14. Babak Baru

1143 Words

Pagi itu menyelinap masuk melalui celah gorden tanpa membawa sedikit pun rasa lega. Langit di luar masih dibungkus sisa mendung yang enggan beranjak sejak dua hari terakhir. Cahaya matahari yang jatuh di lantai kamar terasa dingin, pucat, dan sama sekali tidak menenangkan. Ardi sudah terjaga bahkan sebelum azan subuh berkumandang. Ia duduk mematung di tepi ranjang kamar tamu—sengaja memilih ruangan ini, jauh dari kamar utama yang selama dua hari terakhir menjadi saksi bisu atas segala kekacauan yang terjadi. Ada jarak yang mulai ia bangun secara sadar. Atau mungkin, jarak yang terpaksa ia ciptakan demi kewarasannya sendiri. Layar ponsel masih menyala, tidak ada pesan baru sejak tengah malam. Kesunyian itu justru terasa lebih mengancam daripada teror mana pun. Terlalu sepi, terlalu tenang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD