"Oh. Itu bukannya Alenta?"
Ada tiga pasang mata yang mengikuti ujung jari Raka menunjuk. Tepat di depan unit apartemen Dami. Seseorang itu Alenta, tengah berdiri sembari bersedekap dengan raut wajah gelisah.
Ada Dami di antara keempat lelaki itu. Berjalan setengah malas karena tiga serangkai mengikutinya kemari setelah selesai latihan.
"Kita lihat ada drama apa lagi nanti." Adam memanjangkan leher lantas berbisik ke telinga Abra dan Raka.
Abra manggut-manggut setuju. Jika keduanya bersama, selalu saja ada drama yang bikin kepala mereka menggeleng keheranan. Mungkin karena Alenta mau pun Dami tidak kunjung mengkonfirmasi ada hubungan apa. Entah spesial, cuma teman, atau sebatas teman tapi mesra? Eiii. Mesra dari mana? Setiap kali ketemu, Dami tidak pernah tidak bicara pakai urat!
Sebelum Dami sampai ke depan unitnya, Alenta lebih dulu menghampiri mereka. Membuat Raka menyenggol Abra dan Adam yang berada di kanan dan kirinya. "Mereka berantem?" tanya Raka agak berbisik.
Adam siap membalas. Suaranya tidak kalah pelan. "Emang Bang Dami sama Mbak Alenta pernah baikan?"
Sontak, Raka dan Abra menoleh kompak. Abra mendengkus, menoyor kepala Adam, kemudian menunjuk hidung Raka. "Kalau gitu kenapa kalian mikir mereka pacaran?!"
"Oh? Iya, ya." Raka bergumam mirip orang bodoh.
Dihampiri Alenta tiba-tiba membuat Dami heran sendiri. Selain mendadak, ekspresi wajah Alenta menarik perhatian Dami. Keduanya berdiri saling berhadapan. Alenta fokus pada lelaki di depannya, tidak menyapa atau bahkan tidak menghiraukan tiga lelaki yang ada di belakang Dami.
"Kita nggak kelihatan apa, ya?" gumam Adam.
"Lo nggak penting kali," timpal Abra.
"Peduli amat lo di sini apa nggak." Raka membalas tak kalah nyelekit.
Alenta menengadahkan sebelah tangannya di depan wajah Dami, lalu bertanya, "Lo pasti nemu jepitan rambut gue. Mana? Pasti lo simpen, kan?"
Yang ditanya Dami, yang heboh orang di belakang. Raka sampai menepuk-nepuk lengan Abra dan Adam secara bergantian. "Bener, kan! Itu jepitan punya Alenta...." Raka berbisik paling pelan.
Dami menengok ke belakang kemudian pindah ke Alenta. "Ada, gue simpen."
"Ya udah. Mana sekarang jepitnya?!" pinta Alenta.
Suara melengking Alenta mengejutkan tiga orang lelaki di belakang sana. Cuma karena sebuah jepitan gitu, lho, sampai membentak Dami?
"Kalian balik aja. Gue sama Alenta mau ngomong berdua," ujar Dami tanpa menoleh.
"Lo nyuruh kita pulang?" tanya Raka menunjuk hidungnya. "Dam, yang bener aja lo. Mentang-mentang Alenta ke sini, lo minta kita—"
"Oke, Bang!" Abra menyela ucapan Raka. "Gue, Bang Raka sama Adam balik aja ya. Have fun lo berdua. Mbak Alenta, kita pamit."
Abra menarik kedua temannya sekaligus. Raka terlihat masih ingin protes. Sementara Adam menunjukkan tanda-tanda kepo. Padahal jelas hubungan Dami dan Alenta, entah pacaran atau tidak, kan, tidak ada hubungannya sama mereka. Mendapat hadiah juga tidak mungkin.
Susah payah Abra menarik Raka dan Adam. Karena sulit dibujuk pergi, terpaksa Abra menarik kerah belakang baju dua temannya. Ditariknya dua temannya bak kucing yang baru jatuh ke dalam got.
"Bang... jangan ditarik, dong!" protes Adam.
Raka ikut menambahkan. "Gue bukan kucing ya!"
Abra mendengkus kasar. "Lo berdua kalau nggak ditarik, pasti nggak bakal mau pulang! Udah tahu mereka lagi sibuk."
"Sibuk apa?" tanya Raka, sinis.
"Tuh. Tahu, nih, Bang Abra!" tambah Adam.
Abra melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Adam dan Raka. "Sana balik kalau berani sama Bang Dami," ujar Abra menunjuk ke ujung lorong. Mereka hampir sampai ke depan lift. "Mau bikin Bang Dami marah kayak orang kesetanan? Yakin berani?"
Adam bungkam. Sontak ia bergidik. Ngeri saja kalau ingat Dami ketika marah akan seperti apa.
"Lo aja deh, Bang," ujar Adam mendorong punggung Raka.
"Cemen lo, Dam," ejek Raka. "Eh, tapi, gue juga ogah kalau jadi obat nyamuk ya. Lebih ngenes aja, gitu. Ada di tengah-tengah orang yang lagi falling in love...."
"Iya." Abra berjalan mendahului. "Biasanya orang ketiga itu, Setan."
Dalam hati Raka mengumpat. Kebiasaan buruk Abra kian menjadi dari hari ke hari, ya? Tiap bicara mana pernah difilter, sih!
***
Hanya ada dua orang di dalam apartemen. Beda dari biasanya, Dami tampak santai, seolah tidak terganggu Alenta berada di dalam huniannya.
Sesampainya ke dalam apartemen, Dami melepas jaketnya. Berjalan santai tidak mempedulikan kegelisahan Alenta yang terus menanyakan di mana jepitan rambutnya.
"Dam." Alenta menekan panggilannya.
Dami ada di depannya. Belum berniat menoleh ke arahnya sama sekali. Alenta mencoba memanggil beberapa kali, namun tidak dihiraukannya. Alenta memanggil lagi, tapi kali ini Dami malah meninggalkannya ke dalam kamar kemudian menutupnya.
"Dam!" teriak Alenta tanpa sadar.
Makin hari tingkah Dami semakin aneh. Terkadang jadi pemarah, tiba-tiba lemah seperti beberapa hari yang lalu. Sekarang? Dami tampak tenang. Atau.... Dami sengaja? Lelaki itu sedang mengerjainya? Dengan membuat Alenta kesal, begitu?
"Sialan," umpat Alenta pelan.
Dami mengunci pintu kamarnya dari dalam tanpa alasan. Apa maksudnya? Alenta bahkan tidak berniat masuk ke dalam sama sekali. Kedatangannya kemari hanya ingin mengambil jepitan rambutnya yang ketinggalan. Dami perlu memberikannya, dan Alenta akan pergi dengan senang hati!
Alenta menarik gagang pintu. Ia mengerahkan seluruh tenaganya. Kalau perlu ia akan mendobraknya!
"Dam, buka pintunya! Gue cuma minta jepitan rambut gue yang ketinggalan! Dami!" jerit Alenta kesal bukan main.
Dari luar, Alenta mendengar suara percikan air. Alenta mendengkus, menendang pintu kamar Dami lumayan kencang sampai terdengar bunyi 'duk'. Alenta mengumpat lagi, memegangi jari kakinya yang terasa sakit. Astaga! Dami berniat membuatnya seperti orang kesurupan, ya?!
Akh, Damiii! Lelaki itu minta dibunuh memang!
***
Alenta masih terkurung di apartemen Dami. Ah, tidak. Bukan dikurung juga, sih. Karena faktanya ia masih bisa keluar sendiri tanpa harus menunggu si pemilik. Cuma, Alenta tidak bisa pergi sebelum jepitan rambutnya dikembalikan.
Sambil menunggu Dami selesai mandi, Alenta mencari jepitan rambutnya ke mana-mana. Ke atas meja, ke sela-sela sofa, ke bawah kolong meja sampai ke pantry dapur. Bisa saja ketinggalan di sana, kan? Tapi, tidak ketemu juga. Sepertinya memang disimpan Dami.
Ponsel Alenta tidak lelah berdering semenjak tadi. Lagi-lagi ia kabur selepas syuting baru berakhir. Begitu Rivano dan Tiara lengah, Alenta pergi mendatangi apartemen Dami.
Kalau dipikir, Alenta rela datang jauh-jauh kemari hanya untuk jepitan rambut yang harganya tidak seberapa ya. Alenta mendengkus, menyibak rambut lurusnya ke belakang punggung. Ia membanting ponselnya ke atas sofa, memilih mengabaikan seluruh panggilan yang masuk.
Jangan dilihat berapa harga jepitan rambut itu. Walau ada satu-dua mutiara yang lepas, jepitan itu sungguh berharga baginya. Sekali pun seluruh mutiaranya terlepas, Alenta tidak akan membuangnya. Tidak akan!
Terdengar suara pintu dibuka. Buru-buru Alenta melompat dari atas sofa dan menghampiri Dami. Saat akan membuka mulutnya, Dami berjalan melewatinya begitu saja seolah Alenta mahluk tak kasat mata. Kedua kaki Dami melangkah masuk ke dalam dapur. Lelaki itu telah mengganti pakaian rumahan yang lebih nyaman.
"Lo tinggal bilang di mana jepitan—"
"Gue mau masak buat makan malem. Lo mau makan sekalian?" potong Dami cepat.
Kedua alis Alenta terangkat bingung. Di depannya sungguhan Dami?
"Gue ke sini bukan minta makanan lo." Alenta menunjuk Dami.
"Oke." Dami segera bereaksi. "Lo ke sini mau ambil jepitan lo, kan? Udah gue simpen. Lo tenang aja. Nggak bakal hilang, kok."
Alenta menarik napas panjang. Sebelah tangannya ia letakkan ke pinggang. "Sejak kapan lo suka basa-basi? Kenapa? Lo habis jatuh atau nggak sengaja kepala lo kena pukul?"
Dami tertawa sinis. "Gue lagi baik, pun, tetep salah ya."
"Gue nggak peduli lo mau baik atau nggak." Alenta menggerutu. "Kedatangan gue kemari cuma mau ambil jepitan rambut doang! Berapa kali harus gue perjelas, sih?!"
"Kayaknya penting banget jepitan rambut itu, ya," gumam Dami. Lelaki itu memutar badan, berjalan ke arah kulkas. "Gue bakal kasih jepitannya. Tapi sebelum lo pergi, lo harus nemenin gue makan."
Alenta menahan tawa sinis. "Harus banget nemenin lo? Haha! Gue dapet apa emang?!"
"Jepitan rambut lo...." Dami mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.
"Itu... jepitan gue, Dam," gumam Alenta menunjuk ke benda di tangan Dami.
Dami memasukkannya ke dalam saku celananya lagi. "Pilihan lo cuma dua. Makan sama gue dan lo bisa dapetin jepitan lo lagi. Atau nolak ajakan makan gue, tapi jepitan lo gue buang?"
Sialan! Dami memang sialan!