1.
Amanda mengetuk-ngetukkan jari jemarinya di bilah kemudi. Kesepuluh kukunya sudah pendek dan sudah tidak pernah lagi dicat dengan warna menggoda seperti merah menyala. Mama bilang, wanita terhormat tidak mengecat kuku dengan warna murahan seperti itu.
Amanda mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda. Agak lepek dan terasa lembap akibat minyak dari keringat rambut menempel ke telapak tangannya. Ia terlalu sibuk hingga melewatkan waktu mencuci rambut selama dua hari.
“Manda, jangan telat jemput Mala, ya!”
Tadi, ketika Amanda sedang melipat baju hasil cucian kering di ruang laundry, mama meneriakinya dari ruang tengah. Suara mama teredam oleh bisingnya suara sinetron dari televisi yang sedang ditonton mama.
“Baik, Ma.” Tadi, Amanda mengeraskan suaranya.
Sebelum mama kembali mengomel, Amanda cepat-cepat mengambil kunci mobil dan mengemudi ke sekolah untuk menjemput Mala.
Omong-omong, Mala bukan anak Amanda. Ia adalah anak dari Tasya, adik ipar Amanda. Tasya masih sibuk mengejar karir dan menyerahkan segala tanggung jawab pengasuhan Mala kepada Amanda. Mama mendukung keputusan Tasya. Mama bilang, Amanda kan di rumah saja tidak bekerja. Daripada menganggur dan menghamburkan uang suami, lebih baik Amanda membantu Tasya mengasuh Mala.
Kini, Amanda menepikan mobil dan berusaha memasang mata. Ia mencari-cari keberadaan Mala. Beberapa anak mengenakan seragam sekolah setelan warna ungu muda keluar dari pagar sekolah. Mereka langsung disambut oleh para penjemput.
Amanda memutuskan untuk mematikan mesin mobil lalu turun dan berjalan ke pagar. Salah seorang guru tersenyum saat melihat kedatangan Amanda.
"Mala, Tante Amanda sudah jemput."
Amanda mendengar guru tersebut memanggil Mala. Tangannya melambai pada seorang gadis kecil yang segera turun dari ayunan.
Wajah mungilnya memberengut. Dengan menggerutu, Mala berkata, "Miss! Kan udah kubilang kalau dia itu bukan tanteku. Dia tuh nannyku."
Amanda menahan-nahan geraman setengah mati. Ia berusaha menjaga senyuman di bibir. Memang benar, jika Mala berkata bahwa Amanda adalah pengasuhnya, mungkin mereka akan percaya begitu saja.
Amanda melirik penampilannya. Kaus kebesaran dengan noda kecap dan saus tomat. Bekas kegiatan memasak tadi pagi di dapur. Rambut yang dikuncir kuda dengan asal-asalan. Tentu saja, tidak ada pulasan bedak apalagi gincu dengan warna menggoda. Siapa pun yang melihatnya tidak akan repot-repot mendebat bahwa memang ia lebih cocok disebut sebagai asisten rumah tangga dibanding seorang nyonya. Amanda mendesah, tiba-tiba saja merasa kangen masa lalu. Masa di mana ia terlihat sangat cantik dan akan mengundang decak kagum siapa pun yang melihatnya.
Sambil melambai, Amanda pun berkata, "Ayo, Mala. Kita pulang sekarang."
"Berisik!" Mala membalas.
"Mala, kamu tidak boleh … " sebelum sang guru menyelesaikan ucapannya, Mala buru-buru menjawab.
"I know! Aku sudah tahu Miss mau ngomong apa. Bye, Miss." Mala melambaikan tangan pada gurunya, lalu melempar tasnya ke depan Amanda. "Berat. Bawain."
Amanda menarik napas dalam ketika melihat Mala berlari kecil menuju mobil meninggalkan dirinya. Amanda meraih tas lalu berkata dengan setengah berteriak, "Mala, jangan lari. Hati-hati banyak kendaraan."
"Cepetan buka pintu mobilnya! Panas, tauk!" Mala mengentakkan kaki.
Amanda membawa tas Mala lalu menyusul dengan langkah panjang dan cepat. Ia membuka pintu mobil untuk Mala, membantu gadis kecil itu naik dan duduk dengan nyaman. Alih-alih mendapat ucapan terimakasih, Amanda justru mendapatkan gerutuan lagi. Entah untuk yang keberapa kalinya dalam satu hari ini.
“Lama sekali! Nanti aku bilangin ke Oma sama mamaku!”
Amanda tidak menggubris. Ia cepat-cepat berjalan memutar lalu masuk dan duduk di belakang kemudi. Ketika menyalakan mesin, Amanda berkata, “Kita langsung pulang, ya, Sayang.”
“Jangan panggil aku Sayang.” Mala memberengut, melipat kedua lengan di depan d**a. “Aku mau makan es krim. Mampir dulu.” Mala menyebutkan salah satu gerai es krim ternama yang memang searah dengan rumah mereka.
“Tante nggak bawa uang banyak, lho,” bujuk Amanda. Dan itu memang benar. Ia hanya membawa uang secukupnya di dalam dompet. Uang jatah jajan dari Dave, suami Amanda, bulan ini sudah menipis. Amanda tidak pernah berfoya-foya dengan uang itu. Tentu saja, uang bulanannya dihabiskan oleh mama mertua dan Mala. Mereka berdua seringkali minta ditraktir makan makanan enak dan minta dibelikan barang-barang bagus.
“Masa uang dari Om Dave udah abis?” Mala menyipit. “Kan uang Om Dave banyak. Tante Manda pakai buat foya-foya, ya?”
"Kan kamu sukanya minta dibeliin es krim," Amanda menjawab sambil mencengkeram kemudi. Kepalanya mulai berdenyut-denyut ngilu akibat harus menghadapi udara panas dan ocehan Mala yang tak kunjung usai.
"Aku laporin ke Om Dave sama Oma, ya." Mala menatap Amanda tajam.
"Oke. Kita mampir tapi jangan pilih es krim yang mahal." Mau tak mau, Amanda terpaksa mengalah demi membungkam ocehan Mala.
Lima menit kemudian, mobil mereka berhenti di sebuah kedai es krim ternama.
"Jangan pesan yang mahal," Amanda kembali mengingatkan ketika Mala hendak turun dari mobil.
"Tante bisa nggak sih diem aja? Cerewet banget!"
Sebelum Amanda sempat membalas, gadis kecil itu sudah menutup pintu mobil dengan cara membantingnya. Amanda hanya mampir mendesah. Ia melepas sabuk pengaman lalu gegas menyusul Mala. "Mala, tunggu. Jangan lari."
Namun, Mala tidak menepati janji. Ia mengabaikan permintaan Amanda untuk tidak memesan es krim mahal. Mala memesan es krim kesukaannya seperti biasa, hingga membuat Amanda harus meringis dan mengais isi dompet ketika membayarnya di kasir.
"Bawain!" Mala berkata dengan ketus, menyuruh Amanda membawakan es krim pesanannya.
Amanda hanya menghela napas. Kejengkelannya sudah memuncak. Ia mengikuti langkah kaki Mala, memilih tempat di salah satu sudut kedai.
"Kan Tante Manda sudah bilang tadi, jangan pilih yang mahal," Amanda berkata sambil menyerahkan es krim tersebut kepada Mala.
"Mala suka es krim rasa coklat hazelnut ini. Gimana, dong?" Mala menjawab dengan tidak sopan. "Kulaporin sama Oma dan Om Dave nanti."
Amanda duduk di depan Mala sambil memijit-mijit pelipisnya yang pening. "Lain kali jangan seperti itu, ya Mala. Atau kamu bisa minta dibelikan sama mamamu saja."
"Tante bisa diem nggak sih! Berisik, tau nggak!"
"Mala … " Emosi Amanda mulai terpicu. "Jangan bersikap tidak sopan seperti itu pada Tante Manda."
"Kenapa memangnya?" tantang Mala. "Tante Manda kan cuma idup numpang sama keluarga kami. Om Dave yang kerja keras. Mamaku juga kerja. Tante Manda cuma males-malesan di rumah. Oma emang bener kalau ngatain Tante Manda males!"
"Mala! Yang sopan, ya!"
"Berisik!" Mala lalu menumpahkan es krimnya ke baju Amanda.
Kini, kaus yang dikenakan Amanda bukan hanya bernoda kecap dan saus, tetapi bertambah lagi dengan lelehan es krim yang lengket. Noda cokelatnya pasti susah untuk dibersihkan.
"Astaga, Mala!" Amanda sontak bangkit dari kursi karena terkejut. "Kamu gimana, sih?"
"Aku benci sama Tante Manda!" Mala menjerit, lalu menangis. Ketika menyadari bahwa kini tatapan semua orang tertuju kepada mereka berdua, tangis Mala semakin kencang. "Tante Manda jahat!"
Lalu, Amanda sudah tak tahan lagi. Ia pun menjerit, "Diam, berengsek!"