Dami Tetap Dami

1014 Words
Raka dan anggota Missing You tidak berkedip memandangi Dami. Hampir setiap hari suasana hati lelaki selalu buruk. Jika ditanya kapan terakhir kali Dami tersenyum, jawaban mereka pasti tidak tahu. Atau bisa jadi mereka semua tidak pernah melihat Dami tersenyum seperti manusia pada umumnya? Raka, satu-satunya orang yang selalu ada di samping Dami. Mau dalam keadaan apa pun. Daripada dalam keadaan senang, Raka lebih sering mendampingi Dami dalam keadaan duka. Sebagai teman baik Dami, Raka hanya ingin Dami lebih santai menjalani hidup. Melupakan rasa sesak di d**a. Raka tahu, sekadar bicara memang mudah. Yang sulit melalui prosesnya. Bisa saja Raka mendorong Dami agar segera bangkit dari keterpurukan, bisa saja Raka terus mengomeli Dami dengan embel-embel ingin temannya jauh lebih baik, lebih ringan hatinya. Tapi, sekali lagi... itu semua sekadar omong. Yang menjalani adalah Dami. Yang tahu sakitnya, pedihnya, dan segala macam perasaan buruk cuma Dami. Hal biasa bagi orang lain, berat bagi yang menjalani. Dami duduk di salah satu kursi, berpencar duduk dengan anggota bandnya. Tatapannya kosong, namun jarinya aktif memetik senar gitarnya. Kepalanya Dami agak turun, kemudian mendengkus kasar. Pasangan mata yang sejak tadi memerhatikannya mulai kebingungan. Tahu-tahu Dami tersenyum. Jenis senyuman paling sinis. Adam, si bontot Missing You, menyenggol kaki Raka hingga menarik perhatian semua anggota. Kedua mata Adam bergerak, memberi isyarat sesekali menunjuk Dami tanpa kentara. Raka mendelik. Balas memberi isyarat melalui gelengan kepalanya. Jangan berani mengganggu Dami saat sedang mode begitu. Karena sekali mengeluarkan suara bising, Dami bisa menjungkir balikkan semua barang yang ada di sana. Stik drum milik Abra saja bisa mudah dipatahkan menjadi dua. Tidak percaya? Coba buktikan. Si bontot menggeleng ngeri. Yang lain menatap Raka dan Adam bergantian. Entah mereka yang terlalu bodoh sampai tidak mengerti isyarat yang dilemparkan Raka dan Adam. Mereka berdua seperti dua orang i***t yang berbicara menggunakan batin. "Bang." Abra, harus diberi dua jempol atas keberaniannya menyapa Dami. Perlahan kepala Dami bergerak. Raka bergidik, menepuk paha Adam meminta bertukar tempat duduk. Adam menggeleng, mendorong pinggang Raka sampai lelaki itu jatuh terduduk di atas pangkuan temannya yang lain. "Tangan lo udah nggak apa-apa?" tanya Abra. Dami kembali menarik senar gitarnya. "Hmm." Abra melirik temannya yang lain. Adam menggelengkan kepalanya memberi isyarat. Sementara itu, Raka, menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf X. Rupanya Abra belum memahami situasi. Atau cuma Raka yang terlalu peka? Suasana hati Dami berkali-kali lebih buruk dari biasanya sejak kejadian menolong Alenta dua hari yang lalu. Ah, baiklah. Sebelumnya Raka memiliki asumsi kalau Dami dan Alenta berpacaran. Raka berasumsi seperti itu bukan tanpa alasan. Raka tidak akan bosan mengingatkan bagaimana Dami selama ini. Walau mereka berteman sejak kecil. Hanya Raka yang mau bertahan menjadi teman lelaki itu, Dami tetap Dami. Bahkan kepada Dimas, adik Dami sendiri, Dami bersikap serupa. Belum pernah Dami mau beramah tamah. Sekali pun kepada penggemarnya. Dami cuek, Dami tidak peduli walaupun banyak media yang menyebut dirinya sombong. Bagi Dami, dia hidup hanya untuk musik dan bernyanyi. Dengan dua hal itu sama seperti menyelamatkan Dami dari gelapnya masa lalu. Dami pernah mengatakan pada Raka, "Bagaimana jika Dami tidak memiliki alasan untuk bertahan?" "Bang! Lo mau ke mana?" seru Adam. Dami menengok. Raut wajahnya masih sama dinginnya seperti tadi. Tanpa mau repot menjawab pertanyaan Abra mau pun Adam, Dami menyambar jaket hitamnya kemudian melangkah pergi tanpa suara. *** Sampai hari ini, Alenta penasaran siapa sebenarnya lelaki yang hendak menusuknya? Lelaki itu mengenakan pakaian serba hitam serta tutup kepala. Ditambah lagi cahaya penerangan kala itu agak minim karena sudah larut malam. Andai saja Alenta tahu siapa orangnya, Alenta akan mencari tahu segala hal tentang lelaki itu. Juga, apa motif si lelaki ingin mencelakainya. Alenta memutuskan untuk tidak memberitahu Tiara dan kakaknya. Setelah Dami menolongnya malam itu, Tiara datang ketika semua anggota Missing You, termasuk Dami, telah pergi bersama mobilnya meninggalkan tempat parkir. "Gue ada berita bagus! Lo dapet tawaran main film. Gimana, Len? Lo mau ambil?" seru Tiara, memasuki kamar milik Alenta. Tiara duduk di tepi ranjang Alenta. Perempuan berambut sebahu itu tampak riang seperti biasanya, sangat kontras sekali dengan mimik wajah Alenta yang selalu begitu saja setiap harinya. "Ra, gue boleh minta tolong sama lo?" tanya Alenta. Tiara menyambar bantal dari atas tempat tidur sang artis. "Boleh." "Bisa bantu gue cari tahu alamatnya Dami?" Sepasang mata Tiara mengerjap. Tampak heran, tetapi juga penasaran. "Dami? Vokalisnya Missing You?" Alenta mengangguk. Dalam benak Tiara hanya satu, "Alenta dan Dami ada hubungan apa?" Alenta tidak menghiraukan perubahan raut wajah Tiara. Dia tahu kalau manajernya sedang menerka-nerka sesuatu. Jelas tentang dia dan Dami. Alenta memilih mengabaikannya. Dia ingin mengucapkan terima kasih pada lelaki itu karena sudah menolongnya. "Ada yang bisa gue bantu lagi, Len? Mungkin... lo butuh keahlian gue dalam memilih barang bagus?" Sebelah mata Tiara mengerling. Sengaja menggoda Alenta. "Nggak perlu." Alenta menolak. "Gue cuma butuh alamat Dami. Itu aja, kok." Tiara memberi tanda hormat, lantas tertawa meledek. Tiara tidak tahu apa tujuan Alenta meminta alamat Dami. Jangan pikir Alenta dan Dami memiliki hubungan spesial. Atau lebih parahnya mengira mereka berdua berpacaran. Tidak. Baru dua hari lalu mereka bertemu. Bagaimana bisa Alenta dan Dami pacaran? "Eh, Len, tapi...." Tiara menepuk paha Alenta dengan heboh. "Apa?" tanya Alenta. "Tunggu." Perempuan itu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Jarinya bergerak lincah di atas layar. Samar-samar Alenta mendengar suara, seperti teriakan segerombolan perempuan. Kepala Alenta bergerak miring. Begitu Alenta menunduk, kedua matanya tertuju pada video yang diputar Tiara dari ponselnya. Tiara menunjuk seorang lelaki dengan ujung kukunya yang panjang. Alenta belum bereaksi. "Gue dapet ini dari salah akun penggemarnya Dami." Tiara mulai menjelaskan. "Dami ketahuan lagi lihatin lo waktu konser dua hari yang lalu. Lo lihat deh, Len! Astaga! Dia natap lo sedalam itu!" Kedua bahu Alenta bergerak, menarik punggungnya duduk lebih tegap. Berbeda dari reaksi Tiara yang penuh semangat empat lima, Alenta justru memasang tampang datar. Kenapa juga Tiara yang heboh? Apa istimewanya ditatap seperti itu? Daripada membuat hatinya meleleh, Alenta justru merasakan Dami sedang menatapnya benci. Sejenak, Alenta teringat kejadian dua hari yang lalu. Sebelum Dami pergi, Dami memarahinya. Alenta menahan diri agar tidak terpancing. Bagaimanapun, Dami telah menyelematkan nyawanya. Coba saja tidak ada Dami, mungkin Alenta sudah dirawat di rumah sakit. Atau, bisa jadi kehilangan nyawanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD