Ardi menatap mata wanita di depannya, berusaha membaca apa yang sebenarnya tersembunyi di balik rencana itu. “Dan setelah kita masuk ke sana? Apa yang akan terjadi?”
Mama Lian tersenyum lagi. Tipis, namun sangat dingin. “Baru setelah itu, kita balikkan semua keadaannya.”
Ardi menghela napas panjang, mencoba meredakan kecamuk di kepalanya. “Dia nggak bodoh, Ma. Dia pasti tahu kalau kita sedang merencanakan sesuatu.”
Mama Lian menjawab tanpa ragu sedikit pun. “Aku juga tidak bodoh.”
Nada suaranya sangat tegas. Tidak ada emosi yang meluap, hanya sebuah keyakinan yang begitu absolut. Dan hal itu berhasil membuat Ardi terdiam seribu bahasa.
Selama beberapa saat, mereka hanya saling menatap dalam diam. Namun dalam keheningan itu, Ardi mulai menyadari sesuatu yang berbeda. Mama Lian tidak lagi hanya sekadar bereaksi terhadap ancaman yang datang. Dia sudah mulai bergerak. Dia sudah mulai menyerang balik dengan caranya sendiri.
“Mulai sekarang,” lanjut Mama Lian dengan otoritas yang tak terbantahkan, “kamu tidak boleh melakukan improvisasi sendiri. Jangan mengambil langkah apa pun tanpa persetujuanku.”
Ardi mengernyitkan dahi. “Maksud Mama?"
“Setiap kali dia meminta sesuatu padamu… apa pun itu, sekecil apa pun itu, kamu harus memberitahu Mama terlebih dahulu.”
Ardi langsung menggelengkan kepala. “Tapi dia sudah memperingatkan, kalau aku menceritakannya...”
“Aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang dia katakan!” potong Mama Lian dengan suara yang tiba-tiba berubah tajam.
Auranya berubah drastis. Kini ia terlihat jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya. “Kamu mungkin merasa sudah masuk ke dalam kendalinya,” lanjutnya dengan nada mengancam, “tapi jangan pernah lupa satu hal… kamu bisa masuk ke dalam semua kerumitan ini karena kamu mengikuti Mama. Jadi, tetaplah di jalurku.”
Kalimat itu menggantung dengan sangat berat di udara. Jelas sekali apa arti di baliknya: sebuah pengingat akan kesetiaan dan hierarki. Ardi menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak membantah, karena ia tahu ia memang tidak akan pernah bisa menang mendebat wanita ini.
Tiba-tiba, ponsel di tangan Ardi bergetar lagi. Keduanya langsung menoleh secara refleks ke arah perangkat kecil itu. Ardi membuka layarnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Sebuah pesan baru telah masuk.
Unknown: Masih duduk di ruang tengah, kan?
Ardi menatap layar itu selama beberapa detik dengan napas tertahan. Lalu, tanpa ia sadari, matanya melirik ke arah Mama Lian—sebuah reaksi refleks yang menunjukkan bahwa ia mulai mencari perlindungan. Reaksi kecil itu sudah cukup bagi Mama Lian untuk memahami situasi. Ia hanya tersenyum tipis.
“Jawab,” perintahnya pelan.
Ardi mengetikkan balasan dengan jari yang kaku.
Ardi: Iya.
Hanya butuh beberapa detik bagi lawan bicara di sana untuk membalas.
Unknown: Bagus. Sekarang jangan pindah ke mana-mana. Aku sangat suka membayangkanmu duduk manis di sana.
Ardi membaca pesan itu tanpa ekspresi, namun di dalam dadanya, ada sesuatu yang terasa menekan dengan sangat kuat—rasa muak yang bercampur dengan ketakutan.
Mama Lian memperhatikan perubahan raut wajah putranya dengan seksama. “Dia mulai merasa nyaman dengan posisinya,” gumam Mama Lian pelan.
Ardi menoleh. “Maksud Mama?”
“Dia mulai melihatmu sebagai sebuah objek, sesuatu yang bisa dia bentuk dan dia kendalikan sesuka hati,” jelas Mama Lian dengan nada tenang.
Ardi mengatupkan rahangnya dengan rapat. “Dan itu adalah masalah besar buat kita.”
Mama Lian mengangguk perlahan. “Ya, tentu saja. Tapi di sisi lain, itu juga adalah sebuah peluang yang sangat bagus untuk kita manfaatkan.”
Mama Lian kembali berdiri tegak. Kali ini ia berjalan mendekat, benar-benar merapatkan jaraknya dengan Ardi. Ia membungkuk sedikit hingga bibirnya berada tepat di samping telinga Ardi, membiarkan suaranya merayap masuk ke dalam pikiran pria itu.
“Mulai sekarang…” bisiknya dengan suara yang sangat rendah, “biarkan saja dia merasa seolah-olah dia telah memenangkan segalanya.”
Ardi memejamkan matanya sejenak. Nada bicara itu—ia tahu betul—itu bukan lagi sebuah saran atau ajakan untuk bekerja sama. Itu adalah sebuah perintah mutlak yang harus dipatuhi.
“Lalu bagaimana dengan Mama sendiri?” tanya Ardi dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Mama Lian kembali berdiri tegak, menatap Ardi dari posisi yang lebih tinggi. Tatapannya saat ini benar-benar telah bertransformasi dibandingkan saat mereka pertama kali berada di rumah ini. Tidak ada lagi kehangatan, tidak ada lagi kasih sayang yang manipulatif. Yang tersisa hanyalah kontrol yang murni dan dingin.
“Aku akan mencari caraku sendiri untuk menghentikan permainan ini,” ucapnya tegas.
Ia berhenti sejenak, memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya. “Entah itu dengan bantuanmu, atau tanpa bantuanmu sama sekali.”
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti sebilah pisau yang tajam. Ardi langsung menoleh, matanya membelalak tak percaya.
“Ma… apa maksud Mama dengan itu?”
Namun Mama Lian tidak berniat memberikan jawaban lebih lanjut. Ia justru berbalik badan dan berjalan dengan langkah mantap menuju tangga. Langkahnya tetap tenang dan berirama, namun sekarang, ada sebuah sekat yang sangat jelas dan tebal yang baru saja ia bangun di antara mereka.
Ardi tetap terduduk kaku di atas sofa, ponsel masih tergenggam erat di tangannya yang dingin. Namun kini, tekanan yang ia rasakan bukan lagi hanya berasal dari Evelyn dan pesan-pesan misteriusnya. Ada sesuatu yang lain—sesuatu yang berada jauh lebih dekat, namun terasa jauh lebih berbahaya dan tak terduga.
Mama Lian mendadak berhenti tepat di ujung tangga. Ia tidak langsung masuk ke dalam kamarnya, melainkan berdiri diam membatu di sana. Matanya menyipit, menatap ke arah bawah, ke arah Ardi yang masih duduk mematung di ruang tengah.
Tatapannya dingin, terukur, dan penuh dengan rahasia yang tidak terkatakan.
“Kalau kamu pikir kamu adalah satu-satunya orang yang cukup pintar untuk bisa bermain di dua sisi sekaligus…” gumamnya dengan suara yang sangat pelan, nyaris tak terdengar oleh udara sekalipun. “Maka itu artinya kamu memang belum benar-benar mengenal siapa Mamamu yang sebenarnya.”
Malam yang panjang itu akhirnya berakhir tanpa sebuah sentuhan fisik sedikit pun. Tanpa gairah yang membara, dan tanpa ilusi-ilusi manis yang biasanya mereka ciptakan. Yang tersisa hanyalah tiga orang pemain yang kini sudah berada di posisinya masing-masing, mulai menyusun langkah dan siasat di dalam gelap.
Dan tanpa mereka sadari sepenuhnya, permainan ini telah berubah wujud secara total. Ini bukan lagi sekadar soal menjaga rahasia agar tidak terbongkar, melainkan soal siapa yang akan tetap berdiri tegak saat seluruh pondasi di sekitar mereka mulai runtuh dan hancur berkeping-keping.