Bab 6

1376 Words
Tidak boleh menangis. Tidak boleh ada air mata. Tekad Ayu dalam hati, menatap Ayahnya dengan berani. Tidak peduli jika pria itu akan membunuhnya malam ini. Ibu hanya duduk di atas kursi dalam diam, seperti biasanya. "Ngga bisa diatur lagi kamu? Hah?!" Ditariknya telinga Ayu sekuat tenaga. "Udah berani ngelawan orang tua ya kamu, babi hutan!" Ayah melayangkan tangan ke pipi Ayu lagi, membuat matanya berkunang-kunang dan telinganya berdenging. Tidak boleh menangis. Hanya itu satu-satunya bentuk perlawanan yang dia bisa. Ayu tidak mau membuat Ayahnya merasa puas karena berhasil membuatnya menangis. Bentuk pertahanan diri yang justru membuatnya mati rasa, bahkan sampai dewasa kelak. "Pergi dari sini!" usir Ayah, mendorong Ayu dan Umar ke luar dari dalam rumah. Ibu mulai menangis, membuat Ayu semakin muak. Meskipun dalam hatinya ketakutan setengah mati, jika Ayah benar-benar mengusir mereka malam ini, ke mana mereka harus pergi. "Keluar!!!" Ayah semakin mengamuk saat melihat Umar ketakutan dan menangis. "Kalian bukan anakku! Sana minggat!!!" Ibu hanya tetap menangis, saat Ayu meraih tangan Umar dan mengajaknya pergi, entah ke mana. Ayu tidak mengenal siapa siapa selain Tante Yani, tapi pasti sekarang wanita itu sudah berangkat kerja dan pintu rumahnya pasti sudah di kunci. Lagipula, Ayu malu kalau bertemu orang di jalan dengan air mata yang mulai menetes. Ke mana? Ingin mengajak adiknya itu pergi jauh, tapi ini sudah terlalu malam. Tidak mungkin mengajak bocah itu berjalan menyusuri sawah semalam ini. Meski sering iri pada Umar,Ayu sangat menyayangi adiknya itu, selalu ingin melindungi dan menjaga. Adiknya itu lebih penakut dibanding dengan Ayu. Akhirnya Ayu mengajak Umar duduk depan pintu dapur salah satu rumah tetangga yang cukup gelap tanpa lampu penerangan, agar tidak ada yang bisa melihat mereka berdua sedang meringkuk dan menangis tanpa suara di sana. Ayu memeluk lututnya. Kecewa, karena tidak bisa menahan air mata. Tampak beberapa kali ibunya berjalan mondar-mandir, mencari mereka. "Ssst ... Diam," katanya pada Umar saat bocah laki-laki itu akan bangkit menghampiri ibu, "biarkan saja." "Mba, takut ...," bisik Umar. "Ngga apa-apa, ada Mba." Ayu berusaha menenangkan adiknya, kalau perlu mereka tidur di depan pintu dapur ini sampai pagi. Ternyata harapan Ayu tidak terkabul, ibu melihat dan menghampiri mereka dengan air mata berderai di pipi. "Ayo kita pulang, Nak." Ibu memeluk Umar sambil terisak. "Ayo." Ayu menepis tangan itu tidak perduli sembari menatap lurus ke depan. Umar bangun dan mengikuti ibu pulang. Ayu tidak gentar, amarah mengalahkan rasa takut. Dengan tatapan kosong, Ayu berdoa setengah berharap tetangganya mendengar suaranya dan menyuruh masuk, setengah berharap jangan ada yang mendengar tangisannya karena dia pasti malu sekali, jika orang lain tahu Ayah memperlakukannya seperti sampah. Tampak bayangan ibu kembali mendekat. "Ayo Nak, ini udah malam." Ibu berusaha membujuk lagi. "Kan Ayah udah ngusir," jawab Ayu dengan suara serak. "Ngga, Ayah udah minta maaf. Ini Ayah yang suruh Ibu jemput, ayo ...." Ayu tidak percaya, ia mengumpat dalam hati. Bohong. Ngga mungkin Ayah yang suruh. Ngga mungkin Ayah menyesal. Pria itu mana punya hati nurani, mana pernah merasa bersalah. Pria yang kerap memuji anak orang lain dan menyumpahi darah dagingnya sendiri. Selalu membanding bandingkan anaknya dengan orang lain tanpa memikirkan bagaimana perasaan anaknya tersebut. "Ayolah, Nak." Ibu menangis lagi. Ngapain nangis? Kan Ibu yang ngadu ke Ayah, makanya aku sama Umar dihukum seperti ini. Ingin sekali rasanya meneriakkan kata-kata itu kepada Ibu, tapi Ayu tak sampai hati. Akhirnya ia bangun dan mengikuti ibu untuk pulang. Sampai di rumah, Ayah sudah tak tampak. Mungkin tidur. Ayu tidak mau tahu, ia langsung masuk kamar dan mengunci pintu. Gadis kecil itu merenung dan mengasihani diri sendiri, ingin berteriak pada Tuhan, mengapa ia terlahir di keluarga seperti ini? Mengapa ia tidak bisa memilih mempunyai orang tua seperti apa? Mengapa? Air mata kembali menetes di pipi Ayu. Mau mati saja rasanya. Ya, lebih baik mati saja. Gadis kecil itu menunduk, mengambil obat nyamuk bakar di bawah kolong tempat tidur. Mematah-matahkan benda bulat itu, lalu meminumnya. Berharap esok dia tidak akan bangun lagi, untuk selamanya. *** Ayu tersentak bangun terkejut karena air dingin yang tumpah di wajah dan tangan, kali ini gayung menimpa keningnya. Ternyata ia tidak mati seperti yang diharapankan. Masih terbangun di neraka yang sama, dengan rutinitas yang sama. Hanya lambungnya yang terasa perih. Sebenarnya bukan baru kali ini Ayu ingin mati, ia pernah mencoba meminum bubuk hitam yang terdapat dalam baterai. Ia mencongkel benda berbentuk tabung itu dan mengeluarkan arang di dalamnya, melarutkan dengan air kemudia meminum cairan itu, sayangnya ia tetap hidup. Kadang Ayu berharap ia sakit keras agar ayah dan ibu sedikit memperhatikannya, menyayanginya. Tapi Tuhan lebih memilih mengaruniakan tubuh yang kuat sehingga Ayu sangat jarang sakit. Membuat Ayah dan Ibu semakin memperlakukan gadis itu seperti robot. "Umaaarr!" teriak Ayah. Ayu sedang mencuci pakaian di sumur, sepulang sekolah tadi ia langsung merendam setumpuk pakaian kotor itu sebelum menyuapi dan menidurkan Amira. Ibu baru berangkat tadi, shift malam. Umar sedang bermain bersama temannya di rumah sebelah. "Sapu, terus pel dalam rumah," perintah Ayah saat Umar berlari menghampirinya. Umar yang sedang asik bermain, terpaksa melaksanakan perintah Ayah dengan berat hati. Sambil bersungut-sungut ia masuk ke dalam kamar mandi, tempat Ayu sedang membilas cucian. "Mana ember buat ngepel, Mba?" "Ngga ada, Mba lagi pakai untuk isi pakaian. Tunggu bentar." "Cepetan! Keburu selesai mainnya." "Sabar, ini baru dibilas satu kali," jawab Ayu sambil menimba air. Tak menghiraukan perkataan kakaknya, Umar menumpahkan semua pakaian ke lantai kamar mandi. Mengisi ember dengan air dan cairan pembersih lantai. Karena emosi, refleks Ayu memukul lengan adiknya itu. "Mba capek tau ngga? Itu jadi kotor lagi pakaiannya!" Dijewernya telinga Umar, kesal setengah mati. Umar menangis meraung sambil masuk ke dalam rumah. Lamat-lamat Ayu mendengar Ayah bertanya pada Umar apa yang terjadi. Entah apa yang dikatakan oleh adiknya itu, Ayu tidak menyimak lagi. Ia sibuk memunguti pakaian yang tergeletak di lantai, semua cucian kotor lagi. Terpaksa harus mencuci ulang karena lantai kamar mandi yang hanya diplester dengan semen seadanya belum disikat, beberapa bagian berlubang sehingga ada lumpur yang menggenang di sana. Ia tak menyadari kedatangan ayah yang langsung mendaratkan sebuah hantaman di punggungnya, membuat Ayu hampir terjungkal menabrak ember. "Kamu apain adikmu, hah?!" Mata Ayah melotot, menarik daun telinga Ayu sekuat tenaga. Anak kurang ajar kamu!" Ayu yang sudah sangat letih, langsung menangis. Ayah menghantam punggungnya lagi membuat rasa nyeri merambat ke bagian depan, dadanya terasa sesak. Sakit. "Jangan ringan tangan sama adikmu! Ngerti?!" Satu tamparan mendarat lagi di pipinya sebelum Ayah berlalu, meninggalkan Ayu tergugu di dalam bilik sempit itu. Ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Kenapa Ayah tidak bertanya dulu? Kenapa selalu Umar yang dibela? Ya Tuhan ... Hati Ayahnya bahkan tidak tergerak sama sekali mendengar isak pilu Ayu. Perlahan gadis malang itu beringsut, berjalan ke pinggir kali di belakang rumah. Di sana, dia bisa menangis sepuas hati. Mengadu pada Tuhan, meskipun Dia tampak diam saja selama ini. "Oalah Nduk, kenapa?" tanya Mbah Nanik, tetangga belakang rumah Ayu. "Dimarahi lagi?" Ayu diam, sesenggukan menahan tangis. Tak mampu menjawab, takut air matanya akan kembali tumpah jika ia bersuara. Semua tetangga sudah tahu bagaimana perlakuan ayah dan ibu terhadap Ayu, hal itu membuatnya semakin nelangsa karena malu dan merasa rendah diri. Tak dihargai, tak diinginkan. "Dipukul lagi?" cecar wanita itu. "Nggih, Mbah." "Oalah kasian banget nasibmu, Nduk," ujar Mbah Nanik, prihatin, "sebenernya, kamu itu anak kandung mereka apa bukan sih? Coba tanya, apa kamu ini anak angkat? Orang tua kok jahat banget sama anak sendiri." "Ngga berani, Mbah," jawab Ayu terbata. "Kalo ndak coba sekali-sekali kalo dipukuli kamu itu loh, jangan diem aja. Pura-pura teriak yang kenceng, apa pura-pura pingsan. Biar mereka kapok," geram wanita paruh baya itu. "Ngga berani, Mbah." jawab Ayu lirih, "nanti kalau ketahuan aku cuma pura-pura, malah aku tambah digebukin." "Cah ayu ... Sak no awakmu iku, Nduk ..." ujar Mbah Nanik lagi, "udah rajin, ga pernah neko-neko, lah kok masih disiksa gini toh ya. Anakku yang males, suka ngelawan aja ndak pernah kupukuli kaya gitu." Ayu semakin trenyuh, orang lain lebih menghargai usahanya daripada orang tuanya sendiri. Orang lain lebih memiliki hati dibanding mereka yang ia sebut orang tua. "Udah makan?" Ayu menggeleng pelan. Sebenarnya malu, tapi rasa lapar lebih mendominasi. "Sini masuk, si Mbah masak sayur genjer. Doyan to?" "Doyan, Mbah. Maturnuwun." Ayu mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumahnya dan menyendok nasi beserta lauk, ia makan dengan nikmat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD