bab 8

1141 Words
Ayu sedang memandikan Amira saat ibu pulang dari rumah Tante Yani, wanita itu menghampiri Ayu di kamar mandi dengan bersemangat. Meraih Amira yang sudah dibungkus handuk bersih dari gendongan Ayu, membawa balita itu ke kamar dan menyuruh Ayu dan Umar mandi bergantian. "Jangan lama-lama mandinya, teriak ibu dari dalam kamar, yang mau ikut ke rumah Tante, ccepetan" lanjutnya lagi. "Emang ada apa, Bu?" Ayu yang sudah lebih dulu selesai mandi menghampiri ibu di kamar belakang. Tidak biasanya ibu mengajak mereka pergi. "Ada Om Andre, adik ibu. Baru datang dari Lampung," jawab Ibu, suruh Umar cepetan. Ayu berdiri di depan pintu dapur, meneriaki adiknya agar tak berlama lama di dalam sana. Senyum lebar terus terpampang di wajah ibu yang sedang menggendong Amira, Ayu dan Umar mengekor dari belakang. Ternyata sudah ramai di rumah tantenya, beberapa kerabat jauh juga datang menengok Om Andre. Maklum, sudah puluhan tahun nenek dan adik adik ibu merantau di Pulau Sumatra. Dulu ibu juga ikut merantau bersama nenek di sana, sebelum menikah dengan ayah. Ibu langsung memeluk adik laki-lakinya itu, saling bertanya kabar dan melepas rindu. Ayu, sini, panggil Ibu, salam sama Om. Ayu menghampiri dan membalas jabatan tangan Omnya dengan canggung. "Anakmu, Mba?" "Iya, yang sulung, jawab Ibu, kalau yang laki ini namanya Umar, si bontot namanya Amira." "Cakep-cakep anakmu, Mba," ucap Om Andre, "Ayu umur berapa?" "Sebelas, Om." "Cantik." Om Andre mengusap pucuk kepala Ayu, membuat gadis itu merasa sedikit risih. Ayu memperhatikan adik ibunya itu, wajahnya tidak mirip ibu. Umurnya mungkin masih sekitar 18 tahun. Entah kenapa, Ayu merasa tidak nyaman berada di dekat pria itu. "Mba, hari ini kan aku jaga malam," kata Tante Yani, "si Umar suruh nginep sini ya, nemenin Andre." Ibu menengok ke arah Umar, menanyakan kesediaan bocah itu untuk menemani Omnya. Umar menggeleng keras sebagai jawaban, ia tidak mau tidur tanpa kakanya. Akhirnya ibu ikut membujuk Ayu agar mau menemai Umar. Tentu saja Ayu menolak, ia merasa tidak nyaman. "Ngga ah, aku mau tidur di rumah aja," ujar Ayu. "Kalo gitu aku juga tidur di rumah," kata Umar keras kepala. "Ya udah, kamu temenin adikmu, Yu," perintah Ibu, "kasian Om, tidur sendiri." Sebenarnya Ayu benar benar enggan harus menginap menemani Umar, namun dengan terpaksa ia mengalah. Tidak mau membuat keributan di rumah orang, apalagi masih banyak tamu yang datang bercakap cakap dengan Omnya itu. Ia tidak ingin membuat malu ibunya, apalagi jika sampai ibu kecewa dan memarahinya di depan orang banyak, pasti lebih malu lagi rasanya. "Nanti tidurnya di kamar depan aja," kata Tante Yani, "muat kok itu untuk bertiga." "Ya udah, sana kalian pulang ambil selimut sama bantal," kata Ibu pada Ayu dan Umar karena memang tidak ada selimut lebih di rumah tante. Sudah menjadi kebiasaan Ayu dan Umar jika menginap di sana , mereka selalu membawa perlengkapan tidur masing masing. Ayu menggandeng tangan Umar dan pulang. "Kamu sendiri aja kenapa sih, Dek?" rayu Ayu setengah mengomel pada adiknya. "Ngga ah, takut." "Takut apa?_ Ayu mencebik kesal. "Kan ngga tidur sendiri." "Pokoknya takut, Mba." Ayu mencebik kesal pada adiknya yang keterlaluan penakutnya, membuat Ayu jengkel setengah mati. Padahal dia laki laki, namun kadar rasa takutnya melebihi Ayu yang seorang perempuan. Umar bergegas mengambil bantal dan selimutnya kemudian berlari menyusul Ayu yang telah berlari duluan meninggalkan adiknya di belakang, sengaja menggoda. "Mbaaa ... Tungguin,"seru Umar sembari terbirit b***t, membuat Ayu terkekeh geli. Mereka sampai di rumah Tante Yani dengan napas terengah karena saling berkejaran. "Tuh, Ayu sama Umar udah datang, Mba pulang dulu ya," pamit Ibu pada kedua adiknya. Tante Yani pun tampak sedang bersiap siap untuk berangkat kerja "Iya, Mba, hati-hati,” jawab Om Andre. Umar menenteng selimut dan bantal menuju kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu, Ayu mengikuti dari belakang. Kamar Tante Yani ada di belakang, bersisian dengan dapur dan ruang makan. Kamar depan adalah kamar Andin, namun hari ini ia sedang menginap di rumah nenek dari pihak ayahnya. "Kalian tidur duluan aja ya, Om mau ke warung dulu sebentar." Umar dan Ayu mengiyakan kemudian masuk ke dalam kamar. Jam dinding baru menunjukkan pukul 20.00 namun mata Ayu sudah mengantuk, apalagi besok harus berangkat sekolah. Ia naik ke atas tempat tidur, merapatkan tubuh ke tembok dan menarik selimut menutupi tubuh sampai leher. Umar berbaring di sebelahnya, lalu perlahan kedua bocah itu mulai terlelap. Belum lama memejamkan mata, Ayu terbangun karena rasa dingin menjalari permukaan kulit. Ia bingung mendapati selimut telah berpindah ke ujung ranjang sementara baju tersingkap sampai d**a dan celana melorot sampai ke paha. Namun tidak terbersit sedikitpun rasa curiga di pikirann Ayu karena lampu kamar masih menyala terang, jam dinding menunjukkan pukul 22.00 WIB. Ayu merapikan pakaian dan selimut lalu kembali tidur. Baru sebentar, Ayu kembali terbangun karena rasa dingin yang sama menembus kulit. Kening gadis itu berkerut saat mendapati kondisinya sama seperti terbangun pertama kali tadi. Ayu melihat ke arah Umar, bocah laki laki itu sedang tertidur pulas. Lampu masih tetap menyala, sekarang pukul 23.00. Mulai timbul rasa curiga dalam benaknya. Ayu menarik tubuh Umar mendekat kepadanya lalu berpura-pura tidur menghadap tembok. Tak lama kemudian terdengar seseorang memasuki kamar dan mematikan lampu, gelap. Napas Ayu tercekat saat merasakan bobot tangan yang berat melingkar di atas tubuhnya, mengusap lengan gadis itu perlahan. Siapa? Ayu tak berani bergerak. Tangan itu mulai bergerak turun, menyingkap baju Ayu lalu mengusap perutnya dan semakin ke bawah. Kemudian perlahan tangan itu menurunkan celana Ayu membuat bocah itu ketakutan setengah mati, dia tahu itu bukan Umar. Sontak Ayu berpura-pura bergerak, seakan ingin bangun. Tangan itu langsung menyingkir dari atas tubuhnya. Om Andre?! Ayu terkesiap saat membalikkan tubuh dan melihat adik ibunya itu sedang berpura pura tidur tepat di sebelahnya. Pria itu telah mendorong tubuh Umar jauh ke sisi ranjang sebelah. Apa yang dilakukan Omnya barusan? Saat itu Ayu masih terlalu kecil untuk menyadari apa yang sedang terjadi pada dirinya. Tapi dia tahu, apa yang dilakukan oleh pria itu salah. Ayu menggeliat berusaha bangkit dan turun dari atas ranjang, takut dan merasa jijik. "Mau ke mana?" tanya Om Andre saat melihat Ayu bangun dari atas tempat tidur. "Tidur di bawah, Om. Gerah." Gadis itu mencoba memberikan alasan yang masuk akal agar pria yang masih memiliki hubungan darah itu tidak mengganggu lagi. Sebenarnya Ayu ingin sekali berlari pulang, namun tidak cukup berani karena sekarang sudah tengah malam. Ayu membuka tikar dan tidur di lantai sembari berdoa dan berharap dalam hati agar Om Andre sadar dan berhenti menyentuhnya. Mata Ayu perlahan terbuka lagi saat merasakan sesuatu sedang digesek gesekkan di antara pangkal pahanya dari belakang. Ia dapat merasakan hembusan napas Om Andre di tengkuk dan desahan tertahan pria menjijikkan itu. Tangan pria itu menjamah tubuh keponakannya sendiri, perlahan mengusap sambil terus menggesek dan menekan. Ayu hampir menangis saat merasakan celananya telah dilepas sampai ke lutut, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Gadis malang itu membisu karena terlalu takut untuk bergerak atau bersuara. Hanya bisa berharap pagi cepat datang, agar ia bisa pulang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD