bab 11

721 Words
Ayu membaca surat yang ia dapat dari sekolah tadi, tagihan pembayaran SPP. Sudah tiga bulan ia menunggak pembayaran sekolah, surat itu berisi peringatan agar Ayu segera melunasi jumlah tagihan yang tertera jika ingin mengikuti ujian kenaikan kelas yang akan diadakan minggu depan. "Kamu dapat ini juga?" Ayu bertanya pada Umar. "Ngga, kenapa Kak?" "Ngga apa-apa." Ayu menggeleng. Berarti SPP Umar sudah lunas. Ayah dan ibu memang kerap mendahulukan adiknya itu, Ayu tidak heran lagi. Gadis itu kemudian menghampiri ibunya. “Bu, ini," ucapnya lirih sembari menyerahkan selembar kertas yang ia pegang tadi. Sebenarnya tidak tega meminta pada ibu, wanita itu sudah mengeluhkan beras dan s**u Amira yang habis sejak kemarin. Ayu dan Umar sendiri hanya makan nasi putih dan garam, disiram air panas. Setelah ia dan adiknya duduk di bangku kelas 2 SMP, kebutuhan akan buku tulis dan buku pelajaran semakin bertambah, belum lagi SPP yang harus dibayarkan tiap bulan. Ibunya menarik napas berat, "Ibu belum punya uang, Yu. Coba minta sama ayahmu," jawab ibu, membuat nyali Ayu menciut. Sungguh ia tidak mau berurusan dengan ayahnya, sebisa mungkin ia minta pada ibu sebelum menemui ayah. "Ibu aja yang bilang ke Ayah, ya,” pinta Ayu dengan nada memohon, berharap kali ini ibu akan menjadi malaikat penyelamatnya. "Kamu ngomong sendiri aja, nanti kalau Ibu yang ngomong, ayahmu itu ngga bakal percaya, ujar Ibu, tuh, mumpung dia lagi duduk di depan, sana minta." Dengan terpaksa Ayu berjalan perlahan mendekati Ayahnya. Takut Ayah sedang dalam suasana hati yang tidak baik, maka ia akan menjadi sasaran dan pelampiasan. Terkadang hal sepele yang tidak masuk akal pun menjadi bahan bakar bagi pria itu untuk mengamuk. "Ayah," panggil Ayu lirih. "Apa?" "Ayu ditagih uang SPP, udah nunggak tiga bulan." "Nanti bulan depan sekalian." "Tapi, udah mau ujian akhir semester. Yang belum bayar, ngga boleh ikut ujian." "Emang berapa?" "Dua ratus dua puluh lima ribu, Yah." "Ya udah, tunggu besok." "Tapi besok paling lambat pembayarannya," ucap Ayu lagi, takut-takut. "Ck! Kamu ini, nyusahin aja! Ayah melotot. Bilang aja lusa! Udah sana!" Ayu termangu, malu besok ditagih lagi di depan teman-teman. Tapi mau bagaimana lagi? Ia hanya bisa mengiyakan perkataan ayahnya, berdiri dengan muka tebal lagi jika besok namanya dipanggil di depan kelas. *** Sudah tiga hari setelah percakapan Ayu dengan ayahnya mengenai uang SPP, namun pria itu tak kunjung memberikan uang yang Ayu butuhkan. Gadis itu ingin bertanya pada ayahnya tapi takut malah nanti ayah akan marah. Padahal sekarang sudah hari Jumat sedangkan hari Senin sudah mulai ulangan. Akhirnya Ayu menghampiri ibu yang sedang memasak di dapur sebelum berangkat ke sekolah, kebetulan hari ini jatah libur ibu sehingga wanita itu telah berkutat dengan pekerjaan rumah tangga sejak pagi, sedikit meringankan tugas Ayu. Apalagi sejak ibu membeli kompor minyak sejak bulan lalu, Ayu benar benar merasa bersyukur karena tidak harus mencari kayu bakar keliling kebun tetangganya lagi. "Bu, Ayah udah kasih uang untuk bayar SPP belum?" "Belum, sana minta." "Takut,Bu.” "Udah ga apa-apa, kayanya ayah udah pegang uang tadi." "Tapi, Bu ...,” perkataan Ayu yang belum selesai terputus karena teriakan dari ruang tamu. Ayah memanggil namanya. Tergopoh Ayu mendatangi pria itu. "Ya, Ayah?” "Nih," Pria itu menyodorkan lembaran uang yang dilipat. "Bayar SPP-mu" "Makasih, Yah." Ayu menarik napas lega seraya menyimpan lembaran uang itu dalam tas . "Umar, ayo berangkat," panggilnya. Dengan langkah ringan ia berangkat ke sekolah, tak lagi harus menahan malu jika dipanggil namanya di depan kelas. Tak ingin membuang waktu, Ayu langsung menuju loket pembayaran saat tiba di sekolah tapi ternyata masih tutup. Gadis itu kembali mendatangi loket saat jam istirahat, hasilnya sama saja karena loket masih tutup, Bu Tami sedang sakit. Ayu mengetuk pintu kantor dan masuk ke dalam ruang guru, mencari guru yang sedang tugas piket saat itu. Ia berjalan menghampiri pria berusia sekitar 40 tahun yang sedang serius membaca koran. “Selamat pagi, Pak, sapa Ayu, saya mau titip pembayaran SPP bisa?" tanya Ayu pada Pak Hadi, guru piket hari itu. "Nanti hari Senin aja, kamu ke loket lagi pagi-pagi." "Baik, Pak." Gadis itu melangkah kembali ke dalam kelas dipenuhi perasaan kecewa dan sedikit was-was, ia harus menjawab apa jika Ayah bertanya nanti. Ayu tahu betul watak ayahnya itu. Pria itu tidak akan menerima alasan apa pun, apalagi kemarin Ayu meminta uang pembayaran SPP dengan sedikit merengek dan merajuk. Hatinya kebat-kebit tak karuan selama sisa pelajaran, membayangkan bagaimana nasibnya nanti. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD