"Ke rumah Mama ya, Pak!" pinta Kiana dengan air wajah sendu. "B-baik, Nona." Pak Man kaget melihat ekspresi wajah Kiana yang sedih. Ia pun diam-diam mengamati Kiana dari kaca spion. "Ehemmm," deham Pak Man. "Maaf jika lancang. Apakah Non Kia sedang sedih?" tanya Pak Man memastikan keadaan istri sang majikan. Kiana menggeleng lemah lalu memaksakan sebuah senyuman. "Enggak kok, Pak. Kiana cuma lagi rindu mama saja," elak Kiana. Pak Man menghela nafas lega mendengar pengakuan dari Kiana. Setidaknya Kiana bersedih bukan karena ada masalah yang besar pikirnya. "Mau saya tunggu, Non?" Kiana menggeleng sembari tersenyum tipis. "Tidak usah, Pak biar nanti diantar Papa atau Kakak saja." "Baik, Non kalau begitu saya permisi pulang dulu ya?" pamit Pak Man. "Iya Pak, terima kasih." Kiana b

