik, melepas rangkulan Raka. "Najis banget lo panggil Sayang!"