bab 14

556 Words
Cuaca panas sekali hari ini, Ayu sedang bercerita dengan teman-temannya di rumah Mbah Nah saat pekikan suara ayah terdengar oleh semua orang. Ia berdecak sebal sebelum menyahuti panggilan ayahnya dengan teriakan pula. Gadis itu kesal setengah mati karena belum puas bermain. "Buruan, ntar diusir lu dari rumah," ledek Mba Eka. Ayu menirukan perkataan itu dengan bibir yang dimonyongkan dan gerakan mengejek, lalu berbalik sambil bersungut-sungut, membuat teman-temannya terbahak. Ck! Ga bisa liat orang santai bentar! Ayu membatin, kesal pada ayahnya. "Dari mana saja kamu?" tanya pria itu saat melihat batang hidung Ayu dari kejauhan. "Main," jawab Ayu dengan wajah masam. "Anak gadis keluyuran mulu kerjaannya!" bentak pria itu, "masak sana! Beresin dalam rumah!" "Orang cuma main bentar doang juga." Ayu menggumam dengan emosi, wajahnya ditekuk sedemikian rupa. "Coba sekali-sekali Umar yang disuruh," gerutunya lagi, "giliran Umar yang main, dibiarin." "Udah mulai pinter ngejawab kamu ya?!" Ayah melotot garang. Ayu tidak takut, balas menatap ayahnya dengan sinis sebelum beranjak ke dapur. "Dasar anak sial! Percuma aku pelihara dari kecil, ngga berguna!" Kata-k********r keluar lagi dari mulut Ayah, entah yang ke berapa ribu kali. Pria itu menyusul ke dapur, menudingkan jarinya ke wajah Ayu. "Mending aku piara babi, besar bisa ku jual, dapat duit. Daripada pelihara kau, ngga berguna sama sekali!!" makinya lagi dengan suara lantang. Ayu tersenyum mengejek, muak mendengar u*****n yang sama keluar dari mulut ayahnya. Gadis itu sampai hafal di luar kepala semua sumpah serapah itu. Emosi Ayahnya semakin terpancing melihat Ayu dengan cuek mulai membereskan piring kotor untuk dicuci, tidak merespon perkataan pria itu sama sekali. "Kau dengar ngga? Hah!" Matanya yang melotot menatap nyalang ke arah Ayu. Ayu membanting panci ke atas lantai, membalas tatapan Ayahnya tak kalah garang. "Apa?!" Remaja belia itu berjalan menghampiri ayahnya, tak acuh. Tak ada rasa gentar atau gemetar seperti dulu. Memangnya siksaan seperti apa lagi yang akan dilakukan oleh Ayah? Semua sudah pernah dirasakannya. Hati dan tubuhnya sudah kebal. Apalagi setelah mendengar pengakuan ibu tempo hari, rasa di hati Ayu untuk pria ini telah benar-benar mati. Tak bersisa sama sekali. "Udah berani kurang ajar ya, kamu?!" Mata nyalang itu melotot. "Dipanggil orang tua ngga sopan jawabnya!" Orang tua? Cuih! Umpat Ayu dalam hati. Ayu bergeming sembari menatap datar ke arah ayahnya. Menunggu tangan yang segera melayang ke wajah, atau kaki yang mendarat di tulang kering. Pipi Ayu bergetar saat tangan ayah mendarat dengan keras, persis seperti dugaannya, namun ia tetap bergeming. "Dikasih makan sampai besar ga tau diri!" maki ayahnya, "memang anak ga tau diuntung kamu itu!" Mata Ayu menatap lurus ke depan, semakin bersikap tak acuh dan menantang meskipun pipinya terasa berdenyut. Pria b******k itu bahkan tidak memikirkan perasaan anaknya yang sudah beranjak dewasa. Ah, Ayu lupa, dia tidak pernah dianggap sebagai anak. "Bikinin kopi sana!" perintah ayah. Pria tak tahu diri itu, tak pernah sekalipun meminta dengan cara yang sopan. Baginya anak tak lebih seperti seorang pembantu. Ia bahkan pernah terang-teragan mengatakan pada Ayu dan Umar untuk membalas jasanya sebagai orang tua karena telah merawat dan membesarkan dua bocah itu. Ayah macam apa yang mampu mengatakan hal mengerikan seperti itu? Tanpa menjawab, Ayu berbalik dan menuju dapur. Rahang gadis itu mengeras, tangannya terkepal. Ingin sekali rasanya menghantam kepala pria itu dan mencekiknya sampai mati. Tunggu saja sampai aku lebih besar, ku bunuh kamu! Ayu menyumpah dalam hati. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD