Setelah selesai makan, ia mengucapkan terima kasih pada wanita baik hati yang kerap mendengarkan keluh kesahnya itu dan kembali pulang ke rumah. Mengambil pakaian yang masih berserakan di lantai, mencuci ulang semuanya. Belum selesai kegiatannya itu, terdengar lagi teriakan ayah dari depan memanggil namanya. Ayu melepaskan semua cucian di tangan dan tergopoh menghampiri ayahnya.
"Ya?"
"Kamu lihat ngga itu?" Tangan Ayah menuding pojok rumah bagian atas. "Ngapain aja sih kamu? Rumah sampe penuh sarang laba-laba gini? Jadi anak perempuan malas banget!"
"Iya, nanti Ayu bersihkan."
"Sekarang!"
"Nyucinya belum selesai, Yah."
"Belum selesai juga? Dari tadi ngapain aja? Masa cucian segitu doang ngga kelar-kelar?"
"Tadi ditumpahin lagi sama Umar."
"Alasan aja! Sana cepet beresin, terus bersihin ini sarang laba-laba."
"Iya, Yah."
Ayu menarik napas lega, untung tangan Ayah tidak melayang lagi ke tubuhnya. Pukulan tadi masih terasa sakit. Ayu beringsut kembali ke sumur tanpa bersuara, menekuri cucian yang tinggal dibilas dan dijemur. Umar telah menghilang entah ke mana. Adiknya itu memang kadang sengaja membuat masalah agar dimarahi Ayu dan menangis, kemudia mengadu pada ayah dan bisa kabur pergi bermain lagi. Ayu hanya bisa menahan napas dan sesak dalam d**a. Saat selesai membilas cucian dan akan mengangkat ember ke depan, terdengar percakapan ayah dan ibu di halaman. Ayu melewati mereka tanpa suara, takut jadi sasaran kemarahan oran tuanya itu.
"Kamu, dari mana jam segini baru pulang?" Ayah membentak Ibu yang baru menyandarkan sepeda di halaman. Ayah terlalu pencemburu. Sering, Ayah dan Ibu bertengkar karena kecemburuan Ayah yang melebihi batas, tak beralasan.
"Mampir di rumah Yani, ada keluarga dari Semarang," Jawab ibu, "nanti ajak anak-anak ke sana ya."
"Terserah," balas Ayah, tidak jadi meluapkan emosinya.
Pria itu sering mengamuk hebat jika ibu terlambat pulang dari tempat kerja, walaupun hanya lima menit saja. Ia akan menuduh bahwa ibu menemui pria lain sebelum pulang ke rumah. Ayu sangat muak saat drama ini terjadi karena diakhir pertengkaran, ia selalu jadi korban pelampiasan ibu yang tak bisa membalas pelakuan kasar ayah.
Ayu segera menyelesaikan menjemur cuciannya dan membersihkan sarang laba-laba di ruang tamu sebelum hari semakin sore. Ibu telah menyuruh Umar mandi sejak tadi, wanita itu sendiri tengah mendandani Amira dan bersiap siap. Ayu baru saja meletakkan sapu yang digunakan untuk membersihkan langit langit rumah saat ibu dan adik adiknya berpamitan.
"Kamu jaga rumah ya, Ibu mau ke rumah Tante Yani sebentar." kata Ibu pada Ayu.
"Ibu mau ngapain?"
"Ketemu Padhe sama Budhe sebentar." jawab Ibu, menggendong Amira dan menuntun tangan Umar.
"Ikut, Bu ...," pinta Ayu, memelas.
"Ngga usah!" bentak Ibu, "orang cuma bentar kok, kamu di rumah aja."
Ayu mulai menangis karena sedih dan takut. Sedih karena merasa tidak dianggap. Takut karena akan ditinggal sendiri. Ayah sudah lebih dulu pergi ke rumah Bi Narti. Entah kenapa, pria itu selalu berubah menjadi sosok yang berwibawa dan bermulut manis jika berhadapan dengan orang lain.
"Ikuut, Bu ... Huuu ... Huuuu ...." Ayu mulai merengek, menarik-narik ujung baju ibunya.
"Dibilang ngga usah!" Ibu menyentak tangan Ayu dengan kasar sambil melotot.
"Bu, ikuutt ... Ayu takut di rumah sendirian ... Huuu ... Huuu ... Ayu janji ga bakal nakal, ga bakal ganggu ade ... Huuu ... Huuu ...."
Sekarang sudah jam tujuh malam, suara bambu yang bergesekan membuat nyali menciut untuk anak seusia Ayu. Tubuh kecil itu gemetar ketakutan. Penerangan yang hanya memakai bohlam 5 watt berwarna kekuningan membuat suasana sedikit temaram. Belum lagi kaca jendela ruang tamu dan kamar yang tidak memiliki kain gorden, membuat Ayu gentar. Terbayang sosok sosok yang menyeramkan dalam benaknya.
"Dibilangin susah banget sih!" Ibu menjewer telinga Ayu.
"Aaaah ... Ampun, Bu ... Sakit ... Huuu ... Huuu ... Huuu...." Tangisan Ayu semakin keras, memegangi telinganya yang memerah.
"Makanya kalo dibilangin nurut!" bentak Ibu lagi.
Gadis malang itu akhirnya menyerah, membiarkan Ibu membawa kedua adik pergi setelah mengunci pintu dari luar. Sakit sekali hati Ayu, terisak sendiri dalam rumah yang sunyi sampai matanya sembab dan bengkak.
Kenapa? Kenapa Ibu tidak mau mengajakku? Apakah Ibu malu punya anak sepertiku? Apakah aku terlalu hina untuk dikenalkan sebagai anak? Ayu meratapi nasibnya di dalam kamar, air mata berderai tiada henti. Beberapa saat kemudian Ayu mendengar seseorang sedang membuka pintu rumah, Ayu sesenggukan mendengarkan siapa yang sedang berusaha masuk. Pikirannya melayang ke mana-mana membayangkan hantu atau pencuri yang sedang mengutak-atik handle pintu.
"Yuuu ...." Terdengar suara Ibu dari luar, "ayo siap-siap."
Pintu depan terbuka, Ibu datang menjemputnya. Sayangnya Ayu sudah terlanjur sakit hati, idak mau menatap Ibunya. Meski dalam hati ia bersyukur bukan hantu atau pencuri yang sedang mencongkel daun pintu seperti dugaannya.
"Ayo." Ibu memegang tangan Ayu. "Kamu ditanyain sama Padhe, Budhe."
"Ngga!" Ayu menepis tangan ibu yang terulur. "Tadi katanya suruh jaga rumah." ujarnya sambil membuang muka.
"Jangan bikin malu Ibu!" Mata Ibu mendelik, menarik paksa tangan Ayu.
"Ngga mau!"
"Dasar anak kurang ajar! Sukanya ngebantah omongan orang tua!" Ibu menjewer telinganya.
Ayu terisak lagi, merintih kesakitan memegangi daun telinganya yang terasa perih. Napasnya tersengal sementara suaranya sengau dan mata sembab karena terlalu banyak menangis. Malu harus bertemu orang lain.
"Ngga mauuu!!!" Ayu menjerit sekuat tenaga. "Tadi Ayu mau ikut, ngga boleh!!! Huuu ... Huuu ... Huuuu ...."
"Dasar anak sial! Ngga tau diuntung! Bikin malu orang tua!" maki Ibu. "liat tuh si Wati, ngga pernah bantah ibunya!"
"Ibu ambil aja Wati jadi anak Ibu!!" Ayu masih tetap berteriak melampiaskan emosinya. "Ayu ngga pernah minta dilahirin!"
"Dasar anak kurang ajar! Anak pembawa sial!!!" Ibu menampar Ayu, membuat tangisnya semakin keras dan pilu.
Tanpa perasaan ibu menyeret Ayu sepanjang jalan menuju rumah Tante Yani, memaksanya bersalaman dengan keluarga yang sangat ingin Ayu temui tadi, tapi tidak sekarang.
Wajah Ayu keras tanpa ekspresi, datar tanpa emosi. Dari sudut ruangan dengan mata sembab dan isak tertahan, ia menatap ibu dan ayah bercengkerama bersama keluarga kaya dari Semarang yang mereka banggakan.. Tersisihkan, terabaikan, tak diinginkan. Merekam semua kejadian itu, kejadian yang tetap diingatnya sampai berpuluh tahun kemudian.
Aku, anak yang tak diinginkan. Anak yang tak dianggap, sekuat apa pun aku berusaha, tidak pernah cukup baik untuk ayah dan ibu. Itu yang tertanam dalam benak gadis cilik itu sampai belasan tahun yang akan datang.
***