Pagi itu menyelinap masuk melalui celah gorden tanpa membawa sedikit pun rasa lega. Langit di luar masih dibungkus sisa mendung yang enggan beranjak sejak dua hari terakhir. Cahaya matahari yang jatuh di lantai kamar terasa dingin, pucat, dan sama sekali tidak menenangkan.
Ardi sudah terjaga bahkan sebelum azan subuh berkumandang. Ia duduk mematung di tepi ranjang kamar tamu—sengaja memilih ruangan ini, jauh dari kamar utama yang selama dua hari terakhir menjadi saksi bisu atas segala kekacauan yang terjadi. Ada jarak yang mulai ia bangun secara sadar. Atau mungkin, jarak yang terpaksa ia ciptakan demi kewarasannya sendiri.
Layar ponsel masih menyala, tidak ada pesan baru sejak tengah malam. Kesunyian itu justru terasa lebih mengancam daripada teror mana pun. Terlalu sepi, terlalu tenang, seolah-olah badai di luar sana sedang menahan napas sebelum benar-benar menghantam.
Dari lantai bawah, terdengar suara langkah kaki Mama Lian yang sudah bangun. Ardi bisa membayangkan sosoknya yang rapi, tenang, dan sepenuhnya terkendali. Namun pagi ini, ada sesuatu yang berbeda pada wanita itu. Ia mengenakan pakaian rumah yang sangat bersahaja—jauh dari kesan provokatif atau mengundang. Rambutnya disanggul rapi tanpa cela, wajahnya polos tanpa riasan berlebih.
Dalam sekejap, ia telah bertransformasi kembali menjadi sosok ibu yang ideal. Sosok yang seharusnya, meski itu hanyalah topeng di permukaan. Di balik ketenangan itu, Ardi tahu pikiran Mama Lian sedang bekerja cepat—menghitung langkah, menyusun rencana, dan menunggu momentum.
"Cepat turun," suara itu terdengar datar dari lantai bawah. Tidak perlu teriakan keras, namun cukup untuk membuat Ardi refleks berdiri dengan punggung menegang.
Suasana di meja makan terasa begitu asing, padahal ini adalah sudut rumah yang sama tempat segalanya bermula. Namun kali ini, tidak ada lagi permainan kaki nakal di bawah meja. Tidak ada tatapan penuh arti atau kode-kode tersembunyi. Hanya ada dua orang yang duduk berhadapan bak orang asing yang terpaksa berbagi rahasia gelap yang sama.
"Dia belum hubungi kamu lagi?" tanya Mama Lian sambil menuangkan teh dengan gerakan yang sangat stabil.
Ardi menggeleng pelan. "Belum."
Mama Lian mengangguk, menyesap uap tehnya. "Bagus," ucapnya singkat.
Alis Ardi bertaut rapat. "Bagus? Apanya yang bagus?"
Mama Lian mengangkat cangkirnya, menatap Ardi dengan mata yang sulit dibaca. "Artinya dia sedang memberi kita waktu. Dia membiarkan kita berhalusinasi bahwa kita masih punya pilihan." Kalimat itu menggantung. Atmosfer ruangan terasa seketika memberat, seolah oksigen mendadak menyusut.
Suara deru mobil terdengar dari arah gerbang. Keduanya langsung membeku secara refleks. Ardi menoleh cepat ke arah pintu, sementara Mama Lian tetap pada posisinya, meski jemarinya yang memegang cangkir sempat berhenti bergerak selama sepersekian detik.
Suara pagar yang terbuka dan tertutup kembali terdengar nyaring. Langkah kaki yang terburu-buru, bunyi gesekan roda koper di atas aspal, dan kemudian sebuah suara yang memecah segalanya.
"Ma? Mas? Aku pulang!"
Itu suara Tere. Ceria, penuh energi, dan sangat normal. Suara seseorang yang sama sekali tidak tahu bahwa dunianya sedang berada di ambang kehancuran.
Untuk sesaat, waktu seolah berhenti berputar. Ardi dan Mama Lian saling melempar pandang dalam kebisuan yang pekak. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan, namun satu hal menjadi sangat jelas: permainan baru saja berubah level.
Pintu terbuka lebar. Tere melangkah masuk dengan senyum yang merekah di wajahnya yang tampak lelah namun bahagia. Rambutnya sedikit berantakan karena perjalanan, tapi matanya berbinar saat meletakkan koper di samping sofa.
"Capek banget... tapi untungnya semua urusan beres," keluhnya ringan sebelum menyadari keberadaan mereka. "Wah, kompak banget. Lagi sarapan bareng?"
Mama Lian langsung menyunggingkan senyum—sebuah akting yang sempurna, hangat, dan tanpa cela. Seolah-olah dua hari penuh dosa itu tidak pernah terjadi. "Iya, Re. Kamu sudah makan?" tanyanya lembut.
Ardi hanya bisa terpaku menatap pemandangan itu. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari betapa mengerikannya bakat akting Mama Lian. Tere mendekat dan langsung menghambur memeluk ibunya. "Aku kangen banget, Ma."
Mama Lian membalas pelukan itu dengan gerakan yang begitu natural. Tidak ada celah, tidak ada keraguan, tidak ada tanda-tanda pengkhianatan yang tersisa di sana. Setelah itu, Tere beralih pada Ardi. "Mas..."
Ardi berdiri dengan kaku. Saat Tere memeluknya dengan tulus dan penuh kerinduan, rasa bersalah itu menghantamnya lebih keras daripada ancaman mana pun. "Mas baik-baik saja, kan?" tanya Tere, mendongak menatap suaminya.
Ardi menelan ludah, tenggorokannya terasa kering kerontang. "Iya," jawabnya singkat. Satu kata sederhana yang terasa seperti kebohongan paling busuk yang pernah ia ucapkan seumur hidup.
Kini mereka bertiga duduk bersama di meja makan. Untuk pertama kalinya sejak badai ini dimulai, mereka berada di satu meja dengan realitas yang berbeda di kepala masing-masing.
Tere mulai bercerita panjang lebar tentang auditnya, tentang hotel tempatnya menginap, dan klien-klien yang menyebalkan. Suaranya mengalir ringan, membuat dunia seolah-olah masih baik-baik saja.
Ardi hanya mampu menyimak setengah dari cerita itu. Pikirannya terseret ke arah lain, dipenuhi kecemasan yang meluap-luap. Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar sekali. Pendek, tapi cukup untuk membuat jantungnya mencelos.
Ia tidak berani langsung memeriksanya. Namun, ia bisa merasakan mata Mama Lian yang tajam sedang mengawasinya. Tatapan mereka bertemu sekejap dalam diam yang penuh tekanan. Ardi akhirnya memberanikan diri membuka ponsel di bawah meja. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Unknown: Akhirnya pulang juga, ya.
Darah Ardi serasa membeku. Ia membaca kalimat itu berulang kali sebelum pesan kedua menyusul masuk.
Unknown: Sekarang permainan jadi lebih menarik.
Ardi menahan napas sehalus mungkin agar tidak memancing kecurigaan Tere.
"Mas? Kok diam saja?" suara Tere tiba-tiba memotong lamunannya.
Ardi langsung mengangkat wajah, mencoba memasang ekspresi senormal mungkin. "Eh... iya, Re. Mas dengerin kok," jawabnya cepat. Tere tersenyum, belum menaruh curiga sedikit pun.
Di bawah meja, jemari Ardi yang gemetar mengetik balasan dengan cepat.
Ardi: Apa yang tante mau sekarang?
Balasan itu tidak datang seketika, namun beberapa detik kemudian, getaran itu kembali terasa.
Unknown: Sekarang? Aku cuma mau lihat seberapa hebat kamu berbohong tepat di depan istrimu sendiri.
Ardi terpaku. Tekanan ini benar-benar tidak memberinya ruang untuk bernapas. Mama Lian menyadari perubahan raut wajah Ardi; matanya menyipit, namun ia tetap bungkam, menunggu langkah Ardi selanjutnya.
Unknown: Senyum. Dan bilang sesuatu yang manis ke Tere.
Ardi memejamkan mata sesaat, merasa tercekik oleh naskah yang sedang didiktekan padanya. Ia membuka mata, menatap wajah tulus Tere yang masih tersenyum padanya.
"Re..." ucap Ardi pelan.
Tere menoleh manis. "Iya, Mas?"
Ardi memaksakan sebuah senyuman yang ia harap terlihat meyakinkan. "Kayaknya aku benar-benar kangen sama kamu dua hari ini." Kalimat itu meluncur begitu halus, terdengar sangat natural di telinga orang awam, padahal di dalamnya, sesuatu dalam diri Ardi terasa runtuh berkeping-keping.
Tere tersenyum lebih lebar, wajahnya merona. "Serius?" Ardi hanya mampu mengangguk pelan.
Buzz. Ponselnya bergetar lagi.
Unknown: Bagus. Aku suka itu. Sekarang kita lanjut pelan-pelan. Aku mau lihat seberapa lama kamu bisa bertahan di panggung ini.
Ardi langsung mengunci layar ponselnya dengan tangan yang terasa dingin. Di hadapannya, Tere masih asyik bercerita, sementara di sampingnya, Mama Lian duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi, matanya tidak pernah benar-benar lepas dari Ardi.
Rumah ini kini bukan lagi tempat tinggal, melainkan panggung sandiwara di mana semua orang dipaksa berakting. Sementara hanya ada satu orang di luar sana yang memegang naskahnya.