"Diam, berengsek!"
Dua kata yang meluncur cepat tanpa dapat dicegah lagi. Ketika Amanda meneriakkan kalimat itu, pada detik selanjutnya ia langsung menutup mulut dengan telapak tangan. Darah mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya. Amanda mendadak tegang dan panik. Keringat dingin mulai muncul membasahi permukaan kulit lehernya.
Beberapa pasang mata tertuju kepada mereka berdua. Salah seorang di antara mereka bahkan mulai mengarahkan ponsel kepada Amanda. Amanda mendesah. Ia menyugar rambut dengan gelisah. Jika ia masih menjadi orang terkenal seperti dulu, tentunya rekaman video amatir dari pengunjung kedai es krim ini dapat menjadi viral dan menjegal karirnya. Namun, Amanda sudah bukan lagi seorang superstar. Menjadi viral adalah hal terakhir yang harus ia khawatirkan untuk saat ini.
“Dengar, Mala. Tante minta maaf. Tante tidak … “
“Akan kulaporkan pada Oma.” Tangis Mala menghilang. Tiba-tiba lenyap dan hanya menyisakan jejak berupa titik-titik air mata di pipi. Sebagai ganti, gadis cilik itu melontarkan ancaman disertai seringai sinis.
“Jangan. Tunggu, ini salah paham.” Amanda sungguh benci sekali ketika ia memohon-mohon seperti ini kepada orang lain. Terlebih jika orang lain itu adalah Mala.
“Aku juga akan lapor pada mama.”
“Mala, dengarkan Tante …”
“Aku juga akan lapor pada Om Dave.”
“Tidak tidak. Hentikan, Mala.” Amanda merasakan kepalanya semakin berdenyut-denyut ketika Mala menyebut nama Dave.
Dengan gerakan anggun, Mala bangkit dari kursi dan berjalan pergi. Seolah-olah tidak terjadi apa pun.
Amanda berjalan cepat, menyusul Mala tanpa kesulitan. Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, Mala berulang kali bilang ia akan melaporkan kelakuan Amanda.
Ancaman Mala tidak main-main. Begitu mobil yang dikemudikan Amanda masuk ke halaman lalu berhenti tepat di depan teras, Mala melepas sabuk pengaman dan langsung turun dari mobil. Sepasang kaki kecilnya membawanya berlari masuk ke rumah. Bahkan, Amanda belum sempat mematikan mesin mobil.
“Omaaa ….”
Ketika Amanda akhirnya turut masuk ke dalam rumah, ia mendengar jerit tangis Mala yang begitu melengking.
“Apa, Sayang?”
Amanda memutar bola mata dengan jengah mendengar suara mama yang menanggapi jerit tangis Mala. Ruang tengah tempat mereka berada saat ini dingin akibat AC yang disetel dalam suhu paling rendah. Namun, suhu dingin ini tidak serta kertas mendinginkan hati dan kepala mama. Apalagi sebabnya jika bukan karena aduan dari Mala yang semakin bersikap kurang ajar.
“Tante Manda jahat!”
Amanda benar-benar tidak siap ketika Mala tiba-tiba saja mengarahkan telunjuk ke dirinya. Gadis kecil itu tampak menangis meraung-raung di pelukan mama. Mama tampak kebingungan mencari cara meredakan tangis sang cucu kesayangan.
“Manda!” Ketika tangis Mala semakin meledak, mama yang menyadari kehadiran Amanda kini mulai membentak. “Kamu apain Mala sampai nangis kayak gini?”
Amanda menghela napas. “Itu hanya …”
“Tante Manda jahat!”
“Kamu apain Mala, sih?”
“Manda nggak ngapa-ngapain, kok!” Emosi Amanda mulai turut terpancing.
“Bohong!” jerit Mala. “Tante Manda jahat!”
“Aduuuh, Manda. Mala ini anak kecil yang jujur lho. Kamu apain Mala sampai dia nangis kejer kayak gini?”
“Dengerin Manda dulu, Ma.”
“Nggak! Tante Manda jahat!”
“Iya, Mala. Cerita sama Oma.” Mama mengusap puncak kepala Mala dengan penuh rasa sayang. “Kamu diapain sama Tante Manda?”
“Mala nggak boleh beli es krim!”
“Jangan bohong, Mala.” Amanda mulai frustasi. “Tadi kan Tante udah beliin kamu es krim.”
“Jangan bohong sama Mama, ya.” Alih-alih percaya pada ucapan Amanda, mama lebih memilih berpihak kepada Mala.
Amanda mengeluarkan dompet dari saku celana kulotnya. Ia menunjukkan struk pembelian es krim dengan logo kedai ternama. “Ma, Manda nggak bohong. Ini buktinya. Mama bisa lihat sendiri ini ada keterangan waktu pembelian, kan.”
“Benar itu, Mala?” Mama bertanya kepada Mala.
“Iya, tapi Tante Manda belinya sambil ngomel-ngomel. Mala nggak boleh beli es krim kesukaan Mala. Mala nggak boleh beli es krim buat dibawa pulang buat Oma. Mala …”
“Itu karena Tante Manda lagi nggak punya uang, Mala.”
“Ya ampun, Manda!” Suara mama meninggi, menggelegar bak petir menyambar di siang hari bolong. “Memangnya uang yang dikasih sama Dave masih kurang? Memangnya anak Mama nggak bisa idupin kamu dengan baik sampai kamu bilang ke anak kecil polos seperti Mala kalau kamu nggak punya uang?”
“Bukan begitu, Ma.” Sungguh, Amanda sungguh-sungguh ingin menjelaskan saat itu juga bahwa uang dari Dave ia pergunakan untuk membelikan beraneka ragam permintaan Mala dan mama. Namun, mama mertuanya seolah tidak mau mendengar segala alasan Amanda.
“Bukan begitu, gimana?” Mama terdengar berang. “Jangan banyak alasan, ya kamu, Manda. Kamu di rumah nggak ngapa-ngapain. Dave, anak laki-laki Mama yang kerja keras banting tulang buat hidupin kamu. Dan kamu gampang banget foya-foya pake uang Dave! Jangan keterlaluan kamu, Manda!”
Amanda menggenggam erat jari jemarinya. Ia di sini bukan numpang hidup. Ia adalah istri sah dari Dave. Ia juga tidak foya-foya, tidak bermalas-malasan seperti yang dituduhkan oleh mama kepadanya barusan.
“Oma … “ Mala menarik-narik baju sang oma, mencoba mencari perhatian dari wanita beruban tersebut.
Perasaan Amanda menjadi tidak keruan. Ia berani bertaruh bahwa Mala akan semakin menyiram gas ke bara api amarah mama yang sedang meledak-ledak ini. Dan tentu saja, tebakan Amanda terbukti benar ketika Mala berbisik kepada sang oma.
“Tadi Tante Manda juga ngatain Mala berengsek.”
Amanda terkejut, lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia tidak menyangka bahwa kali ini Mala benar-benar keterlaluan. Ia memang mengatai Mala berengsek. Tapi, itu tadi sama sekali tidak disengaja.
"Apa?" Mama meradang. Wanita tua itu memekik marah. "Betul kamu dikatai seperti itu?"
Mala hanya mengangguk. Sialnya, anggukan tersebut justru semakin menyulut amarah sang Oma.
"Kurang ajar kamu, Manda!" Mama melepaskan pelukan Mala. Ia berjalan cepat ke arah Amanda. Bahkan sebelum Amanda menyadari apa yang sedang terjadi, mama telah melayangkan telapak tangannya. Ia menampar pipi Amanda hingga menyisakan bekas ruam kemerah-merahan di kulit. "Kurang ajar berani sekali kamu ngatain cucu Mama berengsek!"
"Mama … " Amanda terkejut. Tanpa sadar ia mengusap pipinya yang masih saja terasa memanas. "Mama nampar Manda?"
"Itu pelajaran buat kamu!" Mama menggeram. "Dave harus tahu hal ini. Dave harus tahu kalau dia salah pilih istri!"
"Mama, seharusnya Mama dengerin penjelasan Manda dulu."
"Lalita harus tahu kalau kamu sudah bersikap kejam kepada anaknya, kepada cucu Mama!"
"Manda memang salah. Tapi Mala sudah keterlaluan pada Manda, Ma." Amanda mencoba membela diri.
Namun, usahanya barusan berakhir sia-sia karena mama justru berkata dengan sinis, "Siapkan makan siang sekarang. Mama nggak sudi lihat kamu. Darah tinggi Mama bisa kumat." Mama memijit-mijit kepalanya. "Oh, Dave, kenapa kamu harus menikahi perempuan seperti ini."