12. Permainan Tanpa Sentuhan

1173 Words
Malam kali ini merambat turun dengan aura yang benar-benar berbeda. Keheningan yang menyelimuti rumah itu tidak lagi membawa sisa-sisa gairah yang biasanya memenuhi udara. Tak ada lagi desahan halus yang mengisi ruang-ruang kosong. Yang tertinggal saat ini hanyalah sebuah ketegangan—begitu tipis, namun terasa sangat tajam, serupa kawat baja yang ditarik terlalu kencang hingga nyaris putus. Ardi masih bergeming di sofa ruang tengah. Ponselnya tergeletak pasrah di dalam genggaman, layarnya memang sudah mati dan gelap, namun bayangan pesan-pesan yang baru saja dibacanya masih terus berputar di kepala, berdengung seperti gema yang menolak untuk hilang. Ia tidak bergerak sedikit pun, bahkan mungkin tidak benar-benar sedang berpikir. Ardi hanya merasa terjebak dalam pusaran yang ia buat sendiri. Di lantai atas, Mama Lian berdiri mematung di depan cermin besar di kamarnya. Pantulan dirinya menatap balik dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia terlihat tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang dunianya baru saja diguncang. Tangannya bergerak perlahan merapikan rambut, menyisir helai demi helai dengan gerakan yang sangat terkontrol. Tidak ada lagi sisa emosi dari badai sebelumnya; tidak ada kepanikan, apalagi amarah yang meledak-ledak. Semua gejolak itu telah mengendap, mendingin, dan perlahan-lahan berubah bentuk menjadi sesuatu yang lebih berbahaya. “Kalau kamu mau menang…” gumamnya pelan pada bayangannya sendiri di cermin, “kamu sama sekali tidak boleh terlihat seolah-olah sedang kalah.” Ia meletakkan sisir itu dengan gerakan anggun namun pasti. Matanya menyipit sedikit, otaknya mulai bekerja keras menyusun strategi. Saat ini, ia tidak sedang berpikir sebagai seorang wanita, apalagi sebagai seorang ibu. Ia berpikir sebagai seseorang yang telah terbiasa memegang kendali atas segala situasi. Dan sekarang, ketika ia menyadari bahwa kendali itu sedang direbut paksa dari tangannya, ada satu hal yang pasti: itu adalah penghinaan yang tidak akan pernah bisa ia terima begitu saja. Mama Lian melangkah keluar kamar dan mulai menuruni tangga dengan langkah yang sangat tenang. Setiap pijakannya terasa ringan, nyaris tak bersuara di atas lantai kayu, namun kehadirannya terasa begitu berat—seperti bayangan gelap yang perlahan-lahan menelan cahaya di ruangan itu. Ardi bahkan tidak menyadari bahwa wanita itu sudah berdiri tepat di belakangnya. “Sudah selesai?” Suara Mama Lian muncul tiba-tiba, memecah kesunyian. Ardi sedikit tersentak, bahunya menegang saat ia menoleh ke arah sumber suara. “Untuk sekarang… iya,” jawabnya dengan nada suara yang nyaris berbisik. Mama Lian berjalan memutari sofa dengan gerakan yang diperhitungkan, lalu duduk di sisi lain. Ia menjaga jarak yang sangat spesifik—tidak terlalu dekat untuk memberi kenyamanan, namun tidak terlalu jauh untuk melepaskan pengawasan. Sebuah jarak yang disengaja. Jarak yang terasa sangat dingin. “Dia minta apa lagi?” tanya Mama Lian langsung pada intinya. Ardi terdiam sejenak. Pertanyaan itu terdengar sangat sederhana di telinga, namun ia tahu betul bahwa jawabannya jauh dari kata mudah. Ia harus memilih kata-kata yang tepat. “Dia cuma… mau aku menurut,” ucap Ardi akhirnya, mengakui kekalahan kecilnya. Mama Lian menatapnya dalam-dalam, seolah sedang menganalisis setiap inci kejujuran di wajah putranya. “Maksudnya?” tanyanya menuntut penjelasan lebih. Ardi menghela napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya. “Dia mulai dari hal-hal kecil. Dia ingin mengontrolku. Menyuruhku mengirim foto, menyuruhku duduk, bahkan menyuruhku tersenyum…” Kalimatnya menggantung di udara. Ia tidak sanggup melanjutkan detailnya, namun itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan situasinya. Mama Lian mengangguk pelan. Tidak ada raut kaget di wajahnya, seolah-olah semua perilaku obsesif itu memang sudah masuk dalam dugaannya. “Bagus,” ucapnya tiba-tiba, sebuah kata yang terasa sangat kontradiktif. Ardi mengernyitkan dahi, bingung. “Bagus?” Mama Lian menyandarkan punggungnya ke sofa dengan santai. “Ya. Itu artinya dia belum berniat untuk menghancurkan kita sekarang juga.” Ardi tertawa kecil—sebuah tawa yang kering dan sama sekali tidak mengandung humor. “Atau… mungkin dia justru sedang sangat menikmati saat melihat kita hancur perlahan-lahan secara mental.” Mama Lian menoleh, menatap Ardi dengan tatapan datar yang menusuk. “Keduanya memiliki arti yang sama saja bagiku,” balasnya dingin. Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Namun kali ini, ini bukan lagi keheningan yang kosong. Ini adalah keheningan yang penuh dengan perhitungan, seolah ada papan catur tak kasat mata yang baru saja digelar di antara mereka berdua. Beberapa detik berlalu dalam sunyi yang mencekam sebelum akhirnya Mama Lian kembali bersuara. “Dia ingin kontrol,” ucapnya dengan nada analitis. “Itu berarti dia membutuhkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menyimpan rahasia kita.” Ardi menatap Mama Lian dengan tatapan lelah. “Dia sudah punya segalanya untuk menghancurkan kita, Ma. Apa lagi yang dia butuhkan?” Mama Lian menggelengkan kepalanya perlahan. “Tidak,” katanya tegas. “Kalau tujuan utamanya benar-benar hanya ingin menghancurkan kita, dia pasti sudah melakukannya sejak kemarin malam. Dia tidak akan membuang waktu untuk bermain-main seperti ini.” Ardi tidak menjawab. Logika itu masuk akal, dan itu justru membuatnya semakin merasa tidak nyaman. “Orang seperti Evelyn…” lanjut Mama Lian, menyebut nama itu dengan penekanan tertentu, “tidak bermain untuk mendapatkan hasil yang cepat. Dia bermain untuk mendapatkan posisi yang paling menguntungkan.” Ardi menatap kosong ke arah dinding di depannya. “Dan sekarang, posisinya sudah berada tepat di atas kita,” gumamnya pahit. Mama Lian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. “Untuk sekarang. Hanya untuk saat ini.” Ardi menoleh cepat. Ada sesuatu dalam nada bicara Mama Lian yang terdengar berbeda—sesuatu yang membuatnya merasa waspada. “Ma… apa yang sebenarnya Mama pikirkan?” tanyanya dengan suara rendah. Mama Lian tidak langsung memberikan jawaban. Ia justru bangkit dari sofa, berjalan perlahan menuju meja sudut, mengambil segelas air, lalu menyesapnya sedikit demi sedikit. Gerakan itu mungkin terlihat sepele, namun Ardi tahu itu hanyalah cara Mama Lian untuk mengulur waktu. Waktu untuk menyusun kata-kata, atau mungkin waktu untuk menyaring informasi mana yang boleh dan tidak boleh diucapkan. Ia kembali menoleh ke arah Ardi. “Kamu masih percaya sama Mama?” tanyanya secara tiba-tiba. Ardi terdiam. Pertanyaan itu terasa sangat berat, terutama dalam situasi di mana kepercayaan mereka berdua sedang diuji di titik terendah. Namun, di tengah ketidakpastian ini, ia merasa tidak punya pilihan lain. “Iya,” jawab Ardi singkat. Mama Lian mengangguk puas. “Kalau begitu, mulai detik ini, kamu lakukan saja apa yang dia inginkan.” Ardi langsung menegang di tempat duduknya. “Apa? Mama sadar apa yang Mama bicarakan?” “Turuti saja dia,” ulang Mama Lian dengan nada yang sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. “Tapi itu justru yang dia mau, Ma!” bantah Ardi dengan nada yang mulai meninggi. “Itu berarti kita hanya akan terjebak semakin dalam ke dalam lubang yang dia gali...” “Justru itu intinya,” potong Mama Lian dengan cepat. Ardi terbungkam. Mama Lian berjalan mendekat ke arahnya. Kali ini jarak di antara mereka sangat dekat, namun tidak ada keintiman di sana. Suasananya lebih mirip seperti sebuah interogasi yang sangat dingin. “Kita tidak akan pernah bisa melawan musuh yang medannya tidak kita kenali,” ucap Mama Lian dengan suara pelan namun penuh penekanan. “Jadi, biarkan kita masuk dulu ke dalam permainannya. Biarkan dia merasa sudah menang di kandangnya sendiri.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD