Ayu, gadis kecil itu kini beranjak remaja. Menjadi gadis tomboy, karena ingin seperti Umar, yang selalu dipuja Ayah. Sikapnya kasar, karena tak pernah mendapatkan perlakuan lembut selama masa kecilnya. Gadis hitam manis itu, selalu menatap jijik pada laki-laki yang menggoda atau mencoba mengungkapkan rasa.
Masa SMP Ayu berjalan seperti hari hari yang lalu, monoton yang sama dalam neraka yang semakin menggila. Ayah semakin acuh padanya, tapi hal itu disyukuri oleh Ayu karena ia tidak perlu berinteraksi dengan pria yang tak pantas disebut ayah itu. Ujian kelulusan SMP berhasil dilewati Ayu dan Umar dengan nilai yang cukup memuaskan, meski ibu harus berhutang di sana sini untuk membayar uang ujian dan menebus ijazah.
Ayah dan ibu mengalami dilema saat Ayu dan Umar akan mendaftar ke SMU, mereka tidak memiliki cukup uang. Jangan tanya tabungan, bisa makan sehari tiga kali saja mereka sudah sangat bersyukur. Akhirnya ayah memanggil Ayu dan Umar untuk membicarakan siapa di antara mereka yang akan menunda sekolah selama satu tahun. Tentu saja Ayu menolak, jelas saja, usianya satu tahun lebih tua dibanding Umar.
"Pokoknya Ayu ngga mau," bantahnya, mending ngga usah sekolah sekalian.
Ayah dan Ayu yang lebih banyak bicara, saling membantah satu sama lain. Masing masing berpegang pada perkataanya, hingga akhirnya ayah menyerah dan mengizinkan Ayu yang meneruskan ke SMU. Umar pun sebenarnya keberatan jika ia harus menunda masuk SMU, tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada pilihan lain.
Akhirnya Ayu yang lebih dulu meneruskan ke jenjang itu. Tak dipermasalahkannya jarak enam kilometer yang harus ditempuh bolak balik dengan berjalan kaki, juga tak ada sedikit pun protes yang ia ucapkan meski hampir tak pernah diberi uang jajan. Ayu selalu optimis menyambut hari. Masa masa SMU ternyata jauh lebih menyenangkan melebihi perkiraannya.
***
Hari ini ayah dan ibu bertengkar lagi, pertengkaran yang dipicu oleh masalah sepele seperti biasanya. Ayu tidak peduli, ia hanya mendengarkan dari dalam kamar. Muak, jijik, malu pada tetangga. Tak henti menympah dan memaki. Mengapa dia bisa lahir dalam keluarga yang 'sakit' seperti ini.
"Bu, kenapa sih, harus nyautin omongan ayah?" tegur gadis itu setelah riuh pertengkaran mereda. Ayah pergi meninggalkan ibu yang terisak di atas kursi kayu lapuk dalam ruang tamu.
"Kamu ngga tau apa-apa, ngga usah ikut campur!" sentak Ibu, di sela sedu-sedan.
"Kan Ayu udah bilang dari dulu, cerai aja. Ibu ngga mau," ucap Ayu dengan nada tinggi, "terus Ibu maunya apa?!"
"Ibu tuh mikirin kalian!" balas Ibu tak mau kalah, "apa kata orang, kalau kalian ngga punya ayah?!"
"Mikirin omongan orang?" Ayu mendengus sebal. "Emangnya selama ini orang-orang ngasih apa sama kita? Pernah bantu kalo ayah lagi ngamuk? Pernah ngasih makan waktu kita kelaparan? Hah?"
"Kamu anak kecil, ngga bakal ngerti!"
"Ayu ngerti, Bu! Ayu malu! Jadi omongan tetangga!" balas Ayu tak kalah emosi, "belum lagi dimaki, dipukulin tiap hari. Ayu yang paling ngerti!"
Teriakan Ayu membuat air mata ibunya semakin berderai, tergugu dengan napas tersengal. Ayu semakin emosi melihat tingkah ibunya. Apalagi yang wanita itu harapkan dari pria yang selalu menggunakan kekerasan untuk mengatasi masalah?
"Emang tadi kenapa, sih, sampe ayah ngamuk gitu?" tanya Ayu pelan, tak tega melihat ibu sesenggukan seperti itu. Ayu menghampiri ibu dan duduk di sebelahnya, ia mengusap pundak wanita yang tampak tua dan lelah itu perlahan.
"Ayah nuduh ibu selingkuh sama Mas Galuh," jawab ibu, "pikir coba, berapa umurnya? Lebih pantas jadi anak ibu! Ngga mungkin ibu segila itu!"
Ayu mengembuskan napasnya dengan kesal, kecemburuan ayah yang kelewat batas, kadang sampai level menjijikan. Gadis itu teringat pertengkaran ayah dan ibu waktu itu, entah yang keberapa kalinya. Ayah menyuruh Ayu, Umar, dan Amira duduk berjejer, lalu pria sinting itu menyuruh istrinya membuka pakaian dalam di depan anak-anak. Merampas dan mengacungkan benda itu di depan bocah yang belum mengerti apa-apa sambil mengatakan ada bercak s****a di sana. Ayu benci ayahnya yang menjijikan itu.
Saat itu ibu hanya bisa menangis terisak tanpa berbuat apa-apa. Ayu benci wanita yang lemah seperti ibu. Kenangan itu sangat memuakkan bagi Ayu, membekas sampai sekarang.
"Ya udah, diem aja lah, Bu," ujar Ayu akhirnya, "ngga usah dijawab. Berisik ribut terus."
"Kalo ibu ngga balas, ayahmu itu semakin menjadi-jadi!"
"Makanya cerai!" sentak Ayu, kesal.
"Ngga segampang itu, Yu!"
"Apa susahnya, Bu?"
Wanita itu terdiam. Air mata masih terus menetes. Membuat Ayu membuang mukanya, muak dengan semua drama ini. Rasa rasanya Ayu ingin pergi dari tempat yang tak pantas disebut rumah ini. Segala sesuatu yang ada di dalamnya terasa tidak benar. Lama-lama ia bisa ikut sakit jiwa.
"Ayahmu itu, sudah menuduh ibu tukang selingkuh dari dulu," ucap ibu, pelan.
Ayu diam, tidak mau menanggapi. Percuma. Apa pun yang ia ucapkan, pasti akan dibantah oleh ibu. Wanita itu hanya suka menceritakan kisah hidupnya yang tragis, mengasihani diri sendiri tanpa mau mengambil tindakan, pergi meninggalkan pria b******k yang ia sebut suami.
"Dia menuduh ibu selingkuh dengan kakak kandungnya sendiri, sehingga lahirlah kamu."
Ayu terkesiap, berusaha mencerna kata-kata barusan. "Maksud Ibu?" Bibir gadis itu mulai bergetar, kabut mengembun di pelupuk matanya. Ini semua tidak benar, pasti ibu salah bicara. Batin Ayu terus menyangkal apa yang didengarnya barusan.
"Ayah ngga pernah mengakui kamu sebagai anaknya," sahut Ibu pelan, namun mampu mencabik habis seluruh sisa hati Ayu yang bentuknya memang sudah tidak sempurna sejak dulu.
Air mata itu meluncur begitu saja dari pelupuk mata Ayu. Pengakuan ibu barusan meremas jantungnya, hatinya pilu. Rasanya lebih meremukkan dari semua pukulan dan tendangan yang selama ini diterimanya. Lebih menyakitkan dari semua caci maki yang didengar dari mulut kedua orang tuanya. Tubuh Ayu benar benar berguncang dalam isak tangis. Ini semua tidak benar.
"Ayah tidak mau melihat wajahmu saat baru lahir, tidak mau menggendongmu, tidak mau berada di dekat ibu jika sedang menimang dan menyusui kamu" lanjut Ibu lagi, "seakan kamu itu aib, atau penyakit menular yang menjijikan. Ibu sakit hati, Yu," lanjutnya disambut tangisan yang semakin keras.
Ayu tidak menjawab, terlalu takut untuk mendengar suaranya sendiri. Ah ... Air mata ini, mengapa tidak mau berhenti mengalir. Ayu benci menangis! Ayu tidak suka tampak lemah! Gadis malang itu benci! Benci semuanya! Ingin berteriak pada Tuhan, yang tidak pernah cukup adil untuknya. Rasa sakit dan amarah memenuhi rongga dadanya. Sesak.
"Waktu ibu hamil Amira, rumah kita terpencil, ngga ada tetangga. Makanya ayahmu ngga nuduh ibu," kata Ibu setelah tangis sedikit mereda, "kalau Umar itu anak laki-laki, penerus ayahmu. Makanya meskipun dia cemburu dan menuduh ibu, tapi masih bisa sedikit menahan diri."
Ayu tergugu, rasa sakit yang asing menjalar dari dalam hatinya. Rasa sakit yang tidak bisa dijabarkan dengan kata kata, mungkin karena bercampur dengan amarah dan dendam. Gadis itu membatin, terjawab sudah penyebab sikap kasar ayah selama ini. Mengapa ayah begitu menyayangi Umar dan Amira, namun mengabaikan dirinya. Semua ganjalan dalam hati terjawab sudah, mengapa pria yang dulu sangat ia puja dan cintai malah memperlakukannya seperti seonggok sampah yang tidak berguna.
Ia kini mengerti mengapa ibu selalu mengatakan menyesal telah melahirkan dirinya, atau menyesal tidak membunuhnya saja saat baru lahir. Kini ia tahu, mengapa perempuan yang dicintainya dengan setulus hati itu menyebutnya anak pembawa sial. Ia kini paham, mengapa ibu menyumpahinya agar ia mati diperkosa.
Sekarang Ayu sadar, siapa dirinya di mata ayah dan ibu. Bagaimana kedudukannya dalam keluarga ini; seorang anak haram bagi ayah, pembawa petaka bagi ibu.
Gadis itu menangis dalam diam, seperti yang sudah dilatihnya selama ini. Tidak boleh ada suara. Menangis dengan suara, hanya membuatmu tampak lemah, dan semakin ditindas.
***