06. Gairah Kenikmatan

1126 Words
Kamar itu kini bukan lagi sekadar ruangan tempat Mama Lian beristirahat, melainkan sebuah medan perang di mana moralitas dan akal sehat Ardi telah lama menyerah kalah. Suara desahan Mama Lian yang tertahan di sela-sela napasnya yang memburu menjadi satu-satunya melodi yang mengisi keheningan rumah besar itu. Cahaya matahari pagi yang menyelinap masuk melalui celah gorden sutra menciptakan garis-garis emas di atas kulit putih Mama Lian yang kini tampak berkeringat, memberikan kesan estetik pada pemandangan yang seharusnya penuh dengan rasa bersalah. Ardi benar-benar kehilangan kendali. Lidahnya terus menelusuri setiap inci kulit mertuanya dengan rasa lapar yang selama bertahun-tahun hanya ia simpan dalam liang fantasinya. Baginya, Mama Lian bukan sekadar wanita paruh baya, dia adalah sebuah mahakarya yang matang. Sebuah rahasia yang akhirnya terbuka lebar untuk ia jelajahi. Setiap kali Mama Lian mendesah atau melengkingkan namanya dengan suara parau, Ardi merasa seolah-olah ia baru saja memenangkan sebuah pertempuran besar. "Ardi... Ah, Sayang... cukup... jangan buat Mama gila..." Mama Lian meremas seprai satinnya dengan kuat, tubuhnya bergelinjang saat Ardi memberikan tekanan yang tepat pada titik paling sensitifnya. Ardi mengangkat wajahnya sejenak, menatap mata Mama Lian yang sayu dan penuh kabut gairah. Ia bisa melihat betapa wanita berwibawa ini telah luluh sepenuhnya di bawah kendalinya. Tidak ada lagi sosok ibu mertua yang elegan atau janda kaya yang angkuh. Di depannya hanyalah seorang wanita yang haus akan sentuhan, seorang wanita yang telah lama mengubur kebutuhannya demi citra dan keluarga. "Mama suka?" tanya Ardi dengan suara rendah yang menggetarkan. Mama Lian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik Ardi dan menarik pria itu untuk kembali mencium bibirnya. Ciuman kali ini terasa lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh dengan keputusasaan. Mama Lian seolah ingin menghisap seluruh energi masa muda yang dimiliki Ardi ke dalam dirinya. "Berbaring Ardi." Perintah Mama Lian. Ardi berbaring telentang. Mama Lian bangkit dan membuka seluruh celana Ardi. Tampak di depan matanya, tongkat Ardi yang sangat besar—20 cm—yang menjulang tegak dan keras. "Besar sekali, Sayang." Bisik Mama Lian dengan tersenyum tipis. Tangan Mama Lian kemudian mengelus-elus tongkat Ardi dengan lembut. Sebelum akhirnya memasukkannya ke mulutnya. Mama Lian begitu menikmatinya, membuat Ardi semakin dikuasai oleh nafsu tak terbendung. "Mama..." Desah Ardi. Mama Lian terus memainkan tongkat Ardi di dalam mulutnya. Semakin liar, semakin bernafsu. Hingga akhirnya, Mama Lian jongkok di atas Ardi. Memasukkan perlahan tongkat Ardi yang besar ke dalam lubang kenikmatannya. "Ah...Ardi. Ah... Sayang." Mama Lian meracau. Setelah semua tongkat Ardi masuk, Mama Lian bergoyang naik turun. Tangan Ardi meremas b****g padat Mama Lian, menikmati setiap kali goyangan darinya. Sesekali Ardi menghisap p******a Mama Lian dan memainkan lidahnya di put*ng dengan lembut. "Ah... Ardi. Syang..." Hanya ada desahan kenikmatan yang beradu di udara. Setelah Mama Lian meraih puncak kenikmatan pertamanya, ia terbaring lemas. Tanpa membuang waktu lebih lama, Ardi memosisikan dirinya. Ia memposisikan dirinya di atas tubuh Mama Lian, menatap lekat-lekat wajah Mama Lian saat ia perlahan menyatukan tubuh mereka. Mama Lian memejamkan matanya rapat-rapat, sebuah rintihan panjang lolos dari bibirnya yang merah. Ardi bisa merasakan betapa hangat dan sempitnya dunianya saat ini. Kata-kata Mama Lian semalam tentang stamina dan tidak akan membiarkannya tidur kembali berdengung di kepalanya, memicu kekuatannya untuk membuktikan bahwa ia memang pria yang dibutuhkan mertuanya itu. Di bawah gerak ritmis yang konsisten, Mama Lian berkali-kali membisikkan kata-kata dalam bahasa Mandarin yang Ardi tidak mengerti, namun nadanya sangat jelas: sebuah pujian dan kerinduan yang mendalam. Ardi terus memacu dirinya, tidak membiarkan Mama Lian beristirahat sedikit pun. Ia ingin meninggalkan jejak yang tak terlupakan pada wanita ini. Sebuah tanda bahwa mulai detik ini, Mama Lian adalah miliknya, meski hanya dalam kegelapan rahasia. Puncak gairah itu akhirnya pecah dalam sebuah gemuruh sunyi yang hanya dirasakan oleh mereka berdua. Ardi ambruk di atas tubuh Mama Lian, napas mereka beradu, menciptakan uap hangat di udara kamar yang dingin oleh AC. Jantung Ardi berdegup kencang, menempel tepat di d**a Mama Lian yang masih naik turun dengan tidak beraturan. Keringat mereka bercucuran. Keheningan setelah badai berjam-jam itu terasa sangat berat. Ardi perlahan bangkit, duduk di tepi ranjang sambil mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kesadarannya. Ia menatap punggung Mama Lian yang kini membelakanginya, tertutup sebagian oleh selimut yang berantakan. Rasa bersalah sempat terlintas di benaknya saat ia teringat wajah Tere yang tersenyum saat berpamitan tadi pagi. Namun bayangan itu segera menguap ketika ia merasakan tangan halus Mama Lian mengusap punggungnya. "Kamu hebat, Ardi... jauh melampaui apa yang Mama bayangkan," bisik Mama Lian. Ia kini duduk bersandar pada headboard ranjang, sama sekali tidak berusaha menutupi tubuhnya yang masih polos. Ia mengambil sebatang rokok dari laci meja riasnya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan di depan Tere. Ardi menoleh, sedikit terkejut melihat sisi lain dari mertuanya ini. "Mama merokok?" "Hanya saat Mama merasa sangat puas... atau sangat stres. Dan pagi ini, alasan pertama yang menang," sahut Mama Lian sambil mengembuskan asap tipis ke udara. Matanya menatap Ardi dengan tatapan yang sangat dewasa, tatapan seorang wanita yang tahu persis apa yang ia inginkan. "Terima kasih, Ardi. Kamu baru saja menghidupkan kembali sesuatu yang sudah lama mati di dalam sini." Ardi mendekat, mengecup kening Mama Lian yang halus. "Ini baru awal, Ma. Kita punya dua hari. Aku ingin Mama melupakan segalanya, melupakan kalau aku menantumu, melupakan kalau ada Tere di antara kita." Mama Lian tersenyum tipis. "Dua hari itu akan terasa sangat singkat kalau kamu terus seperti ini. Mandilah dulu, Mama akan buatkan makanan yang spesial. Kita butuh tenaga untuk ronde-ronde berikutnya, bukan?" Ardi tertawa kecil, ia merasa benar-benar berada di puncak dunia. Ia melangkah menuju kamar mandi di dalam kamar itu, merasa seperti seorang raja yang baru saja menaklukkan wilayah baru. Namun, tepat saat ia hendak menyalakan pancuran air, suara denting notifikasi dari ponselnya yang tertinggal di lantai terdengar. Ardi keluar sebentar dan memungut ponselnya. Tere:Mas, aku sudah sampai di hotel. Baru mau masuk kamar. Jangan lupa istirahat dan makan ya, titip salam buat Mama. Love you! Pesan itu seperti siraman air es yang mendadak mendinginkan gairahnya. Ardi menatap layar ponsel itu dengan tatapan kosong selama beberapa detik. Ia melirik ke arah ranjang, di mana Mama Lian sedang asyik dengan rokoknya, tampak begitu tenang dan tak berdosa. "Siapa?" tanya Mama Lian tanpa menoleh. "Tere. Sudah sampai hotel," jawab Ardi pendek. Mama Lian hanya mengangguk pelan, seolah informasi itu tidak ada pengaruhnya bagi dia. "Balas saja yang manis. Jangan buat dia curiga. Setelah itu, simpan ponselmu. Aku tidak mau ada gangguan untuk sisa hari ini." Ardi menghela napas, jemarinya dengan cepat mengetik balasan singkat: "Syukurlah. Hati-hati di sana. Love you too." Kebohongan itu meluncur begitu saja dengan sangat alami. Ardi melempar kembali ponselnya ke atas sofa dan masuk ke kamar mandi. Di balik gemericik air, ia menyadari satu hal: ia sudah masuk terlalu dalam. Tidak ada jalan kembali. Yang ada hanyalah labirin nikmat yang semakin gelap, dan ia bersedia tersesat di dalamnya bersama Mama Lian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD