Sore merambat turun dengan lambat, menyeret bayangan panjang yang perlahan menelan sudut-sudut rumah mewah itu. Cahaya matahari yang menyelinap masuk lewat jendela kini meredup, seolah ikut layu di bawah beban tak kasat mata yang menggantung di udara.
Secara fisik, rumah ini tak berubah sedikit pun. Tapi rasanya… sudah benar-benar asing.
Ardi berdiri terpaku di depan jendela ruang kerja lantai dua. Matanya menatap kosong ke arah taman belakang yang mulai gelap, sementara tangannya menggenggam ponsel dengan erat. Sejak melangkah pulang dari kafe tua itu, benda di genggamannya tak lagi terasa seperti alat komunikasi. Rasanya lebih seperti borgol yang dingin dan tak terlihat.
Setiap kali ada getaran kecil, jantungnya melonjak liar. Setiap notifikasi yang masuk terasa seperti ujung pisau yang siap mengoyak kulitnya.
Di belakangnya, bunyi langkah kaki yang halus memecah sunyi. Mama Lian masuk tanpa merasa perlu mengetuk pintu.
“Kamu sudah di sini dari tadi?” tanyanya, suaranya tenang tapi menyimpan selidik.
Ardi menoleh sedikit. “Iya. Lagi banyak yang dipikirkan.”
Mama Lian menyandarkan bahunya di kusen pintu, melipat tangan di d**a sambil memperhatikan Ardi dengan tatapan yang terlalu tajam. Terlalu menguliti.
“Kamu berubah sejak pulang tadi,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.
Ardi mengernyit, mencoba bersikap biasa saja. “Maksud Mama?”
“Kamu lebih diam. Lebih… berjarak.” Mama Lian melangkah masuk, mendekat perlahan. “Apa yang sebenarnya dia katakan padamu?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, menusuk tepat di sasaran.
Ardi menarik napas dalam, berusaha mati-matian agar ekspresi wajahnya tetap datar. “Sudah kubilang, Ma. Dia cuma mau kita diam dan tidak melakukan gerakan tambahan.”
Mama Lian tak langsung menyahut. Ia justru terus melangkah hingga berdiri tepat di hadapan Ardi. Jarak mereka begitu rapat, hanya menyisakan beberapa sentimeter udara yang terasa sesak.
“Ardi,” suaranya rendah, namun penuh penekanan. “Jangan pernah sekali pun berpikir kalau kamu bisa menyembunyikan sesuatu dariku.”
Itu bukan sekadar ancaman kosong. Itu adalah fakta yang disodorkan tepat di depan hidung Ardi.
Ardi sempat menahan tatapan itu selama beberapa detik, mencoba bertahan, namun akhirnya ia membuang muka. Sebuah kesalahan kecil, sebuah celah yang langsung ditangkap oleh radar Mama Lian.
“Ada sesuatu yang kamu rahasiakan,” desisnya.
Sebelum Ardi sempat menyusun pembelaan—
Buzz.
Ponsel di tangannya bergetar. Refleks, Ardi langsung menunduk menatap layar. Darahnya seolah berhenti mengalir saat melihat nama yang muncul di sana.
Unknown.
Mama Lian melihat perubahan drastis pada gurat wajah Ardi. “Dari dia?” tanya Mama Lian cepat.
Ardi ragu sejenak, namun ia tahu tak ada gunanya berbohong sekarang. Ia mengangguk lemah.
“Buka,” perintah Mama Lian, nadanya tidak menerima penolakan.
Ardi menggeser layar, membuka pesan yang baru saja mendarat.
Unknown: Kamu sudah sampai rumah?
Jantung Ardi berpacu dua kali lebih cepat. Belum sempat jemarinya bergerak untuk membalas, pesan kedua menyusul masuk.
Unknown: Jangan lupa. Aku paling tidak suka menunggu.
Ardi mengetik dengan jemari yang terasa kaku.
Ardi: Sudah.
Hening kembali menyergap selama beberapa detik yang menyiksa. Lalu...
Unknown: Bagus. Sekarang, kita mulai permainannya.
Tubuh Ardi menegang seketika. Mama Lian merapat, hampir menempel di bahu Ardi untuk ikut membaca setiap kata di layar itu.
“Mulai apa?” bisiknya, suaranya mulai berubah tajam.
Ardi tak sempat menjawab karena pesan berikutnya sudah muncul.
Unknown: Turun ke ruang tengah. Duduk di sofa. Kirim foto sebagai bukti.
Ardi terdiam di tempatnya berdiri. Mama Lian pun langsung menangkap apa yang sedang terjadi.
“Dia… dia sedang mencoba mengontrolmu sekarang?” suara Mama Lian berubah menjadi sangat dingin.
Ardi sadar bentengnya sudah runtuh. Ia tak bisa lagi menutup-nutupi situasi ini. “Dia mau aku menuruti semua kemauannya,” ucap Ardi parau.
Sorot mata Mama Lian berubah seketika. Bukan lagi sekadar curiga, melainkan sebuah kilatan berbahaya—sebuah reaksi atas ancaman langsung terhadap otoritasnya.
“Kamu tidak akan melakukan itu,” tegas Mama Lian.
Ardi menatapnya dengan frustrasi yang memuncak. “Kalau aku tidak melakukannya, video itu bakal tersebar, Ma!”
“Biar aku yang mengurus wanita itu,” potong Mama Lian cepat.
“Ini bukan cuma soal Mama!” suara Ardi naik satu oktav, meledak karena tekanan. “Ini soal kita! Soal nasib Tere! Soal semuanya!”
Keheningan yang pecah itu menyisakan jarak yang lebar di antara mereka. Untuk pertama kalinya, mereka menyadari satu hal pahit: mereka tidak lagi berdiri di sisi yang sama.
Buzz. Ponsel kembali bergetar di telapak tangannya.
Unknown: 10 detik.
Ardi memejamkan mata sejenak. Tekanan ini terasa begitu nyata, begitu cepat, hingga tak memberinya celah untuk berpikir jernih. Saat ia membuka mata, ia kembali menatap Mama Lian.
“Ma… kita sudah benar-benar kehilangan kendali.”
Mama Lian tidak menyahut. Namun, rahangnya mengeras, memperlihatkan kemarahan yang tertahan. Ardi berbalik, melangkah keluar meninggalkan ruangan itu dengan beban yang makin berat di pundaknya.
Di ruang tengah, suasana terasa jauh lebih mencekam. Lampu gantung menyala redup, melemparkan bayangan-bayangan aneh yang menari di dinding. Sofa besar yang dulu menjadi tempat segala kegilaan ini dimulai, kini tak lebih dari kursi interogasi yang dingin.
Ardi duduk di sana. Tangannya bergetar hebat saat ia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
Klik.
Ia mengambil foto dirinya sendiri. Mengirimnya. Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
Unknown: Bagus. Sekarang, berikan senyuman terbaikmu.
Ardi mengepalkan rahangnya hingga sakit. Namun, rasa takut mengalahkan harga dirinya. Ia melakukannya.
Klik.
Di lantai atas, tepat di ujung tangga, Mama Lian berdiri mematung. Ia menyaksikan seluruh adegan memuakkan itu dari ketinggian. Matanya menyala redup, bukan lagi karena gairah, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih gelap dan pekat—amarah yang murni.
Buzz.
Unknown: Ternyata kamu jauh lebih patuh dari yang aku duga sebelumnya.
Ardi membaca pesan itu dengan tatapan kosong.
Unknown: Sekarang, dengarkan aku baik-baik. Mulai besok… aku akan masuk ke dalam hidupmu. Bukan cuma di rumah itu.
Ardi menahan napas.
Unknown: Aku akan masuk ke kantormu. Masuk ke proyekmu. Mari kita lihat, seberapa kokoh fondasi yang sudah kamu bangun selama ini, Ardi.
Pesan terakhir mendarat sebagai penutup yang mematikan.
Unknown: Dan satu lagi… Jangan pernah berpikir kalau Lian masih menjadi satu-satunya orang yang memilikimu.
Ardi menurunkan ponselnya perlahan. Napasnya terasa berat dan pendek-pendek. Ia sadar, ini bukan akhir, melainkan baru permulaan dari sebuah kehancuran.
Di atas sana, Mama Lian memutar tubuhnya dengan perlahan. Ia berjalan kembali menuju kamar dengan langkah yang sangat tenang. Terlalu tenang, hingga terasa mengerikan.
Di dalam kepalanya, skenario mulai bergeser. Jika sebelumnya ini hanyalah soal menjaga rahasia agar tidak meledak, sekarang situasi ini telah berubah menjadi perang perebutan kekuasaan. Dan Mama Lian bukanlah tipe wanita yang sudi berbagi miliknya dengan siapa pun.
Malam terakhir sebelum kepulangan Tere pun tiba. Namun kali ini, segalanya terasa mati.
Tidak ada gairah yang membara. Tidak ada sentuhan-sentuhan tersembunyi. Yang tersisa hanyalah dua orang yang terjebak di bawah satu atap yang sama.