bab 15

935 Words
Sore ini Ayu baru saja selesai memandikan Amira, Umar sedang asik menonton TV di ruang tamu saat tiba-tiba ayah memanggil mereka berdua. Seperti biasa, panggilan ayah berarti bencana. Ayu selalu mempersiapkan diri untuk menerima caci maki atau pukulan sebelum menemui ayahnya. Hal itu cukup manjur untuk mencegah air matanya jatuh di depan pria itu. Ayu dan Umar menghampiri, berdiri berjajar menghadap pria itu. "Lihat, itu apa?" tanya Ayah, jarinya menunjuk ke dinding bambu. "Rayap," jawab Ayu dan Umar. "Itu apa?" Kali ini tangan Ayahnya menunjuk ke arah langit-langit rumah yang dipenuhi sarang laba-laba. "Mata kalian buta? Ga bisa lihat?" Pria itu mulai mengomel. "Udah dibilang berkali-kali, kalau lihat rayap atau sarang laba-laba, langsung dibersihin. Ga usah pake disuruh! Ngerti? Kalian mau rumah ini roboh dimakan rayap?" Ayu mendengus sebal. Kenapa ga bersihin aja sendiri? Rutuk gadis itu dalam hati. "Lihat tuh si Fitri, rajin bantu orang tua. Ngga perlu disuruh-suruh seperti kalian," "Ayah ambil aja Fitri jadi anak," jawab Ayu ketus, "Ayu juga ngga pernah minta dilahirin di keluarga ini, kok." Ucapan Ayu membuat ayahnya meledak dalam amarah, tangannya melayang mendera pipi Ayu. Perih. Tapi gadis itu bergeming, membatu. Tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. "Dasar anak kurang ajar! Ngga tau diri kamu!" umpat Ayahnya, "diurus dari kecil, dikasih makan sampai segede ini, mulai berani ngelawan kamu ya? Babi hutan!" "Ayu ngga pernah minta makan sama Ayah, siapa suruh dikasih makan?" balas Ayu sengit. Pria itu meraih dan menghempaskan tubuh Ayu ke lantai. "Dasar anak ngga tau diuntung!" teriak Ayahnya, murka. "Ku sumpahi kamu, hidupmu nanti bakal menderita seumur hidup! Merayap di tanah seperti ular! Makan tanah kamu! Anak sialan! Denger kamu, hah! Makan tanah kamu!" Maki pria itu dengan suara bergetar sarat emosi. Jantung Ayu berdenyut, sakit sekali. Sebenci itukah ayah padanya, hingga tega mengeluarkan sumpah serapah yang sangat kejam? Bulir bening menetes dari sudut mata, rasanya sakit sekali. Bukan karena bekas tamparan atau pukulan, tapi perkataan pria yang dia sebut ayah itu menancap tajam dalam hati. Rasanya Ayu ingin sekali bangun dan membunuh pria itu sekarang. Tapi, gadis itu masih ingat Tuhan. Tuhan yang katanya Maha Adil, meski belum pernah Ayu merasakan keadilan dari-Nya. Ayu menjerit dalam hati, berteriak dan memohon kekuatan pada Allah agar bisa menjadi orang sukses kelak. Agar Ayu bisa membuktikan bahwa semua sumpah dan kutukan dari ayahnya tidak terbukti, bahwa sumpah dan kutukan dari orang tua yang tidak benar, tidak akan dikabulkan oleh-Nya. Ayu mengabaikan semua caci maki yang masih terus keluar dari mulut ayahnya, bertekad dalam hati untuk menjadi orang yang berhasil. Ayah harus menyesali semua perkataan dan perbuatannya kelak. *** Kenaikan ke kelas 2 SMU disambut gembira oleh Ayu, dia menduduki peringkat ketiga di kelas. Namun rasa senang itu harus ditelannya sendiri ketika pulang ke rumah. Ayah dan Ibu telah menunggu di ruang tamu yang sesak dan busuk. Umar juga harus masuk sekolah, sementara kedua orang tua Ayu tidak memiliki biaya. Tanpa meminta persetujuan, ayah meminta kakak iparnya datang menjemput gadis itu untuk bersekolah di tempat kelahirannya. Pulau terpencil yang berjarak 5 hari 6 malam perjalanan dengan kapal laut. "Ayu ngga mau!" bentak gadis itu, mana mungkin ia pergi sejauh itu dari keluarganya. "Ya udah, biar aku aja yang pergi ke sana, Yah," kata Umar. "Biar kakakmu aja yang pergi, kamu sekolah di sini." Ayah tetap kukuh pada pendiriannya. Ayu mendengus kesal, matanya terasa panas. Sedikit lagi embun di pelupuk matanya akan berubah menjadi titik-titik air. "Ngga usah bantah. Om kamu udah sampai di terminal, bentar lagi ayah jemput." "Terserah, pokoknya Ayu ngga mau!" jawab gadis itu sebelum berlalu ke dalam kamarnya. Ia mengurung diri sesorean sampai kakak ipar ayahnya tiba, Om Indra namanya. Ayu tidak mau menyambut kedatangan pria itu, untuk apa? Meski Ayu merengek, membujuk, dan setengah memaksa pada kedua orang tuanya ternyata keputusan ayah tidak bisa diganggu gugat. Lusa ia harus berangkat bersama omnya naik bis menuju Surabaya sebelum naik kapal laut dari sana. Ayu menangis sesenggukan di dalam kamar, sebegitu bencinya kah ayah hingga mengusirnya sampai ke ujung nusantar? Apakah wajahnya sangat menjijikkan, sehingga pria itu tak ingin melihat tampangnya lagi? Ia ingin melarikan diri tapi tak tahu harus ke mana. Tak ada sanak saudara yang dikenalnya. "Jangan menangis," ujar ayah saat Ayu sedang membereskan pakaiannya. Nanti sore ia sudah harus angkat kaki dari rumah ini. Hanya beberapa potong pakaian seadanya 8 ia masukkan ke dalam tas ransel. "Nanti di terminal, ngga ada yang boleh menangis. Bikin malu diliat orang," ujar pria itu saat melihat ibu sedang menyusut air matanya, duduk terisak di atas kursi. Air mata yang mengalir deras sejak semalam di pipi Ayu, dihapusnya dengan kasar. Cukup. Tidak boleh lagi ada air mata, seperti yang ayahnya inginkan. Sampai kapan pun, tidak boleh lagi ada air mata. Tekad gadis itu dalam hati. Dibereskannya semua perlengkapan dengab raut wajah kaku, mata yang sembab itu meredup, tak ada lagi emosi apapun yang terpancar dari sana. Kali ini, hatinya benar-benar telah mati. Perjalanan menuju terminal dipenuhi kesunyian. Ayah duduk mengangkat kaki di sandaran bus antar kota, kedua tangannya dilipat ke belakang kepala dengan mata terpejam. Inu menatap lurus ke depan tanpa suara. Ayu, membeku di atas kursi penumpang. Bertekad dalam hati untuk membuat kedua orangtuanya menyesal luar biasa, suatu saat nanti. Bus antar provinsi yang akan membawa Ayu dan omnya ke Surabaya akan segera berangkat, gadis itu masuk ke dalam bus tanpa banyak cakap. Ia menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk dengan sekuat tenaga. Gadis itu bahkan tidak menoleh ke wajah keluarganya yang datang memeluk satu per satu untuk mengucapkan salam perpisahan, ia membuang muka menatap kaca jendela. Babak baru dalam hidupnya segera dimulai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD