Fajar baru saja menyingsing, menyebarkan rona kemerahan di ufuk timur yang menembus celah gorden kamar Ardi dan Tere.
Pagi itu, suasana kamar terasa lebih sibuk dari biasanya. Suara ritsleting koper yang ditarik dan langkah kaki Tere yang terburu-buru mondar-mandir antara lemari dan tempat tidur menjadi melodi pembuka hari.
Ardi duduk di tepi ranjang, masih mengenakan kaos oblong putih, memperhatikan istrinya yang sedang memastikan tidak ada peralatan mandi yang tertinggal.
Di dalam benaknya, ada perang batin yang berkecamuk. Sebagian kecil dirinya merasa kasihan melihat Tere yang begitu giat bekerja demi masa depan mereka, namun sebagian besar jiwanya—yang sudah diracuni oleh pesona Mama Lian, justru merasa tidak sabar menunggu pintu depan tertutup rapat dan suara mobil istrinya menjauh.
"Mas, jangan lupa ya, suplemennya sudah aku taruh di meja makan. Diminum biar nggak gampang sakit," ucap Tere sambil mendekat, memberikan pelukan singkat yang terasa hambar bagi Ardi.
"Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati di sana. Jangan terlalu capek," jawab Ardi, berusaha memberikan nada suara yang penuh perhatian yang meyakinkan.
Mereka turun ke bawah. Mama Lian sudah menunggu di meja makan dengan segelas kopi hitam untuk Ardi dan teh hangat untuk Tere. Pagi ini, Mama Lian tampak sedikit lebih tertutup dengan daster panjang berbahan katun. Namun bagi Ardi, imajinasinya sudah melampaui kain itu. Ia masih bisa merasakan kelembutan kulit betis yang ia gesek semalam di bawah meja.
"Ma, aku berangkat dulu ya. Titip Mas Ardi. Jangan dibiarin telat makan, dia kalau sudah asyik kerja suka lupa waktu." Pesan Tere sambil mencium punggung tangan ibunya.
Mama Lian tersenyum lembut, sebuah senyum yang tampak sangat tulus bagi Tere, namun terlihat penuh arti bagi Ardi. "Tenang saja, Re. Mama akan pastikan Ardi terurus dengan baik selama kamu nggak ada. Kamu fokus saja pada auditmu."
Kalimat itu membuat Ardi harus menunduk, pura-pura menyesap kopinya agar Tere tidak melihat kilatan di matanya. Setelah serangkaian pamitan, akhirnya mobil Tere bergerak keluar dari garasi. Suara pagar otomatis yang menutup kembali menandakan bahwa fase baru dalam rumah ini telah dimulai.
Begitu keheningan kembali menyelimuti rumah besar itu, atmosfer di ruang makan mendadak berubah. Tidak ada lagi percakapan formal atau basa-basi keluarga. Ardi meletakkan cangkir kopinya, matanya langsung terkunci pada sosok Mama Lian yang kini sedang berdiri menyandarkan punggungnya di lemari es, melipat tangan di depan d**a.
"Tere sudah pergi," bisik Ardi. Suaranya kini tidak lagi disamarkan. Berat dan penuh tuntutan.
Mama Lian berjalan perlahan mendekati meja makan, langkah kakinya tidak terdengar karena ia tidak mengenakan alas kaki. Ia berhenti tepat di samping kursi Ardi, lalu jemari lenturnya mulai membelai tengkuk Ardi dengan lembut.
"Iya, sudah pergi. Dan kamu... sepertinya sudah tidak sabar menagih janji Mama semalam." Sahut Mama Lian. Suaranya rendah, nyaris seperti desahan yang menggoda indra pendengaran Ardi.
Ardi menarik pinggang Mama Lian, memaksa wanita itu berdiri di antara kedua paha yang terbuka. Ia menatap wajah mertuanya yang masih tampak segar meski baru bangun tidur.
"Sup pir semalam benar-benar bekerja, Ma. Aku bahkan tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang Mama katakan semalam."
Mama Lian tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat matang dan penuh pengalaman. Ia menunduk, membiarkan rambut hitamnya yang harum jatuh menutupi sebagian wajahnya. "Baru satu malam saja sudah gelisah. Bagaimana kalau dua hari penuh?"
Tangan Ardi mulai merayap naik, merasakan lekuk tubuh Mama Lian dari balik daster katunnya. Meskipun tidak seseksi daster satin marun yang dikenakannya kemarin, fakta bahwa mereka kini benar-benar hanya berdua membuat setiap sentuhan terasa berkali lipat lebih intim.
"Mama tahu kan, aku sudah menginginkan ini sejak lama? Sejak aku pertama kali datang ke rumah ini sebagai calon suami Tere, tapi mataku tidak bisa berhenti menatap Mama," Ardi mengaku dengan napas yang mulai tidak teratur.
Mama Lian memejamkan matanya sejenak, menikmati pengakuan jujur dari menantunya. "Mama juga bukan wanita buta, Ardi. Mama tahu bagaimana caramu menatap Mama saat kita makan bersama, atau saat Mama sedang menyiram bunga di taman. Mama hanya mencoba untuk tetap menjadi ibu yang baik... sampai akhirnya kamu masuk ke dapur kemarin pagi."
Ardi berdiri, membuat posisi mereka kini sejajar. Tanpa aba-aba, ia meraup bibir Mama Lian, menciumnya dengan liar dan menuntut. Kali ini tidak ada ketakutan akan interupsi suara mobil atau langkah kaki Tere. Mereka memiliki seluruh rumah, dan seluruh waktu.
Mama Lian membalas ciuman itu dengan intensitas yang tak kalah hebat. Tangannya meremas bahu Ardi, seolah mencari pegangan agar tidak jatuh karena gelombang gairah yang menyerangnya. Desahan pelan lolos dari sela bibir mereka, memenuhi ruang makan yang kini menjadi saksi bisu pengkhianatan paling dalam.
"Ardi... di kamar saja. Jangan di sini," bisik Mama Lian di sela-sela ciuman mereka.
"Kamar Mama?" tanya Ardi dengan mata yang berkilat.
"Iya. Kamar Mama." Jawab Mama Lian dengan tatapan yang mengundang.
Ardi tidak menunggu lama. Ia mengangkat tubuh Mama Lian ke dalam gendongannya. Wanita paruh baya itu terasa begitu ringan namun berisi di tangannya. Sambil terus bertukar ciuman panas, Ardi melangkah menaiki tangga menuju kamar utama yang berada di sebelah ruang keluarga.
Di dalam kamar Mama Lian, aroma parfum lili dan minyak zaitun terasa jauh lebih kuat. Ruangan itu tertata rapi, elegan, dan mencerminkan kelas seorang wanita matang yang berwibawa. Ardi merebahkan Mama Lian di atas ranjang king-size yang empuk. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela memberikan efek dramatis pada kulit putih Mama Lian yang kini tampak berpendar.
Ardi mulai membuka pakaiannya, matanya tidak sedetik pun lepas dari sosok di depannya. Mama Lian berbaring dengan posisi miring, menopang kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya dengan perlahan menyingkap bagian bawah dasternya, memperlihatkan paha putihnya yang kencang.
"Tunjukkan pada Mama, Sayang. Apakah stamina yang kamu banggakan itu cukup untuk memuaskan rasa haus Mama selama bertahun-tahun ini?" tantang Mama Lian dengan senyuman yang sangat provokatif.
Ardi membuang pakaiannya ke lantai, menindih tubuh Mama Lian dengan perlahan. Ia bisa merasakan detak jantung mereka yang beradu, seirama dengan gairah yang siap meledak kapan saja.
"Mama tidak akan kecewa," bisik Ardi tepat di depan bibir Mama Lian, sebelum ia kembali menenggelamkan diri dalam kehangatan surga terlarang yang baru saja ia buka pintunya.
Mereka saling berciuman dengan penuh nafsu yang membara. Bibir, leher, dan p******a Mama Lian, tak luput dari permainan bibirnya.
Mama Lian mendesah panjang.
Ardi membuka seluruh pakaian Mama Lian.
Melepaskan bra dan celana dalam Mama Lian dengan sembarangan.
"Ah...Ardi, puasin Mama." Desah Mama Lia, terbata-bata.
Ardi semakin berani, ia kini berada tepat di lubang kenikmatan Mama Lian yang wangi. Tampak begitu terawat dan bersih, tanpa ada satupun bulu di sana. Ardi memainkan lidahnya dengan perlahan-lahan, membuat Mama Lian bergelinjang kenikmatan.
"Ah... Sayang... Ah, teruskan. Mama suka..." Ucap Mama Lian sambil mendesah.