Suara gerimis sisa semalam masih terdengar samar di atap rumah bergaya kolonial milik keluarga Mama Lian.
Di dalam kamar yang sejuk oleh embusan AC, Ardi terbangun dengan perasaan yang selalu sama setiap pagi—kekosongan yang sulit dijelaskan. Di sampingnya, Tere yang baru ia nikahi satu tahun lalu—sudah bersiap memakai baju kerjanya. Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden jatuh tepat di wajah cantik istrinya itu.
Tere adalah wanita yang sempurna di mata publik. Kulitnya putih bersih, khas keturunan Tionghoa yang terawat. Rambut hitamnya terurai, lekuk tubuhnya yang sangat ideal bagi wanita berusia 25 tahun. Dadanya yang cukup besar tercetak jelas di balik baju, sebuah pemandangan yang seharusnya membuat pria mana pun merasa beruntung.
Namun bagi Ardi, keindahan Tere sudah seperti pajangan museum. Indah dilihat, tapi tidak lagi memicu adrenalinnya.
Ardi bangkit dari tempat tidur, berusaha tidak menimbulkan suara. Pikirannya sudah melayang ke arah dapur, ke tempat di mana sumber obsesinya biasanya berada.
Keputusan mereka untuk tinggal di sini adalah permintaan Mama Lian. Setelah Papa mertuanya meninggal tiga tahun lalu, Mama Lian merasa kesepian di rumah sebesar ini. Ardi sebagai pria pribumi yang beruntung bisa meminang putri keluarga kaya ini, tak punya alasan untuk menolak.
Lagi pula, siapa yang bisa menolak tinggal satu atap dengan wanita paling memikat yang pernah ia temui seumur hidupnya?
Ardi segera mandi dan bersiap-siap. Saat ia keluar dari kamar mandi dengan kemeja kantor yang belum dikancingkan, ia melihat Tere sudah duduk di depan meja rias, sibuk dengan berbagai botol skincare.
"Mas, sudah bangun?" sapa Tere tanpa menoleh dari cermin. "Mama sudah bangun dari tadi. Kayaknya lagi bikin nasi goreng udang favorit kamu."
"Iya, aku dengar suara di bawah," jawab Ardi pendek sambil berusaha mengancingkan lengan kemejanya.
"Aku ada rapat pagi hari ini, Mas. Jadi nggak sempat sarapan bareng. Kamu temani Mama saja ya, kasihan kalau dia makan sendiri," tambah Tere sambil memulas lipstik merah muda yang senada dengan kulit pucatnya.
"Ya," jawab Ardi lagi.
Di dalam hatinya, ia bersorak. Kesempatan untuk berdua saja dengan Mama Lian adalah kemewahan yang selalu ia nantikan.
Ardi melangkah turun menuruni tangga kayu yang sesekali berderit. Aroma rumah ini selalu khas—campuran antara pengharum ruangan melati, aroma kayu tua. Dan sesuatu yang sangat personal: wangi parfum Mama Lian yang selalu tertinggal di setiap sudut.
Begitu sampai di ambang pintu dapur, langkah Ardi tertahan. Jantungnya berdegup kencang, sebuah reaksi fisik yang tidak pernah bisa ia kendalikan jika berhadapan dengan Mama Lian.
Di sana Mama Lian sedang berdiri di depan kompor. Ia hanya mengenakan daster satin berwarna merah marun, warna yang sangat kontras dengan kulit putihnya yang matang. Daster itu sangat pendek, hanya sampai pertengahan paha, memperlihatkan betis yang masih kencang dan halus.
Di usia 50 tahun, Mama Lian adalah sebuah anomali. Tubuhnya tidak menunjukkan tanda-tanda penuaan yang berarti. Pinggulnya justru terlihat lebih sintal dan padat dibanding Tere, memberikan kesan wanita matang yang sudah benar-benar jadi.
Meskipun payudaranya tidak sebesar milik anaknya—agak kecil namun tampak membusung kencang di balik kain satin—justru itulah yang menurut Ardi sangat elegan dan menggoda.
"Pagi Ma..." panggil Ardi pelan.
Mama Lian tersentak kecil lalu berbalik. Sebuah senyuman manis mengembang di wajahnya yang masih kencang tanpa kerutan berarti, hanya sedikit guratan halus di sudut mata yang justru menambah aura kedewasaannya.
"Eh, Ardi. Sudah rapi saja. Sini, duduk. Mama sebentar lagi selesai," ucap Mama Lian dengan suara lembut yang selalu terdengar seperti belaian di telinga Ardi.
Ardi menarik kursi di meja makan yang letaknya cukup dekat dengan posisi Mama Lian berdiri. Dari posisi ini, ia bisa mencium aroma masakannya yang harum, bercampur dengan aroma tubuh Mama Lian—kombinasi antara sabun mandi bunga lili dan sedikit aroma minyak zaitun yang biasa ia gunakan untuk merawat kulitnya.
Mama Lian membawa piring nasi goreng ke meja. Saat ia meletakkannya, daster satinnya sedikit tersingkap ketika ia membungkuk, memberikan Ardi pemandangan sekilas tentang belahan dadanya yang putih bersih. Mama Lian tampak tidak menggunakan bra.
Ardi menelan ludah, tangannya meremas lututnya sendiri di bawah meja untuk menahan gejolak yang tiba-tiba bangkit.
"Tere mana? Belum turun?" tanya Mama Lian sambil duduk di kursi tepat di depan Ardi.
"Tere... Katanya ada rapat pagi ini, Ma. Nggak sempat sarapan," jawab Ardi, berusaha menjaga matanya agar tetap tertuju pada piring nasi goreng. Meski fokusnya terpecah pada cara Mama Lian merapikan rambut hitamnya yang disanggul asal-asalan ke belakang telinga.
"Anak itu selalu saja sibuk. Padahal sarapan itu penting," keluh Mama Lian pelan.
Ia kemudian menatap Ardi dengan tatapan yang dalam. "Kamu yang rajin ya kerjanya, Ardi. Kalau kamu sukses, Mama juga senang."
Tiba-tiba, Mama Lian menjangkau ke depan, tangannya yang halus menyentuh kerah kemeja Ardi yang sedikit miring.
"Kerahmu berantakan, Di. Sini Mama rapikan."
Sentuhan jari-jari Mama Lian di lehernya terasa seperti sengatan listrik bagi Ardi. Ia bisa merasakan kehangatan dari tangan wanita itu. Jarak mereka begitu dekat hingga Ardi bisa melihat pori-pori kulit Mama Lian yang masih rapat dan wangi napasnya yang segar. Mata Ardi tanpa sadar turun ke arah bibir Mama Lian yang dipulas lip balm tipis, tampak kenyal dan basah.
"Ma..." ucap Ardi lagi, kali ini suaranya lebih serak.
Mama Lian berhenti merapikan kerah. Matanya bertemu dengan mata Ardi.Mama Lian tidak menarik tangannya. Sebaliknya, ia menatap Ardi dengan tatapan yang sangat sulit diartikan—seolah ia tahu apa yang sedang dipikirkan menantunya.
"Kamu... kenapa menatap Mama seperti itu, Ardi?" bisik Mama Lian. Suaranya rendah, nyaris seperti godaan yang tertahan.
"Mama cantik sekali pagi ini," kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Ardi, sebuah pengakuan yang sudah ia simpan selama bertahun-tahun.
Wajah Mama Lian sedikit memerah, namun ia tidak marah. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh rahasia.
"Kamu ini, sudah punya istri secantik Tere masih saja memuji orang tua seperti Mama."
"Tere beda, Ma. Mama... Mama punya sesuatu yang nggak dimiliki wanita manapun," Ardi memberanikan diri. Tangannya di bawah meja sudah bergetar hebat.
Tepat saat suasana semakin intim, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar dari arah tangga.
"Mas! Kunci mobilku di mana ya? Aduh, aku bisa telat!" seru Tere yang tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur.
Seketika Mama Lian menarik tangannya dari kerah Ardi dengan gerakan yang sangat halus, seolah sedang tidak terjadi apa-apa.
"Di laci meja depan, Re. Mama yang taruh tadi malam."
Tere berlari kecil menuju meja depan tanpa menyadari tensi listrik yang masih tertinggal di udara antara suami dan mamanya.
"Oke, Ma! Mas, aku berangkat duluan ya! Bye!"
Suara pintu depan tertutup dengan keras.
Keheningan kembali menyelimuti dapur. Mama Lian berdiri, membelakangi Ardi untuk mencuci beberapa peralatan masak yang kotor. Daster satinnya bergoyang mengikuti gerakan pinggulnya saat ia menggosok piring.
Ardi hanya bisa terdiam di kursinya, menatap punggung mertuanya itu dengan napas yang masih belum teratur.
Pujiannya tadi adalah sebuah pernyataan perang terhadap akal sehatnya sendiri. Dan melihat bagaimana Mama Lian merespons, Ardi sadar bahwa obsesinya mungkin tidak lagi bertepuk sebelah tangan.
Di balik suara gemericik air, Mama Lian melirik sedikit ke arah Ardi lewat bahunya, memberikan senyum kecil yang paling menggoda yang pernah Ardi lihat seumur hidupnya.
Ardi sudah tidak tahan, ia lalu berdiri memeluk tubuh Mama Lian dari belakang. Mama Lian hanya diam, tampak memperbolehkan perbuatan menantunya itu.
"Ma... Aku sayang Mama." Bisik Ardi di telinga Mama Lian.