Tidak salah Fano datang kemari. Di sinilah tempatnya mencari tahu tentang Dami dan luka di tangannya.
Fano pergi ke studio tempat Dami dan anggota Missing You lainnya latihan. Di sana ada Raka, Braga, Adam dan Abra. Semula hanya obrolan biasa. Mereka tengah membahas acara tur yang akan diselenggarakan sebentar lagi. Namun, Raka tahu-tahu membahas tentang Alenta. Dan yang mengejutkan, Raka dan tiga anggota Missing You mengira bahwa Dami serta Alenta memiliki hubungan diam-diam.
Fano menatap keempat lelaki itu kesal. Ingin sekali Fano mendorong Raka dari tempat duduknya sampai jatuh berguling-guling. Namun sayang, kemampuannya untuk memegang manusia belum dia dapatkan. Fano hanya bisa menatap jari-jari tangannya kemudian menunduk lesu.
Berusaha untuk fokus. Mengesampingkan kekesalannya pada manusia bernama Raka. Fano mengambil tempat berdiri di tengah-tengah anggota Missing You. Dimulai dari Raka, lantas tiga orang lainnya saling bersahutan.
Adam, anggota termuda Missing You mengatakan, "Bukannya gue julid, sih. Selama ini Bang Dami mana pernah mau direpotin?" Semua orang mengangguk tanda setuju. "Sama Bang Raka, temen dari zaman dulu aja, Bang Dami nggak pernah perhatian. Bang Raka jatuh jungkir balik karena kepeleset bukan ditolongin, cuma dilihatin doang setelah itu pergi."
Dami dan sikap ketidakpeduliannya itu bukan menjadi rahasia lagi di antara semua anggota Missing You. Dami memang begitu dari zaman bayi, ini kata Raka, teman Dami dari lama. Baik dan buruknya Dami, Raka mengenalinya dengan sangat baik. Temannya yang satu itu memang terlalu cuek kepada orang di sekitarnya. Bukan cuma Raka saja. Tapi juga kepada keluarganya, Dami pun tidak peduli.
Tidak salah kalau Raka dan yang lain jadi beramsumsi tentang Alenta dan Dami memiliki hubungan spesial. Melihat Dami yang cuek, lalu tahu-tahu menolong Alenta sampai telapak tangannya terluka, Raka jadi yakin kalau sebenarnya Dami dan Alenta berpacaran.
"Tapi, kalau beneran pacaran. Bang Dami sama Alenta kenal dari mana? Kita satu panggung aja baru semalem." Abra membuka suara setelah banyak diam dan menyimak.
Braga menepuk bahu Abra. "Gue denger, mereka satu sekolah dulu."
Raka mendelik. Otomatis memutar badannya menghadap Braga. "Tahu dari mana lo? Gue yang temennya Dami aja nggak tahu!"
Braga tersenyum bangga. "Karena gue penasaran, gue cari tahu tentang Alenta. Eh, di situ gue sadar kalau mereka pernah satu sekolah!"
"Nggak aneh juga kalau mereka pacaran," sahut Adam.
Fano meremas kesepuluh jarinya menahan geram. Mulut Raka dan tiga anggota Missing You di depannya sudah mirip dengan sekumpulan ibu-ibu kompleks tukang gosip! Asal ngomong saja padahal tidak tahu fakta yang sebenarnya!
Fano dan Dami memang satu sekolah. Begitu pun Alenta. Hanya saja ada satu masalah yang membuat Dami keluar dari sekolah sebelum lulus. Setelah Dami keluar, Alenta masuk sebagai murid baru. Alenta belum sempat mengenal Dami kala itu. Jelas juga mereka tidak saling mengenal! Fano mengacungkan satu jarinya menunjuk Raka dan lainnya, mengancam mereka semua—padahal tidak ada yang bisa melihatnya. Fano bersumpah akan menggentayangi mereka semua, khususnya Raka, jika sampai gosip ini terangkat ke media!
"Eh, Bang." Adam memanggil Raka. "Sekarang keadaan Bang Dami gimana? Tangannya nggak apa-apa, kan?"
Raka tersenyum masam. "Cuma kena gores dikit tangannya. Mana kerasa sakitnya," celetuknya.
Braga menoyor kepala Raka. "Dami juga manusia kali. Mana bisa dia nggak kerasa sakit padahal darahnya lumayan banyak keluarnya? Udah gitu, Dami nolak dibawa ke rumah sakit!"
Raka hanya bisa menahan diri agar tidak ember. Jangan sampai mulutnya mengatakan hal yang seharusnya tidak dia katakan. Ini hanya akan menjadi rahasia di antara dirinya, Dami, serta Dimas, adik lelaki itu.
Fano menemukan raut wajah Raka yang berubah. Raka seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari teman-temannya. Apa ini ada hubungannya dengan Dami?
Aish! Tanggung sekali jadi hantu! Fano tidak bisa mendengar isi hati orang lain. Minimal bisa tahu apa yang sedang dipikirkan oleh manusia!
***
Kalau Dami sudah bilang tidak, itu artinya tetap tidak. Sekarang Fano tahu alasan kenapa tangan Dami terluka. Bahkan luka itu hanya dililit oleh perban hasil pemaksaan dari Raka.
Ada ya orang sekeras kepala seperti Dami? Fano pikir, Dami yang dulu tidak keras kepala seperti sekarang. Walau mereka tidak pernah akur dulunya, tapi Fano tahu kalau Dami hanya anak yang kesepian hingga meluapkan kemarahannya dengan membuat onar di sekolah mau pun di luar sekolah.
Fano menggelengkan kepalanya mengusir pikiran buruk mengenai Dami. Untuk sekarang, Fano hanya perlu fokus pada keselamatan Alenta. Tapi, bagaimana caranya agar Dami mau menolongnya? Baru sekali bertemu, lelaki itu sudah terluka.
Kata Raka tadi, ada orang asing yang ingin mencelakai Alenta semalam. Beruntung ada Dami yang menolongnya tepat waktu. Walau Alenta gagal ditusuk, Fano yakin Alenta sekarang tengah ketakutan. Mungkin saja tidak ingin keluar dan menemui banyak orang. Mendengar cerita semalam saja berhasil membuat Fano merinding.
Sebenarnya, apa tujuan orang itu? Setelah membuatnya terbunuh, orang itu menargetkan Alenta juga. Fano berpikir, mengingat siapa saja musuhnya. Cuma Dami. Aih, mana mungkin lelaki itu Dami! Bukan. Fano yakin itu ulah orang lain. Tapi... Fano juga yakin dirinya tidak memiliki masalah dengan siapa pun. Mempunyai musuh saja tidak.
Fano pusing! Daripada Fano memikirkan siapa pembunuhnya, lebih baik dia pergi menemui Alenta. Fano ingin memastikan bahwa perempuan itu baik-baik saja setelah kejadian mengerikan semalam.
Sampai di rumah Alenta, Fano memilih berdiri di depan jendela kamar perempuan itu. Dari jendela yang dibuka, Fano bisa melihat Alenta sedang diperiksa oleh seorang dokter. Di samping ranjang Alenta ada Tiara, manajernya. Namun.... Fano menangkap sosok perempuan berambut sebahu, mengenakan seragam SMA sedang memandangi Alenta.
Siapa? Fano bertanya pada diri sendiri. Seingatnya, Alenta hanya dua bersaudara. Alenta memiliki seorang Kakak lelaki. Tidak memiliki adik, apalagi masih anak sekolahan. Fano menerobos jendela kaca. Dalam sekejap tubuhnya sudah berada di dalam kamar Alenta.
Fano berdiri tepat di samping si perempuan. Untuk sejenak, Fano ikut menatap Alenta yang tengah diperiksa dokter. Pasti karena kejadian semalam, Alenta sampai jatuh sakit. Fano ingin menghibur Alenta, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menatap dari tempatnya berdiri.
"Emang ya. Uang sama kepopuleran nggak menjamin hidup bahagia."
Fano celingukkan. Perempuan berpakaian SMA itu bergumam. Fano berpikir, oh... mungkin sedang bicara dengan Tiara.
"Kalau gue dikasih pilihan, mendingan gue jadi orang biasa." Perempuan itu bergumam lagi. Namun, kali ini menengok ke arah Fano. Kedua matanya yang besar mengerjap-ngerjap.
Fano mengibaskan tangannya di depan wajah si perempuan. Fano menengok ke kanan dan ke kiri memerhatikan sekitar. Tiara dan dokter yang memeriksa Alenta tadi sudah pergi. Tinggal Fano, Alenta yang berbaring di ranjang, dan.... perempuan ini. Tunggu! Perempuan ini bisa melihatnya?! Sungguh?
"Lo... ngomong sama gue?" tanya Fano sambil menunjuk hidungnya.
"Iya." Perempuan itu mengangguk.
Fano menjilat bawah bibirnya. "Lo lihat gue baik-baik sekarang. Lo beneran bisa lihat gue? Wujud gue, kan?"
Perempuan itu mengerutkan dahi. "Iya." Ekspresi wajahnya berubah sebal.
"Gue hantu, loh! Gue arwah penasaran! Lo nggak takut sama gue?" cerocos Fano, penuh semangat.