Suasana di dapur yang tadinya biasa saja kini berubah menjadi medan magnet yang menarik saraf Ardi ke titik nadir kewarasannya.
Ardi bisa merasakan detak jantungnya sendiri berpacu hebat, seirama dengan deru napasnya yang terasa panas di leher Mama Lian. Pelukannya tidak dilepaskan. Justru Ardi semakin menenggelamkan wajahnya di bahu wanita itu. Aroma sabun mandi melati yang lembut dan kehangatan tubuh Mama Lian menenggelamkan logikanya sebagai seorang menantu.
Satin merah marun yang dikenakan Mama Lian begitu tipis, nyaris tidak memberikan sekat antara telapak tangan Ardi dan kulit wanita itu. Ardi bisa merasakan betapa kenyal dan padatnya pinggul Mama Lian di bawah tangannya. Wanita itu masih terdiam, tangannya yang masih basah memegang pinggiran wastafel, tubuhnya sedikit gemetar. Ini bukan getaran ketakutan, Ardi tahu itu. Ini adalah getaran dari seseorang yang sedang berada di tepi jurang, menunggu dorongan kecil untuk terjatuh.
"Ardi... jangan begini. Nanti kalau Tere lihat..." Suara Mama Lian terdengar parau. Itu bukan suara penolakan, melainkan suara seorang wanita yang sedang berjuang melawan gelombang godaan yang sudah terlalu lama ia bendung sendirian.
"Tere sudah pergi, Ma. Hanya ada kita di sini. Tidak ada orang lain," bisik Ardi.
Ia memberanikan diri mengecup pundak Mama Lian yang terbuka, merasakan tekstur kulitnya yang lembut dan masih sangat terawat untuk wanita seusianya.
Mama Lian menghela napas panjang, sebuah desahan yang terdengar pasrah dan memabukkan. Ia perlahan memutar tubuhnya di dalam pelukan Ardi, membebaskan diri dari kungkungan di depan wastafel. Kini, mereka berhadapan. Jarak hidung mereka hanya seujung jari.
Ardi bisa melihat dengan jelas mata sipit Mama Lian yang kini tampak sayu, berkaca-kaca. Menatapnya dengan intensitas yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Kamu gila, Ardi. Mama ini mertuamu. Mama yang meminta kalian tinggal di sini bukan untuk hal seperti ini," ucap Mama Lian, namun tangannya justru mendarat di d**a Ardi.
Ia tidak mendorong menantunya menjauh, melainkan meremas pelan kemeja Ardi, membiarkan tubuh mereka tetap menempel erat.
"Aku nggak bisa bohong lagi, Ma. Sejak pertama kali Tere mengenalkanku pada Mama, aku sudah tahu kalau aku salah alamat. Aku mencintai Tere sebagai istri, tapi aku terobsesi pada Mama sebagai wanita," Ardi berucap jujur. Matanya turun menatap bibir Mama Lian yang basah oleh lip balm.
Mama Lian menelan ludah dengan susah payah. Ia menatap Ardi dengan tatapan yang sangat dalam. Seolah sedang menimbang-nimbang antara moralitas dan kebutuhan biologisnya yang sudah bertahun-tahun terkubur.
Sebagai wanita Tionghoa yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga, apa yang dilakukan Ardi adalah dosa besar yang tak termaafkan. Namun, sebagai janda yang sudah lama kesepian, kejantanan Ardi yang meledak-ledak di depannya adalah godaan yang sulit untuk ditepis.
"Kamu tahu kan risikonya kalau sampai ada yang tahu? Terutama Tere... anakku sendiri..." Mama Lian berbisik.
"Makanya jangan sampai ada yang tahu, Ma. Biar ini jadi rahasia kita di bawah atap rumah ini," jawab Ardi tegas, tangannya kini beralih membelai pinggang Mama Lian.
Mama Lian terdiam sejenak. Matanya memejam pelan, menikmati sentuhan yang sudah lama ia rindukan. Ia kemudian tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh rahasia yang tampak berbahaya namun memikat. Ia menjinjit sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Ardi, membuat napas hangatnya menggelitik indra Ardi.
"Kalau begitu, jadilah menantu yang baik di depan Tere. Dan jadilah... pria yang Mama butuhkan saat dia tidak ada."
Kalimat itu bagaikan bensin yang menyambar api. Ardi baru saja akan mencium bibir Mama Lian saat ponsel di saku celananya bergetar hebat. Bunyi itu memecah tensi seperti cermin yang pecah.
Tere Calling...
Ardi tersentak. Ia segera melepaskan pelukannya, meski dengan berat hati. Mama Lian pun langsung berbalik kembali ke wastafel, dengan cekatan menyambar piring seolah sedang sibuk menggosoknya sejak tadi. Ia berusaha mengatur napasnya agar kembali normal.
"Ya, Sayang?" Ardi mengangkat telepon dengan suara yang diusahakan senormal mungkin, meski dadanya masih naik turun.
"Mas, Kamu masih di rumah kan? Berkas laporan yang di map biru ketinggalan di meja kerja kamar kita! Tolong bawain ke kantorku ya, aku butuh banget buat rapat jam 10 nanti!" suara Tere terdengar panik dari seberang sana.
"Oh, iya, iya. Nanti Mas bawain. Mas mau berangkat sekarang," jawab Ardi, berusaha tetap tenang.
Setelah menutup telepon, Ardi menatap punggung Mama Lian sekali lagi. Wanita itu tidak menoleh, tapi Ardi tahu Mama Lian sedang memperhatikannya melalui pantulan di kaca jendela dapur. Ia bisa melihat bahu Mama Lian yang masih naik turun, mencoba menenangkan debar jantungnya sendiri.
"Bawa berkas istrimu, Ardi. Jangan sampai dia curiga," ucap Mama Lian tanpa berbalik, suaranya kembali dingin dan penuh wibawa. "Dan satu lagi... mulai besok, jangan pakai parfum yang terlalu menyengat. Mama lebih suka bau alami tubuhmu."
Ardi tertegun. Itu bukan sekadar nasihat, itu adalah instruksi. Sebuah konfirmasi bahwa mulai hari ini, statusnya bukan lagi sekadar menantu di rumah itu.
Sebelum keluar dari dapur, Ardi kembali mendekati Mama Lian. Tangannya meremas b****g Mama Lian yang kenyal.
"Aku pergi dulu, sayang." Bisiknya.
Mama Lian hanya mengangguk tanpa menoleh. Dia tersenyum, seolah menikmati remasan tadi dan panggilan mesra Ardi pada dirinya.
Sepanjang perjalanan ke kantor Tere, pikiran Ardi membayangkan bagaimana kehidupan ganda ini akan berjalan. Di satu sisi ada Tere, istrinya yang cantik, muda, dan ceria. Di sisi lain ada Mama Lian, sang mertua yang memiliki pesona matang yang berbahaya.
Sesampainya di kantor Tere, Ardi menyerahkan map itu. Tere tampak terburu-buru, ia mencium pipi Ardi dengan cepat sebagai ucapan terima kasih sebelum kembali sibuk dengan urusannya.
"Makasih ya, Mas! Kamu emang suami terbaik. Mama tadi nggak repot kan pas kamu sarapan?" tanya Tere sambil merapikan rambutnya tanpa menatap Ardi.
"Nggak, Sayang." Jawab Ardi singkat.
"Ya udah, aku masuk dulu ya! Nanti malam kita makan di luar sama Mama, mau kan?"
"Boleh, Sayang. Atur aja," Ardi tersenyum palsu, menutupi gejolak yang masih terasa di dadanya.
Begitu Tere pergi, Ardi kembali ke mobilnya. Ia menyandarkan punggungnya di jok, menarik napas dalam-dalam. Ia menyadari satu hal: ia baru saja memasuki labirin yang tidak punya jalan keluar.
Saat ia menyalakan mesin mobil, sebuah pesan masuk ke w******p-nya dari nomor yang sudah ia simpan dengan nama Mama Lian.
Mama Lian: Jangan lupa beli buah pir saat pulang nanti. Mama mau buatkan kamu sup pir untuk menjaga stamina. Jangan sampai Tere tahu Mama yang minta.
Ardi tersenyum liar.
Stamina? Mama Lian benar-benar tahu bagaimana cara bermain.
Ardi segera memacu mobilnya menuju kantornya sendiri, namun pikirannya sudah melompat jauh ke momen ketika ia akan pulang ke rumah sore nanti. Rumah yang kini bukan lagi sekadar tempat tinggal, tapi sebuah istana rahasia di mana ia menjadi raja. Dan Mama Lian menjadi ratu yang siap ia taklukkan.