Ayu melangkah pulang dengan gontai, tidak seperti Umar yang bersemangat menyusuri jalan setapak kesukaan mereka, melewati empang ikan dan pematang sawah. Ayu hampir terjungkal ke tengah rimbun padi saat tiba tiba seekor ular melintas di hadapannya tanpa aba aba, ia jijik sekali pada binatang melata itu. Umar yang melihat satu kaki Ayu terperosok ke dalam lumpur justru tertawa terbahak bahak, bukannya menolong. Ayu mendorong tubuh adiknya dengan gemas, membuat kedua kaki remaja tanggung itu ikut masuk ke dalam lumpur sawah. Kali ini Ayu yang terbahak. Untuk sementara masalahnya terlupakan sejenak.
"Sudah kamu bayar SPPnya?" tanya ibu saat pulang kerja. Ayu sedang menyuapi Amira, tadi ibu menitipkan adiknya itu ke Mbah Jumi karena Tante Yani sedang shift pagi.
"Belum, Bu," jawab Ayu, memasukkan gumpalan nasi terkahir ke dalam mulut Amira. "Gurunya ngga masuk."
"Kalo gitu Ibu pinjam lima ratus dulu, ya. Buat beli garam."
"Jangan, Bu. Nanti Ayah marah kalo ketauan." Ayu mencoba mengelak karena ia tahu ayah pasti akan marah besar jika mengetahui ia tidak jadi membayar SPP hari ini, apalagi kalau ibu juga mengambil lagi uang itu. Ayu tak sanggup membayangkan.
"Ngga apa-apa, cuma lima ratus, ujar ibu setengah memohon pada Ayu, “Besok Ibu ganti, ini mau masak buat makan malam ngga ada garam.”
"Tapi nanti kalau Ayah marah gimana?"
"Nanti Ibu yang bilang sama Ayahmu, kalo dia nanya."
"Bener ya, Bu."
"Iya, udah sini uangnya."
Akhirnya Ayu mengambil uang logam lima ratus rupiah dari dalam tas dan menyerahkan kepada Ibu dengan sedikit terpaksa. Berharap dalam hati agar nanti malam Ayah tidak bertanya atau pun menyelidiki.
Untunglah pria itu belum pulang hingga pukul delapan malam, Ayu langsung masuk kamar dan tidur agar tidak perlu bertemu dengan ayahnya nanti. Namun baru sekejap memejamkan mata, Ayu dikejutkan oleh pukulan keras di paha. Ia terbangun karena rasa kaget dan heran, nyawanya bahkan masih belum terkumpul saat merasakan tangan kanannya ditarik paksa dari atas tempat tidur dan diseret ke ruang tamu.
Tangan Ayah melayang mengenai pipi kanan Ayu, ia bahkan belum sepenuhnya sadar dan menyadari apa yang sedang terjadi. Sudut bibir gadis itu berkedut dan terasa sedikit asin, ia mengusap ujung bibirnya dengan punggung tangan, darah. Bibirnya bergetar dan berdarah. Ia tidak ingin menangis, tapi air mata lolos begitu saja dari sudut-sudut mata.
"Kamu sudah bayar SPP?" tanya Ayah garang.
Ayu gemetar, menggeleng pelan. Kini ia tahu apa penyebab tubuh kurusnya dihempas sedemikian rupa oleh ayah. Hanya karena uang lima ratus rupiah. Ayu sudah tahu siapa penyebabnya, gadis itu melirik ibunya yang sedang duduk terpekur menatap lantai. Seakan akan plesteran semen seadanya itu telah berubah menjadi lantai emas.
Ayu hampir tersungkur ketika ayah menamparnya lagi, kali ini kepalanya berkunang-kunang dan tubuhnya limbung. Ayah tidak pernah main main dengan setiap pukulannya.
"Mana uangnya???"
"Dd-di tas, Yah ....” Ayu menjawab pertanyaan ayahnya dengan terbata bata.
"Ambil!"
Tertatih, Ayu masuk dan mengambil uang dalam tas kemudian menyerahkan lembaran rupiah dalam genggamannya pada ayah dengan sedikit gemetar. Ia memasang kuda kuda untuk menerima pukulan lagi dari pria itu, yang langsung disambut dengan tendangan ke tulang keringnya dengan kaki ayah yang mengayun cepat.
"Kenapa kurang?"
"Tadi diminta ibu untuk beli garam," jawab Ayu tergeragap lirih, memandang wajah ibu dengan tatapan memohon agar wanita itu membelanya kali ini saja, sesuai janji yang ia ucapkan tadi sore. Sebuah harapan yang sia-sia, karena ibu hanya diam membatu.
Ayah mengayunkan jemarinya lagi ke pipi Ayu yang telah kebas, mati rasa. Hanya saja air mata di pipi tak mau berhenti, Ayu kesal setengah mati mengapa harus selemah itu di hadapan ayah. Kepalanya semakin berkunang kunang, rasanya hampir roboh ke atas lantai namun ia tahan sekuat tenaga.
"Anak sialan kamu!" maki Ayah, mencubit lengan Ayu keras. "Kemarin ngerengek-ngerengek minta bayar SPP, giliran dikasih, ngga dibayar!"
Air mata yang membanjiri pipi semakin deras, sedih dan sakit hati melihat Ibu yang duduk di samping ayah tak mengeluarkan sedikit pun kalimat pembelaan dari mulutnya. Ayu menatap wanita itu dengan penuh rasa benci, membuat ibu akhirnya memalingkan wajah karena jengah.
"Ngga usah nangis!" bentak Ayah sambil melotot, "makanya kalo disuruh bayar SPP ya dibayar! Ngerti kamu?!”
Ayu menganggukkan kepala dalam isaknya, berharap siksaan ini segera berakhir. Jam dinding di atas kepala ayah sudah menunjukkan pukul 22.30, berarti sudah hampir setengah jam ayah mengamuk dan memukuli tubuhnya.
"Nih, bayar SPP-mu hari Senin nanti! Awas kalo ngga bayar lagi!" Ayah merogoh dompet dan mengganti uang lima ratus rupiah yang diambil ibu tadi. "Sana tidur!"
Ayu segera menyingkir dari hadapan ayah sebelum pria itu berubah pikiran. Di dalam kamar ia menangis tanpa suara di balik selimut. Ia menutupi tubuh dengan selimut kemudian. berteriak sekuat tenaga sambil menekan bantal kapuk yang sudah bau apek kuat kuat ke wajahnya.
Kenapa aku lahir dalam keluarga seperti ini, ya Tuhan?
***
Keesokan harinya, Ayu bangun dengan tubuh lebam dan lutut luka. Tubuhnya seakan remuk, seluruh tulangnya ngilu. Ia berpapasan dengan ibu saat akan ke kamar mandi, pura pura tidak melihat saat Ayu lewat di sampingnya. Sepertinya ayah sudah berangkat dari tadi, batang hidung pria itu tak lagi tampak. Amira belum bangun, sedang Umar sudah bersiap akan ke sekolah.
Ayu sedikit berharap dalam hati, pagi ini ibunya akan memeluk dan meminta maaf. Amarah dalam d**a yang sempat redup, kembali membara saat tak ada satu pun kata penyesalan yang keluar dari mulut itu, atau juga pelukan meminta maaf disertai derai air mata. Padahal Ayu sudah bertekad dalam hati akan melupakan semuanya jika ibu meminta maaf pagi ini. sayang sekali harapan Ayu tidak terwujud.
Wanita itu tetap berkutat dengan pekerjaannya di dapur, bahkan sampai ia berpamitan untuk berangkat ke sekolah, ibu tetap bergeming. Ayu marah sekali, kecewa dan juga sakit hati.
Hingga satu dekade kemudian, Ayu masih tetap tidak mengerti, bagaimana bisa ada orang tua yang menghajar anaknya sendiri sampai babak belur di tengah malam buta hanya karena uang lima ratus rupiah?