Terlambat

1463 Words
Keduanya berdiri di atas panggung. Di bagian belakang ada anggota Missing You yang lain. Lengkap dengan alat musik masing-masing. Suasana hingga tepuk tangan berubah meriah seketika saat mengetahui ada dua bintang besar yang tengah melakukan kolaborasi. Sebenarnya, bagian kolaborasi ini tidak ada dalam isi acara. Penampilan spesial yang disebar lewat akun sosial media hingga iklan di TV, bukanlah kolaborasi antara Missing You dan Alenta. Melainkan seorang penyanyi senior yang mendapat banyak cinta dari berbagai kalangan karena karya indahnya selama ini. Namun sungguh disayang, kejutan mereka dengan mendatangkan penyanyi senior itu kepada penonton di rumah dan tamu yang hadir justru mengalami masalah. Penyanyi senior tersebut tahu-tahu pingsan di belakang panggung. Kata manajernya, penampilan artisnya tidak bisa dilanjutkan. Kondisi kesehatan si penyanyi senior kembali memburuk. Semua kru dan tim pun kebingungan. Mereka harus melakukan apa? Soal penampilan spesial di tengah acara sudah tersebar ke mana-mana. Okay. Mereka memang belum memberitahu penyanyi atau artis mana yang akan melakukan penampilan spesial. Hingga salah satu kru tidak sengaja menangkap kehadiran Missing You dan Alenta. Kru tersebut mendapat ide bagus! Missing You Band dan Alenta adalah dua bintang paling populer sekarang. Siapa yang tidak mengenali mereka? Tidak ada yang tidak mengenali keduanya. Segera, si kru tersebut memberitahu idenya. Penampilan spesial penyanyi senior itu akan diganti dengan kolaborasi antara Missing You dan Alenta! Semuanya setuju. Mereka yakin kolaborasi antara dua bintang besar ini akan trending di mana-mana nantinya. Bukan hanya Dami yang tidak ingin berlama-lama di atas panggung. Oh, bukan. Maksud Alenta adalah, ia tidak ingin berlama-lama berdiri di dekat lelaki itu. Alenta menyadari jika Dami terus menatap ke arahnya dengan tatapan sebal, sinis, kemudian tahu-tahu membuang wajahnya ke objek lain kala Alenta balas menatapnya. Yang dilakukan Alenta saat ini tidak lebih ingin membantu para kru yang telah kesusahan merancang acara sedemikian rupa, namun hampir gagal dengan insiden seorang penyanyi senior jatuh pingsan. Baiklah. Ini hanya sebentar. Kurang dari lima menit mereka bernyanyi maka semuanya akan selesai. Alenta bisa turun dari panggung dan kembali ke kursi penonton. Lagu yang dibawakan Dami dan Alenta adalah salah satu lagu populer milik penyanyi senior. Konsepnya dibuat secara mendadak. Alenta sempat khawatir jika ia tidak bisa melakukan kolaborasi ini dengan baik. Bagaimanapun mereka hanya diberi waktu latihan kurang dari tiga puluh menit. Alenta menarik napas tanpa kentara. Alenta menyunggingkan senyum tipis kemudian menoleh ke samping. Saat itulah Dami juga menatap ke arahnya. "Mereka pandang-pandangan mulu. Apa nggak capek, ya?" gumam Adam dari tempat duduknya. "Gue jadi penasaran mereka ada apaan." Raka ikut bergumam, tapi kedua matanya tidak pergi ke mana-mana selain pada Dami dan Alenta di depan. Lampu dipadamkan untuk beberapa saat. Kursi penonton tiba-tiba hening. Kru di belakang panggung menghitung tanpa suara. Hingga pada hitungan ketiga, lampu kembali nyala dan suara petikan gitar milik Abra terdengar ke seluruh panggung. Suasana kembali riuh. Hanya melihat Dami dan Alenta saling berpandangan di panggung semua penonton jadi histeris. Mereka seakan terkesima dengan penampilan kedua penyanyi tersebut. *** "Ngeliat mereka nyanyi berdua. Kenapa tampang lo malah sedih?" tanya Naomi. Ternyata Fano tidak sendirian sejak tadi. Sosok Naomi ada samping lelaki itu, ikut memerhatikan Alenta serta Dami. Kedua mata Naomi berpindah lurus ke depan ikut terkesima dengan penampilan Alenta dan Dami. Naomi beberapa kali berteriak, "Woah!" Lalu bersedekap sembari ikut bernyanyi. Fano tidak menghiraukan pertanyaan Naomi. Ia tiba-tiba tidak rela melihat Dami dan Alenta berdiri sebelahan seperti itu. Fano tidak bisa mengelak. Bahwa keduanya terlihat manis juga serasi. "Mereka cuma nyanyi doang gitu, lho." Naomi meluruskan kedua tangan menunjuk panggung. "Gimana nantinya kalau Dami bisa duduk sebelah sama Alenta di pelaminan." Sontak, Fano menatap tajam pada Naomi. Hantu perempuan itu kenapa cerewet sekali sih! Ada saja hal random yang dikatakan Naomi. Entah soal gaya rambut anggota Missing You—yang Fano kurang tahu namanya. Sekarang.... Naomi malah mengatakan hal yang malah membuat Fano jadi berpikiran yang tidak-tidak. "Bayangin... orang yang lo mintain tolong buat jaga pacar lo, malah—" "Alenta bukan pacar gue." "Eh?" Naomi membuka mulutnya. "Iya." Fano bergumam lalu bersedekap. "Alenta sama gue nggak pacaran kayak bayangan lo." Tidak pacaran, ya? Naomi mengerjapkan mata. Meletakkan ujung jarinya di bawah bibir sembari bertanya pada dirinya sendiri. "Kalau bukan pacaran lalu apa?" Para tamu yang ada kursi penonton mulai terhanyut oleh alunan lagu juga suara merdu Dami dan Alenta. Sembari memandangi setiap tamu yang duduk, Fano mulai bercerita pada Naomi mengenai hubungannya dan Alenta selama ini apa. Atau mungkin, bukan cuma Naomi saja yang mengira mereka berpacaran? Bisa jadi Dami juga mengira hal yang sama. "Kalau lo suka, kenapa nggak lo tembak?" tanya Naomi bingung. Naomi tidak paham ketika ada dua orang yang saling menyukai, tapi malah tidak berani mengungkapkan perasaannya satu sama lain? Menunggu apa memangnya? Menunggu kiamat datang? Hei! Daripada harus memendam perasaan sendiri, apa enaknya? Kata orang, cinta itu sama seperti kentut. Ditahan sakit, dikeluarkan malu. Dari cerita Fano barusan. Fano dan Alenta saling menyukai. Teman-temannya telah memberi banyak dukungan. Mendorong Fano agar segera menyatakan perasaannya. Tapi bodohnya lelaki itu malah memilih menyimpan perasaannya dengan alasan tidak ingin merusak pertemanan mereka. "Kalau gue sama Alenta putus suatu hari nanti, gue sama dia pasti bakalan canggung." Fano bergumam. "b**o banget lo, anjir," maki Naomi. "Lo pikir, kalau lo nahan perasaan lo terus. Emang nggak menutup kemungkinan Alenta bakal ninggalin lo? Lo salah. Justru dengan lo nahan perasaan. Yang ada Alenta cari cowok lain. Yang lebih menghargai perasaan dia." "Gitu, ya?" tanya Fano. "Telat," timpal Naomi mengibaskan tangan. "Lo sekarang udah jadi hantu. Lo nyatain, pun, Alenta sama lo udah beda dunianya." Perkataan Naomi barusan menambah pikiran Fano. Andai waktu bisa diputar kembali, Fano ingin memperbaiki apa yang salah. Andai saja Fano berani mengungkapkan perasaannya, mungkin ia tidak memiliki penyesalan. Sekarang ia cuma hantu penasaran. Luntang-lantung tidak jelas. "Eh," gumam Naomi menjawil lengan Fano. "Hm..." Fano bergumam, tidak menengok ke Naomi. Ujung jari Naomi menunjuk ke atas pada lampu di atas panggung. "Apa mata gue yang salah? Itu.... eh! Lampunya mau jatuh!" teriak Naomi histeris. Tanpa terasa penampilan kolaborasi Dami dan Alenta telah selesai. Keduanya masih berada di atas panggung. Pandangan mata Fano tertuju ke atas, tepat pada lampu yang digantung. "Len! Minggir!" teriak Fano. Dengan segera Fano berlari ke arah Alenta. Tapi bagaimanapun Alenta tidak bisa mendengarnya. Beruntung Dami menyadarinya. Seketika kepalanya terangkat ke atas. Fano dan Dami kompak mengarah pada Alenta. Fano mengentakkan kedua tangan, memaki dirinya sendiri karena tidak bisa melakukan apa-apa. "LEN, MINGGIR! LAMPUNYA MAU JATUH! ALENTA!" Lampu dari atas meluncur jatuh ke bawah. Para penonton mulai menyadari kemudian berteriak serempak. PRAAAANG! Semua terdiam. Suara lampu yang jatuh tepat mengenai kepala seseorang. Fano mematung.... untuk beberapa saat dirinya tidak bergerak. Mulutnya terasa kaku. Matanya tidak bisa ia kerjapkan biarpun cuma sekali. *** Alenta memandangi lorong rumah sakit dengan tatapan kosong. Tim medis membawa Dami yang berbaring di atas brankar. Alenta nyaris ambruk. Beruntung ada Tiara yang menahan punggung perempuan itu. Siapa sangka Dami akan menyelamatkannya lagi. Kali ini bukan terluka karena seseorang ingin menusuknya. Tapi lampu besar dari atas panggung tahu-tahu jatuh dan hampir mengenai Alenta. Dalam sekejap, Dami berada di depannya. Seketika lampu yang jatuh dari atas mengenai Dami hingga lelaki itu tidak sadarkan diri. Tiara membawa Alenta untuk duduk. Ia tahu ketenangan yang perempuan itu tunjukkan hanya dari luarnya saja. Alenta pasti sangat shock atas kejadian yang menimpa Dami. Tiara mengusap sebelah lengan Alenta dan meyakinkan bahwa Dami akan baik-baik saja. Fano melihat kejadian itu. Jika kemarin Fano tidak mengetahui kalau Dami menyelamatkan Alenta dari penusukan, kali ini Fano melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Bahkan pergerakkan Dami menghalangi lampu itu jatuh berasal dari teriakkan Fano. Lelaki itu duduk berjongkok di bawah kursi Alenta. Kepalanya ia dongakkan, meminta Alenta agar tidak menyalahkan dirinya. Fano merasa putus asa. Tidak peduli sebanyak apa ia berbicara, sekaras apa pun suaranya, Alenta tidak akan bisa mendengar suara Fano. Ia ini hantu. Hantu! Terdengar suara orang-orang berlarian ke arah Alenta. Sosok pertama yang dilihatnya adalah Raka, kemudian disusul oleh anggota Missing You yang lain. Alenta dan Tiara kompak berdiri menyapa orang-orang itu. Dalam hati Alenta, ia siap jika disalahkan. Ia siap menanggung semua biaya pengobatan Dami. Bahkan ia siap meminta maaf atas sikapnya waktu itu. "Dami gimana?!" tanya Raka. Napasnya ngos-ngosan. "Kita belum tahu. Dami masih ditangani sama dokter di dalam," jawab Tiara sebagai perwakilan. "Gimana bisa ada lampu yang jatuh, sih!" kesal Raka mengepalkan kelima jarinya. "Bener!" Fano berdiri dan mendekati Raka. "Lo pasti punya pemikiran yang sama kayak gue, kan? Ya, kan?!" Fano berteriak nyaring di telinga Raka. "Lo tenang aja. Sekarang manajer kita lagi cari tahu kenapa bisa lampunya jatuh," kata Abra menenangkan orang-orang di sana. "Yang penting kita berdoa supaya Dami nggak kenapa-kenapa." Raka, Abra, Tiara dan Alenta duduk di kursi. Sementara sisanya pulang lebih dulu. Raka berjanji akan mengabari kondisi Dami setelah diperiksa Dokter. Mulanya mereka menolak, apalagi Adam yang ngotot ingin tetap di sana, namun pada akhirnya mengalah pulang juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD