04. Permainan Di Meja Makan

1110 Words
"Ma... Aku nggak tahan." Bisik Ardi. Mereka berciuman semakin liar. Ardi dan Mama Lian saling memainkan lidah mereka. Napas mereka semakin memburu. Tangan Ardi kembali meremas-remas b****g Mama Lian dengan penuh nafsu. Mama Lian semakin mendesah kenikmatan. Baru saja Mama Lian ingin membuka celana Ardi, tiba-tiba terdengar suara mesin mobil dari depan pagar rumah. Mama Lian dan Ardi buru-buru menyudahi pergumulan mereka. Sensasi panas yang baru saja menjalar di sekujur tubuh Ardi seketika berubah menjadi aliran adrenalin yang dingin. Ardi dengan berat hati melepaskan cengkeramannya pada b****g padat Mama Lian, sementara wanita itu dengan cekatan menarik tangannya dari s**********n Ardi. "Naik, Ardi! Cepat!" bisik Mama Lian. Suaranya gemetar. Ardi menyambar segelas air di meja untuk menetralkan kegugupannya, lalu melangkah menaiki tangga kayu rumah itu. Ia baru saja mencapai bordes lantai dua ketika pintu depan terbuka. Dari balik bayangan pilar, Ardi melihat Tere masuk dengan wajah kuyu. "Ma? Aku pulang! Tadi kliennya batalin rapat mendadak, jadi aku bisa pulang lebih cepat," seru Tere. Ardi menarik napas panjang, mengatur detak jantungnya yang masih memburu. Ia segera masuk ke kamar mandi, mengguyur wajahnya dengan air dingin. Di cermin, ia melihat pantulan pria yang baru saja hampir melompati batas moral paling suci dalam hidupnya. Namun, bukannya merasa bersalah, Ardi justru merasa lebih hidup dari sebelumnya. Pujian Mama Lian tentang ukurannya masih terngiang-ngiang, membuat kejantanannya masih terasa berdenyut di balik celana kainnya. Sepuluh menit kemudian, Ardi turun ke ruang makan dengan kemeja bersih yang sudah rapi. Di sana, di bawah terang lampu kristal yang megah, pemandangan itu tersaji: Istrinya, Tere masih duduk dengan pakaian kerjanya sambil memijat keningnya. Di depannya, Mama Lian sedang menata mangkuk-mangkuk keramik putih berisi sup pir madu yang aromanya manis dan harum. "Eh, Mas sudah turun? Sini makan, Sayang. Kata Mama, Mas dari tadi sudah lapar," ucap Tere sambil tersenyum manis ke arah suaminya. "Kita nggak jadi makan di luar ya, Mas. Aku juga lagi capek banget. Untung aja Mama tadi masak." Ucap Tere. Ardi duduk di kursi tepat di depan Mama Lian, sementara Tere berada di sisi kanannya. Posisi ini adalah siksaan sekaligus anugerah. Di hadapannya, Mama Lian tampak begitu tenang, seolah-olah gairah liar di dapur beberapa menit lalu hanyalah mimpi. Ia sudah kembali menjadi sosok ibu mertua yang elegan, meski kaos nude ketat yang ia kenakan masih mencetak jelas lekuk tubuhnya yang matang dan kencang. "Ini, dimakan supnya. Masih panas," ucap Mama Lian. Ia meletakkan mangkuk di depan Ardi. Ardi menyendok sup itu. Rasa manis buah pir madu yang dipadukan dengan rempah rahasia khas Tionghoa mengalir di tenggorokannya. "Enak banget, Ma. Segar," ucap Ardi, suaranya sedikit serak. "Harus habis ya, Di. Mama beli pir ini tadi di tukang buah keliling. Ini Mama buat khusus supaya stamina kamu terjaga. Akhir-akhir ini kamu kelihatannya capek sekali," sahut Mama Lian dengan nada bicara yang sopan, namun Ardi tahu ada makna ganda di balik kata stamina itu. Tere tertawa kecil, tidak menaruh curiga sedikit pun. "Iya, Mas. Mama perhatian banget kan? Aku aja jarang dibuatkan sup ini kalau nggak lagi sakit benar." Tere kemudian menyuap supnya sendiri. "Tapi emang sih, Mas, kamu harus fit. Biar nanti kalau kita program anak, kamu sudah siap." Mendengar kata program anak dari mulut Tere, Ardi merasa ada sesuatu yang ironis. Di saat istrinya merencanakan masa depan, Ardi justru sedang tenggelam dalam obsesi masa lalu yang kini menjadi nyata pada sosok ibu mertuanya sendiri. Di bawah meja makan yang tertutup taplak panjang, Ardi merasa tertantang. Ia sengaja menjulurkan kakinya, mencari-cari kaki Mama Lian. Begitu ujung jempol kakinya bersentuhan dengan kulit halus betis Mama Lian, ia merasakan wanita itu tersentak pelan. Namun, Mama Lian tidak menjauhkan kakinya. Ardi semakin berani. Ia menggesekkan kakinya naik ke atas, menyentuh lutut Mama Lian. Ia bisa melihat tangan Mama Lian yang sedang memegang sendok sedikit gemetar, namun wanita itu tetap melanjutkan makannya seolah tidak terjadi apa-apa. "Mama kenapa? Kok makannya pelan banget?" tanya Tere tiba-tiba, membuat Ardi hampir menarik kakinya karena terkejut. Mama Lian menarik napas dalam, wajahnya tampak sedikit lebih merah dari biasanya. "Nggak apa-apa, Re. Supnya agak panas, jadi Mama harus pelan-pelan," jawabnya dengan suara yang sangat terkontrol. Ia kemudian menatap Ardi dengan tatapan tajam yang seolah berkata: Berhenti atau kita akan ketahuan. Namun, Ardi justru melihat tantangan di sana. Ia tidak berhenti. Kakinya terus bermain di betis Mama Lian, memberikan sensasi nakal yang membuat suasana di meja makan itu terasa begitu tegang bagi mereka berdua. "Oh iya, Mas. Besok aku harus ke luar kota selama dua hari. Ada audit cabang. Kamu nggak apa-apa kan di rumah sama Mama?" Ucap Tere tiba-tiba. Jantung Ardi seolah berhenti berdetak sesaat. Dua hari. Dua malam di rumah ini hanya bersama Mama Lian. Ia melirik ke arah mertuanya dan kali ini, Mama Lian tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Ada binar gairah yang menyala di mata wanita paruh baya itu. "Nggak apa-apa, Sayang. Kan ada Mama. Kamu fokus aja kerjanya, yang penting tetap jaga kesehatan dan jaga diri di sana." Jawab Ardi berusaha sesantai mungkin. "Iya, Re. Biar Ardi Mama yang urus di sini. Kamu jangan khawatir," tambah Mama Lian. Kalimat Mama yang urus itu terdengar sangat berbeda di telinga Ardi. Selesai makan, Tere naik ke atas untuk mandi dan berganti pakaian. Ia juga terlihat sangat lelah dan mengantuk. Beban kerja seharian benar-benar menguras energinya. "Aku ke atas dulu ya, Mas, Ma. Mandi terus langsung istirahat. Ngantuk banget, pusing. Mas Ardi, bantuin Mama beresin meja ya sebentar." "Iya, Sayang. Sana istirahat," ucap Ardi sambil mengecup kening Tere. Begitu suara langkah kaki Tere menghilang di lantai atas dan pintu kamar terdengar tertutup, suasana di ruang makan itu langsung berubah. Mama Lian meletakkan sendoknya dengan denting yang cukup keras. Ia berdiri, menatap Ardi dengan napas yang mulai tidak teratur lagi. "Kamu benar-benar nekat, Ardi. Bagaimana kalau Tere melihat gerakan kakimu tadi?" Ardi ikut berdiri, melangkah mendekat hingga d**a bidangnya menempel pada bahu Mama Lian. "Tapi Mama menikmatinya, kan?" Mama Lian berbalik, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Ardi. Ia menghela napas panjang, sebuah desahan pasrah yang sangat seksi. "Sup pir itu memang untukmu, Ardi. Tapi sepertinya efeknya jauh lebih cepat dari yang Mama bayangkan." Ardi merangkul pinggang Mama Lian, menariknya hingga tidak ada celah di antara mereka. Di bawah temaram lampu kristal, kecantikan Mama Lian yang matang tampak begitu mempesona. "Besok Tere berangkat ke luar kota, Ma. Rumah ini akan jadi milik kita." Mama Lian mengelus d**a Ardi, jarinya bermain di kancing kemeja menantunya itu. "Kalau begitu, habiskan malam ini dengan istrimu. Simpan tenagamu untuk besok... karena Mama tidak akan membiarkanmu tidur sedetik pun saat dia pergi." Ardi menelan ludah. Janji itu terdengar jauh lebih manis daripada sup pir manapun di dunia ini. Ia mengecup leher Mama Lian sekali lagi, sebelum akhirnya mereka berpisah untuk malam itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD