Demi Alenta

1116 Words
"Lo cari di depan. Gue cari di kamar mandi," titah Fano. Naomi dan Fano berbagi tugas mencari bukti tentang Nirmala. Ya, Nirmala belum diketemukan padahal sudah lewat dua minggu perempuan itu hilang. Entah masih hidup atau malah.... Fano menggeleng lalu menarik napas panjang. Ia ngeri sendiri dengan asumsinya. Kalau Nirmala meninggal, ia tidak menemukan arwah itu di apartemennya. Berita buruk yang menyeret nama Alenta jelas diketahui Fano. Kondisinya saat ini sangat mempersulit Alenta. Di mana-mana pasti mendapat sindiran. Fano sampai jengah mendengar Tiara terus menerus protes kepada Alenta karena tidak mau bergerak sedikit pun selain diam. Alenta memang begitu sejak dulu. Apa yang terjadi pada diri perempuan itu, yang dilakukan hanya diam dan menunggu hingga situasi mereda. Ck! Kalau masalahnya sudah separah ini, harusnya Alenta jangan diam terus! Penggemar Nirmala dan netizen mulai sembarangan bicara dan menulis komentar. Sekarang Alenta bukan hanya dicap sebagai perebut pacar orang. Tapi malah disebut sebagai dalang hilangnya Nirmala. Salah satu komentar yang Fano tidak sengaja baca begini, "Nirmala pergi pasti mau nenangin diri. Siapa yang nggak bakal sedih dan sakit hati kalau tahu pacarnya mau direbut orang lain?" Hah! Pacar siapa yang netizen itu maksud? Nirmala dan Dami tidak pernah berpacaran! Nirmala saja yang mimpi ketinggian Dami mau dengan perempuan culas seperti dirinya! Jangan kira Fano tidak tahu sikap buruk Nirmala kepada Alenta. Baik di lokasi syuting atau pun rencana jahat yang disusun perempuan itu. Ya! Fano tahu dalang di balik kekacauan di media sosial adalah ulah Nirmala! Sayang sekali Fano tidak bisa berbuat banyak. Saat Alenta dirundung Nirmala, Fano hanya bisa melihat dan menatap nelangsa. Ke mana Tiara dan bodyguard Alenta saat Nirmala mengerjainya? Nirmala orang yang sangat licik. Ia menunggu sampai Tiara dan Rivano sedang pergi. Ketika Alenta sendirian, Nirmala akan beraksi. Salah satu contohnya: menumpahkan kopi ke baju Alenta dengan sengaja di depan semua kru, make up artis dan aktor-aktris yang sedang istirahat. Apa Fano marah? Iya lah! Kalau saja Nirmala itu lelaki, Fano akan mengajaknya duel. Tapi... menyentuh manusia saja ia tidak bisa. Bagaimana mau mengerjai? Segala macam kebusukan Nirmala telah Fano ketahui. Dalang di balik gosip Dami dan Alenta pacaran itu ya Nirmala sendiri. Nirmala melakukannya dengan tujuan ingin mempermalukan Alenta. Setelah membuat orang-orang percaya kalau Dami dan Alenta pacaran, Nirmala menyuruh wartawan membuat berita buruk. Berita itu seolah menyudutkan Alenta. Dengan judul bahwa Alenta berusaha merebut Dami dari perempuan itu. Dan kurang ajarnya. Berita semacam itu terus menerus diunggah hingga orang-orang yang semula mendukung Dami dan Alenta jadi berbanding balik membenci Alenta. Menuduh Alenta sebagai pihak yang salah. "Kalau bukan karena Alen. Gue ogah masuk ke rumah apartemen ini cewek!" gerutu Fano melihat isi kamar Nirmala. Kamar itu luas dan rapi. Entah ada keluarga atau manajetnya yang datang untuk membersihkan. Karena Fano tidak bisa menyentuh benda apa pun, ia hanya bisa melihat dan memerhatikan dengan seksama. Tidak boleh ada yan ketinggalan dari pandangan matanya. Dari ke kamar tidur pindah ke kamar mandi. Fano melihat sama rapinya. Entah karena memang sudah dibersihkan atau dari awal memang begini? Fano keluar mencari Naomi di luar. Perempuan itu tampak mencari ke meja di ruang tamu, selipan sofa lalu ke dapur. "Lo nemu sesuatu?" tanya Fano menghampiri Naomi. Tanpa menoleh, Naomi menggelengkan kepalanya. Tangannya sibuk membuka ke sana sini. "Kayaknya udah diberesin sebelum kita ke sini." Fano menarik napas panjang dan berat. "Kalau kita nggak nemu bukti kelicikan Nirmala, gimana? Gue nggak tega lihat Alen disalahin terus." Naomi menatap Fano sepintas dan ikut menarik napas. "Sabar dulu. Gue yakin kita bakal nemu sesuatu." Kedua Fano turun dengan lesu. Ia melihat Naomi belum berhenti membongkar barang di sekitarnya. Fano cuma bisa memerhatikan tanpa menyentuh. Fano mengangkat kedua tangannya dan mendengkus. Ia sedih karena tidak bisa melakukan apa-apa selain menatap dan melihat. Fano sedih juga ikut sakit hati melihat Alenta disalahkan banyak orang. "Hmm... Fan," panggil Naomi membalikkan badannya. "Apa? Lo nemuin sesuatu?" tanya Fano penuh semangat. "Bukan." Naomi menggeleng pelan. "Gue cuma mau bilang kita butuh seseorang buat bantu cari bukti." "Siapa?" Fano menimpali dengan raut wajah bingung. "Dami." Jawaban Tiara membuat Fano mendelikkan matanya. Fano masih sakit hati pada perlakuan Dami. Semua karena Dami. Alenta berada di posisi sulit begini akibat ulah Nirmala! Perempuan itu menggila karena cemburu buta! Kalau saja Nirmala tidak cemburu, Nirmala tidak akan menjadikan Alenta dalam posisi sulit! Yang suka Nirmala, tapi kenapa menyulitkan orang lain yang jelas tidak ada hubungannya?! "Hei," tegur Naomi menepuk bahu Fano hingga lelaki itu terkejut. "Eh. Iya. Apa?" Fano tersadar. "Lupain dulu masalah kalian berdua. Lo mau Alenta nggak dituduh lagi, kan?" Fano mengangguk-angguk. "Maka dari itu lo harus kerjasama bareng Dami. Gue pikir.... dia pasti mikirin Alenta juga sekarang." "Siapa? Dami maksud lo?" Fano terbahak seolah yang dikatakan Naomi adalah hal paling lucu. "Berharap Dami mikirin Alenta ya nggak mungkin, Nom! Dami pasti bakal sibuk cari pembelaan sendiri daripada bantuin Alenta. Apalagi mikirin Alenta! Gila kali lo, ya." Naomi malah memikul kepala Fano. "Heh! Itu kan asumsi lo sendiri! Belum tentu Dami sama kayak apa yang lo pikirin!" Fano memegangi kepalanya sembari mengerucutkan bibir. Pukulan Naomi di kepalanya barusan lumayan bikin kepala cenat-cenut. "Gue lebih kenal Dami daripada lo. Dami, tuh—" Naomi mendelikkan matanya. "Kalau lo tahu Dami kayak gimana. Harusnya lo nggak berprasangka buruk. Orang yang lo bilang egois dan pengin menang sendiri, itu orang yang sama nolongin Alenta. Sampai masuk rumah sakit. Kena jahit, masuk ruang operasi. Lo masih ngerti cara manusia bilang terima kasih, kan? Lo belum lupa, kan, Fan?" Naomi tidak berada di pihak mana pun. Ia hanya bicara sesuai fakta. Sesuai apa yang dilihatnya selama ini. Dami memang keras kepala dan egois. Tapi, coba dipikir lagi. Dami juga mengalami kesulitan setiap kali menolong Alenta. Bukannya berterima kasih, Fano malah memaki Dami. Naomi tahu kalau Dami keras kepala dan gengsinya tinggi. Harusnya Fano mengalah saja. Toh, yang dilakukan Dami untuk Alenta juga membahayakan nyawanya. "Yang gue lihat, Dami emang begitu cara ngomongnya. Gengsinya selangit!" seru Naomi mengangkat kedua tangannya ke udara. "Kalau lo kenal dia, harusnya lo bisa maklumin. Bukannya malah marah-marah!" omel Naomi. Fano merasa hatinya tercubit oleh kata-kata Naomi. Sebenarnya, ia merasa bersalah waktu itu. Tidak seharusnya Fano menyinggung orang tua Dami. Fano juga belum meminta maaf ke Dami karena ia sudah lancang menyinggung soal keluarga dan mendiang Ibu lelaki itu. Naomi mengempaskan bokongnya ke atas sofa. Kedua tangannya ia rentangkan. "Sekarang, semua keputusannya ada sama lo. Mau mengalah atau nggak. Anggap aja demi Alenta. Tutup aja mata lo sementara. Kan, apa yang lo lakuin selalu buat Alenta." Fano menelaah kalimat Naomi. Ia memikirkan sikapnya sekali lagi. Karena sudah putus asa tidak bisa memberitahu Alenta tentang kematiannya dan pesan si pembunuh, Fano jadi gelap mata dan bersikap egois. Padahal Dami telah menolong Alenta, bahkan sampai masuk rumah sakit dua kali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD