Ayah adalah pria yang sangat pencemburu. Berkali-kali menuduh Ibu berselingkuh di belakangnya, tanpa bukti. Beberapa kali pria itu menyuruh Ayu dan Umar meminjam sepeda pada Tante Yani agar dapat membuntuti ibu mereka saat berangkat kerja. Ibumu pasti pergi bertemu pria lain sebelum sampai ke Rumah Sakit, begitu katanya. Ayu sangat muak dengan tingkah ayahnya itu, sangat menjijikkan membahas hubungan suami istri dengan anak anak yang belum cukup umur. Kadang Ayu merasa kasihan pada ibu, wanita yang sedang berdiri dan bercakap cakap dengannya sore ini di pintu dapur. Tiba tiba, Ayah datang dan mengamuk.
"Lagi liatin siapa? Hah?" hardiknya pada Ibu.
"Siapa?" Ibu tersentak kebingungan karena hanya ada ia dan Ayu sendiri yang berdiri di sana.
"Ngobrol sama siapa kamu?!"
"Aku lagi ngobrol sama Ayu."
"Bohong!" Ayah membentak ibu, tak percaya apa yang diucapkan oleh istrinya itu. "Janjian sama siapa kamu? Hah?!"
"Kamu gila, ya?!" umpat Ibu.
"Ibu ngga bohong kok, Yah. Dari tadi cuma ada Ibu sama Ayu," ucap Ayu lirih.
"Diam kamu!" bentak Ayah, "ngga usah belain Ibumu!"
Ayah mendorong tubuh Ayu dengan kasar. Ayu ketakutan, perlahan menjauh dari dua orang dewasa itu. Ia beringsut menuju ruang tamu, mendengarkan dari sana.
"Aahhh ...." Ibu menjerit saat tangan Ayah menarik rambutnya dan menghempaskan tubuhnya ke tiang pintu dapur.
Tak puas dengan hal itu, Ayah menampar Ibu sekuat tenaga sehingga membuat wanita itu hampir tersungkur ke tanah. Ibu balas menendang kaki Ayah, memukul dan mencakar sambil berteriak menyumpahi ayah. Ayu menyaksikan kejadian yang berlangsung sangat cepat itu dengan air mata yang mulai berjatuhan, ia ketakutan setengah mati. Tidak tahu harus berbuat apa, Ayu duduk memperhatikan kekerasan yang dilakukan ayah terhadap ibunya, merekam dan menyimpan semuanya dalam memori, termasuk semua kata makian dan sumpah serapah dari mulut busuk itu.
"Perempuan s****l kamu!" maki Ayah masih terus memukul dan menampar.
"Kamu udah gila!" umpat Ibu sambil terisak, "aku menyesal kawin sama kamu!!!"
Ayah semakin meradang mendengar perkataan ibu, ia menampar istrinya lagi, memukul dan menendang sampai perempuan itu terjatuh. Ayah menduduki tubuh ibu yang tak berdaya di atas tanah dan mencekik lehernya kuat-kuat. Ayu gemetar setengah mati, air matanya semakin deras. Tak ada tetangga yang datang menolong, padahal Ayu yakin suara pertengkaran ayah dan ibu pasti telah membahana di seantero kampungnya.
"Kubunuh kamu!" ucap Ayah dengan sorot mata yang sangat mengerikan.
"Kamu laki-laki b******n!"
Ibu meronta-ronta tak berdaya, sia-sia. Napasnya mulai tersengal. Penampilan ibu sungguh mengenaskan dengan rambut acak acakan tak karuan, pipinya memerah bekas tangan ayah, pakaiannya tersingkap di sana sini.
"Ayaaahhh ... Janggaannn ... Huuuu ... Hhuuuu ... Ibuuu ... Toloonggg...." Ayu menangis meraung, belum pernah setakut ini. Toloooong ... Tolooooongg ... Ibuuuu ... Huuu ... Huuu .... "
Gadis kecil itu berteriak sekuat tenaga mengharap iba dari orang yang mungkin mendengar namun memilih membuta dan menuli, berharap hati mereka tergerak oleh belas kasihan mendengar ratapan pilu dan jerit ketakutannya. Sayangnya, tak ada seorang pun yang menghampiri.
"Mati kamu perempuan s****l! Ku bunuh kamu hari ini!"
Ayah meraih golok yang tergeletak di kaki meja makan dan menodongkannya ke leher Ibu. "Hari ini kubunuh kamu perempuan sialan!"
"Ayaaahh ... Jangaann ... Huuu ... Huu ... Hhuuuu ...."
Ayu menangis melolong, berlari dan menendang tubuh Ayah, membuat cengkeraman tangan di leher Ibu terlepas.
"Lari Bu, lariiii ... Hhuuu ... huuuuu ... huuuu ...." teriaknya sambil terus memukul dan menendangi Ayahnya yang jatuh terduduk.
Ibu bangun dan berlari menjauh sembari terisak. Ayah mendorong tubuh Ayu sampai terpental dan bangkit mengejar ibu dengan golok di tangan. Mereka berkejaran di sepanjang jalan setapak menuju kuburan memutar ke depan melewati rumah tetangga. Masih, tak ada satu orang pun yang datang menolong, mereka hanya menatap dari kejauhan sambil saling berbisik.
"Toloooongg ... Toloongggg ... Huuuu ... Ibuuuu ... Hhuuuu ... Hhuuuu ... Toolooonggg ...."
Ayu menjerit histeris, berlari mengikuti ayah dan ibu dari belakang. Tak diingatnya lagi Amira yang sedang tidur sendirian di rumah. Umar, entah ke mana perginya anak itu. Ayu hanya berfokus pada ibu, takut ayah berhasil menyusul wanita itu dan membunuhnya.
"Ibuuuu ... Huuuu ... Huuuuu ...." Ayu masih terus berlari mengikuti ibunya. Merasa sedikit lega saat Ibunya memungut bongkahan kayu yang cukup besar untuk diacungkan kepada ayah.
"Sini kau, setan!" maki Ibu, "kubunuh kamu, anjing!"
"Perempuan s****l!" balas Ayah, "ku matiin kau kalo pulang ke rumah."
"Coba aja, biadab! b******n kamu!"
Isak Ayu mulai mereda, setidaknya ayah tidak lagi mengejar ibu dengan golok di tangannya. Ayu berlari menjauh saat melihat Ayah kembali ke arah rumah.
"Mau ke mana kamu, anak sial?" umpatnya.
Ayu tidak peduli, terus berlari ke rumah Tante Yani. Tidak tahu harus ke mana lagi. Ibu masih berdiri di teras rumah tetangga. Ayu malu setengah mati ketika berjalan melewati orang orang yang menonton pertengkaran orangtuanya, juga sakit hati karena tak ada seorang pun di antara manusia sebanyak itu yang mau membantunya untuk sekedar memisahkan keributan tadi. Apa jadinya jika ayah benar benar membunuh ibu? Ibunya meninggal sementara ayah masuk penjara, Ayu sungguh tak mampu membayangkannya.
Ayah dan Ibu sering bertengkar karena hal-hal sepele. Tapi pertikaian tadi yang paling mengerikan, membekas selamanya dalam ingatan Ayu. Membuatnya merasa muak pada laki-laki, menjijikkan. Semua karena ayahnya.
Keesokan harinya Ayu menulis surat untuk nenek dari pihak ibu di Lampung. Menceritakan semua perlakuan ayah terhadap ibu secara detail kemudia menanyakan alamat nenek pada Tante Yani dan mengirimkan surat yang ditulisnya melalui kantor pos. Seminggu kemudian datang balasan suratdari nenek, ditujukan untuk Ayah. Raut wajah itu berkilat dipenuhi amarah selama membaca kalimat kalimat panjang yang tertulis dalam secarik keertas putih di tangannya.
"Kamu cerita apa sama nenekmu?" Mata Ayah menatap nyalang pada Ayu.
Ayu tidak menjawab, amarah masih memenuhi d**a mengingat perbuatan ayah pada ibu tempo hari, rasa marah itu mengalahkan rasa takut pada pria bengis di hadapannya.
"Kamu ngadu apa? Hah?" bentak Ayah lagi. "Anak sialan!"
Ayah menampar Ayu, mendorong tubuhnya hingga terhuyung. Gadis kecil itu bergeming, tak lagi mengharapkan bantuan dari ibu yang terasa mustahil.
"Anak kecil, ngerti apa kamu?" Ayah mendorong kepala Ayu kasar, "awas kalo ngadu macem-macem lagi!" ancam pria itu sebelum berlalu.
Ayu menghampiri Ibunya di dapur. Menatap sendu perempuan yang bernasib sama menyedihkan dengan dirinya. Wajah ibu terlihat tertekan dan depresi, hampir tak pernah terlihat senyuman di wajah ibu, tak pernah pula tertawa lepas. Ayu tidak mengerti, mengapa ibu tetap bertahan dengan pria yang selalu melakukan kekerasan, juga mencaci dan menyumpah serapah.
"Bu," panggil Ayu, "kenapa ngga cerai aja sama Ayah?"
Gadis kecil yang sekarang telah duduk di bangku SMP itu bertanya pada ibunya dengan suara lirih.
Wanita itu terdiam sejenak sebelum menjawab. "Ngga bisa, Nak. Ibu mulai menangis. "Ibu ingin sekali berpisah dari ayahmu, tapi Ibu memikirkan nasib kalian nanti. Bagaimana kalau tidak punya ayah."
"Ikut Nenek aja ke Lampung, Bu," ucap Ayu pelan, ikut menangis. "Yang penting jauh dari Ayah."
"Ibu ngga bisa ...," jawab Ibu semakin terisak.
Pupus sudah harapan Ayu untuk bisa lepas dari ayahnya. Gadis kecil itu masuk ke dalam kamar dan merenung. Menyesali Ibu yang tidak bisa mengambil sikap. Demi anak-anak, katanya. Ibu tidak sadar justru keputusan itu membuat hidup anak-anaknya seperti di neraka.
Apalagi sejak mendapat surat balasan dari Nenek, sikap Ayah semakin menjadi. Pria itu mendiamkan dan semakin mencari-cari kesalahan Ayu, semakin sering dan keras memukul anaknya. Tapi Ibu, tetap tidak mau meninggalkan laki-laki itu.