Karena Dimas

1208 Words
Alasan terbesar Dami bersikap baik kepada Alenta adalah; karena di sekitar mereka muncul Fano. Dari semenjak Alenta berdiri di depan pintu unit apartemennya, Fano tengah berdiri di depan Alenta. Dami sengaja menciptakan adegan manis di depan Fano. Alenta dan Dami berebut jepitan rambut. Karena Dami lebih tinggi dari Alenta, maka Alenta harus bersusah payah menjinjitkan kakinya agar bisa menggapai tangan Dami yang terulur ke atas udara. Alenta tanpa sadar berpegangan pada bahu Dami. Sebelah tangannya lagi terulur ke atas berusaha menggapai jepitan rambutnya yang dipegangi lelaki itu. Semakin Alenta berusaha keras, maka semakin semangat Dami mempersulit Alenta. Ia berlari keluar dapur lalu naik ke atas sofa. Alenta mengikutinya ke mana pun pergi. Begitu Dami berada di atas sofa, Alenta pun menyusulnya. Alenta bahkan sampai melompat demi bisa mengambil alih jepitan rambutnya. "Dam!" pekik Alenta mulai lelah. Dami mengangkat jepitan rambutnya jauh lebih tinggi. Walau sembari menggerutu, menyumpah serapahinya dengan intonasi pelan, Dami tetap bisa mendengar apa saja yang keluar dari mulut Alenta. "Balikin jepitan rambut gue!" jerit Alenta. Tangannya lelah harus terangkat terus menerus. "Seberapa berharga jepitan rambut ini sih?" tanya Dami. "Bahkan dari model sama bahannya jelas harganya murah." Seperti tebakan Dami sejak awal, Fano dengan mudah tersulut api cemburu. Dari sudut matanya ia bisa melihat Fano sedang memandangi mereka berdua. Tatapannya berubah tajam bercampur marah. Dalam hati Dami bersorak senang. Ia merasa menang dari Fano. "Mau murah atau mahal nggak ada hubungannya sama lo!" maki Alenta. "Sekarang balikin, Dam! Gue nggak ada waktu main-main sama lo!" Tubuh Alenta tidak seimbang. Nyaris saja badannya jatuh terjungkal. Dengan sigap Dami menahan pinggang perempuan itu. Fano berteriak, hendak berlari menahan tubuh Alenta. Namun, pergerakan Dami lebih cepat sehingga Fano menahan kedua kakinya untuk bergerak. Sesaat, ia terdiam, sibuk memerhatikan keduanya. Perasaannya berubah sesak. Tapi, ya... apa yang bisa Fano perbuat selain diam memangnya? Ia ini hantu. Selain bisa menatap, menyentuh saja tidak bisa. Alenta memanfaatkan kesempatan. Begitu Dami lengah, ia menarik jepitannya dari tangan Dami kemudian melompat turun dari atas sofa. Ia membuka resleting tasnya, memasukkan jepitannya ke dalam sana. "Lo udah dapet apa yang lo mau." Dami ikut turun dari sofa. Alenta berjalan mundur beberapa langkah begitu Dami hendak menghampirinya. "Sekarang... lo boleh pulang. Pintunya ada di belakang lo." Dami menunjuk ke belakang punggung Alenta. Boleh Alenta mengira kalau otak Dami sedang bermasalah? Ini bukan soal emosi lagi. Tapi tingkah lelaki itu sangat aneh! Beberapa menit lalu memaksanya untuk makan bersama, lalu membuatnya lari ke sana kemari sampai melompat ke atas sofa karena tidak mau memberikan jepitannya. Seperti sengaja menggoda Alenta. "Sana pergi. Lo mau nunggu apalagi?" tanya Dami sembari menyeringai. "Masih berharap gue ajak makan bareng?" ejeknya. Alenta mengentakkan tangan tanpa kentara. Setelah mencangklengkan tasnya ke sebelah bahu, Alenta angkat kaki dari sana. Rasa kesal, jengkel, dan marah menjadi satu. Dami.... astaga! Lelaki itu sangat ahli dalam membuat orang marah, ya! Perempuan itu sungguhan pergi sehabis mendapatkan jepitan rambutnya. Perginya Alenta disusul hilangnya sosok Fano. Mungkin Fano mengikuti Alenta pergi. Padahal sudah jelas, Alenta tidak akan bisa melihat keberadaannya. Merasakan kehadiran Fano saja tidak. Dami merasakan ponselnya bergetar dari dalam saku celana. Pintu apartemennya ditutup lumayan keras oleh Alenta. Kedua mata Dami berpindah dari pintu lalu ke layar ponsel. Ada nama Sammy yang tertera. "Ya?" sapa Dami setelah ponselnya menempel ke telinga kanannya. "Jujur sama gue, Dam," ujar Sammy tanpa basa-basi. "Soal?" "Lo pacaran sama Alenta? Sejak kapan? Harusnya lo bilang dari awal ke gue. Gimana bisa sampai media tahu lebih dulu daripada manajer lo?!" "Hah?" gumam Dami bingung. "Lo mabuk? Siapa juga yang pacaran sama dia!" "Gue nggak mau tahu, Dam. Lo pergi ke kantor sekarang juga!" sentak Sammy terdengar murka di dalam telepon. *** Sebelumnya telah muncul rumor ada hubungan spesial antara Dami dan Alenta. Semua bermula dari foto keduanya di depan pintu apartemen. Tidak berapa lama, pihak Alenta dan Dami segera mengkonfirmasi kalau tidak ada hubungan spesial di antara mereka selain berteman. Ha, berteman apanya! Kata Raka, Alenta dan Dami lebih cocok digambarkan seperti tikus dan kucing! Ketika rumor itu tersebar, dengan cepat kedua belah pihak membantah. Perlahan rumor yang beredar mulai surut dan digantikan gosip terpanas dari selebriti lainnya. Baik Dami mau pun Alenta bisa lebih tenang. Sungguh! Terseret berita kencan dengan orang yang tidak disukainya sangat menjengkelkan! Kondisi jauh lebih tenang dan damai, ditambah orang-orang mulai lupa, rumor kencan mereka naik lagi. Dami bahkan tidak tahu jika foto dan video-nya terpampang pada beberapa akun gosip—ah, tidak! Tapi semua aku gosip telah memposting tentang dirinya. Dari Alenta yang datang ke apartemennya sampai Dami yang menyelamatkan perempuan itu hingga dua kali—pun menguatkan rumor yang beredar makin kencan. Bisa jadi benar, Dami dan Alenta telah berpacaran. "Gue minta maaf, Bang." Satu kalimat itu berhasil menarik napas panjang Dami. Dalang di balik berita kencannya bersama Alenta adalah Dimas, adiknya sendiri. Akh, sialan! Bocah itu selalu membuat keributan di mana saja! "Bang Raka iya-iya aja waktu gue tanya Mbak Alenta pacar lo atau bukan," ujar Dimas membela diri. "Loh! Kok, gue?" Raka berdiri dan menunjuk dirinya sendiri. "Sumpah, Dam! Demi Adam kesamber geledek kalau gue bohong sama lo!" Adam ikut-ikutan berdiri. "Lo yang bohong, kenapa gue yang disamber geledek?!" Suasana jadi tidak kondusif. Semua karena ulah Raka, Adam dan Dimas. Yang satu membela diri, satu lagi saling mendorong agar disambar geledek kalau Raka bohong kepada Dami. "Jadi yang bener yang mana?" tanya Sammy mulai hilang kesabaran. "Nggak." Dami menekan suaranya. Ekspresi wajahnya datar. "Yaaah..." Dimas menundukkan bahunya lesu. "Gue kecewa kalau nggak, Bang." "Diem, lo." Dami menunjuk Dimas, tajam. Setelah dicari tahu sumbernya. Ternyata dalangnya memang Dimas. Bocah itu seolah membuat pengumuman pada teman-teman di sekolah, tempat nongkrong, kalau Dami dan Alenta sedang berpacaran. Bahkan Dimas menambahkan—bahwa Alenta secara khusus merawat Dami yang sedang sakit. Gila! Dasar adik kurang waras! "Kalian, sih.... nggak ada konfirmasi apa-apa." Dimas malah menyalahkan Dami. "Justru karena gue nggak konfirmasi, lo harusnya mikir. Mana mungkin pacaran sama Alenta?!" bentak Dami. Dimas mengangkat dagu. "Kenapa nggak? Mbak Alenta cantik. Lo, nih, bisa jadi orang keseribu yang naksir sama Mbak Alenta!" Raka diam-diam berbisik ke Adam. "Cari mati si Dimas." "Beruntung adiknya, sih. Coba kalau kita yang bilang begitu." Adam balas berbisik ke Raka. Brak! Dami menggebrak meja. Seperti mengerahkan seluruh tenaganya. Raka nyaris jumpalitan, Adam sibuk mengusap dadaanya. Sementara Abra? Seperti biasa, lelaki itu berpose dengan ciri khasnya. "Lihat gue! Apa gue kelihatan seneng? Bahagia? Ketawa waktu lo sebut nama dia?!" Dami jadi marah-marah. "Masih yakin gue suka sama Alenta, hah?!" Kedua mata Dimas mengerjap. Ia tidak langsung menanggapi pertanyaan kakaknya. Raka, Adam dan Abra fokus memandangi gerak-gerik pasangan Kakak dan adik itu. Dimas tampak linglung, sementara Dami sedang meluapkan kemarahannya. Tahu-tahu Dimas nyeletuk, "Ya udah nggak usah marah-marah kalau emang nggak suka." Dimas dengan berani menatap Dami. "Kalau lo marah begini, itu artinya lo ada rasa." Raut wajah Dimas berubah datar kemudian beranjak dari kursi. Dami menggulung lengan kausnya, hendak menarik kerah baju Dimas dari belakang namun ditahan ketiga temannya. "Sini lo, Dimas! Mau ke mana lo!" "Udah, Bang. Udah," ujar Adam melerai Dami. "Itu adek lo, Bang." Abra menambahkan. Beda dari Abra dan Adam, Raka malah memberikan respons yang sebaliknya. "Tapi kalau dipikir emang iya sih...." Raka menengok ke tiga temannya. "Lo nggak suka Alenta, kan? Kok, lo marah sih? Atau lo suka beneran ternyata?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD