Seharusnya, syuting dilakukan tiga jam yang lalu. Semua aktor dan aktris sedang duduk menunggu. Karena si bintang utama tidak muncul lebih dari tiga jam, terpaksa syuting harus diundur. Bagaimana mau syuting kalau Nirmala tidak terlihat batang hidungnya?
"Hubungi Nirmala sampai bisa!" seru sutradara terdengar marah.
Alenta duduk ditemani manajer dan Rivano di belakangnya. Tiara sedang mengipasi dirinya karena cuaca sungguhan panas. Dari tempat mereka duduk, mereka bisa melihat sang sutradara marah-marah dan terus mengomel. Nirmala bukan hanya tidak datang. Tapi juga sulit dihubungi.
"Gimana? Udah bisa?" tanya sutradara lagi pada asistennya.
Astrada muda itu datang menghampiri sutradara. Di tangannya terdapat ponsel. "Nomornya malah nggak aktif, Bang. Barusan gue udah telepon manajernya. Tapi dia bilang Nirmala nggak ada di apartemennya juga."
"Haduh! Kenapa nggak profesional banget, sih! Dia pikir syuting tempat main-main apa!" omel sutradara. "Coba telepon lagi. Kalau Nirmala nggak muncul juga, gimana kita mau syuting?!"
"Iya, Bang, siap!" balas astrada itu.
Yang lain malah berkasak-kusuk di belakang sutradara dan astrada yang kelimpungan menghubungi Nirmala. Tidak biasanya perempuan itu sulit dihubungi di saat syuting akan dimulai. Terlepas sikap Nirmala yang sombong atau sok, tapi Nirmala sosok pekerja keras. Mana pernah ada kejadian seperti ini. Malah kalau boleh jujur, Nirmala sering datang lebih dulu ketimbang aktor dan aktris yang lain.
"Ke mana dia?" bisik Tiara di telinga Alenta.
Kedua mata Alenta fokus membaca skrip di tangan. Sembari membaca lagi dan menghafal, Alenta menyahuti pertanyaan Tiara yang mulai kepo. "Ada urusan mungkin."
Tiara mendecakkan lidah. "Masa sampai ngelewatin syuting, sih? Nggak profesional banget! Sepenting apa urusannya emang?"
Alenta menutup kertas skrip-nya. "Cukup sutradara sama astrada aja yang bingung cari Nirmala. Lo nggak usah ikutan."
Tiara mengerucutkan bibirnya. Ia agak sebal pada Alenta yang kurang asyik diajak gibah. Apa salahnya gibah sesekali, sih? Kan, orangnya sedang tidak ada. Memang cuma Tiara aja yang penasaran? Tiara yakin yang lain juga!
"Lo penasaran juga, kan, Van?" tanya Tiara mendongakkan kepalanya.
"Nggak, Mbak," jawab Rivano sambil menggelengkan kepala.
Alenta menahan tawa geli. Tiara nyaris mengumpat karena Rivano tidak sejalan dengannya. Susah sekali mencari teman gibah, sih!
***
Lewat dua hari Nirmala hilang tanpa kabar. Manajer dan keluarga berusaha mencari tahu keberadaan perempuan itu ke teman atau orang paling dekat Nirmala. Jawaban mereka sama. Mereka tidak tahu menahu.
Nirmala itu aktris besar, terkenal pula. Syuting dari satu film ke film baru. Belum lagi mengisi iklan dan endorse-an segudang. Jadi untuk bertemu teman di sana sini harus janjian dari jauh-jauh hari. Tidak bisa dadakan seperti orang berteman kebanyakan.
Karena sudah lewat dua hari, Kareen, manajer Nirmala menghubungi polisi. Hilangnya Nirmala agak aneh. Kalau Nirmala memang sedang pergi ke luar negeri, kenapa tidak membawa baju? Pasport, dompet serta ponselnya ada di apartemen. Lagi pula, Nirmala tidak bisa sembarangan pergi ke luar negeri di saat ada jadwal syuting film baru.
Kareen dan dua orang petugas polisi yang akan membantu mencari keberadaan Nirmala sedang ada di apartemen perempuan itu. Dua petugas tersebut saling membagi tugas. Satu petugas mencari bukti atau apa saja yang bisa menjadi petunjuk atas hilangnya sang aktris. Sementara satu petugas lainnya menginterogasi Kareen dan keluarga Nirmala.
"Kapan terakhir kali Anda bertemu dengan saudari Nirmala?" tanya petugas sembari menyiapkan catatan dan pulpen.
Tiba giliran Kareen yang dimintai keterangan oleh polisi. Perempuan setengah berwajah bule itu tampak diam mengingat pertemuan terakhirnya dengan Nirmala.
"Sehari sebelum Nirmala hilang, Pak. Sekitar tanggal...," gumam Kareen mengerutkan dahi. "Tanggal dua enam, Pak. Sepulang mengantar Nirmala ke apartemen."
Petugas mencatat keterangan yang diberikan Kareen. "Anda tidak menghubungi saudari Nirmala lagi setelah itu?"
"Oh, tunggu," ujar Kareen membuka tas dan mengeluarkan ponsel. Ia memberikan benda tipis itu ke petugas.
Petugas menerimanya. Membaca ruang chat pribadi antara Kareen dan Nirmala. Di layar, Kareen mengirim chat untuk mengingatkan apa saja jadwal Nirmala besok pagi. Nirmala pun membalasnya. Perempuan itu hanya membalas dengan satu kata, "Oke."
"Pak...." Petugas yang bertugas mencari barang bukti di apartemen Nirmala datang menghampiri rekan kerjanya. "Saya nemuin ini di kamar Nirmala, Pak."
Beberapa lembar foto ditemukan di kamar Nirmala. Tapi anehnya, bukan foto Nirmala yang mereka temukan. Melainkan foto orang lain. Petugas yang menginterogasi Kareen menyodorkan selembar foto pada manajer Nirmala.
"Anda kenal sama dua orang di foto ini?" tanya petugas menunjuk dua orang dalam foto.
Kareen agak mencondongkan tubuhnya. Kedua matanya menyipit. Sekali melihat saja, Kareen tahu siapa dua orang di foto. "Ini, kan....," Kareen mengatupkan bibirnya. "Alenta sama Dami."
Kareen memiringkan kepalanya. Entah kenapa di apartemen Nirmala malah ada foto orang lain. Alenta dan Dami. Untuk apa? Bukannya Nirmala selalu mengeluh sebal setiap melihat Alenta? Kenapa menyimpan foto orang yang tidak disukainya? Dan, Dami. Kareen mengangkat dagunya. Yang ia tahu, Nirmala menyukai vokalis Missing You sejak beberapa tahun yang lalu.
"Alenta lawan main Nirmala, Pak. Seharusnya mereka masih melakukan syuting."
"Lalu, Dami itu siapa?"
Kareen menjilat bawah bibirnya. "Saya nggak tahu banyak soal Dami. Yang saya tahu, Dami vokalis Missing You sekaligus orang yang disukai sama Nirmala."
"Dami dan Nirmala pacaran?" Petugas bertanya lagi, bersiap mencatat kesaksian Kareen.
Kareen tidak memiliki jawaban selain diam. Karena sejujurnya ia tidak tahu menahu hubungan Nirmala dan lelaki itu. Kedua mata Kareen mengerjap beberapa kali. Sesaat, ia teringat artikel beberapa terakhir sebelum Nirmala menghilang.
"Dari artikel yang diunggah salah satu media online, Nirmala sama Dami pacaran. Tapi saya nggak tahu itu beneran atau nggak."
"Anda sudah tanya ke saudari Nirmala?"
Kareen mengangguk dan menjawab, "Sudah. Tapi Nirmala nggak mau jawab selain senyum."
"Bagaimana hubungan Alenta dan saudari Nirmala?"
"Kurang baik, sih...." Kareen agak ragu menjawabnya. "Tapi tolong jangan sebar luaskan kesaksian saya ya, Pak?" pinta Kareen.
Si petugas mengangguk dan mengiakan permintaan Kareen.
"Sebelum muncul artikel tentang hubungan Nirmala, Dami dan Alenta. Nirmala banyak ngeluh ke saya kalau dia nggak suka sama Alenta. Padahal mereka sedang ada project bersama untuk sebuah film."
Petugas mencatat kesaksian Kareen. Dari A hingga Z, agar tidak ada yang ketinggalan. Karena sekecil apa pun informasinya, sangat dibutuhkan untuk memecahkan kasusnya. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Nirmala sebenarnya. Bisa saja Nirmala pergi ke luar negeri diam-diam. Atau ada hal buruk yang terjadi.
"Nirmala beberapa kali mengganggu Alenta di lokasi syuting," jelas Kareen.
"Mengganggu bagaimana?"
"Salah satunya.... Nirmala sengaja menumpahkan kopi ke bajunya Alenta," jawab Kareen menggigit bawah bibirnya.
Kareen sudah mengingatkan Nirmala agar tidak mencari masalah selama syuting. Nirmala sangat keras kepala dan egois. Sebenarnya, bukan cuma sengaja menumpahkan kopi ke baju Alenta. Tapi masih banyak lagi yang Kareen ketahui.
Salah satunya.... sengaja menampar Alenta di tengah-tengah syuting dengan dalih ingin berimprofisasi. Semua orang dibuat terkejut saat itu. Alenta sama terkejutnya kala Nirmala menamparnya sangat keras. Kareen bahkan bisa melihat bekas tamparan di pipi Alenta.
Kareen pikir Alenta akan marah dan balas membuat keributan. Tapi ternyata tidak. Alenta hanya menatap dingin Nirmala tanpa membalas sepatah kata pun. Kareen tidak membela Nirmala. Apalagi membenarkan apa yang dilakukan sang artis. Menurutnya, Nirmala sudah sangat keterlaluan. Kalau ada masalah di antara Nirmala dan Alenta, kenapa harus melampiaskan saat syuting? Kareen yakin, tidak hanya dirinya yang sadar kalau itu disengaja. Tapi semua aktor dan aktris yang lain pastinya.
"Jika ada sesuatu yang Anda ingat tentang saudari Nirmala, Anda bisa hubungi kami...."
"Iya, Pak, terima kasih." Kareen beranjak dan mengantar petugas menuju ke pintu. "Saya mohon. Tolong temukan Nirmala secepatnya."
"Kami sedang berusaha. Saya harap Anda dan keluarga saudari Nirmala bersabar sedikit lagi."
"Iya, Pak," jawab Kareen sambil mengangguk pelan.