Bab 9

1152 Words
Ayu langsung pulang tatkala ayam berkokok pertama kali, suasana di luar masih remang-remang namun tak cukup menyeramkan untuk menahan langkah kaki mungil itu. Baginya, monster di dalam kamar tante lebih menyeramkan. Tergesa ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri, merasa jijik pada dirinya sendiri, kotor dan hina. Air mata yang ditahan sejak tengah malam luruh bersama tetesan air dingin yang menyentuh permukaan kulit. Ia menyabuni seluruh tubuh kemudian menggosok dengan sikat pakaian berharap agar jejak tubuh pamannya bisa hilang dari sana. Sayang, ia masih saja merasa kotor meski telah menyabuni, menyikat dan membilas tubuh berkali-kali. Ayu tak bersemangat seharian, juga menjadi tidak bisa berkonsetrasi saat mendengarkan pelajaran di sekolah. Pikirannya melayang mengingat runtutan peristiwa yang terjadi semalam. Ia ketakutan memikirkan bagaimana jika sampai hamil akibat perbuatan omnya itu, Ayu takut sekali. Sepulang sekolah is berusaha menghindari bertatap muka dengan Om Andre yang mengunjungi rumahnya, menjawab semua pertanyaan pria itu dengan anggukan atau gelengan kepala. Saat pria itu pulang kembali ke rumah Tante Yani, Ayu segera mengambil baju kaos garis-garis biru dan celana panjang orange yang dikenakannya semalam. Ia melemparkan pakaian itu di bawah pohon mahoni dekat sungai, menyiram dengan minyak tanah kemudia membakar habis pakaian itu hingga tak bersisa. "Yu, beli beras di warung. Nanti malam Om Andre mau makan bareng kita," ujar ibu. Tanpa menyahut sepatah kata pun, Ayu melaksanakan perintah ibunya. Gadis itu mengumpat dalam hati, mengapa pria b******k itu harus hadir dalam hidupnya yang sudah cukup sengsara. Hanya rasa jijik yang ada saat memandang pria itu. Padahal kata ibu, Om Andre sedang mengikuti sekolah Injil untuk menjadi seorang pendeta. Lalu, apa gunanya jika perbuatannya b***t dan tak senonoh pada kemenakannya sendiri? Ayu benar -benar muak. "Bu, kok mukanya Om Andre ngga mirip sama ibu?" tanya Ayu penasaran, karena memang wajah kedua orang dewasa itu sangat jauh berbeda. "Om Andre itu, adik tirinya ibu," jawab ibu, "yang kakak adik kandung sama ibu ya Tante Yani itu. Selain itu, semuanya adik tiri," jawab Ibu sembari menyuapkkan nasi ke mulut Amira, adik kecil Ayu yang sudah pintar berceloteh. Ayu terdiam dengan berbagai pikiran berkecamuk dalam otaknya. Haruskah ia menceritakan kejadian semalam pada ibu? Apakah ibu akan percaya? Lagipula Ayu malu jika orang lain mengetahui apa yang telah menimpanya. Akhirnya gadis itu memilih untuk tetap bungkam. Setelah makan malam, Ayu segera masuk ke dalam kamar untuk tidur. Tidak ingin berlama lama duduk dan dipandangi oleh Om Andre. Gadis kecil itu menutupi tubuh dengan selimut kemudian mengahdapkan tubuh ke dinding bambu dan memejamkan mata. Lamat-lamat masih terdengar suara ayah berbincang bincang dengan Om Andre di ruang tamu, sampai suara suara itut melemah dan hilang sama sekali. Mata Ayu yang terpejam bergerak gerak gelisah, samar samar ia bisa merasakan sedang dipeluk dari belakang. Mulanya ia mengira itu tangan Umar, adiknya itu memang kerap menghimpitkan tubuhnya mepet pada Ayu jika merasa takut. Karena rasa kantuk, Ayu tidak memperhatikan lagi siapa pemilik tangan itu, ia hanya mendorong agar tangan yang melingkar di pinggang dan tubuh yang menempel di punggungnya menjauh. Ia menarik selimut lalu kembali tidur. Tak lama berselang, Ayu merasakan embusan napas di tengkuk juga tangan yang melingkar lagi dipinggang. Alarm di otaknya menyala, ia segera pura pura terbangun dan pergi ke ruang tamu. Ternyata dugaannya benar, Om Andre lah yang memeluknya dari belakang tadi. Jam dinding di ruang tamu baru menunjukkan pukul dua. Gadis itu kebingungan mencari alasan untuk menghindar dari pria di dalam kamar, untunglah ekor matanya menangkap kliping yang tergetak di atas meja. Ia meraih tumpukan kertas itu lalu mulai memeriksa ulang tugas yang sebenarnya sudah selesai, melipat dan menggunting gambar gambar yang tidak perlu dan menempelnya di kertas kliping. Berharap pria di dalam kamar sana akan terus tertidur sampai pagi. "Ngapain, Yu?" Ayu terkejut setengah mati saat pemiliki suara yang sangat ingin dihindarinya itu sudah berdiri di belakangnya. "Ah Ngg ... Ini Om, ada tugas. Tadi lupa, belum selesai," jawab Ayu tergagap, "takut dihukum, besok." "Oh, masih banyak?" "Lumayan, Om." "Om temenin, ya." "Ngg ... nggak usah Om, bentar lagi juga udah selesai kok." Sial. Sialan. Sialan. b******k. Masuk ke dalam sana! Umpat Ayu dalam hati. Umar sialan. Adiknya itu tidur seperti mayat di depan Televisi. Sialan. Kenapa om sialanya itu malah duduk di sebelahnya? Sontak Ayu langsung bangkit saat tangan Om Andre menyentuh tangan Ayu dengan sengaja. "Ngg ... Ayu mau pipis dulu, Om._ Gadis itu menyentakkan tangan dari genggaman Om Andre, secepat kilat berjalan menuju sumur yang gelap gulita. Sungguh, rasa takut pada omnya mengalahkan rasa takut pada hantu. Ayu berdiam diri agak lama di dalam ruangan gelap berukuran 2x2 meter itu, tidak tahu harus berbuat apa. Gelisah dan takut, mencari alasan yang masuk akal agar dapat tidur di kamar ibu. "Yu, panggil Om Andre dari luar kamar mandi. Kamu ngapain? Lama banget di dalam." Ayu terkesiap, tak menyangka pria itu akan menyusulnya keluar. Ayu semakin bingung dan gelisah, tak henti pula memaki dan mengumpat dan berdoa dalam hati. Sialan. Anjing. b******k. Ya Tuhan, tolong aku. b******k. Semua kosakata kasar yang biasa ia dengar terlontar dari mulut ayah, kini diputar ulang dengan mudah dalam kepalanya. Berharap ia punya cukup keberanian untuk meneriakkannya langsung pada pria kurang ajar di luar sana. "Ayu. Kamu ngga apa-apa?" "Ya, Om. Cuma celana doang ke siram air ini, basah." Ayu menyahut dari dalam, cepat cepat menyiramkan segayung air ke celana yang sebenarnya tidak terkena apa apa. Gadis itu tertegun saat keluar dari dalam kamar mandi, mendapati omnya sedang berdiri menunggu dan memperhatikan dengan sikap yang ... Entah ... Ayu bergidik ngeri saat berjalan menuju Om Andre, berdiri menghalangi di depan akses masuk ke dalam rumah. "Kamu kenapa?" bisik Om Andre lirih saat Ayu berada sekitar dua langkah dari tubuhnya, “ngga mau tidur sama aku?" Langkah terhenti, tangannya mengambang dengan kaku di udara, tidak berani menatap wajah pria dewasa di depannya itu. Tak menyangka sama sekali pria itu berani melontarkan pertanyaan tidak masuk akal dengan nada yang begitu menjijikkan. Ayu ingin berteriak, tapi tidak mau membuat kegaduhan. Hanya bisa berharap dalam hati agar ada salah seorang anggota keluarga yang tersadar dan menyelamatkannya. Harapan semu itu tidak terwujud, tidak ada yang bersuara untuk membantunya meloloskan diri dari situasi yang canggung itu. "Ngga kok, Om. Tadi abis pipis, malah kesiram celananya," elak gadis itu sambil menunjuk ke arah ujung celana yang basah kuyup. Untunglah semua pakaian Ayu berada di kamar ibu sehingga ada alasan baginya untuk masuk ke kamar itu. Om Andre hanya memperhatikan saat pintu di hadapan gadis itu terbuka, kemudian gadis itu menghilang di dalamnya. "Ayu, tidur di sini ya, Bu," pinta Ayu dengan memelas setelah mengganti celana. Gadis itu menarik napas lega saat ibu mengiyakan, segera ia merebahkan tubuh di samping ibu tanpa banyak kata, terlelap hingga pagi. Tak seorang pun tahu kejadian yang menimpanya kala itu, bahkan ayah dan ibu. Tidak ada yang dapat ia percaya untuk melepaskan semua beban dan rasa sakit. Sikap ayah dan perbuatan Om Andre, mempengaruhi gadis itu hingga belasan tahun kemudian. Baginya, laki-laki adalah makhluk yang menjijikkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD