Alenta dan Dami berpapasan di sebuah tempat. Keduanya tanpa sengaja saling menatap kemudian kompak membuang pandangan ke tempat lain. Alenta masih kesal karena sikap Dami waktu itu. Sementara Dami, ia masih jengkel karena sikap Alenta saat datang ke apartemennya.
Di mana-mana orang setelah ditolong, harusnya berterima kasih. Namun yang dilakukan Alenta malah sebaliknya. Alenta justru marah-marah Dami. Mengatakan tidak ada yang menyuruhnya untuk menolong perempuan itu. Dalam hati, Dami jengkel setengah mati. Dasar perempuan tidak tahu terima kasih! Apa perempuan seperti ini yang disukai Fano? Demi Alenta, Fano sampai memohon seperti seorang pengemis.
"Dami lihatin lo mulu." Tiara berbisik di telinga Alenta.
Alenta menggerakkan kepalanya. Menatap Dami sepintas kemudian membuang pandangannya. "Gue nggak peduli."
"Emang dia habis lo apain sih? Kelihatannya kayak dendam banget!"
Di tengah keramaian, Tiara asyik berbisik di telinga Alenta.
Sebenarnya, sampai hari ini Alenta tidak mengerti. Dami menyelamatkannya, tetapi juga memarahinya. Bahkan di depan seluruh anggota Missing You. Alenta bukan orang gila yang dengan sengaja memancing seorang penjahat! Alenta cukup waras walau beberapa kali sempat mengakhiri hidupnya setelah sang Ibu meninggal. Tapi, bukan berarti Alenta menyodorkan dirinya pada seorang pembunuh.
Alenta tidak berharap ada orang yang rela terluka karena menolongnya. Seperti Dami waktu itu. Kalau Alenta boleh memutar waktu kembali, Alenta akan melakukan berbagai cara agar kejadian seperti malam itu tidak pernah terjadi.
Alenta mengangkat kedua tangan lalu bertepuk tangan saat seseorang berpidato singkat di atas podium. "Fokus aja sama yang di depan." Alenta balas berbisik, tatapannya berubah tajam pada sang manajer.
Tidak hanya Tiara saja yang tampak semangat memberitahu kalau ada Dami sedang memandang ke arah mereka. Dari kursi seberang, segerombolan lelaki lantas saling berbisik satu sama lain. Sosok Alenta duduk dengan manis ditemani oleh manajernya. Raka, orang pertama yang menyadarinya. Gerak-gerik kedua manusia itu tidak lepas dari perhatian Raka dan yang lain. Dami ketahuan beberapa kali menatap Alenta. Walau tatapan Dami kelihatan sinis, Dami kentara sekali memerhatikan perempuan itu.
"Lihat," Segera, si bontot Missing You menyadari pergerakkan Dami, ia mulai berbisik pada teman-temannya. "Sampai hari ini gue nggak paham mereka ada hubungan apa."
Abra dengan cepat menengok. "Mereka nggak ada apa-apaan. Lo jangan suka gosip. Nggak baik! Setelah kejadian di apartemen kemarin, emang lo masih yakin mereka pacaran?"
"Ada kejadian apaan?" sambung seorang anggota lain.
Oh ya. Raka tanpa sadar manggut-manggut. Kejadian di apartemen Dami kemarin hanya mereka yang tahu dan melihatnya.
"Ada apaan sih?" Yang lain mulai protes. Memberi tanda akan memaksa.
"Keceplosan lo, Bang." Adam nyengir tanpa dosa.
Padahal mereka sendiri yang sepakat tidak akan membahas kejadian di apartemen. Karena kalau sampai bocor, apalagi Dami mendengarnya, habislah mereka. Nyawa mereka akan menjadi taruhannya di tangan Dami.
"Kalian sejak kapan main rahasiaan sama kita?" protes temannya.
"Tahu, nih!"
Teman-temannya sangat berisik! Entah apa yang sedang diobrolkan mereka semua. Bahkan suara tepuk tangan di sekitarnya kala MC menyebutkan nama pemenang award—sampai tidak kedengaran. Semua ini dipelopori oleh Raka!
"Berisik," tegur Dami.
Walau intonasi suara lelaki itu datar, berhasil membungkam mulut teman-teman bandnya. Raka menyenggol lengan Adam mulanya, kemudian dilakukan secara berurutan untuk mengingatkan masing-masing. Raka mengedipkan matanya beberapa kali sebagai isyarat agar mereka tidak membahas Alenta lagi.
"Apa?" tanya Dami pada manajernya.
Di tengah-tengah acara, muncul sebuah masalah. Kedatangan Dami bukan hanya sebagai tamu pada acara penghargaan malam ini. Tetapi juga membawakan dua buah lagu milik Missing You.
Anggota Missing You diminta berkumpul di belakang panggung. Seorang staf meminta Missing You berkolaborasi secara mendadak. Dami bertanya kenapa? Staf menjelaskan bahwa ada penyanyi senior batal tampil karena terkena serangan jantung. Sementara itu, pengumuman adanya penampilan spesial, tidak menyebutkan nama si penyanyi senior, merecenakan sebuah kejutan untuk penonton telah tersebar dari dua minggu sebelum acara tayang!
Mereka semua berunding. Raka dan anggota lain mengiyakan. Berbeda dengan Dami yang kelihatannya enggan.
"Udah, nggak apa-apa Dam. Satu lagu doang," kata Raka.
"Mereka minta kita kolaborasi!" balas Dami marah.
"Ya apa masalahnya?!" Raka mengangkat kedua tangan.
Cuma Raka yang berani balas marah kepada Dami. Bukan. Bukan berarti anggota lain tidak. Tapi mereka lebih memilih mengalah daripada harus bertengkar. Lagipula, mereka tidak bisa mengelak siapa yang paling berandil banyak membesarkan nama Missing You. Yaitu Dami. Jika bukan karena campur tangan Dami dengan membuat banyak lagu bagus, jika tidak ditunjang suara merdu Dami, mereka tidak yakin Missing You akan sepopuler sekarang. Kalau mereka membuat Dami berakhir marah setelah itu Dami mogok bernyanyi dan menulis lagu, bagaimana?
"Baik, kita bisa bantu. Tapi... siapa teman kolaborasi kita ya?" tanya Raka pada salah satu kru.
"Oh, tunggu." Kru perempuan itu berlarian meninggalkan anggota Missing You. Namun, kedatangan seseorang membuat kru tadi kembali, lantas mengenalkan teman kolaborasi Dami dan teman-temannya.
"Mampus," umpat Adam.
"Ini malam terakhir Raka hidup," sambung Abra.
Orang yang sejak tadi tidak berhenti ia pandangi kini berjalan ke arahnya. Alenta begitu tenang sekali pun Dami tidak berhenti menatap perempuan itu sinis. Alenta kelihatan tidak peduli. Sepanjang kru menjelaskan konsep dan judul lagu yang mereka bawakan nanti, Dami tidak melepaskan pandangannya. Bukan karena kagum akan kecantikan Alenta seperti yang dibicarakan orang-orang selama ini. Dami menatap Alenta karena, sosok Fano sedang berada di sekitarannya. Lebih tepatnya di belakang Alenta.
"Kalian bisa manfaatkan waktu yang terbatas untuk latihan." Kru berpesan. "Alenta, Dami? Pasti kalian tahu lagu yang mau kalian bawain, kan?"
Alenta mengangguk lalu mengerjapkan mata.
Bukan lagu Missing You atau milik Alenta yang dinyanyikan nanti. Tapi lagu dari penyanyi senior yang harusnya tampil, yang mereka bawakan di atas panggung.
Kurang lebih waktu yang mereka miliki hanya tiga puluh menit. Alenta dan Dami fokus berlatihan sesuai yang dibagikan.
"Hmm... woah." Raka menggeleng takjub.
Fano memerhatikan keduanya. Setelah kejadian beberapa hari lalu di apartemen Dami, Alenta tetap terlihat tenang seolah tidak terjadi apa pun beberapa yang lalu. Alenta bersikap seakan dirinya tidak pernah berbicara pada Dami.
"Asyik banget denger suara mereka ya, Bang?" Adam ikut takjub.
"Bener." Abra tersenyum bangga. "Nggak ada niatan Missing You sama Alenta kolaborasi beneran ya? Nyanyi bareng buat satu single, gitu."
Kru masuk lagi ke dalam memberitahu Missing You dan Alenta agar segera naik ke atas panggung. Dami berjalan lebih dahulu. Satu per satu anggota Missing You menaiki tangga. Tinggal Alenta sendiri masih di bawah panggung. Ia kesusahan menaiki tangga karena gaunnya yang panjang. Alenta mengangkat sedikit gaunnya. Tapi masih saja kesulitan.
Alenta melihat sebuah tangan terulur di depan wajahnya. Begitu kepalanya terangkat, itu tangan Dami. Mereka saling berpandangan. Lagi-lagi Alenta dibuat bingung dengan sikap Dami.
"Jangan buang waktu gue karena gaun lo yang ribet itu," gumam Dami sinis.
Ah... jadi Dami membantunya karena menganggap gaun miliknya bisa membuang waktu lelaki itu.
Demi mempersingkat waktu bersama Dami dan mempersingkat kebersamaan mereka, Alenta terpaksa menyambut tangan Dami. Ia menaiki satu per satu tangga menuju ke panggung sambil digandeng lelaki itu.
Fano menatap Dami bingung. Lelaki itu sungguh aneh! Padahal Alenta tidak meminta Dami menolongnya. Bukan Fano juga yang memaksa. Fano jadi bertanya-tanya, sebenarnya, Dami ini manusia semacam apa? Kenapa suka sekali membuat orang heran.
Di mulut, Dami ogah menolong Alenta. Tapi, tindakan yang Dami tunjukkan malah sebaliknya. Apa Dami memiliki dua kepribadian selama ini?