10. Harga Sebuah Rahasia

1102 Words
Sisa hujan semalam seolah enggan pergi, meninggalkan langit siang yang tetap kelabu dan lembap. Ardi masih terpaku di balik kemudi. Mesin mobil sudah mati, tapi jemarinya terus mengetuk setir dengan ritme gelisah yang tak bisa ia redam. Titik lokasi yang dikirim Evelyn bukan di restoran mewah atau gedung perkantoran. Melainkan sebuah kafe tua yang nyaris mati di pinggiran kota. Sepi, tersembunyi, dan jelas sudah direncanakan agar tidak ada mata yang mengenali mereka. Ardi turun, menghirup napas panjang yang terasa berat sebelum akhirnya melangkah masuk. Denting lonceng di atas pintu menyambutnya, beradu dengan aroma kopi pahit yang menusuk indra penciuman. Matanya menyapu ruangan yang temaram, mencari satu sosok yang kini menggenggam nasibnya di ujung jari. Dan di sanalah dia. Duduk menyudut, membelakangi jendela. Posisi itu membuat wajahnya tenggelam dalam bayangan, memberikan kesan misterius yang mengancam. Tante Evelyn. Wanita itu masih tampak elegan, namun ada aura dingin yang jauh lebih tajam dari biasanya. “Telat dua menit,” sindir Evelyn tanpa perlu menoleh. Ardi menarik kursi di hadapannya, lalu duduk tanpa basa-basi. “Yang penting aku sudah di sini.” Evelyn akhirnya mengangkat wajah. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya—senyum yang terasa gersang, tanpa sedikit pun kehangatan. “Kamu kelihatan pucat, Ardi. Kurang tidur?” tanyanya, nada suaranya terdengar seperti seringai. Ardi memilih diam. Ia hanya menatap lurus, mencoba menahan sesak yang perlahan mencekik dadanya. “Kita nggak perlu drama, Tante,” potong Ardi cepat. “Apa yang Tante mau?” Evelyn menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak sangat menikmati momen kendali ini. Ia meraih cangkir kopi, menyesapnya perlahan seolah waktu adalah miliknya untuk dipermainkan. “Kamu tahu, Ardi,” suaranya mulai merendah, “aku sudah kenyang melihat banyak hal. Perselingkuhan, dusta, pengkhianatan… tapi apa yang kalian lakukan? Ini level yang benar-benar berbeda.” Ardi mengatupkan rahangnya kuat-kuat. “Aku ke sini bukan untuk diceramahi,” balasnya dingin. Evelyn tertawa kecil. Kali ini lebih lebar, namun terasa lebih mengerikan. “Bagus. Aku suka keberanianmu. Langsung ke intinya.” Ia membuka tasnya dengan gerakan pelan yang sengaja diulur. Mengeluarkan ponsel, menekan beberapa bagian layar, lalu menyodorkannya ke arah Ardi. Evelyn tidak perlu menyalakan volume. Gambar itu sudah bicara sendiri. Dari sudut sempit di celah pintu, siluet dua tubuh yang saling membelit terlihat begitu jelas. Gerakan yang terlalu akrab. Terlalu nyata untuk bisa dibantah dengan alasan apa pun. Ardi langsung membuang muka. “Cukup,” ucapnya pendek, suaranya sedikit parau. Evelyn menarik kembali ponselnya. “Bahkan belum satu menit. Tapi dampaknya cukup besar, kan?” Ardi bungkam. Ia sadar betul, satu detik saja dari rekaman itu sanggup meruntuhkan segala yang ia bangun. Rumah tangganya, kariernya, hingga kehormatan keluarganya. “Sekarang, mari bicara harga,” lanjut Evelyn santai. Ardi menatapnya tajam. “Sebutkan angkanya.” Evelyn mencondongkan tubuh ke depan. Suaranya kini nyaris berupa bisikan yang dingin. “Aku mau kamu.” Dahi Ardi berkerut. “Apa maksudnya?” Evelyn tersenyum tipis, tampak puas melihat kebingungan di wajah pria di depannya. “Bukan uang. Bukan aset. Aku tidak butuh recehanmu,” jelasnya. “Aku mau kamu… berada di bawah kendaliku.” Ardi tertegun. Permintaan itu jauh lebih mengerikan daripada sekadar pemerasan uang. “Kamu akan melakukan apa pun yang aku minta. Tanpa bertanya. Tanpa menolak,” sambung Evelyn. “Sebagai gantinya, video ini akan tetap terkunci rapat di tanganku.” “Dan kalau aku menolak?” Evelyn mengangkat bahu dengan gestur yang ringan. “Maka Tere akan jadi orang pertama yang tahu. Lalu keluarga besar. Dan mungkin… klien-klien besarmu akan sangat tertarik melihat sisi lain dari arsitek berbakat ini.” Ancaman itu diucapkan begitu tenang, seolah mereka hanya sedang membicarakan cuaca. Namun dampaknya menghantam Ardi tanpa ampun. Ia menarik napas dalam, mencoba mencari sisa logika. “Kenapa?” Evelyn menatapnya lama. Untuk sesaat, sorot matanya berubah—bukan lagi sekadar dingin, tapi ada sesuatu yang lebih personal di sana. “Karena kamu menarik, Ardi,” ucapnya jujur. “Dan karena Lian sudah terlalu lama hidup tanpa pernah merasakan konsekuensi.” Ardi segera menangkap maksudnya. Ini bukan cuma tentang dia. Ini serangan untuk Mama Lian juga. “Tante punya masalah dengan Mama?” tanya Ardi menyelidik. Evelyn tertawa kecil, bernada mengejek. “Semua orang punya masalah dengan seseorang, bukan?” Raut wajahnya kembali serius. “Tapi itu bukan urusanmu. Tugasmu cuma satu: patuh… atau hancur.” Suasana mendadak beku. Ardi merasakan sensasi baru yang merayapi dirinya. Bukan sekadar takut, tapi rasa terjepit yang luar biasa. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar kehilangan kontrol atas hidupnya sendiri. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Akhirnya, Ardi membuka suara. “Apa yang harus aku lakukan?” Evelyn tersenyum puas. Itu adalah kalimat menyerah yang ia tunggu-tunggu. “Untuk sekarang? Sederhana saja,” ucapnya. “Pulanglah. Bersikaplah seolah tidak terjadi apa-apa. Dan satu hal… jangan ceritakan detail pertemuan ini pada Lian.” Ardi menatapnya heran. “Kenapa?” Evelyn memiringkan kepala dengan gaya anggun yang manipulatif. “Aku lebih suka bermain satu lawan satu. Terasa lebih… intim,” jawabnya ringan. Ardi mengepalkan tangan di bawah meja. Permainan ini bukan lagi soal rahasia tiga orang. Ini sudah menjadi jaringan yang menjeratnya tepat di tengah. “Dan satu lagi,” tambah Evelyn. Secara mengejutkan, ia meraih tangan Ardi di atas meja. Gerakannya tiba-tiba, tapi penuh penekanan. Jemarinya terasa dingin di kulit Ardi. “Mulai sekarang, kamu bukan cuma milik Lian.” Ardi menahan napas. “Kamu adalah milik siapa pun yang memegang rahasiamu.” Evelyn melepaskan tangannya perlahan. “Dan sekarang… orang itu adalah aku.” Ardi keluar dari kafe dengan langkah yang terasa seberat timah. Langit masih kelabu, dan angin siang itu terasa menusuk hingga ke tulang. Ia masuk ke mobil, membanting pintu, lalu menyandarkan kepala ke jok dengan mata kosong. Dulu, ia pikir ia hanya sedang bermain api. Ternyata, ia sedang melangkah masuk ke dalam bangunan yang sudah terbakar dari dalam. Dan kini, pintu keluarnya sudah terkunci rapat. Sesampainya di rumah, Mama Lian sudah menanti. Wanita itu duduk di sofa dengan posisi yang persis seperti semalam. Puntung rokok sudah menumpuk di asbak. “Bagaimana?” tanya Mama Lian tanpa basa-basi. Ardi menatapnya. Bayangan kata-kata Evelyn berputar di kepalanya. Jangan beri tahu detailnya. Dan untuk pertama kalinya sejak skandal ini pecah, Ardi merasa ragu pada wanita di depannya. “Dia cuma mau kita… diam,” jawab Ardi akhirnya. Sebuah dusta kecil. Namun cukup untuk menggeser arah seluruh permainan ini. Mama Lian menyipitkan mata. “Hanya itu?” Ardi mengangguk mantap. Mama Lian menatapnya dalam diam, mencoba membedah kejujuran di mata Ardi. Cukup lama, hingga suasana terasa canggung. “Baiklah,” ucap Mama Lian akhirnya dengan suara rendah. “Kalau begitu… kita masih punya waktu untuk menyusun langkah.” Ardi hanya mengangguk pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD