Gemericik air dari pancuran shower menghantam bahu Ardi, namun panas yang menjalar di tubuhnya seolah tak kunjung padam. Di bawah guyuran air, Ardi memejamkan mata, membiarkan memori tentang jam-jam yang baru saja ia lalui bersama Mama Lian berputar ulang seperti film yang diputar lambat.
Aroma sabun mandi melati milik mertuanya yang memenuhi kamar mandi itu seolah mengunci indranya, mengingatkannya bahwa setiap sudut ruangan ini sekarang adalah saksi bisu pengkhianatannya.
Ardi menatap pantulan dirinya di cermin yang beruap. Wajahnya tampak sedikit lelah, namun matanya memancarkan kepuasan yang belum pernah ia rasakan bersama Tere. Ada sensasi berbahaya yang memicu adrenalinnya—fakta bahwa ia baru saja menaklukkan wanita yang selama ini ia hormati sebagai ibu. Namun ia dambai sebagai pemuas dahaga.
Ia teringat kembali kata-kata Mama Lian tentang ukuran yang membuatnya merasa seperti pria paling perkasa di dunia. Rasa bersalah yang sempat menyentuh hatinya saat membalas pesan Tere tadi kini benar-benar terkubur di bawah tumpukan gairah yang masih membara.
Setelah mengeringkan tubuhnya, Ardi hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya dan keluar dari kamar mandi. Kamar itu sudah tampak lebih rapi. Mama Lian tidak lagi berada di tempat tidur. Selimut yang tadinya berantakan sudah ditarik rapi, meski aroma percintaan mereka masih tertinggal tipis di udara, bercampur dengan bau asap rokok yang mulai memudar.
Ardi melangkah menuju balkon kamar yang menghadap ke taman belakang. Di sana, ia melihat Mama Lian sedang berdiri membelakanginya, mengenakan jubah mandi sutra tipis berwarna sampanye yang jatuh dengan anggun di tubuhnya. Rambut hitamnya yang tadi berantakan kini sudah disanggul asal, memperlihatkan tengkuk putihnya yang jenjang.
"Sudah selesai mandinya?" tanya Mama Lian tanpa berbalik.
"Sudah, Ma," Ardi mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Mama Lian dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di bahu wanita itu, menghirup aroma lehernya yang kini berbau minyak esensial yang menenangkan. "Mama sedang memikirkan apa?"
Mama Lian menghela napas, tangannya mengusap lengan Ardi yang kokoh.
"Mama sedang berpikir, betapa sunyinya rumah ini selama ini. Dan betapa gila apa yang baru saja kita lakukan. Kalau saja dinding rumah ini bisa bicara..."
"Biarkan saja mereka bicara, Ma. Tidak akan ada yang mendengar," bisik Ardi. "Tere tidak akan tahu. Tidak akan ada yang tahu. Ini adalah dunia kita untuk dua hari ke depan."
Mama Lian berbalik dalam dekapan Ardi. Tatapannya kini lebih lembut, namun masih menyisakan kilatan nakal. "Kamu lapar, kan? Mama tadi sudah menyiapkan sesuatu di bawah. Mari, kita harus mengisi tenaga."
Mereka turun ke lantai bawah. Suasana rumah yang besar dan megah itu terasa sangat berbeda. Biasanya, kehadiran Tere yang ceria dan cerewet memberikan kesan hidup yang normal. Namun sekarang, keheningan yang menyelimuti setiap sudut ruangan justru terasa sangat intim dan provokatif bagi Ardi. Seolah-olah rumah ini telah berubah menjadi istana tersembunyi di mana hanya ada dia dan ratunya.
Di meja makan dapur, Mama Lian sudah menyajikan hidangan yang tidak biasa. Ada Abalone yang dimasak dengan saus tiram, tumis sayuran hijau yang segar, dan kembali ada sup pir madu yang masih hangat.
"Abalone? Ini kan makanan mahal, Ma," ucap Ardi sambil duduk.
"Untuk menantu yang sudah bekerja keras pagi ini, tentu harus mendapatkan apresiasi yang setimpal," goda Mama Lian. Ia duduk di samping Ardi, bukan di depannya seperti semalam. Posisi yang jauh lebih intim.
Mama Lian mengambil sepotong abalone dan menyuapkannya langsung ke mulut Ardi. "Makanlah. Ini bagus untuk memulihkan energi."
Ardi mengunyah makanan itu, namun matanya tidak lepas dari bibir Mama Lian yang kini tampak basah dan merah. "Mama benar-benar ingin aku terus berstamina, ya?"
Mama Lian tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat berkelas. "Tentu. Mama tidak mau kamu menyerah di tengah jalan. Kita baru melewati beberapa jam, Ardi. Masih ada puluhan jam lagi sebelum Tere pulang. Mama ingin kamu memberikan segalanya yang tidak pernah kamu berikan pada istrimu."
Kata-kata itu memicu sesuatu dalam diri Ardi. "Mama cemburu pada Tere?"
Mama Lian terdiam sejenak, ia menyesap teh hangatnya dengan perlahan. "Cemburu? Mungkin bukan itu katanya. Hanya saja... Mama merasa sudah terlalu lama memberikan segalanya untuk orang lain. Dan sekarang untuk pertama kalinya, Mama ingin mengambil sesuatu untuk diri Mama sendiri. Dan sesuatu itu adalah kamu."
Ardi meraih tangan Mama Lian, mencium telapak tangannya dengan lembut. "Aku milik Mama sekarang. Setidaknya untuk saat ini."
Selesai makan, suasana kembali memanas. Bukannya beres-beres meja, Ardi justru menarik kursi Mama Lian agar lebih dekat dengannya. Ia menaikkan kaki Mama Lian ke atas pangkuannya, mengusap betis mulusnya yang selama ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan.
"Ardi, piring-piringnya belum dicuci..." gumam Mama Lian, namun suaranya sama sekali tidak menunjukkan penolakan.
"Biarkan saja. Hari ini kita benar-benar bebas," Ardi mulai menyingkap jubah mandi Mama Lian, memperlihatkan paha putih yang kembali mengundang gairahnya.
Mama Lian mendesah pelan, ia menyandarkan kepalanya di bahu kursi, membiarkan Ardi melakukan apa pun yang ia mau. "Kamu benar-benar tidak kenal lelah, ya? Sup pir itu memang tidak salah beli."
"Ini bukan karena supnya, Ma. Ini karena Mama," Ardi berbisik di telinga mertuanya.
Tiba-tiba telepon rumah yang terletak di ruang tengah berdering nyaring. Suaranya membelah keheningan dapur, membuat keduanya tersentak. Ardi menghentikan gerakannya.
"Jangan diangkat," ucap Ardi tegas.
"Mungkin itu dari kantor, atau saudara Mama di Singapura," Mama Lian tampak ragu.
"Biarkan saja. Kalau penting, mereka akan menelepon ke ponselmu. Jangan biarkan dunia luar masuk ke sini, Ma," Ardi meyakinkan.
Telepon itu terus berdering hingga tiga kali sebelum akhirnya mesin penjawab otomatis bekerja. Terdengar suara seorang wanita—suara kakak ipar Mama Lian.
"Lian, apa kamu di rumah? Aku tadi lewat depan rumahmu tapi pagarnya terkunci rapat. Aku mau titip oleh-oleh dari Shanghai. Kalau kamu bangun, telepon aku ya!"
Klik.
Suasana kembali sunyi.
Namun, interupsi itu meninggalkan sedikit rasa tegang. Mama Lian menatap Ardi dengan tatapan serius.
"Kita harus lebih hati-hati. Pagarnya memang harus selalu terkunci, dan mobilmu jangan diparkir di depan. Masukkan ke dalam garasi dalam," instruksi Mama Lian dengan nada memerintah yang kembali muncul.
Ardi mengangguk. "Aku sudah memasukkannya tadi pagi setelah Tere berangkat."
Mama Lian tersenyum puas, ia bangkit dari kursinya dan berdiri di depan Ardi. Ia melepaskan ikat pinggang jubah mandinya, membiarkan pakaian itu jatuh ke lantai tanpa beban.
Di bawah cahaya lampu dapur yang modern, tubuh Mama Lian tampak seperti patung pualam yang sempurna.
"Bagus. Karena mulai sekarang, Mama tidak ingin mendengar suara telepon, suara pagar, atau suara apa pun... kecuali suaramu yang memanggil nama Mama."
Ardi berdiri, gairahnya yang sempat terinterupsi kini meledak kembali dengan kekuatan ganda. Ia mengangkat Mama Lian dan mendudukkannya di atas meja makan, tepat di samping piring-piring bekas perjamuan mereka. Di atas meja itulah, babak baru dari pengkhianatan mereka dimulai kembali, jauh lebih liar dan tanpa batas dibandingkan sebelumnya.